
Suatu hari, di sore hari yang terlihat mendung, suasana jalanan yang terlihat padat di beberapa titik membuat bising nya suara kendaraan bermotor terngiang - ngiang di telinga Hanna yang sedang berjalan terburu - buru saat pulang dari tempat kerjanya.
Dia takut kehujanan di jalan karena dia lupa tidak membawa payung.
Seperti biasa saat itu Hanna yang pulang dengan berjalan kaki menuju pangkalan ojeg di perempatan jalan menuju rumahnya.
Lalu tiba - tiba terasa air menetes di atas kepalanya.
" Aduh... hujan." Ucap Hanna sambil menengadahkan kepalanya sebentar menatap langit yang sudah tertutupi oleh awan hitam.
Dia pun melanjutkan kembali perjalanannya yang masih jauh dari pangkalan ojeg. Untungnya hujannya belum terlalu besar. Hanya berupa rintik - rintik air saat itu.
Dari belakang, nampaknya Satria yang hendak pulang pun melihat Hanna yang sedang berjalan terburu - buru. Ia berniat untuk menghampiri Hanna dan mengajaknya pulang bersama.
Namun, ternyata dia terlambat. Dari depan dia melihat ada sebuah motor matic memberi tanda lewat klakson motornya pada Hanna lalu tepat berhenti di sampingnya.
Satria langsung menghentikan laju motornya dan memperhatikan mereka dari kejauhan di pinggir jalan dari belakang mereka.
Saat itu, ternyata Rayhan lah yang mengendarai motor matic tersebut. Dia berniat mengembalikan motor Hanna yang di titipkan padanya.
" Han, ketemu di sini, baru pulang ?" tanya Rayhan yang berhenti tepat di samping Hanna di pinggir trotoar.
" Iya a, tadi ada meeting dadakan dulu jadi baru pulang, kebetulan banget nih hayu a, takut hujannya keburu gede. " Ucap Hanna lalu duduk di jok belakang motornya.
Tanpa basa - basi saat itu Rayhan langsung menancap gas motornya dan melaju menuju tempat tinggal Hanna. Karena saat itu hujan sudah semakin terasa membasahi baju mereka.
Satria yang masih mengintai mereka pun terlihat menyalakan kembali motornya. Dia ternyata membuntuti Hanna dan Rayhan dari belakang, hingga tepat di depan rumah Hanna. Namun Satria terus melaju melintasi rumah Hanna saat itu. Dan berhenti beberapa meter dari jarak rumah Hanna. Saat dia kira situasinya sudah aman, dia kembali memutar motornya melewati rumah Hanna dan pergi entah kemana.
" A Rey, masuk dulu yuk, nunggu hujannya reda dulu !!" Ajak Hanna yang masih berada di halaman rumahnya saat itu.
" Bener nih boleh, takut pacarmu marah !!" Ucap Rayhan lalu tersenyum jahil.
" Ih... apa sih, gak apa - apa katanya, asal jangan nginep aja. " Jawab Hanna kini gilirannya yang tersenyum jahil.
Beberapa menit kemudian, kini Rayhan dan Hanna sudah terduduk di sofa sambil memegang segelas teh hangat masing - masing di tangannya.
Mereka mengobrol santai menikmati suasana dingin sore itu. Rayhan bertanya - tanya seputar hubungannya dengan Siwan. Hanna menceritakan bahwa ibu dan adiknya sudah tahu perihal hubungan mereka. Rayhan begitu terkejut mendengarnya. Lantas Hanna menceritakan kronologis kejadian yang terjadi saat itu di Bandung.
" Eh, iya Han, aku juga gak nyangka pas kamu ngasih tahu soal Siska, untung aja waktu itu aku gak dateng ke Jakarta, kalau aku kesana, buang - buang ongkos tau gak. " Ucap Rayhan.
" Ih, dasar. Aku sampai sekarang masih khawatir loh a, dia kan lagi hamil, terus, dia tinggal dimana sekarang, biarpun begitu, dia tetep temanku." Sahut Hanna merasa sedih.
" Nanti aa bantu cari info ya, siapa tahu dia belum jauh dari daerah sini. Terus, udah pernah coba cek ke tempat kerjanya gak ? siapa tahu mungkin dia masih kerja di sana. " Ucap Rayhan.
" Udah pernah kali a, kak Austin sama bli Aji pas besoknya pulang ke Bali langsung datang ke kantor kak Siska, dan ternyata saat itu dia sudah resaign selama satu bulan. Dia bohong sama kak Os, padahal dia bilang meskipun udah nikah mau tetep kerja sampai anaknya lahir. " Jawab Hanna.
" Ya ampun, aku gak nyangka si Siska kaya gitu. Tapi, dari awal aku emang udah gak sreg sih liat dia pengaruhin kamu terus. " Ucap Rayhan membuat Hanna terkejut.
" Pengaruhin kaya gimana ? aku masih begini - begini aja, gak ada yang berubah !!" Seru Hanna.
" Aku udah lama kenal sama kamu Han, aku selalu tahu setiap inchi perubahan yang ada di diri kamu." Ucap Rayhan lalu kembali menyeruput teh di tangannya.
Hanna merasa malu dan bercampur ngeri mendengar ucapan Rayhan saat itu, dia lalu menutup tubuhnya dengan menyilangkan tangannya dengan posisi duduk yang terus mengkerut ke bawah.
" Bukan itu maksudku Han, maaf ya, aku bukan orang mesum !!" Ucap Rayhan takut Hanna menjadi salah paham akan ucapannya tadi.
" Terus, apa maksudnya ?" tanya Hanna dengan nada menyolot.
" Maksudku, ah... sudahlah, pokonya intinya kau banyak berubah." Ucap Rayhan tanpa menatap Hanna.
" Jadi lebih cantik ?" tanya Hanna penasaran.
" Iya, kau jadi lebih cantik, puas !!" Jawab Rayhan merasa tidak rela mulutnya sudah memuji Hanna.
" Ish... gak ikhlas kayanya !!" Ucap Hanna lalu tertawa.
Saat Hanna tertawa Rayhan menatapnya dengan penuh senyuman. Dia lalu berkata di dalam hatinya, " ia Han, dari dulu kamu memang cantik, aku terlambat menyadarinya, kini kamu sudah banyak berubah, tepatnya, hatimu, yang sudah bukan lagi untukku. Maafkan aku yang terlambat menyadarinya." Begitu ucap Rayhan yang menatap Hanna sedang tertawa dengan mode slow motion di depan matanya.
Setelah hujan reda, Rayhan buru - buru pamit pulang pada Hanna. Dia akan pulang dengan ojeg pangkalan yang ada di pinggir jalan raya menuju lokasi rumah Hanna.
Saat itu Hanna sempat menawarkan nya untuk makan bersama terlebih dahulu, namun Rayhan menolaknya karena alasannya mau terburu - buru sholat maghrib di kostan. Dia harus mengganti dulu bajunya karena kotor terkena cipratan air hujan.
Padahal alasan yang sesungguhnya, dia tidak ingin berlama - lama berduaan bersama Hanna. Betapa sakitnya dia harus merelakan kenyataan bahwa kini Hanna sudah tidak lagi memberikan hatinya lagi padanya, di saat kini ia sendiri yang merasakan perasaan cinta pada Hanna. Kini, gilirannya yang merasakan bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Mungkin, ini merupakan karma baginya, yang telah berulang kali melukai hati gadis pujaan hatinya dulu kala.
" Hati - hati ya a. " Ucap Hanna sambil melambaikan tangannya di halaman luar rumah Hanna saat itu.
Setelah memastikan Rayhan sudah pergi jauh dari rumahnya, Hanna mengamankan motornya ke dalam samping rumah barunya. Lalu ia kembali mengunci pagarnya lalu masuk ke dalam rumah.
Saat masuk ke dalam rumah, dia merasa kesepian kembali. Dia menatap layar hpnya, namun tidak ada pesan dari siapapun. Hanna pun masuk ke dalam kamarnya lalu kembali keluar membawa handuk piyamanya hendak mandi.
Selesai mandi, dia makan malam sendirian di meja makan, lalu dia duduk di sofa kembali dan menyalakan tv nya. Namun dia tidak bisa fokus pada acara yang ada di tv, dia hanya berulang kali menatap layar hpnya, seperti sedang menunggu seseorang menghubunginya.
Dan, beberapa menit kemudian, saat Hanna sudah mulai mengantuk, tiba - tiba hpnya menyala. Dengan secepat kilat ia mengambil hpnya yang berada di atas meja lalu langsung tersenyum lebar saat yang di lihatnya merupakan panggilan video call dari Siwan.
Dia langsung mengangkatnya dan menyambut Siwan dengan ucapan rindu padanya. Padahal belum juga 24 jam dia tidak bertemu dengan kekasihnya itu.
Siwan bertanya perihal motor dan Rayhan, hanna langsung menjelaskan semuanya pada Siwan tentang kedatangan Rayhan ke rumahnya.
Siwan nampak tidak terlalu mempermasalahkan nya, dan, saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba - tiba dari belakang Siwan seperti ada orang yang menatap Hanna. Dia semakin mendekat pada layar kamera depan hp Siwan.
Ternyata dia adalah adik Siwan. Dia memperkenalkan dirinya pada Hanna, mengajaknya mengobrol campuran antara bahasa Korea dan bahasa Inggris.
Setelah adiknya pamit pergi, kini Hanna dan Siwan kembali berhadapan lewat layar hp.
" Ahjussi, adikmu berapa umurnya, terlihat masih muda, dia sepertinya mirip salah seorang aktor Korea, siapa ya tapi aku lupa namanya." Ucap Hanna.
" Kau ini, apa aku tidak cukup untukmu ?" tanya Siwan merasa cemburu.
" Ish... aku kan cuma bertanya, bisa - bisanya kau cemburu pada adikmu sendiri. Yang aku cintai hanya kamu seorang, ahjussi, saranghae !!" Hanna memonyongkan bibirnya lalu mencium kamera depan hpnya, seraya menggoda Siwan.
Siwan tertawa terbahak - bahak melihat kelakuan kekasihnya itu.
Hampir setengah jam lamanya mereka berkomunikasi lewat video call. Dan semua harus berakhir saat baterai hp Hanna low, dia lupa belum mencharge hpnya sepulang bekerja.
Kini, karena mulai kembali merasakan kantuk, Hanna pun bergegas menuju kamarnya dan bersiap untuk tidur.