My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 SARAN



Dua bulan kemudian...


Sudah hampir satu bulan lamanya Aji tidak tinggal bersama Hanna, Hwan dan para bibi di kediaman Siwan. Bahkan berkomunikasi pun tidak.


Namun Aji tetap memantau Hanna dan Hwan lewat bi Asih yang berada di posisi netral.


Bahkan supir pribadi di rumah itu pun di gantikan oleh Bram, orang yang lebih Aji percaya di bandingkan Seto. Namun ketika Bram mengantar Hanna ataupun Hwan, Seto tetap harus berada di rumah menjaga keamanannya.


Sesuatu terjadi pada mereka selama itu.


...****...


Flashback...


Tiga hari setelah menerima hasil DNA Hwan, Hanna diam - diam pergi ke rumah sakit tanpa sepengetahuan Aji. Bahkan pada bi Asih dan bi Lastri pun ia hanya izin untuk memeriksa kondisi kesehatannya karena merasa tidak enak badan. Tentu saja Hanna terpaksa berbohong saat itu pada para bibi di rumah.


"Bibi temenin ya neng, khawatir bibi !!" ucap bi Asih.


"Gak usah bi, di rumah aja temenin bi Lastri ya, takutnya bi Lastri kerepotan jagain Hwan, aku sama pak Bram Aja ya," jawab Hanna.


Dan akhirnya Hanna pun pergi ke rumah sakit bersama Bram, ia meminta pada Bram dan para bibi untuk tidak memberitahu Aji ataupun bu Shinta karena takut mereka khawatir, apalagi bu Shinta yang masih berada di Austalia, ia tidak ingin membuat orang lain cemas. Sedangkan Aji saat itu sedang ada rapat penting bersama klien.


Sesampainya di rumah sakit.


"Pak Bram, tunggu aja di mobil, aku masih kuat jalan sendiri kok !" ucap Hanna.


Dan, tentu saja jawaban Bram adalah...


"Gapapa, saya antar sampai ke dalam neng, takut neng pingsan, saya harus tetep jagain neng, " jawab Bram.


"Sudah kuduga," gumam Hanna, "emh... oke, " sambungnya tanpa banyak bicara takutnya Bram malah curiga.


Sesampainya di ruang pemeriksaan, setelah mendaftar, Hanna ingin duduk di bangku ruang tunggu para pasien, ia mencari bangku kosong di antara banyaknya pasien hari itu.


Setelah akhirnya menemukannya, ia segera duduk berdampingan bersama beberapa pasien lainnya. Sedangkan Bram selalu berdiri di dekatnya beberapa meter di samping bangkunya.


Cukup lama ia menunggu, hampir satu jam lamanya, akhirnya kesempatan itu datang juga.


"Neng, saya mau ke toilet dulu ya, neng masih lama kan ?" tanya Bram.


"Yaudah sana jangan di tahan, ia aku masih lama, kalopun aku udah di panggil pak Bram tunggu disini aja, atau aku yang udah duluan keluar, aku juga bakal tunggu pak Bram disini, " jawab Hanna.


Setelah melihat Bram pergi menuju toilet, Hanna pun menitip pesan pada seseorang yang sejak tadi duduk di sampingnya.


"Bu, tolong bantu saya, bisakan bu ?" tanya Hanna.


"Iya, ada apa bu ?" tanya seorang ibu setengah baya yang duduk di sampingnya sejak tadi.


"Nanti kalau pria tadi menanyakan saya, tolong katakan saja kalau saya sedang pergi ke kantin sebentar, saya haus, mau mencari minum bu," jawab Hanna.


"Oh, iya bu, nanti saya sampaikan sama suaminya," sahut ibu tersebut.


"Dia bukan suami saya bu, tapi kakak saya, yasudah bu, terimakasih ya, saya pergi dulu mau beli air mineral, " ucap Hanna.


Dengan terburu - buru Hanna pun pergi dari area tersebut. Ia melengos pergi menuju suatu ruangan, masih di rumah sakit itu.


Ternyata Hanna pergi menuju ruang laboratorium. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada salah satu pegawai rumah sakit disana.


Dan, itu adalah sampel rambut seseorang.


...****...


Tiga hari kebelakang, setelah percakapannya dengan Aji yang mencoba menenangkannya dan meyakinkannya untuk tidak pergi dari kediaman Siwan, ia mencoba meredam situasi dengan mengurungkan niatnya untuk pergi dan berpura - pura mengendalikan emosinya.


Padahal ia masih merasa benar - benar belum tenang dan sangat penasaran.


Malam harinya, ia menghubungi seseorang, ia bahkan menelepon di dalam kamar mandi afar dari luar kamarnya tidak ada yang mendengar percakapannya meskipun hanya selintas. Tidak lupa ia mengunci kamarnya agar tidak ada yang masuk ke dalam. Setelah Hwan tertidur lelap, ia menelepon seseorang di kamar mandi.


"Hallo, kak Oz... " ternyata Hanna menelepon Austin.


Ia menceritakan tentang hasil DNA Hwan dan Siwan yang ternyata tidak cocok, ia sangat sedih hingga ia tidak tahu harus berbuat apa.


Austin terkejut dan mencoba menenangkan Hanna yang kala itu meluapkan kesedihannya sebisa mungkin.


"Hanna, tidak mungkin hasil DNA berbohong, hampit 99,9 persen hasilnya pasti akurat, " ucap Austin.


"Tuh kan, terus aku harus gimana kak Oz, apa kak Oz juga gak percaya sama aku, sumpah demi Alloh aku hanya melakukannya dengan ajjushi, kau pikit aku wanita gampangan apa, " Hanna agak terlihat emosi.


"Hei... hei... santai dong, maksud aku gak gitu Han, iya aku percaya padamu, aku bahkan masih shock mendengar hasilnya ternyata gak cocok, gak mungkin juga pegawai lab menukar hasilnya atas dasar apa coba, aku bahkan kenal mereka, gak, gak mungkin mereka keliru, mereka sangat profesional Han, " Austin membuat Hanna semakin kelimpungan dengan perkataannya.


"Terus, Hwan anak siapa kak, aku bahkan gak pernah deket sama cowo lain selain kalian, " ucap Hanna.


"Kalian, maksudmu ?" Austin pura - pura tidak paham.


"Iya kalian, kak Oz dan bli Aji, selain ajjushi, aku cuma deket sama kalian, "


"Hei... kau menuduhku ? kau mengira aku tega menodaimu, mencari kesempatan dalam kesempitan ? maaf Han, aku bukan pria seperti itu, maaf juga Han, jangan tersinggung padaku, bukannya aku bermaksud tidak mengakui bahwa Hwan anakku, dia tetap anakku, meskipun bukan darah dagingku, aku menganggapnya seperti itu karena aku sangat menyayangimu, kita sangat dekat, sudah seperti adik kakak, benar begitu kan ?"


"Lalu, bagaimana dengan bli Aji ?"


"Kau tidak percaya padanya ?" tanya Oz.


"Bukan begitu, aku bertanya padamu, apa dia mungkin saja di belakangku dan ajjushi orang yang mencoba menusuk kami, apa kau sependapat denganku ?" tanya Hanna.


"Emh... aku sih, emh... gimana ya, gak enak juga sih sebenernya, aku udah kenal Aji juga udah lama, tapi emang aku agak kurang sreg sama dia, kadang dia terlalu ikut campur dan mengatur kehidupan pribadi kak Wan, tapi gak juga sih, gak mungkin dia kaya gitu sama kamu Han, meskipun aku tahu dia memang menaruh perasaan sama kamu selama ini, "


"Apa ? jadi memang bener dugaanku selama ini, kalo bli sebenernya suka sama aku, "


"Yaa... dia sangat pandai menyembunyikannya kan, " jawab Austin.


"Han, aku penasaran, coba kau tes DNA ulang saja, Hwan dengan Aji, apa mungkin sampel mereka cocok, maaf Han, aku juga ingin semua menjadi jelas, aku kasihan padamu dan Hwan kalau kalian harus di bohongi oleh Aji selamanya, aku curiga dia punya motif tertentu di balik semua ini, "


"Jadi, maksud kak Oz, selama ini bli mencoba menyetubuhiku secara diam diam, begitu maksudmu kak ?"


"Ya, bisa saja kan, apalagi semenjak kepergian kak Wan, saat kau sedang bersedih, kau sering pingsan, atu mungkin dia melakukannya padamu setelah memberimu obat tidur, karena aku berkali - kali memeriksa kesehatanmu dulu, aku mendapati kau berada dalam pengaruh obat tidur, cuma dia kan yang selalu berada di dekatmu saat itu, "


Hanna tiba - tiba merasa lemas, ia terduduk dan terpaku di lantai, ucapan Austin membuatnya terkejut, karena semua ucapannya memang tidak ada yang salah.


"Hallo... Han, Hallo... "


"Kak, aku harus gimana, aku kecewa sekali saat ini, hiks... " Hanna mulai menangis.


"Han, tenanglah... aku akan selalu membantumu, kau, sekarang lebih baik tenangkan pikiranmu dan tidurlah, besok aku akan memberitahumu langkah apa saja yang harus kau ambil selanjutnya, tenanglah, aku akan selalu berada di pihakmu,"


Setelah menutup percakapan di telepon bersama Austin. Hanna masih terlihat menangis dan menyendiri di dalam kamar mandi. Betapa patah hati dan putus asanya dia mendengar ucapan Austin beberapa menit yang lalu.


Namun untung saja Hanna masih bisa mengendalikan emosinya.


Ia teringat pada Hwan, ia lantas membasuh wajahnya dan keluar dari kamar mandi, menghampiri Hwan yang ternyata masih tertidur pulas di atas ranjangnya.


Hanna pun kembali terisak tangis memikirkan nasibnya dan anaknya.


"Mengapa aku di permainkan seperti ini, ya Alloh, siapa ayah dari anakku ini ?"


Keesokan harinya...


Hanna berkomunikasi dengan Austin lewat chat whatsupp, Austin memberinya saran agar melakukan tes DNA antara Aji dan Hwan, ia pun harus bisa mengambil sampel Aji berupa rambut.


Setelah Aji pergi dari rumah, Hanna menyelinap masuk ke dalam kamar Aji tanpa sepengetahuan siapapun, ia bergegas masuk ke dalam dan menghampiri ranjang Aji yang sudah rapih.


Di atas ranjang dengan seprai dan sarung bantal berwarna putih tentu saja Hanna tidak kesulitan mencarinya. Bahkan dengan hanya melihat sekilas pun di bawah bantalnya ia sudah bisa melihat beberapa helai rambut Aji yang tertinggal.


Hanna langsung memasukkannya ke dalam plastik klip berukuran sedang.


Untung saja masih tidak ada yang menyadari perbuatan Hanna saat itu, ia bisa dengan leluasa keluar masuk kamar Aji hari itu.


Dan, selanjutnya Hanna tinggal memikirkan cara untuk pergi ke rumah sakit. Masalah biaya tes DNA, untungnya ia masih punya uang tabungan yang cukup besar, hasil dari penjualan motornya dulu dan tabungan hasil kerjanya selama ini. Hanya kurang beberapa rupiah, ia meminjam uang pada kedua orangtuanya dengan alasan ingin membeli keperluan Hwan karena malu kalau harus menggunakan atm yang bu Shinta berikan padanya.


Padahal saat itu Austin mau menanggung biaya tes DNA Hwan, namun Hanna menolak, ia tidak mau seolah seperti memanfaatkan kebaikan orang - orang yang ada di sekelilingnya terus.


Akhirnya, setelah ia mendapatkan ide untuk pergi ke rumah sakit, ia pun berakting seolah - olah mengalami kram perut yabg selalu datang mendadak sejak malam itu, dan, keesokan harinya ia pamit pada bi Asih dan bi Lastri untuk memeriksakan kondisi kesehatannya ke rumah sakit.


...***...


Setelah memberikan sampel pada pegawai rumah sakit yang ternyata sudah menunggunya sejak kemarin, Hanna langsung pergi dan berniat kembali ke area pemeriksaan bagian umum saat itu. Austin sudah membantu mengurus prosedurnya di rumah sakit karena ia sudah kenal dengan beberapa orang pegawai rumah sakit tersebut.


Saat Hanna berbelok menuju ruangan pemeriksaan, dari belakang seseorang memanggilnya.


"Neng, neng Hanna,..."


Hanna terkejut sambil menghentikan langkahnya dan berbalik perlahan ke belakang.


"Neng, darimana ? saya cari di kantin gak ada, katanya tadi ke kantin !"


Ternyata Bram menyusulnya ke kantin, setelah mendapati Hanna tidak ada di bangkunya, ia pun bertanya pada pasien lain yang duduk di samping Hanna. Sesuai pesan Hanna, pasien itu menyampaikan pesan yang Hanna titipkan padanya.


"Emh... anu, itu, tadi aku dari kantin, terus ketemu temen, jadi ngobrol sebentar sampe depan pintu keluar, gitu pak !" jawab Hanna.


"Owh... ku kira kemana, ayo cepet kembali, nanti keburu di panggil, kalo kelewat nanti harus nunggu lama lagi, "


"Iya pak, ini aku mau kembali kesana kok, "


Hanna dan Bram pun kembali menunggu di ruang pemeriksaan poli umum saat itu. Untung saja hanya menunggu dua nomor antrian Hanna pun di panggil masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Sepulangnya dari rumah sakit...


Saat tiba di rumah, Aji sudah terlihat berdiri di depan pintu masuk ke dalam rumah.


Saat Hanna menginjakkan kakinya di bawah, keluar dari dalam mobil, Aji sudah berada di depan pintu membantu Hanna keluar dengan hati - hati.


"Kau kenapa, sakit apa ? kenapa gak bilang, aku bisa anter kamu ke rumah sakit kalo tau kamu sakit, " cecar Aji, terlihat khawatir.


"Bli, aku cuma kram perut, aku gapapa kok, gak usah lebay gitu lah," sahut Hanna.


"Bukannya gitu Han, tapi... "


"Udah bli, udah ya, aku gapapa kok, udah di periksa sama di kasih obat sama dokter, aku di suruh istirahat aja, dokter bilang mungkin aku terlalu stress, jadi aku butuh istirahat sekarang, "


"Oke, maaf, aku cuma terlalu khawatir aja, "


Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.


Sebelum menyentuh Hwan, Hanna terlebih dahulu pergi ke dalam kamarnya dan membersihkan dirinya.


Hari demi hari berlalu begitu cepatnya, hingga tak terasa sudah satu bulan lamanya. Semuanya nampak begitu normal, bahkan bu Shinta yang sudah pulang dari Australia dan di beritahukan hasil tes DNA saat itu pun hanya bereaksi biasa saja. Ia tidak merasa sedih ataupun kecewa. Seolah ia sudah mengetahui lebih dahulu sebelum Aji dan Hanna memberitahunya saat itu


Sangat mencurigakan memang bagi Hanna, kenapa bu Shinta tidak marah padanya.


"Apapun hasilnya, aku tetap akan menyayangi Hwan seperti cucuku sendiri, aku bisa mengasuh dan menyayangi anak - anak di panti sebelumnya, lalu kenapa aku tidak bisa menyayangi Hwan, " ucap bu Shinta. Terdengar biasa saja namun begitu menusuk di telinga dan hati Hanna.


"Bu, aku berani bersumpah, aku tidak pernah melakukannya dengan pria lain, hanya ajjushi satu - satunya pria yang menyentuhku, tapi, hasil tes DNA ini benar - benar mematahkan keyakinanku, aku sangat sedih dan kecewa, aku tidak tahu siapa ayah Hwan yang sebenarnya,"


"Hanna, sudahlah, aku yakin, ada seseorang di balik insiden semua ini, bersabarlah, aku maupun Aji, kami sedang berusaha mencari tahu kebenarannya seperti apa, percayakan saja pada kami, aku tidak akan merubah apapun, kasih sayangku pada Hwan, tidak akan berkurang, "


Setelah percakapan dengan bu Shinta hari itu, Hanna semakin tidak bisa mencerna apapun dalam pikirannya, terlalu banyak kecurigaan yang bermunculan di dalam isi otaknya melihat reaksi bu Shinta saat itu. Ingin sekali ia bercerita pada kedua orangtuanya dengan semua masalah yang terjadi padanya belakangan ini, namun, ia hanya memendam semuanya sendirian, ia tidak mau keluarganya di Bandung menjadi khawatir dan memaksa Hanna dan Hwan kembali ke rumah, tidak, dia masih harus bertahan di Bali sebelum semuanya menjadi jelas.