
Dua bulan berlalu...
Sore hari di bulan Agustus, tanggal 16, tepatnya hari rabu, pukul 15.30 wita, di sebuah rumah sakit, di ruang vvip, pada sebuah ranjang pasien, terlihat seorang wanita muda tengah tertidur begitu lelapnya.
Di samping kirinya, tidak jauh, terdapat sebuah box bayi yang di atasnya pula terbaring seorang bayi yang tengah tertidur pulas dalam balutan kain bedong dan memakai kupluk bayi.
Mereka adalah Hanna dan bayinya.
Tidak lama kemudian, seseorang masuk ke dalam ruangan secara mengendap - endap dan menghampiri box bayi Hanna saat itu.
Tangan orang tersebut perlahan terayun ke depan meraih ke arah bayi Hanna. Namun, belum sempat orang tersebut menggendong bayi Hanna, tiba - tiba telinganya mengembang ketika mendengar suara langkah kaki dan pintu kamar yang mulai terbuka, orang tersebut mengurungkan niatnya dan berlari menuju kamar mandi secepat kilat, lalu bersembunyi di dalamnya.
Aji dan bu Shinta masuk ke dalam kamar Hanna dan mendekat pada keduanya.
Hanna masih tertidur lelap karena pengaruh obat saat itu.
" Ji, bagaimana, apa kau sudah membicarakannya dengan Hanna sebelumnya soal tes DNA Hwan ?" tanya bu Shinta, dengan suara lirih.
" Sudah bi, Hanna memakluminya, untuk memastikan semuanya, ia tidak keberatan, karena dia juga tidak mau bibi ragu untuk mewariskan seluruh aset kak Wan pada cucu bibi sendiri, aku sudah membicarakannya dengan dokter kenalanku disini !" jawab Aji.
" Baguslah, kalau kau sudah membahasnya dengan Hanna, sejujurnya... aku takut Hanna tersinggung, aku tidak berani membicarakan hal ini langsung padanya, aku paham kalaupun memang ia kecewa dengan permintaanku ini " ucap bu Shinta.
" Tidak bi, percayalah, Hanna bisa di ajak bekerja sama, buktinya dia juga sudah bisa mengelola sebagian aset kak Wan, aku yakin, dia bisa di percaya !"
Ketika mereka tengah berbincang - bincang, seseorang yang bersembunyi di kamar mandi menguping pembicaraan mereka itu. Hal itu lantaran keduanya mengobrol di dekat pintu kamar mandi karena tidak ingin Hanna ataupun bayi Hwan terbangun karena obrolan mereka.
Orang yang bersembunyi di dalam kamar mandi tiba - tiba jantungnya berdebar begitu kencang, ketika ia merasa bahwa seseorang di luar sana seperti berjalan mendekat ke arah pintu kamar mandi.
Bu Shinta berjalan perlahan menuju kamar mandi karena perutnya terasa sakit.
Namun, ketika ia hendak menggeser pintu kamar mandi, hp di dalam tasnya berbunyi.
Bu Shinta langsung merogoh hpnya di dalam tas miliknya dan mengangkat panggilan telepon yang masuk ke hpnya.
Bu Shinta mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar mandi, ia malah mengangkat teleponnya dan pergi keluar untuk bercakap bersama orang lewat sambungan teleponnya.
Orang yang bersembunyi di dalam kamar mandi merasa lega, di balik maskernya, seringai senyum segaris tercetak di bibirnya.
Dan juga, tak lama kemudian, hp di dalam saku celana Aji pun berbunyi, dan ia terburu - buru keluar dari ruang kamar Hanna sambil masih berbicara pada seseorang di teleponnya.
Ketika di rasa cukup aman, orang yang bersembunyi di dalam kamar mandi pun perlahan keluar setelah sebelumnya mengintip perlahan di balik celah pintu kamar mandi yang terbuka, dan buru - buru keluar pula dari ruangan kamar tersebut, yang kebetulan saat itu bu Shinta yang sedang bertelepon ternyata menghadap ke arah berlawanan dan agak jauh dari ruangan tersebut.
Orang itu berjalan terburu - buru menjauh dari ruang kamar Hanna menuju ke arah lift, sambil membuka jas dokter miliknya, lalu, sebelum masuk ke dalam lift, ketika ia melihat ada sebuah tong sampah, ia membuang jas dokter miliknya ke dalam tong sampah, lalu masuk ke dalam lift dan memencet tombol turun ke bawah.
Di dalam ruang kamar, kita lihat Hanna sudah mulai membuka kedua matanya.
Wajahnya nampak terlihat masih pucat setelah beberapa jam lalu ia sudah berhasil dengan berjuang sekuat tenaga melahirkan bayi tercintanya ke dunia ini.
Kepalanya menoleh ke arah box bayi yang berada di samping ranjangnya, ia menatap ke arahnya dengan penuh sukacita hingga berkaca - kaca.
Lengannya melayang seolah ingin meraih dan menyentuh bayinya, dalam posisi masih seperti sediakala, terbaring dan terbujur lemah di atas ranjangnya.
Karena setelah melahirkan ia mengalami pendarahan hebat, maka dokter belum memperbolehkan ia untuk duduk meskipun hanya bersandar. Hanna masih harus berbaring lurus karena masih memakai alat di bagian bawah untuk menghentikan laju pendarahannya. Di lengannya pun terlihat masih terpasang selang infusan.
Beberapa detik kemudian....
Hanna menoleh ke arah pintu masuk ruang kamarnya ketika seseorang membukanya.
Dari balik pintu, terlihat wajah - wajah orang yang sangat ia rindukan selama ini.
" Mah.... " ucap Hanna sambil masih berkaca - kaca.
Mereka adalah kedua orangtua Hanna, juga adiknya dan juga Aji yang ternyata tadi menyambut mereka setibanya di rumah sakit.
" Teh... ini mamah " ucap Hani, menghampiri anak sulungnya lalu memeluknya dan mencium keningnya.
Berbeda dengan ayah dan adik Hanna, mereka malah terlihat menghampiri box bayi di samping ranjang Hanna dan mengabaikan Hanna saat itu.
" Ya ampun... gantengnya cucuku ini " ucap pak Bagyo.
Pak Bagyo hendak meraih dan menggendong cucunya, namun Abdul adik Hanna mencekalnya.
" Ih... pak, kotor, cuci tangan dulu lah !" ucap Abdul.
Lalu pak Bagyo dan Abdul pun bergantian mencuci tangannya di wastafel yang tidak jauh dari posisi mereka.
Secepat kilat pak Bagyo kembali ke arah box bayi dan menggendong cucunya dengan tidak sabaran.
" Hati - hati pak, udah lama gak gendong bayi juga !" pinta bu Hani.
Dan, tidak lama kemudian bu Shinta masuk ke dalam kamar dan menyapa keluarga Hanna yang baru datang.
Ia menjelaskan kronologis kejadian tentang proses persalinan Hanna sekilas dan juga tentang pendarahan yang di alami oleh Hanna.
" Tapi tenang saja bu Hani, dokter sudah menanganinya dengan baik, saat ini kita doakan saja supaya Hanna lekas pulih " ucap bu Shinta.
" Ya Alloh teh, syukur alhamdulillah, kamu masih di temani sama keluargamu disini, khawatir banget mamah dengernya, pendarahan pasca melahirkan itu membahayakan !" sahut bu Hani, menatap Hanna dan mengusap keningnya yang terlihat berkeringat, dengan tissue.
Lalu, pak Bagyo yang sedang asyik menimang cucunya mulai ikut bercakap dan menghampiri para ibu - ibu di dekat ranjang Hanna.
" Teh... udah di adzanin belum ?" tanya pak Bagyo.
Hanna hanya menggelengkan kepalanya.
Dan, tidak lama kemudian pak Bagyo pun melantunkan suaranya, mengumandangkan adzan di telinga sebelah kanan bayi Hwan.
Bu Shinta terlihat sedikit terkejut, karena ia seorang non muslim, ia tidak tahu kalau hal tersebut merupakan hal yang biasa di lakukan umat muslim ketika menyambut kelahiran seorang bayi ke dunia.
" Kenapa kamu gak bilang Han, disini pun ada pegawai umat muslim, ibu bisa memintanya untuk melakukannya sejak tadi !" ucap bu Shinta setelah mendengar pak Bagyo selesai adzan di telinga cucunya.
" Maaf bu, Hanna gak inget, tadi Hanna panik banget soalnya "jawab Hanna.
Bu Shinta hanya tersenyum dan memakluminya.
" Udah pak, giliran dong, mamah juga mau gendong cucu !" bu Hani mulai mendekat ke arah suaminya yang asyik menggendong bayi Hwan yang sudah mulai menggeliat dan bereaksi karena mendengar suara pak Bagyo tadi saat adzan di dekat telinganya.
" Cuci tangan dulu sana !" pinta pak Bagyo.
Ketika bu Hani menggendong cucunya, terlihat jelas bahwa bayi Hwan lebih nyaman di timang oleh tangan seorang wanita.
" Liat nih pak, begini caranya, Hwan jadi lebih nyaman di gendong sama mamah tuh !" ucap bi Hani.
Pak Bagyo hanya berdecak kesal di sindir oleh istrinya.
" Oh iya... gimana, apa udah dapet nama kepanjangan buat Hwan belum ? masa namanya cuma Hwan aja !" ucap pak Bagyo.
Bu Shinta yang menyahutnya.
" Gimana Han, udah kamu pikirkan nama panjangnya ?" tanya bu Shinta juga.
" Sejujurnya belum bu, Hanna belum terlalu memikirkannya " jawab Hanna dengan entengnya.
" Loh... gimana toh kamu ini, bapak kira udah dapet nama yang cocok buat Hwan, anaknya udah lahir loh ini " sahut pak Bagyo.
" Aku pasrahkan aja sama bapak, gak paham aku pak, yang penting aku maunya panggilannya Hwan aja !" ucap Hanna.
" Oke, nanti bapak pikirin dulu nama yang bagus buat cucu bapak " sahut pak Bagyo.
" Jangan kelamaan mikirnya loh pak !" tukas bu Hani.
" Iya - iya, bapak sebenernya udah ada dua nama, buat jaga - jaga aja, antisipasi, ternyata kejadian juga kan yang bapak khawatirkan, ketimbang nyari nama anak aja susah "
" Pak, kasih namanya yang keren dong, anak masa kini masa namanya Asep, Ujang, Maman, Udin.... " belum juga selesai berbicara, bu Hani langsung memukul mulut anak laki - lakinya perlahan.
" Lambemu toh nak, tak bogem, mau... !" bu Hani naik pitam.
" Ish... galaknya, nenek kok gitu sih di depan cucunya sendiri !" Abdul mengelus - elus bibirnya yang terasa sedikit ngilu terkena tampolan tangan ibunya.
Hanna, Aji dan bu Shinta hanya tertawa melihat tingkah keluarganya yang nampak normal seperti biasanya.
Keluarha mereka memang terlihat seperti orang yang selalu cekcok dan tidak harmonis bagi orang awam, namun bagi Aji maupun bu Shinta, hal itu sudah terasa wajar dan memaklumi kehangatan di dalam keluarga Hanna.
Bagi Hanna dan keluarga, berdebat, bercanda dan bertengkar tidak ada bedanya.
Namun, ketika salah satu dari mereka terdiam, tidak berbicara sepatah katapun dari mulut masing - masing, bisa di pastikan bahwa saat itu berarti mereka sedang marah atau kesal.
Beberapa jam berlalu....
Bu Shinta, Aji dan Abdul sudah tidak nampak terlihat berada di dalam ruangan kamar inap Hanna malam itu.
Aji sedang mengantarkan bu Shinta dan Abdul pulang menuju kediaman Siwan saat itu.
Hanna yang kondisinya belum pulih masih harus menginap di rumah sakit karena khawatir terjadi pendarahan kembali setelah pulang ke rumah.
Kini Hanna di temani oleh kedua orangtuanya di rumah sakit.
Saat itu, pukul 07.00 wita, Hanna baru selesai makan merasakan sakit pada PD nya.
" Mah, sakit banget ini... " Hanna mengarahkan tangannya pada dadanya.
" Asinya sudah menumpuk, sudah mau keluar kayaknya tuh teh, coba di rangsang lagi !" ucap bu Hani, lalu menggendong Hwan dan menyerahkannya pada Hanna yang kini sudah di perbolehkan bersandar di ranjang karena melihat pendarahannya sudah berhenti.
Hanna pun berlatih mengasihi Hwan dengan perlahan, awalnya bayi Hwan nampak terlihat kesal karena ia sudah mencoba menyedot pu*ing ibunya, namun tak kunjung jua mendapat tetesan asi mengalir di kerongkongannya sejak ia lahir siang hari tadi.
Namun, karena saran dari dokter dan perawat yang terus menyemangati Hanna dan Hwan untuk membangun kerja sama dan ikatan agar asi yang sudah menumpuk di PD milik Hanna bisa keluar secepatnya.
Bagi seorang wanita, terlebih lagi seorang ibu yang menyusui, pastilah sangat sakit rasanya ketika terjadi pembengkakan pada payud*ranya namun belum juga bisa keluar, terlebih lagi bagi seorang wanita yang baru melahirkan, rasa stress karena sakit di bagian bawah yang masih terasa begitu nyata, rasa tidak nyaman dna tentunya sakit di bagian atas karena belum juga berhasil menyemburkan asi dari saluran PD nya, juga rasa stres karena takut bayinya kelaparan karena belum juga terkucuri setetes cairan sejak ia lahir kedunia ini.
Semua begitu tercampur aduk hingga mungkin bisa saja menyebabkan baby blues bagi sebagian orang.
" Sabar ya teh, memang begini kalau baru melahirkan, ibu juga dulu pas lahir kamu, 3 hari asi baru keluar, kamu jadinya di kasih susu formula dulu sebelum minum asi, tenang aja, jangan stres, kamu mah ini udah ada tanda - tandanya mau keluar kok, tenang aja, dokter juga gak bakal biarin Hwan kelaparan kalo mereka tahu kamu masih lama keluar asinya " ucap bu Hani.
Bu Hani masih dengan sabar mendampingi anaknya dan menasehatinya agar tetap tenang di atas kegalauan yang melanda anaknya.
Tidak seperti ayahnya, pak Bagyo, yang kini sedang tertidur pulas di atas sofa di salah satu sudut ruangan kamar inap rumah sakit saat itu.
Berbagai cara sudah Hanna lakukan, kali ini di bantu oleh ibunya. Mulai dari membersihkan put*ng PD nya, memijat dan memutar PD nya secara perlahan dan lembut, mengompresnya dengan air hangat, menstimulasinya dengan mulut Hwan berulang kali, meminum obat pelancar asi, makan buah dan sayur dengan lahap, dengan sabar Hanna terus melakukannya sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan.
Namun, demi buah hatinya, ia mencoba tetap tegar, menguatkan diri supaya ia bisa meredam rasa stres dan gelisahnya seorang ibu baru, yang minim pengalaman dalam menghadapi situasi seperti ini.
Ketika Hanna masih mendekap Hwan di dalam pelukannya sambil mencoba menstimulasi PDnya dengan mulut Hwan, hp milik Hanna bergetar, panggilan telepon masuk di layar hpnya, tercetak dengan jelas nama seseorang di atas benda pipih tersebut. BLI AJI.
Sebelum mengangkat teleponnya, Hanna memasang handsfree di telinganya.
" Hallo... " ucap Hanna.
" Han... bagaimana sekarang ?" tanya Aji, di seberang sana.
" Masih belum bli, masih di coba, gimana di rumah ? aman ?"
" Aman kok, bibi kayaknya udah tidur, katanya dia sekarang bisa tidur nyenyak, adikmu lagi makan malam, bi Asih dan bi Lastri lagi nonton sinetron, biasalah.... " ucap Aji.
" Hihihi... baguslah, semua berjalan seperti biasanya "
" Besok pagi aku kesana ya, malam ini kau di temani kedua orangtuamu dulu, gapapa kan... ?" tanya Aji.
" Gapapa bli, santai aja, bli juga butuh istirahat, jangan bergadang ya, jaga kesehatanmu juga "
" Iya pasti, yasudah kalau gitu aku mau istirahat dulu, kalau ada apa - apa langsung telepon aja " ucap Aji.
" Bli... makasih banyak ya buat semuanya, maaf banget selalu merepotkan... " ucap Hanna.
" Gapapa lah Han, kamu dan Hwan, sekarang jadi prioritas utamaku, santai sajalah... "
" Makasih ba-nyak bli a..... " ucapan Hanna terhenti kala ia merasakan sesuatu pada tubuhnya.
" Aaaaaarrrggghhhhh.... "
" Hallo, Han... kamu kenapa ?" tanya Aji di seberang sana.
Menyadari suara Aji masih terdengar di telinganya, Hanna buru - buru mematikan sambungan teleponnya.
" Hallo, Han... "
Tuuut.... tuuut.... tuuut....
Suara sambungan telepon yang terputus secara tiba - tiba membuat Aji menjadi cemas bukan kepalang.
" Ada apa dengannya ? atau jangan - jangan.... "
Aji mulai berpikir negatif, takut terjadi suatu hal buruk pada Hanna, Hwan dan keluarganya di rumah sakit.
Ia pun beranjak dari ranjangnya dan mengambil jaket serta kunci mobil di atas meja, lalu keluar dari kamar dan turun ke bawah, keluar dari rumah dan menyalakan mobilnya.
Aji masuk ke dalam mobilnya, keluar dari halaman rumah dan kini mobilnya melaju di jalanan malam hari dengan kencang namun tetap hati - hati, menuju rumah sakit, dengan perasaan cemas.