My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 WAIT a little time



POV RAYHAN


"A Rey, aku tidak bisa, sampai kapanpun aku benar - benar tidak bisa membuka hatiku untukmu, ataupun pria lain ! Aku, sudah bahagia dengan kehidupanku saat ini, jadi pliss... aku juga mau kau mencari kebahagiaanmu sendiri, di tempat lain, bersama yang lain, tapi tidak denganku !"


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu Hanna, maaf aku selalu mengganggumu !"


"Tidak, bukan itu maksudku, aku tidak merasa terganggu, hanya saja, aku tidak bisa menerima perasaanmu melebihi kapasitas yang ada dihatiku, kau sudah ku anggap sebagai keluarga, seorang kakak bagiku, aku sangat berterimakasih sekali selama ini kau selalu menjagaku dan Hwan, menghormati keluargaku, tapi maafkan aku, malah membuatmu kecewa dengan pernyataanku ini, sungguh, aku tidak bisa membiarkannya berlarut - larut seperti ini, demi kebaikan kita, mohon mengertilah !"


Masih dia ingat dengan jelas, perkataan Hanna hari itu, selang dua hari setelah acara pemotretan mereka, Rayhan seperti biasa selalu menyempatkan diri untuk mampir mengajak Hanna makan siang bersama di saat jadwalnya sedang tidak sibuk.


Dan kini, Rayhan sedang termenung di depan layar laptopnya di atas meja kerja ruang kantornya, tatapannya kosong dan hanya mengacu pada satu arah. Yaitu foto Hanna dan dirinya yang terpampang di dalam layar laptopnya.


Seketika air mata yang sudah menumpuk di kelopak matanya mengalir menembus pertahananya selama ini.


"Apakah ini karma bagiku ? kakak, dia hanya menganggapku seorang kakak !" ucapnya denga lirih dan raut wajah sendu.


...****...


Malam minggu di awal bulan april...


"Teh, kok tumben si Rey gak kesini, kemana dia ?" tanya bu Hani, ibunya Hanna.


"Dih, mana kutahu lah bu, lagi sibuk kali." Jawab Hanna dengan asal, lalu melanjutkan kembali aktivitas bermain bersama Hwan di atas ranjangnya.


"Kalian berantem ya ?" bu Hani masih belum menyerah.


"Apa sih bu, siapa yang berantem coba, ibu kangen sama dia ? mau aku telepon suruh kesini ?" Hanna mulai terlihat kesal dengan pertanyaan ibunya.


"Ya, heran aja, biasanya tiap malam minggu kalo gak kesini juga dia suka nelpon, video call jam segini, lagi sibuk kali yaa !"


"Hemh... !" Hanna nampaknya tidak mau berdebat lagi.


Malam itu, waktu menunjukkan pukul 20.15 wib, memang biasanya Rayhan pada jam ini selalu menyempatkan diri berkunjung atau tidak menelpon dan video call meskipun hanya sebentar, bu Hani selalu tahu, karena pada jam ini biasanya Hanna sedang santai saat berada di rumah di malam minggu setiap minggunya.


"Apa dia bener - bener marah kali ini ? tapi aku gak mau dia terus berharap aku membalas perasaannya, aku gak tega membiarkan dia bertepuk sebelah tangan terus seperti sebelumnya, dia harus bisa melupakan perasaannya padaku !" gumam Hanna, ia melamun di depan anaknya yang sedang berguling - guling di atas kasur.


Saking asiknya melamun, ia tidak menyadari kalau ada panggilan masuk ke hpnya, karena ia hanya memasang mode getar di hpnya, ia tidak mendengar suara getaran yang terjadi di atas nakasnya.


...****...


Malam itu, di sisi lainnya...


Siwan yang masih berada di negara Singapura sedang duduk di bibir ranjangnya. Ia sedang mencoba menghubungi seseorang dengan hp nya.


Namun, seseorang di seberang sana tidak juga mengangkat sambungan telepon darinya.


Siwan pun menutup panggilannya setelah terdengar suara dari operator telepon yang mulai berbicara.


Tok tok tok...


Pintu kamarnya tiba - tiba terbuka.


"Nak, kau belum tidur ?" tanya bu Shinta, ibunya.


"Sebentar lagi bu !" jawab Siwan.


Lalu bu Shinta melihat tangan Siwan yang sedang menggenggam hpnya dan tertera di layarnya log panggilan keluar pada nomor seseorang yang sangat ia kenali.


"Kau sudah menghubunginya ?" tanya bu Shinta kembali.


"Belum, sepertinya aku lebih baik langsung menemuinya saja !"


"Baiklah, kalau begitu kau istirahat lah dulu, besok kita pulang ke Bali, kita akan berangkat jam 5 dari sini, "


"Baik bu !"


Bu Shinta pun berjalan menuju pintu kamar Siwan dan keluar dari sana. Sebelum ia menutup kembali pintu kamarnya, sesaat ia menengok ke belakang, melihat kembali putranya yang ternyata masih mematung melihat layar hpnya.


"Ku harap ke depannya kebahagiaan akan terus menyertaimu, nak !" gumam bu Shinta, lalu menutup pintu kamar Siwan.


Keesokan paginya...


Pukul 07.30 wita, Siwan dan bu Shinta kembali menginjakan kakinya di Bali.


Setibanya di I Gusti Ngurah Rai International Airport, di terminal penjemputan, dari kejauhan, Siwan sudah mengenali siapa saja sosok beberapa pria bertubuh tinggi dan kekar serta berbaju hitam yang tengah berbaris menunggunya dan ibunya tiba di Bali.


Siwan sendiri kini sudah nampak jauh lebih sehat dan segar setelah beberapa bulan melakukan perawatan di rumah sakit xxx yang ada di Singapura.


Namun ada yang berbeda, rambut panjangnya kini sudah ia potong pendek dengan style side undercut high top fade, serta jambang di pipinya sedikit menipis tidak selebat seperti beberapa bulan yang lalu ketika pertama kalinya di temukan oleh Aji di hutan. Siwan terlihat lebih muda dari usianya yang kini sudah menginjak kepala empat. Sorot mata tajamnya kini kembali menghiasi raut wajahnya. Kesan wajah sangar dan garang itu kembali muncul di depan mata para pengikutnya.


Siwan nampaknya sudah kembali berkharisma dan berwibawa seperti dahulu kala, terlihat dari beberapa anak buahnya yang sangat menghormatinya memberi salam padanya pada pertemuan pertama mereka kembali kali ini.


"Kak, kau sehat kan ?" Aji merangkul tubuh Siwan yang kini sudah berdiri di hadapannya.


Siwan membalas rangkulan Aji dengan penuh senyuman.


"Tentu saja, bagaimana kabarmu, Ji ?"


"Aku bahagia kak, bisa bertemu kembali denganmu !"


"Ish, kalian ini, seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak berjumpa saja, ayo kita pulang, aku merasa lelah !" sela bu Shinta.


"Bu, kau langsung pulang saja, aku harus pergi ke suatu tempat !" ucap Siwan.


Bu Shinta menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Ia tahu, ia tidak bisa mengekang anaknya, meskipun rasa khawatir masih terus melekat di hati dan pikirannya, takut akan kehilangan Siwan untuk kesekian kalinya dengan cara yang sama. Namun ia hanya bisa pasrah dan berdoa.


"Baik bu ! 'lalu Siwan menatap salah satu anak buahnya yang ada di belakang Aji' Bram, antarkan ibuku pulang, pastikan dia sampai di rumahku dengan selamat !"


"Baik kak !" jawab Bram.


Siwan dan Aji pergi menggunakan mobil yang di kendarai oleh Aji.


Bu Shinta diantarkan oleh Bram menuju kediaman Siwan, sedangkan yang lainnya ada yang membuntuti mobil Siwan dan Aji, dan ada pula yang membuntuti mobil Bram, dari belakang. Hanya untuk sekedar berjaga - jaga agar musuh dalam selimutnya tidak berbuat macam - macam di hari pertama Siwan menginjakkan kakinya kembali di Bali.


Sudah pasti musuhnya kini sudah mengetahui tentang berita kembalinya Siwan. Dan mungkin mereka sedang merasa was - was dan mulai kembali terusik dan tidak aman serta tidak nyaman untuk bernafas sekalipun. Siwan pasti akan membalas segala perbuatan mereka terhadapnya selama ini.


Kini Aji dan Siwan sudah sampai di sebuah lokasi komplek perumahan. Mobilnya terparkir di halaman rumah yang selama ini selalu ia rindukan. Rumah yang menyimpan begitu banyaknya kenangan yang ia lalui bersama seseorang yang selalu ia rindukan selama ini.


Ya, Siwan kini sedang berdiri tegak di depan sebuah pintu rumah yang menjadi hunian kekasihnya selama mereka menjalin kasih. Rumah Kenangannya bersama Hanna.


Siwan masih mematung di depan pintu rumahnya. Aji di belakangnya hanya diam sambil mengamati Siwan dari dekat.


"Apa kau selalu merawat rumah ini ?" tanya Siwan.


"Selain aku, kadang Bram dan Arjun yang menjaganya dan merawatnya, terakhir, rumah ini sudah di bersihkan dua hari yang lalu !"


Siwan merasa cukup senang mendengarnya. Ia tersenyum sambil matanya masih berkeliling dari setiap sudut yang berada di luar rumah tersebut.


"Paswordnya masih sama, aku tidak pernah mengubahnya !" sambung Aji.


Siwan mulai mendekat dan menekan tombol pasword yang melekat di handle pintu rumah itu.


Benar saja, ketika ia menekan angka - angka yang muncul dalam ingatannya, yang menjadi kunci rumah tersebut, pintu rumah pun mulai terbuka.


Perlahan, dan dengan pasti, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu.


Aji masih setia selalu menemaninya, meskipun ia memberi jarak yang cukup jauh antara dirinya dan Siwan. Ia membiarkan Siwan berkeliling untuk mengingat moment - moment indah yang ia lalui bersama sang penghuni rumah ini, dulu.


Jari jemari Siwan mulai menyentuh berbagai benda yang tertata rapih di dalam rumah tersebut, semua masih nampak sama, tidak ada yang mengubahnya sama sekali, semua masih seperti terakhir kalinya ia meninggalkan rumah itu dalam jangka waktu yang sangat lama.


Dan, ketika ia mulai membuka pintu kamar tersebut, tiba - tiba...


..."Ahjussi, hentikan, ampun, aku menyerah, pliss... xixixixi... " Hanna maupun Siwan tertawa terbahak - bahak bersamaan sambil berguling - guling di atas kasur....


Ia melihat bayangan dirinya bersama Hanna tengah bercanda ria di atas ranjang, mengingat aksi jahilnya yang selalu menggelitik kekasihnya kala ia ingin menggodanya.


Siwan masuk ke dalam kamar lebih dalam, ketika ia melihat cermin pada meja rias, ia kembali melihat moment romantis saat ia tengah duduk di kursi dan Hanna mengeringkan rambutnya dengan hairdryer sambil mengomeli dirinya, dan dia hanya bersikap acuh karena tidak mendengar omelan Hanna karena berisiknya suara hairdryer, dia hanya tersenyum sambil melihat mulut Hanna yang tidak berhenti terbuka dan bergerak lewat cermin di depannya.


Siwan nampak berkaca - kaca. Namun ia masih bisa menahan air matanya agar tidak jatuh di pipinya. Ia berkali - kali menengadah ke atas menatap langit - langit agar air matanya kembali masuk ke dalam sela - sela lipatan matanya.


Siwan lantas keluar dari dalam kamar tersebut. Lalu duduk di sofa yang ada di ruang tv.


Aji sudah menunggunya disana, juga sudah terhidangkan dua cangkir air teh panas dan satu buah teapot di atas meja.


"Baiklah, ayo kita mulai sekarang !" ucap Siwan yang sudah menaruh kembali cangkir miliknya setelah menyesap beberapa teguk teh hangat dengan mulutnya.


Aji mulai mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku jaketnya. Ia menaruhnya di atas meja, di depan Siwan.


Siwan meraihnya dan melihat isinya.


Dan, betapa terkejutnya dia saat melihat isinya yang ternyata foto - foto Hanna.


"Apa, jadi selama ini dia... !" ucap Siwan namun terhenti, karena merasa tidak percaya akan apa yang dia lihat saat itu.


"Ya, dia hamil, dia baru mengetahui bahwa dia hamil setelah satu bulan kepergianmu, dan anaknya seorang bayi laki - laki, namanya Hwan !" Aji pun mulai menceritakan bagaimana dulu saat Hanna merasa sedih dan tersiksa akan kepergian Siwan yang secara tiba - tiba. Ia pun menceritakan tentang Hanna yang pulang secara diam - diam ke kampung halamannya dan di jemput kembali oleh bu Shinta secara detail.


"Lalu, kenapa dia di izinkan kembali ke Bandung, kalau memang ibu sangat menantikan kehadiran cucunya !"


"I-itu karena ada masalah, dan orang yang menyulut api pada saat itu adalah Austin !" jawab Aji.


Lalu Aji mulai menceritakan tentang kasus DNA Hwan tanpa ada sesuatu yang ia sembunyikan sedikitpun. Meski ia juga merasa takut bahwa Siwan akan berbalik pikir tentangnya, ya mungkin saja kan Siwan juga ikut mempercayai hasil tes DNA Hwan yang mengatakan bahwa ternyata Aji adalah ayah billogisnya. Ia juga mengatakan tentanv keanehan yang terjadi di rumah sakit dan pada petugas laboratorium yang melaksanakan tugas pemeriksaan DNA Hwan saat itu.


Aji baru mengatakan semua ini sekarang atas permintaan bu Shinta. Saat ia datang berkunjung ke rumah sakit, ia tidak ingin anaknya memikirkan hal - hal yang sangat melelahkan, Siwan harus istirahat dan memulihkan dahulu tenaga dan pikirannya. Bahkan Siwan harus terapi dengan seorang psikolog karena kesehatan mentalnya agak terguncang setelah ia mendapatkan penyiksaan hampir satu tahun lamanya.


"Kak, apa kau pun meragukanku ?" tanya Aji.


Siwan yang sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya kini mulai kembali menatap Aji.


"Kenapa kau baru menceritakan semua ini padaku ?" tanya Siwan, menatapnya tajam.


"Bibi ingin agar kau fokus pada kesehatanmu dulu, ia ingin kau lekas sehat tanpa memikirkan hal lain saat itu !"


"Kak, sekarang kau sudah tahu semuanya, sebaiknya kau segera temui dia, dia berhak tahu bahwa kau masih hidup !" sambung Aji.


Siwan terlihat berpikir untuk beberapa saat. Cukup lama ia terdiam dan hanya menatap beberapa foto yang ada di tangannya. Foto kekasihnya yang tengah menggendong bayinya.


"Tidak bisa, aku tidak bisa menemuinya di saat semuanya belum clear ! aku yakin, Hanna justru akan merasa bersalah padaku dengan keyakinannya yang mempercayai bahwa Hwan adalah anakmu !"


"Lalu, kita harus bagaimana ?" tanya Aji.


"Kita cari Austin, dimanapun dia berada, kita harus menemukannya !"


"Baiklah kak, dan, sepertinya aku sudah tahu dia bersembunyi dimana saat ini !"


Kedua mata Siwan dan Aji saling beradu dan saling berbalas dengan tajam seperti silet.


"Hanna, Hwan, bersabarlah, aku akan menjemput kalian, di waktu yang tepat !" gumam Siwan


Siwan menyentuh wajah pada salah satu fotonya, lalu ia memasukan foto tersebut ke dalam saku mantelnya.