My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Kisah seorang teman part 2



Satu hari sebelum Siska pulang dalam keadaan mabuk.


Hari itu, sore harinya, Hanna, pulang kerja dari shift pagi, pulang dengan tergesa - gesa.


Dia menerima chat dari Siska bahwa dia sedang menunggu Hanna dan memesan beberapa makanan pada Hanna.


Hanna khawatir bahwa Siska belum makan dari pagi makanya dia pulang secara tergesa - gesa.


Dan, benar saja, sesampai nya di kostan, Siska langsung melahap sebungkus nasi padang dan satu gelas es campur pesanan nya.


Dia terlihat baru selesai mandi, rambutnya pun terlihat masih sedikit basah.


" Kak, pelan - pelan dong, awas keselek !!" ucap Hanna.


" Lapar banget tsay... " jawab Siska.


Selama Siska makan, Hanna hanya menunggu Siska sambil asik membalas chat dari Siwan.


" Euuuuuurrgghhh... " suara sendawa Siska membuat Hanna terkejut.


" Ih... plis lah... aku kesel denger suara kaya gitu. Mana gak pake tutup mulut. " Hanna sedikit cemberut.


" Hehe.. sowry sowry.. keceplosan." Jawab Siska.


" Kak, aku pulang dulu ya, mau mandi dulu nih gerah. " Ucap Hanna.


" Yaudah, bukannya dari tadi kek, bau keringat tau... " Siska memencet hidungnya.


" Dih, aku langsung lari dari toko ke warung nasi padang demi dirimu tau.. "


" Hihihi... makasih yaaaaaa " ucap Siska, seperti tidak ada yang terjadi apapun, dia terlihat begitu ceria seperti biasanya.


Satu jam kemudian, Siska terlihat sedang menggedor pintu kamar kost Hanna.


" Han... Hanna... buka dong, lagi apa sih kok lama bener ?" tanya Siska sambil menggedor pintu.


Tidak lama kemudian, Hanna membuka pintu kamarnya.


" Maaf kak, aku ketiduran abis mandi. " Hanna masih terlihat mengenakan piyama handuk dan rambutnya di tutupi oleh handuk kecil seperti habis keramas.


" Aku bawa eskrim nih, tadi nitip sama kak Roy anak lantai 3 kamar 4, tau kan ?"


" Tau, yang kerja jadi dosen itu kan ? " tanya Hanna.


" Yups.., nih, varian terbaru rasanya enak, aku pernah cobain sebelumnya." Siska mulai membuka tutup kemasan eskrim.


" Jadi..... Ada apa?" tanya Hanna penuh curiga.


" Ada apa, maksudnya ? " Siska pura - pura lupa.


" Oh.. jadi, masih belum mau cerita ? oke.. i'm fine. No problem !!" Ucap Hanna.


Hehe.. Siska hanya tertawa lalu menarik nafas dalam - dalam.


" Han, apa aku salah, jatuh cinta sama suami orang ? " tanya Siska.


" Bukannya kak Dani masih single ?" tanya Hanna kembali.


" Bukan Dani. Aku udah putus sama dia tiga bulan yang lalu. "


" Oh... jadi beda lagi ya, setahuku kakak belum cerita soal ini. Siapa memangnya ?"


" Dia, Kepala Tim Kantor di tempatku bekerja. Setelah putus dari Dani, aku hampir sering berpapasan dengannya. Entah itu takdir atau kesengajaan, aku gak tahu. Sebelumnya aku hanya mengenalnya sebagai atasanku saja, tapi, semenjak dia meminta nomor telepon ku, dia jadi sering kirim chat, kadang menelponku, ngajak makan malam, pulang bareng. Aku yang saat itu masih merasa galau habis putus dari Dani, merasa senang karena ada yang memperhatikan ku lagi. Padahal aku tahu, dia ini suami orang, kenapa aku mau ya saat itu. " Siska menarik nafas dan menghembuskan nya secara kasar.


" Dia, saat itu, cerita bahwa, dia sedang dalam tahap perceraian dengan istrinya. Entah apa alasan sebenarnya, tapi, dia hanya bilang padaku bahwa, istrinya sudah berubah. Merasa sudah tidak bisa sejalan lagi. Aku yang saat itu belum paham apa maksud dia menceritakan semua itu padaku, malah memberinya beberapa saran dan kata - kata semangat lainnya.


Aku bener - bener bodoh, bisa terpesona oleh kharisma dan ketampanan dia saat itu, walaupun umurnya sudah kepala lima dia masih memepesona. Aku menyesali nya, sumpah. " Siska menundukkan kepalanya.


" Udah donk kak, semua udah terjadi, gak perlu nyalahin diri kaya gitu. Jangan di pikirin terus, nanti jadi stress tau. Udah ya, lupain aja. " Hanna mengusap punggung Siska.


" Aku bahkan sempat beberapa kali pergi ke hotel sama dia.. Dia berhasil meluluhkanku, membuatku jatuh dalam pelukannya. " Siska menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


" Secepat itu kah ? kalian kan baru kenal dekat belum lama ini, kak.. "


" Iya, aku tahu, aku sangat ceroboh. Euforia saat itu, saat kami berhasil melakukan pencapaian kerja terbaik, kami bahkan pergi makan dan minum, berpesta setelah pulang kerja. Aku dan dia yang sama - sama sedang merasa gembira, dia lalu mengajakku pulang bersamanya. Saat itu, kami tidak mabuk parah seperti yang lainnya, dia masih sanggup menyetir mobil sendirian. Di tengah jalan, di jalanan sepi, dia berhenti di pinggir jalan.


Lalu, dia menciumku dan menyatakan perasaannya padaku. Dia bilang, bahwa dia sudah menyukai ku sejak lama. Hanya, dia kalah cepat dengan Dani saat itu. "


" Wah... sama kak Dani kan lumayan lama kak. " Sahut Hanna.


" Yups, hampir satu tahun setengah, dia bilang bahwa, dia menunggu ku selama itu. Eh tidak, hampir dua tahun sejak aku pindah ke kantor itu. Aku kan pedekate sama Dani selama enam bulan. "


" Terus, lanjut dong yang cerita di mobil. Hihi.. " Hana nyengir.


" Ih.... dasar otak mesum.


Ya, karena aku juga ada perasaan padanya walau sedikit, aku langsung menerima cintanya lah, apalagi dia itu tampan, termasuk tipe - tipe pria hot daddy. Dan, kami pun bermalam di hotel saat itu juga. Ah... sudahlah.. aku tidak mau mengingatnya lagi. " Ucap Siska.


" Yaudah kalau gitu gak usah di bahas lagi yaa, mending kakak fokus dulu aja sama karier kakak sekarang, bukannya mau ambil S2 tahun depan." Hanna menyeruput eskrim yang sudah mencair karena terlalu fokus mendengar cerita Siska.


" Makanya Han, coba pikirkan sekali lagi, aku takut kamu menyesal sepertiku. Aku menyesal terburu - buru menerima perasaan om Frans. Hanya karena saat itu aku lagi galau, sedih abis putus sama Dani dan saat om Frans mendekat, aku merasa melupakan kesedihan dan kegalauanku begitu aja." Ucap Siska


" Maksudnya gimana ? hubungannya sama aku menyesal apa, kak ?" tanya Hanna, belum memahami ucapan Siska.


" Iya, kamu sama kak Wan. Coba sekali lagi pikirkan, dari lubuk hati yang paling dalam, apa kamu bener - bener suka dan cinta sama kak Wan ? atau hanya terbawa perasaan aja setelah kamu merasa sakit lagi gara - gara Rey. Mumpung hubungan kalian masih belum lama, aku cuma takut, kamu sendiri yang akan menyesal. Aku sebagai temanmu, hanya bisa mengingatkan saja sih ya, semua keputusan tetep kamu sendiri yang ambil, tentu... dengan resiko yang akan kamu jalani juga. "


Hanna terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Tapi Han, kamu beruntung, dia bukan suami orang, dia hanya seorang duda, tapi, apa kamu udah bener - bener percaya padanya ? apa kamu pernah tanya, dia pria single atau punya pacar ? dimana keluarganya, seperti apa mereka, pekerjaan yang dia geluti seperti apa? "


" Bener juga ya, aku bahkan belum memastikan semua itu. Aku segan menanyakan hal itu semua, aku cuma takut dia merasa risih jadinya. "


" Tidak apa - apa kan, bagiku itu hal wajar, untuk saling memahami dan mengetahui latar belakang masing - masing walau hanya sedikit informasi yang di dapat. Sebetulnya, dalam hubungan, keterbukaan dan komunikasi itu sangat penting, untuk memperkuat dan saling timbul rasa percaya meskipun kita sedang berjauhan. Biar jadinya gak ada rasa suudzon gitu, maksudnya.. "


" Aku, gak tau kak, yang aku tau, aku hanya merasa nyaman saat dia ada di dekatku, dia, membuatku merasa menjadi wanita berharga, dia belum pernah bahkan takut membuatku menangis. Aku jadi sangat merasa spesial. "


" Ya bagus dong, sebetulnya, pria yang bener - bener sayang ke kita itu, mereka bahkan rela menjaga kita, perasaan kita, ingin melindungi, membahagiakan sudah pasti, bukan cuma karena mau nafsunya aja loh ya.. "


" Nafsu... ?" Hanna mengernyitkan kedua alisnya.


" Lah, kamu pikir pacaran itu kayak gimana ? Hampir semua pria, saat di dekat pacarnya, apalagi suasana dan keadaan mendukung, mereka selalu mencari kesempatan dengan berbagai cara. Dih, kamu pernah pacaran gak sih.. ?" tanya Siska keheranan.


" Ya pernah lah.. pas zaman SMA dulu, itu juga cuma status aja sih, jarang pergi berduaan, kalo pergi jalan, ada sahabatku yang selalu menemani kemanapun aku pergi sama Sammy. " Hehe...


" Yah, itu mah pacaran anak balita. " Hahahaha... Siska tertawa.


" Ih.. dasar.. " Hanna merasa kesal.


" Ya pokoknya, kamu kan sekarang udah dewasa lah, gak mungkin gaya pacarannya kaya dulu zaman SMA. Aku cuma mau nitip pesan aja, tolong kamu pertahankan prinsip mu yang sangat berharga itu walaupun pasti rasanya sangat sulit. Di zaman ini, orang sangat sulit menahan nafsu di berbagai hal.. Nanti juga kamu bakal ngerti sendiri lah.. gak usah di jelasin panjang kali lebar, gak bakal ngerti kalau belum pernah mengalami semua itu. " Ucap Siska.


" Oke.. oke.. thanks sarannya ya. "


Setelah lelah berbincang - bincang, mereka lalu melanjutkan menghabiskan malam dengan menonton drama Korea di laptop Hanna.