
Siwan menatap tajam kekasihnya dari atas sampai bawah.
" Ahjussi, kenapa menatapku seperti itu ?" tanya Hanna.
" Kau, kenapa memakai baju seperti ini?" tanya Siwan, dia sungguh tidak menyangka kekasihnya akan berpakaian sexy seperti itu. Beda ceritanya kalau hanya ada mereka berdua saja, tapi saat ini, ada mata pria lain yang menatap kekasihnya.
" Kenapa kak, apa pakaiannya tidak cocok? mau ku pinjamkan bikini punyaku. " Patricia menyela pembicaraan mereka.
Lalu sontak Hanna dan Siwan menjawabnya secara bersamaan, " TIDAK". Siwan tahu, bikini milik kekeasih Austin itu pasti lebih sexy di banding yang di pakai Hanna sekarang. Begitu juga dengan Hanna yang sudah mengetahui bagaimana bentuk barangnya.
" Jadi, bagaimana ini, kalau tidak mau, aku mau membereskan kameraku ini. " Aji menyela.
" Tunggu, aku mau, ahjussi, kau minggir sana, aku ingin mengabadikannya, aku tidak akan mempostingnya ke media sosialku, hanya untuk koleksi saja." Hanna berusaha meyakinkan Siwan.
" Tapi, aku tidak suka, pria itu menatapmu dengan tatapan liar." Siwan menunjuk ke belakang, ke arah Aji.
" Aku.. " Aji menunjuk dirinya sendiri.
Austin yang melihat perdebatan mereka dari kejauhan merasa geli, dia tertawa melihat kelakuan Siwan yang terlihat cemburu seperti itu.
" Ahjussi, kau ini kenapa, bahkan tadi Aji menatap Pat yang lebih sexy dariku, kak Os tidak seheboh dirimu. " Ucap Hanna.
" Tapi itu beda, dia seorang model, sudah biasa memamerkan tubuhnya itu. " Ucap Siwan.
" Aku.. " giliran Patricia yang menunjuk dirinya sendiri.
" Baiklah, kalau kau ingin di foto, aku saja yang memfotomu." Lalu Siwan berlalu meninggalkan Hanna dan menghampiri Aji dan kameranya. " Kau, jaga matamu dari kekasihku." Ucap Siwan pada Aji.
Aji hanya mundur dan mengangkat kedua bahu dan tangannya sambil melihat ke arah Austin yang sedang tertawa melihat kelakuan kekanak - kanakan Siwan.
" Awas ya kalau hasil fotonya jadi tidak sesuai harapan. " Hanna memperingatkan Siwan.
Dan Hanna pun mulai bergaya sesuai arahan Patricia yang ada di belakang Siwan.
Baru dua jepretan, Siwan melihat hasilnya bersama Aji dan Patricia di dalam kamera.
" Apa - apaan kau ini, bisa tidak sebetulnya, kalau seperti ini anak tk juga bisa memfotonya dengan hasil seperti ini. " Aji melayangkan protes pada Siwan.
Siwan yang mendengar nya terlihat kesal dan hanya meringis.
" Bagaimana hasilnya ?" Hanna menghampiri mereka yang sedang melihat hasil jepretan ala - ala Siwan. Sebetulnya, saat melihatnya Hanna ingin tertawa, tapi dia menahannya karena tidak mau kekasihnya itu tambah kesal.
" Baiklah, kau saja yang memotretnya kalau begitu. " Siwan meminta Aji untuk memotret kekasihnya itu. " Tapi ingat, aku mengawasi matamu dari sini. " Tegas Siwan menatap tajam Aji.
" Tenang saja, aku tidak akan melahap pacarmu kok. " Tegas Aji.
Selanjutnya, Aji yang memotret Hanna. Hanna bergaya bak model profesional sesuai arahan Patricia. Dia terlihat begitu menarik di mata Siwan yang sedang mengawasi sesi pemotretan nya.
Walau tidak memakai baju terlalu sexy seperti pacarnya Austin, tapi, lekukan tubuh Hanna di beberapa bagian terlihat sempurna, terlebih lagi dia mengenakan sports bra walau dengan model asimetris yang tanpa memperlihatkan belahan dadanya, tapi memperlihatkan abs yang sexy di perutnya dan memakai rok celana dengan model middle cut, memperlihatkan paha putih mulus dan rampingnya.
Beberapa menit berlalu, setelah mereka selesai melakukan pemotretan, lalu mereka berlima menceburkan diri ke kolam. Mereka berenang dan bercanda tawa bersama. Di selingi dengan minuman, dessert dan cake yang di kirim chef dari dapur, mereka menghabiskan waktu siang hari di kolam renang.
Tidak lupa dengan gitar Austin, mereka bernyanyi dan berjoget bersama. Tapi tidak dengan Siwan, dia hanya duduk di samping sebagai orang yang memeriahkan acara hanya dengan tawa dan tepuk tangan saja.
Tanpa terasa, hari sudah menuju sore. Waktunya mereka untuk bersiap - siap pulang menuju rumah masing - masing dan menyambut rutinitas pekerjaan seperti biasanya.
Austin, Patricia dan Aji, mereka pulang bersama dengan mobil milik Austin, sedangkan Hanna dan Siwan, mereka hanya berdua dengan mobil milik Siwan.
Di perjalanan pulang, mereka berlima sempat makan malam di sebuah area pinggiran kota. Mereka makan malam di sebuah angkringan malam dekat taman kota, disana banyak sekali wisatawan yang berkunjung untuk makan malam. Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka mengobrol santai dan bercanda tawa.
" Hai, apa kabar ? sudah lama ya, tidak berjumpa. " Ucap Wanita itu sambil mengapit tas tangan panjangnya.
Siwan dan para lelaki menatapnya seperti terkejut.
" Hai Pat, bagaimana kabarmu?" tanya wanita itu, menyapa Patricia dan merangkulnya.
Patricia berdiri dan berpelukan dengan wanita itu, " Hai.. i'm fine, El. "
" Kalian baru makan atau sudah selesai ?" wanita itu bertanya kembali, tapi hanya Patricia lagi yang menjawabnya.
" Kita masih menunggu makanannya datang. " Ucap Patricia seperti enggan menjawab karena terus di awasi oleh tatapan tajam dari para lelaki di meja itu.
" Owh.. begitu ya, kalau begitu, selamat menikmati makan malam kalian ya, aku harus segera pergi." Ucap wanita itu seperti menyadari bahwa keberadaan nya tiak di inginkan.
" Oke, hati - hati ya, El !! seru Patricia.
" Oke, bye..." wanita itu melambaikan tangannya dengan anggun pada Patricia dan sebelum pergi, selintas matanya menatap Hanna dengan tatapan sinis.
Dan, setelah wanita itu pergi, Hanna yang merasa penasaran, bertanya pada mereka yang terdiam setelah kepergiannya.
" Dia itu, siapa ?" tanya Hanna.
Para lelaki tidak ada yang menjawabnya, sepertinya mereka enggan membahas tentang wanita itu.
" Oh.. dia Eliza, teman mereka bertiga. " Hanya Patricia yang menjawabnya.
Hanna seakan mengerti dengan sikap dan jawaban Patricia padanya, dan dia tidak mengeluarkan pertanyaan apapun lagi dari mulutnya.
Dan kebetulan makanan pesanan mereka sudah datang. Mereka berlima bersiap - siap menyantapnya karena sudah merasa lapar.
Selesai makan mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju rumah masing - masing yang jaraknya sudah tidak jauh lagi.
Sesampainya di depan gerbang kost, Siwan hanya memarkirkan nya di depan, karena dia hanya akan turun sebentar untuk mengantarkan Hanna, memastikan dia masuk ke dalam kamar kost dengan selamat.
Siwan membawakan tas besar Hanna yang berisi baju - baju dan barang lainnya. Sambil berjalan mereka mengobrol tentang kesan - kesan pergi berlibur di malam tahun baru mereka. Dan saat sampai di depan kamar, Hanna membuka kunci dan masuk ke dalam di ikuti oleh Siwan di belakangnya.
" Aku tidak akan Lama, ya. Kau beristirahat lah, besok kau harus pergi bekerja kan?" tanya Siwan pada Hanna.
" Iya, aku masuk shift siang. Terima kasih ya, ahjussi, aku merasa senang bisa berkumpul bersama kalian. " Ucap Hanna tersenyum senang.
" Dan, soal malam itu, itu.. benar - benar di luar kendaliku, maaf ya.. aku terlalu mabuk sepertinya. Tapi, aku bisa mengingatnya, dan tidak akan melupakannya." Siwan menyentuh pipi kekasihnya dengan tatapan hangat.
" Aku pun tidak bisa mencegahnya, karena seperti nya, akupun menginginkan hal itu, walaupun mulut berkata tidak, tapi tidak dengan hati dan tubuhku, mereka bergerak sesuai naluri yang tercipta karena suasana malam itu. Aku tidak dapat membantahnya, walaupun sebetulnya aku harus menghindarinya. Tidak usah minta maaf, ahjussi, itu bukan hanya salahmu, tapi itu salah kita berdua." Ucap Hanna.
" Kedepannya aku akan lebih berhati - hati, mari kita perbaiki bersama - sama, aku ingin hubungan kita berjalan dengan penuh kebahagiaan, bukan penuh nafsu semata. Aku akan terus berusaha untuk menghargaimu." Siwan memeluk Hanna dan mengecup keningnya.
" Terima kasih, ahjussi, aku senang mendengarnya. Makanya, ingat apa yang pernah aku katakan kemarin, jangan mabuk di depan wanita lain, tidak tahu kan apa yang akan kau lakukan saat bersamanya nanti. Aku akan berusaha untuk tetap mempercayaimu, aku tidak bisa menyuruhmu untuk berhenti untuk minum minuman beralkohol lainnya, selain kau bukan seorang muslim, kau juga bukan suamiku, aku tidak berhak menasihati dan mengatur kehidupanmu." Hanna memeluk tubuh Siwan lebih erat.
" Dan, aku ingin memberitahumu satu hal lagi, tentang wanita yang tadi menghampiri kita di tempat makan, dia Eliza, mantan pacarku sebelum bersamamu. Percayalah, aku baru bertemu lagi dengannya setelah putus setahun yang lalu." Ucap Siwan meyakinkan Hanna.
" Owh... pantas saja ekspresi mu tadi seperti orang yang terkejut dan takut ketahuan sesuatu. Haha..." Hanna mencoba tertawa walau tidak lucu.
" Baiklah, karena sudah semakin malam, aku pulang dulu ya, beristirahat lah. Aku mencintaimu !!" Siwan lalu mengecup bibir kekasihnya setelah mengucapkan kata cinta padanya.
Setelah Siwan keluar dari pintu yang ada di hadapannya, Hanna masih terus senyum terpaku dan tersipu malu akan perlakuan yang di dapatnya oleh kekasihnya itu.