My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Obrolan hangat



Pukul 04.25 Wib, terdengar adzan shubuh berkumandang dengan kerasnya membangunkan seluruh insan manusia di sekitarnya. Rumah Hanna di Bandung tidak terlalu jauh dari masjid, dan baru kali ini dia terbangun lagi karena suara adzan, bukan terbangun oleh suara alarm seperti biasanya saat di Bali. Pengingat waktu sholat pun dia hanya mengandalkan aplikasi bagi umat muslim di hpnya.


Saat terbangun, dia tersadar bahwa semalam dia tidak tidur di atas kasur, melainkan hanya bersandar pada pinggirannya. Masih lengkap dengan mukena yang ia pakai setelah selesai menunaikan ibadah sholat isya. Mungkin karena lelah, dia tertidur begitu saja saat sedang saling membalas chat whatsupp di hpnya.


Hanna lalu pergi ke kamar mandi, mengambil wudhu kembali untuk menunaikan sholat subuh.


Selesai sholat subuh, dia kembali memeriksa hpnya, barangkali ada chat atau panggilan tak terjawab dari Siwan. Tapi, dia kembali kecewa saat yang dilihat nya hanyalah chat dari grup KERANG. Entah mengapa hatinya merasakan sakit, tanpa terasa air mata mengalir membasahi pipinya. Dia merasa rindu padanya, walaupun dia marah, sebetulnya dia mengharapkan kekasihnya itu terus menemuinya atau menghubungi nya dan berusaha mengclearkan masalah diantara mereka berdua. Tapi apa yang ia dapat, bahkan Siwan tidak menampakkan jejaknya sama sekali.


Karena lelah menangis, akhirnya Hanna kembali tertidur di atas kasurnya. Kali ini dia sempat melipat rapih mukena dan sajadahnya.


Pukul 07.00 Wib, Hanna terbangun dari tidurnya, karena mendengar suara ribut - ribut di luar kamarnya. Lalu terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.


" Teh.. gugah, ieu aya tamu. " ( Kak.. bangun, ini ada tamu ) ucap ibunya Hanna dari luar kamar.


" Muhun mah, sakedap. " ( Iya mah, sebentar ) lalu Hanna terbangun dari tidurnya dan membuka kunci kamar dengan mata rapat masih sulit terbuka.


Saat dia membuka pintu kamarnya, terlihat ketiga sahabatnya sudah berada di ambang pintu.


" Haaaiiiii.... " ketiga sahabatnya itu berteriak secara kompak menyerbu Hanna yang masih belum sepenuhnya tersadar. Mereka memeluk Hanna bergantian dan menggusur Hanna ke dalam kamarnya.


" Gaes... kalian gak kerja ?" tanya Hanna datar.


" Ih, ekspresi mu kok gitu sih, kaya yang gak senang kita datang kemari." Ucap Audrey.


" Wah... gaess... aku kangen banget sama kalian... i miss u.. " Hanna menyerbu ketiga sahabatnya yang sudah terduduk di atas kasur, dia menindih mereka dengan badannya.


" Aduh, Han, plis deh, sakit tau, kamu gendutan ya..." ucap Karina berusaha keluar dari pelukan Hanna.


" Iya, aduh Hanna, kamu bau, sana mandi dulu gih.. !! seru Yasmin.


Hanna pun terbangun dan tertawa tengil, " Oke.. oke... aku mandi dulu ya, jangan kemana - mana, awas !!"


" Iya udah sana ah, aku mau bantuin mamah di dapur aja" ucap Yasmin mengikuti Hanna keluar dari kamar.


Begitu pula dengan Audrey dan Karina, mereka malah membuat keributan dan mengganggu ibunya Hanna di dapur, bukannya membantu seperti Yasmin.


Selesai mandi, Hanna dan ibunya, serta ketiga sahabatnya makan bersama di rumah Hanna. Dengan menu nasi liwet, tahu dan tempe goreng, sayur kangkung, dan tentunya sambal dan ikan asin. Wah, sudah pasti nikmat, apalagi sambal dadakan yang sangat pedas, menambah keseruan acara makan pagi mereka.


Adiknya sudah pergi ke sekolah, sedangkan ayahnya sudah pergi ke pasar untuk berdagang setelah selesai sholat subuh tadi.


" Mah, asli nikmat sekali mah !!" Ucap Audrey.


" Alhamdulillah gitu, Rey. " Sahut Yasmin.


" Kalian gak kerja ?" tanya ibu pada ketiga sahabat Hanna.


" Nah, itu mah, mereka belum jawab tuh, tadi aku juga nanya begitu sama mereka. " Ucap Hanna.


" Aku izin mah, biasa lah, minta acc si papah. " Ucap Yasmin.


" Enak banget ya, perusahaan kakek nenek mu gitu loh. " Sahut Karina.


Audrey menyahut " Sirik aje lu. Lalu Audrey menatap ibunya Hanna 'kalau aku, masuk kerja shift siang, mah, udah bawa seragam ganti buat nanti siang. " Lalu dia mengisi nasi lagi pada piring kosongnya.


" Ya ampun, kamu kelaparan Rey." Ucap Karina melihat Audrey menambah porsi makannya.


" Udah biarin aja, Rin. " Ucap ibunya Hanna.


" Kalau aku lagi gak ada jadwal latihan, mah, lagi gak ada pertandingan sampai akhir bulan februari. " Ucap karina.


" Wah, bagus tuh, gimana nih rencana liburan kita, jadi gak ?" tanya Hanna pada ketiga sahabatnya.


" Siyapp... sesuai rencana, kita jadi pergi donk, udah ada acc cuti dari tempat kerja. " Jawab Audrey.


" Yups.. aku juga udah bilang sama papah, di izinkan donk." Timpal Yasmin.


" Gak akan ikut, mah ?" tanya Karina.


" Enggak lah, si Abdul, ( adiknya Hanna) mau ujian, dia pasti mau ikut kalau mamah juga pergi, bahaya kalau dia bolos cuma buat liburan. Nanti aja, belum saatnya liburan dia. " Ucap ibunya Hanna.


Selesai makan, mereka membantu membereskan semuanya ke meja makan. Karena tadi mereka makan di ruang tengah di atas sebuah karpet. Hanna membantu mencuci piring - piring kotornya.


Setelah selesai, Hanna dan ketiga sahabatnya mengobrol di dalam kamar. Sedangkan ibu pergi menyetrika di ruangan belakang agak jauh dari kamar Hanna.


" Han, gimana masalahmu sama bebeb mu itu, udah selesai ?" tanya Audrey.


Mereka bertiga memang mengetahui pertengkaran antara Hanna dan Siwan, karena Hanna sendiri yang memberitahu mereka di grup chat whatsupp.


" Belum, sampe sekarang dia gak tahu bahkan aku udah ada di Bandung." Jawab Hanna.


" Wah, keterlaluan tuh. Udah seminggu loh ini, eh delapan hari malahan." Ucap Karina.


" Terus, kenapa kamu gak hubungi dia duluan aja !!" ucap Yasmin.


" Ih... apaan, gak mau kali. Gengsi diriku ini. " Jawab Hanna.


" Gak usah bohong, kamu pasti kangen kan?" tanya Yasmin.


Hanna hanya terdiam mendengar ucapan Yasmin yang memang ada benarnya, dia rindu pada Siwan.


" Han, kamu belum dengar penjelasan pacarmu tentang kejadian yang sebenarnya, jangan cuma dengerin omongan orang secara sepihak, apalagi langsung menyimpulkan bahwa semuanya adalah kesalahannya." Ucap Yasmin terdengar bijaksana.


" Ih... udah jelas dia yang gebukin si Sam ampe babak belur. " Tukas Karina.


" Tidak Rin, kamu jangan jadi kompor deh. Belum tentu, kita belum tahu kan siapa yang gebukin si Sam ampe babak belur, dan apa alasannya. Jadi, seharusnya alangkah lebih baiknya, kamu harus mendengar penjelasan pacarmu dulu Han, kalau memang iya dia yang gebukin, kenapa ? tanya baik - baik, apa hanya gara - gara sebuah lukisan aja atau ada hal lain lagi." Ucap Yasmin menatap Hanna.


Seketika air mata kembali mengalir di pipi Hanna. Dia benar - benar merasa sakit dan sedih harus berjauhan dan tanpa kabar dari Siwan.


" Udah.. Na, udah, jangan nangis dong, mendingan kamu telepon aja kalo emang loe kangen sama dia. " Ucap Audrey.


" Iya Han, udah dong, aku jadi sedih nih. " Karina mengusap punggung Hanna.


Lalu ketiga sahabatnya itu mencoba mengalihkan topik pembicaraan untuk menghibur Hanna. Mereka menggosipkan soal teman - teman di sekolah mereka, acara reuni, bahkan soal pacar mereka masing - masing. Tapi tidak dengan Audrey yang masih asik menjomblo.


" Rey, kamu kenapa masih single ?" tanya Hanna.


" I'am single and verry happy. " Audrey malah menyanyi.


" Dih... gak usah di tanya kali Han, gak laku dia. " Ucap Karina di iringi gelak tawa bersama Yasmin dan Hanna. Sedangkan Audrey hanya memajukan bibirnya.


" Puas ya kalian mentertawakan akyu.. " ucap Audrey.


" Engga kali, Rin. Kamu inget kakak kelas kita bernama Eky, dia lagi pdkt sama si Rey. " Ucap Yasmin.


" Wah, lumayan kan, dia lumayan tampan, wajahnya putih mulus, tinggi, meskipun badannya kurus. Betul kan, dia masih kurus kaya dulu ?" tanya Hanna.


" Masih, dia kelihatan kaya yang cacingan, kurus kerempeng gitu, aku gak suka deh, plis lah.. " Ucap Audrey.


" Ih.. loe mah jahat, jangan gitu kali, seimbang lah jadi angka sepuluh kalo bersanding sama kamu. " Ucap Hanna menggoda Audrey. Yasmin dan Karina kembali mentertawakan Audrey.


Di antara sahabat Hanna, memang Audrey lah yang bertubuh agak gemuk, tapi dia tinggi, melebihi tinggi badan Hanna.


Kalau mereka berdiri berdampingan, terlihat seperti anak tangga. Dari bawah ada Yasmin, kedua Hanna, ketiga Audrey, dan keempat Karina yang paling tinggi di antara mereka.


" Ih.. apaan sih, udah ah, aku mau siap - siap dulu kerja, aku ganti baju dulu ah di kamar mandi. " Audrey pun pergi keluar dari kamar membawa tas berisi baju seragamnya. Dia bekerja sebagai seorang sales promotion girl pakaian wanita di salah satu departemen store terkenal di bandung.


Setelah Audrey pamit pada mereka dan pada ibunya Hanna, kini tinggal Yasmin dan Karina yang masih menemani Hanna mengobrol di kamar. Bahkan saking lelahnya mengobrol, mereka terlihat tertidur siang bersama di kamar Hanna.