My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Bye..



Hampir 2 minggu lamanya, Siwan tidak kunjung kembali ke rumahnya. Rasa rindu begitu menggebu di rasa oleh Hanna juga anaknya.


Hanya berkomunikasi lewat video call, selama hubungan jarak jauh mereka berlangsung. Namun, meskipun begitu, rasa rindu ingin bercengkerama satu sama lain tak terelakkan.


"Mas, bagaiamana, apa hari ini tidak ada pekerjaan? Biasanya pagi sekali kau sudah pergi ke kantor, "


Pagi itu, Siwan sudah menghubungi Hanna lewat video call dari Seoul. Dengan muka bantal dan mata masih sulit terbuka, Siwan sudah menyapa istrinya di layar kaca hpnya.


"Aku memimpikanmu semalam chagiya, bagaiamana bisa aku menahannya," Siwan mendengus lalu tetawa sesaat. "Lagipula, hari ini aku sudah bebas tugas, dan, aku mau jalan-jalan membeli oleh-oleh untuk kalian, kau mau apa? " tanya Siwan.


"Wah, benarkah? jadi kau sudah boleh pulang?" Hanna tersenyum gembira.


"Heemh, aku sudah tidak sabar ingin memeluk istriku yang sangat sexy, bahkan dari jauh pun walau hanya lewat layar hp, aku bisa melihat keseksianmu itu,"


Hanna melihat ke bawah, ke arah dada dan tubuhnya, lalu menutupnya dengan selimut.


"Ish... dasar mesum!! " ucap Hanna yang saat itu ia baru terbangun juga dari tidurnya dan masih mengenakan lingeri sexy.


"Aku hanya mesum padamu saja, tidak berani pada wanita lainnya, " sahut Siwan.


"Baguslah, kalau tidak, aku tidak mau bicara lagi padamu," timpal Hanna.


"Hahaha.... " Siwan kembali tertawa. "Chagiya, aku ingin melihat wajah putra kita, dia pasti sangat menggemaskan saat tertidur, "


"Tentu saja, berat badannya bertambah hampir satu kilo saat kau tidak ada, dia makan sangat lahap sekali akhir-akhir ini, " ucap Hanna sambil mengarahkan kamera hpnya ke arah Hwan.


"Ah... aku sangat merindukannya," Siwan terlihat begitu terpana melihat wajah anaknya yang sedang tertidur menyamping sehingga pipi bakpaunya terlihat menonjol.


"Cepat pulang sayang, kudoakan semoga kau selamat dimanapun kau berada, selamat sampai kau kembali pulang kemari," ucap Hanna.


"Aaminn, terimakasih chagiya, i love you," sahut Siwan.


"I love you too, muach... " timpal Hanna, mengakhiri percakapan mereka pagi itu dengan kecupan jarak jauh mereka. Mereka pasangan pengantin baru yang lebih lebay dari anak muda, bahkan saat dulu berpacaran percakapan mereka tidak seperti ini, masih terlihat kaku. Ya, mungkin karena status mereka saat ini sudah sah dan halal, jadi merasa tidak ada lagi penghalang di antara keduanya untuk bermesraan dan alay meskipun hanya lewat video call.


Sebenarnya apa yang di lakukan oleh Siwan selama di Seoul??


Ia membantu ayahnya Im Jaehwan menumpas kejahatan yang di lakukan oleh Im Jaewon dan istrinya Seo In jae. Selama ini, mereka melakukan penggelapan uang di anak perusahaan milik keluarga Im dan melakukan tindakan ilegal dan kekerasan terhadap para bawahannya lalu berlindung di bawah ketiak ayahnya selama ini.


Bukti - bukti baru terkumpul setelah Mr. Im Jaehwan melakukan penyelidikan selama beberapa tahun karena seringkali anaknya itu menghilangkan jejak kejahatannya dengan begitu rapihnya di bantu oleh istri dan komplotannya.


Siwan sementara menjabat sebagai Direktur sebelum Mr. Im ayahnya sebagai CEO menunjuk Direktur baru untuk anak perusahaannya itu, menggantikan posisi Im Jaewon yang sudah di ringkus polisi.


Kasus ini bahkan sempat menjadi headline utama dalam surat kabar dan berita elektronik, cukup membuat heboh negaranya selama beberapa hari karena mengenal Mr. Im dan perusahaannya yang sangat maju dan sukses di negaranya.


Flashback


Tiga hari kebelakang...


Im Jaewon yang sudah berada dalam tahanan mendapat kunjungan dari ayahnya, Im Jaehwan.


Mereka duduk berhadapan hanya di pisahkan oleh sebuah meja panjang dan lebar dengan kondisi kedua tangan Jaewon sudah terikat borgol.


"Apa kau sudah mau meminta maaf padaku?" tanya Mr. Im pada anaknya.


"Minta maaf, untuk apa? apa dengan minta maaf kau akan membebaskanku?" sinis Jaewon.


"Kapan kau akan menyadarinya, bahwa selama ini pikiranmu sudah di racuni oleh istrimu itu, "


Jaewon terdiam dan tidak menimpali ucapan ayahnya.


"Aku berkali-kali memberimu kesempatan untukmu memperbaiki kesalahanmu dan hidup lebih baik dan jujur dan melupakan semua kesalahanmu, tapi rupanya kau terlalu sombong, tidak pernah merasa dirimu itu bersalah dan lebih berkuasa di bandingkanku, "


"Dan lagi, kau bodoh, terus terperosok dalam kehancuran yang sama, bodoh karena terus di kuasai oleh sifat serakahmu dan istrimu itu, " sambung Mr. Im.


"Pergilah, biarkan aku mendekam di penjara dengan tenang, jangan pernah menemuiku lagi, coret saja aku sebagai anakmu, aku tidak peduli !!" ucap Im Jaewon dengan ketus.


"Aku bahkan sudah mencoret kedua anakmu dari daftar ahli warisku, kurasa mereka sudah cukup menikmati hartaku selama ini, mereka berdua yang akan menanggung dosa ayah dan ibunya selama ini, " Mr. Im bangkit lalu melangkah dan berbalik meninggalkan anaknya yang masih menundukkan kepalanya.


Saat di depan pintu, Mr. Im tercekat lalu kembali berbalik dan bicara pada anaknya.


"Tidak usah protes, lagipula mereka berdua bukan anakmu, bukan darah dagingmu, aku tahu kondisimu, melebihi siapapun selain dokter, " setelah mengucapkan hal itu, kemudian Mr. Im pergi meninggalkan ruangan tersebut dan melanjutkan langkahnya hingga ke parkiran mobil bersama para pengawalnya.


Setelah Mr. Im pergi, Siwan masuk ke dalam dan mendapati kakaknya Jaewon sedang menangis sambil tertunduk di kursinya.


Siwan duduk dan hanya memperhatikan selama beberapa detik, menyaksikan kesedihan yang di rasakan pria di hadapannya kini, seorang pria yang sempat menjadi orang yang paling ia sayangi dan percaya di dunia ini melebihi siapapun. Seorang pria yang pernah memberinya kasih sayang ibarat seorang ayah pada anaknya. Ayah kandung pada putra kandungnya.


Jaewon langsung mengusap air matanya ketika ia menyadari kehadiran Siwan.


"Kau puas?" tanya Jaewon, masih terisak dan mencoba kembali tegar.


"Aku tidak pernah ingin menghancurkanmu, seperti halnya yang di lakukan ayah terhadapmu, berkali-kali kesempatan itu kuberi agar kau bisa memperbaiki hidupmu, dari kesalahan yang pernah kau buat, hyung !!" ucap Siwan. Hyung adalah panggilan kakak dari seorang adik terhadap kakak laki-lakinya.


"Ku pikir kau sudah mati !!" ucap Jaewon, kata-kata sarkasme itu meluncur begitu saja dari mulutnya dan membuat emosi Siwan kembali memuncak hingga ke ubun-ubun. Meskipun ia tetap berusaha tenang di hadapan pria itu.


"Syukurlah, aku masih bisa melihatmu, " sambung Jaewon sambil menitikkan air matanya kembali.


"Aku tidak pernah menyangka In Jae akan sejahat itu, kupikir saat itu di hanya akan menakutimu saja supaya kau mau menyerah, ternyata dil luar perkiraanku, dia bekerja sama dengan pria yang terlalu sulit di taklukkan polisi negara manapun selama ini, " Jaewon terdiam sesaat, kemudian menatap Siwan dengan lekat.


"Maafkan aku, karena tidak bisa mencegah hal itu terjadi, satu tahun lebih, kau tersiksa di luar sana dan aku tidak berbuat apa-apa, kurasa penjara memang balasan yang setimpal untukku saat ini hingga nanti, " ucap Jaewon, tersenyum ketir.


Siwan tak dapat menahan emosinya yang mungkin akan meledak. Bukan emosi kemarahan, tapi emosi kesedihan yang meluap di lubuk hatinya saat itu.


"Aku tidak akan melibatkan Seokhoon dan Seokyung dalam masalah ini, mereka berada di posisi netral, terserah mereka akan melanjutkan hidup seperti apa nantinya, " ucap Siwan.


"Dia bukan anakku !!" seru Jaewon.


"Apa?" Siwan terkejut.


"Aku mandul, mereka bukan darah dagingku, aku tidak peduli pada mereka mulai saat ini, " Jaewon tersenyum sinis. "Masalah ini, kau tanyakan saja pada ayahmu, dia bahkan memiliki anak dari wanita lain tanpa sepengetahuan kita selama ini, dan anak itulah yang akan menggantikan posisiku di perusahaan karena kau tidak akan pernah mau kembali hidup di negara ini dan melanjutkan kursi kepemimpinannya, "


Beberapa menit kemudian.


Siwan berpamitan pada kakaknya.


"Kuharap, setelah keluar dari sel, hidupmu akan berlangsung lebih baik lagi, kau harus merenungkannya !!" pinta Siwan, lalu berdiri dan membungkukkan badannya memberi hormat pada kakaknya sebelum pergi.


"Aku masih berharap ini hanya mimpi, dan kau tetap adalah ayahku yang aku kenal sejak aku kecil sampai aku berusia 6 tahun, seperti saat itu, aku masih selalu memimpikan kehangatanmu padaku, " Siwan kembali membungkukkan badannya lalu pergi meninggalkan Jaewon kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Siwan lalu memakai kacamata hitam untuk menutupi sorot mata kesedihannya.


Sesampainya di mansion, Siwan langsung menemui ayahnya dan menanyakan kebenaran tentang Seokhyung dan Seokhoon.


"Ya, mereka memang bukanlah cucuku, tidak ada darah keluarga Im yang mengalir di tubuh mereka, Seo In Jae berhasil menipu Jaewon dengan mulus," ucap Mr. Im.


"Sejak kapan ayah tahu bahwa hyung tidak bisa memiliki anak?" tanya Siwan.


Mr. Im menarik nafas sejenak.


"Sejak ia menikah dengan ibumu, karena merasa curiga mengapa mereka belum juga di karuniai anak, aku meminta dokter kandungan melaporkan semuanya padaku lebih dahulu, dan ternyata, ayahmu di vonis tidak bisa memiliki anak karena kecelakaan yang pernah terjadi padanya saat ia remaja dan mengakibatkan organ intimnya bermasalah,"


"Lalu, siapa ayah mereka?" tanya Siwan.


"Aku tidak peduli, kau tanyakan saja pada In Jae, " jawab Mr. Im.


"Mereka berdua terlalu polos, aku mengkhawatirkan nasib mereka setelah kejadian ini, ibu dan orang yang mereka percayai adalah ayah mereka kini mendekam di penjara setelah di jebloskan sendiri oleh kakeknya, "


"Kami tidak ingin dikasihani," suara lantang milik seorang pria terdengar di telinga Siwan dan Mr. Im begitu jelas. Mereka lalu melihat ke arah sumber suara tersebut.


Seokhoon dan Seokyung berdiri tidak jauh dari posisi mereka. Nampaknya keduanya tidak menyadari kehadiran dua orang anak muda yang sudah tiba di mansion tua itu sejak beberapa menit yang lalu.


Seokhoon dan Seokyung tak lupa memberi salam hormat terlebih dahulu pada keduanya sebelum mereka duduk di sofa lainnya yang ada di ruangan keluarga mansion bergaya klasik yang menjadi tempat tumbuh kembang mereka dulu.


"Aku sudah tahu sejak dulu kalau akau dan adikku bukan anak keturunan keluarga ini, meskipun begitu, aku tidak bisa berbuat apa-apa saat hari ini akan tiba," ucap Seokhoon.


"Aku dan adikku akan pergi dan merintis karir kami masing-masing dan akan hidup saling menopang satu sama lain sebagai keluarga, kami akan pindah ke negara lain, untuk menghealing hati dan perasaan kami, dan kami tidak akan memperdulikan nasib ibu dan ayah maupun ayah kandung kami mulai saat ini, kami sudah dewasa, kami tidak ingin ikut menanggung dosa mereka," sambungnya.


"Lalu?" Mr. Im menatap Seokhoon dengan wajah penasaran.


"Kami minta maaf, atas perlakuan ibu kami selama ini, mewakilinya, meskipun begitu dia tetap ibuku, dan lagi, kami ingin meminta maaf atas beban dan penderitaan yang telah kalian jalani selama ini terutama pada paman Siwan, aku tidak pernah membenarkan perlakuan mereka pada paman selama ini, aku tidak pernah menginginkan hal itu terjadi, " ucap Seokhoon.


"Kakek, paman, kami kesini juga ingin berpamitan, kami ingin memulai hidup baru kami tanpa adanya embel-embel na keluarga, kami ingin hidup mandiri di luar sana, kami ingin menyembuhkan luka kami dengan cara kami sendiri, " ucap Seokhyung yang terlihat sangat cantik dan lebih dewasa saat itu.


Seokhyung yang terkenal cerewet dan manja kini sudah berubah. Ia tumbuh menjadi anak yang lebih dewasa dan lebih sopan di mata Siwan.


"Kalian mau pergi kemana? biarkan paman mengantarkan kalian," ucap Siwan.


"Tidak paman, sebaiknya jangan, aku tidak ingin merepotkan lagi paman, selama ini, paman yang selalu mendukungku, membantuku dan membimbingku, terimakasih untuk semua hal itu, aku tidak akan melupakan semua kebaikan paman, tapi tolong, jangan membuat keadaan semakin canggung, aku tidak ingin kembali merepotkan paman lagi, " ucap Seokhoon tetap bersikap tegar, meskipun kini penglihatannya mulai pudar karena ada air mata yang menghalanginya.


"Baiklah, aku tidak akan membekukan rekening kalian, anggap saja itu adalah hadiah dariku karena kalian tidak mengikuti jejak ayah dan ibumu, tetaplah jadi anak baik dan jujur, jangan pernah menaruh dendam dan benci terlalu berlebihan pada seseorang, karena hal itu akan menghancurkan hidup kalian sendiri, "


"Terimakasih banyak, tapi kami tidak bisa menerimanya," sahut Seokhyung.


"Anggap saja itu uang saku dariku yang terakhir sebelum aku mati !!" ucap Mr. Im, sarkas.


"Kakek, " ucap Seokhyung dan Seokhoon, bersamaan dan mata keduanya nyalang ketika mendengar Mr. Im berkata demikian.


"Gunakanlah untuk keperluan kalian, belilah rumah yang cukup untuk kalian berteduh sementara waktu, lebih baik kalian punya sendiri daripada menyewa setiap bulannya, setelah kalian mampu, belilah rumah yang kalian inginkan, semoga kalian sukses di luaran sana, jangan pernah ragu untuk datang padaku !!" ucap Siwan.


"Terimamasih banyak atas nasehatnya, paman Siwan."


Setelah kedua keponakannya pergi. Siwan masih menahan Mr. Im di kursinya.


"Kau mau apa lagi? aku sudah lelah!!" ucap Mr. Im.


"Siapa anak itu?" tanya Siwan menatap penuh curiga.


"Apa kau sudah siap bertemu dengannya?" tanya Mr. Im, terlihat menantang.


Siwan tidak menjawabnya, hanya menatap tajam pada wajah pria tua yang terlihat kembali menyebalkan di matanya kini.


"Nanti malam akan ku bawa dia kemari, kau harus menyapa adikmu sebelum kau kembali pada anak dan istrimu !!" seru Mr. Im, kemudian pergi meninggalkan Siwan sendirian di ruang keluarga mansion tua bergaya Eropa klasik sore itu.