
Keesokan harinya, Hanna terlambat pergi bekerja, bus sudah pergi saat dia sedang berlari menuju halte. Karena, pukul 05.50 wita dia baru terbangun dari tidurnya.
Secepatnya dia pergi menuju pangkalan ojeg di perempatan jalan sebrang halte bus di sekitar sana.
Namun nahas, saat sedang menyebrang, tiba - tiba ada sebuah motor yang melaju sangat kencang dan sulit menghentikannya secara cepat walaupun sudah menginjak rem bawahnya dan menarik tuas rem tangannya, sebuah motor CBR itu akhirnya menabrak Hanna dari arah samping kirinya.
" Aaarrgghhh...." Hanna sempat berteriak sebelum akhirnya terjatuh dan pingsan.
Pria pengendara motor itu panik, saat itu jalanan tidak terlalu ramai memang, tapi beberapa orang dari pangkalan ojeg melihat kejadian tersebut. Mereka langsung menghampiri Hanna, ada yang mencoba menggotong tubuh Hanna, dan ada pula yang mengamankan si penabrak supaya tidak kabur.
Setelah menggotong Hanna ke pinggir jalan, lalu seorang pria tukang ojeg pangkalan menelpon ambulance karena tidak berhasil membangunkan Hanna.
Si pria penabrak terlihat sangat panik dan terlihat beberapa pria tukang ojeg pangkalan hendak mengeroyok si penabrak. Tapi untungnya ada yang bisa melerainya.
Setelah ambulance datang, lalu Hanna di bawa ke rumah sakit terdekat di temani oleh pria si penabrak di dalamnya.
Beberapa menit berlalu setelah berada di rumah sakit, Hanna mulai membuka matanya. Dan dia berusaha untuk bangun dari tidurnya, tapi dia merasa kesulitan karena kakinya terasa ada yang sakit.
" Kau tidak apa - apa ?" tanya si pria penabrak pada Hanna.
" Kamu siapa ?" tanya Hanna melirik ke arahnya.
" Maafkan aku, sungguh, aku sudah berusaha mengerem motorku sekuat tenaga, tapi kejadiannya sangat cepat, aku kesulitan mengendalikan motorku."
Hanna baru mengingatnya, bahwa dia baru saja tertabrak motor.
" Baiklah, tidak apa - apa, mungkin aku juga yang salah karena tidak hati - hati saat menyebrang. "
" Ah.. syukurlah. Pokonya, semua biaya rumah sakit, aku akan menanggungnya. Aku Satria, aku tinggal di jalan xxx. Ini ktp ku, tolong kau pegang dulu supaya kau percaya bahwa aku tidak akan kabur. Aku sudah mengurus pendaftarannya, sepertinya kau harus di rawat dalam beberapa hari. " Ucap pria bernama Satria itu.
" Apa ? memangnya kondisiku parah ?" tanya Hanna merasa kaget.
" Ada cedera di bagian kaki sebelah kiri, ada memar dan luka luar yang sudah di obati. Aku takut terjadi sesuatu pada kakimu, nanti dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan kembali setelah kau sadar. "
" Oh... baiklah kalau begitu. " Hanna berdehem seperti sedang kehausan.
" Kau haus ? ini minumlah !!" Satria menuangkan segelas air putih dan menyerahkannya pada Hanna.
Setelah selesai minum, Hanna teringat bahwa dia sedang kerja shift pagi.
" Astagfirullah... jam berapa ini, aku, harus menelpon pak Rama. " Lalu Hanna berusaha mengambil hp dari dalam tasnya.
Setelah menelpon dan memberi beberapa penjelasan pada pak Rama tentang kejadian tabrakannya sehingga dia harus izin tidak masuk bekerja untuk beberapa hari, lalu dia menutup teleponnya.
Tidak lama kemudian, seorang dokter dan perawatnya datang menghampiri Hanna.
Dokter tersebut memeriksa kembali kondisi Hanna. Dan melakukan beberapa tes pada kakinya. Dan untungnya tidak ada luka yang terlalu serius pada kaki Hanna. Tapi dokter menyarankan agar Hanna tetap di rawat dahulu agar proses penyembuhan nya berjalan cepat dan optimal karena ada perawat yang akan mengurusnya.
Lalu, setelah itu Hanna di pindahkan ke ruang rawat inap. Sebelumnya, Satria sempat berbicara pada dokter bahwa dia meminta agar Hanna di pindahkan ke kamar vvip di rumah sakit tersebut.
Hanna bilang itu terlalu berlebihan, dia bahkan hanya cedera ringan saja. Lalu Satria menurunkan kamar inap nya ke kamar vip saja. Hanna tetap merasa keberatan, dan meminta pada Satria untuk memasukkannya ke kamar inap biasa saja.
Dokter yang merasa tidak ingin ikut campur antara percakapan Hanna dan Satria pun pamit pergi. Dia menyuruh perawatnya saja yang mengurusnya karena masih ada pasien lainnya yang menunggu.
Dokter pun pergi satelah berpamitan, dia pergi sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Mungkin di matanya, Satria dan Hanna terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berdebat.
Akhirnya setelah beberapa menit berdebat, perawat membawa Hanna ke ruangan vip, karena perawat berkata bahwa ruang kelas satu dan yang lainnya sedang penuh, hanya ruang vip lah yang sedang kosong. Entah itu benar - benar fakta atau hanya karangan saja, Hanna seperti terlihat mencurigai Satria.
" Terimakasih banyak ya, mas Satria, seharusnya tidak usah terlalu berlebihan seperti ini. " Hanna memanggilnya mas karena melihat di ktpnya bahwa dia berasal dari Surabaya.
" Tidak apa - apa, aku merasa lega karena kau terlihat baik - baik saja selebihnya. "
" Eh iya, tolong jangan pergi dulu ya, aku gak berani sendirian disini, aku mau menelpon seseorang dulu supaya datang kesini menemaniku. "
" Baiklah, silahkan. "
Tapi, belum juga menelpon seseorang, terlihat jelas bahwa ada panggilan telepon masuk di layar hpnya.
" A Rey.. " ucap Hanna lalu mengangkat teleponnya.
" Hallo, assalamualaikum a Rey, ada a.... " belum juga tamat berbicara, Rayhan sudah menyahutnya
" Waalaikum salam Han, kamu dimana?" tanya Rayhan.
" Sekarang kamu dimana? A Rey tahu, kamu tadi habis ketabrak motor kan. Cepet kasih tau, dimana?" Rayhan merasa tidak sabar.
" Hanna, ada di rumah sakit xxx di vip room. "
Baru juga selesai bicara, Rayhan langsung menutup telponnya. Hal itu membuat Hanna kaget, dan merasa malu karena di perhatikan Satria.
" Emh... temanku, dia sedang dalam perjalanan kemari. Tolong tunggu sebentar lagi ya.. " Ucap Hanna.
" Tidak apa - apa, santai saja, saya lagi free kok. " Ucap Satria tersenyum.
" Ngomong - ngomong, tadi kita kemari naik apa? naik motormu bukan?" tanya Hanna penasaran.
" Mana mungkin, tadi kita kemari naik ambulance. "
" Wah, ini perdana, aku naik ambulance.. "
" Kenapa, dik Hanna ?" tanya Satria.
" Ah.. tidak, maksudku, motormu bagaimana, di tinggal begitu saja di jalanan ?"
" Aku titipkan di bank terdekat, aku sudah bicara sama pak security nya, nanti ada temanku yang mengurusnya."
Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah seseorang setengah berlari, dan membuka pintu masuk kamar inap Hanna berada.
" Hanna.. kamu, gimana kondisinya, sekarang ?" Rayhan terlihat kelelahan saat berbicara, seperti seseorang yang baru selesai lari marathon saja.
" A Rey, tenang dulu, Hanna gapapa kok, ini cuma kaki saja yang cedera, tapi gak parah kok." Hanna tersenyum pada Rey merasa senang dia sangat mengkhawatirkan nya.
" Ah.. syukurlah.." Rayhan memeluk Hanna yang sedang terduduk di atas ranjangnya.
" A Rey, tahu darimana ?"
" Tadi, dari tukang ojeg pangkalan, salah seorang nya ada yang tahu kalau kamu temenku, anak kost gedung teratai." Ucap Rayhan sambil duduk mengambil kursi dekat ranjang.
Lalu, Hanna memberi isyarat lewat mata bahwa ada seseorang di belakangnya. Dan saat Rayhan menoleh, Satria sudah berada di belakangnya.
" Hallo, saya Satria, saya bener - bener minta maaf untuk kejadian yang menimpa temannya, tapi saya akan bertanggung jawab sepenuhnya, mas. Saya bener - bener minta maaf ya !!" Satria mengulurkan tangannya pada Rayhan.
Dan Rayhan langsung berdiri dari duduknya dan menjabat tangan Satria.
" Yang penting, teman saya, dia baik - baik saja, lukanya tidak parah. Saya Rayhan. "
Sepersekian detik, mata Hanna tertuju pada ransel yang di bawa Rayhan yang di simpan di bawah.
" A Rey, mau kemana ? kenapa bawa tas segala ?" tanya Hanna.
" Ah, iya, tadinya kemarin aku mau pamit, karena lagi libur panjang, mau pulang dulu ke Bandung. "
" Owh... jadi a Rey tadi ke pangkalan ojeg mau pergi ke bandara ?"
" Iya, tapi tidak apa - apa, masih bisa di cancel kok. Nanti saja, Aa cemas kalau Hanna sendirian dalam kondisi seperti ini. " Rayhan mengusap kepala Hanna.
" Makasih banyak loh, tapi Hanna jadi gak enak nih, a Rey gak jadi pulang ke Bandung gara - gara Hanna. "
" Gapapa, masih ada hari lain, aku liburnya kan masih sampai awal tahun. Kamu sendiri gimana, udah telepon ke toko belum ? sekarang masuk shift pagi kan ?"
" Udah kok, tadi udah telepon pak Rama. "
Lalu, Satria menyela obrolan mereka.
" Emh... permisi, Han, boleh saya pergi dulu kali ini, karena sudah ada temannya sekarang.. " Ucap Satria sambil melirik juga ke arah Rayhan.
" Oh.. iya maaf, silahkan mas, maaf ya menunggu terlalu lama. "
" Ah.. tidak apa - apa, justru sebenarnya saya merasa tidak enak harus pulang sekarang, tapi, mendadak teman saya memberitahu ada hal penting yang harus saya kerjakan. "
" Oh.. kalau begitu, ini mas, ktpnya di ambil aja, siapa tahu mungkin perlu ktpnya. "
" Ah.. tidak, tidak usah, saya sudah bilang itu sebagai jaminan kalau saya tidak akan kabur. Besok, saya akan datang lagi kesini ya. Jadi, sementara kalau butuh sesuatu, katakan saja pada perawat di luar, nanti saya akan bicara pada perawatnya." Ucap Satria.
" Baiklah, terima kasih banyak ya, mas Satria."
Satria tersenyum lalu pamit juga pada Rayhan, setelah itu dia meninggalkan kamar inapnya.