My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Benang merah, terurai.



Seorang wanita tua terbaring menyamping di atas ranjangnya.


Garis halus sudah nampak menghiasi beberapa area tertentu di wajahnya.


Namun meskipun begitu, kecantikannya tak lekang oleh usia.


Seorang wanita muda lainnya yang baru saja menyelimuti tubuh wanita tua itu mengusap kepalanya, lalu menyeka sisa air mata yang mengalir dari ujung matanya.


Kemudian ia pergi menjauh meninggalkan wanita tua itu terbaring sendirian di tengah kegelapan malam. Lampu kamar sempat ia padamkan, hanya cahaya rembulan yang menyoroti wajahnya lewat sela-sela tirai yang tak tertutup sepenuhnya.


...***...


Di sisi lainnya...


Hanna baru saja keluar dari kamar mertuanya, di kejutkan oleh suara seorang laki-laki di belakangnya.


"Apa ibu sudah tidur?"


"Aish... kau membuatku jantungan saja, ssttt... ibu baru saja tertidur," jawab Hanna, pada pria yang menunggunya sejak tadi di luar kamar ibunya, pria itu tak lain adalah suaminya, Siwan.


"Dimana Hwan?" tanya Hanna.


"Dia sudah tidur, ada di kamar !!" jawab Siwan.


Hanna pun berjalan menuju kamar tidurnya yang berada di ujung sudut kiri lantai 2 sebuah mansion bergaya Eropa Klasik yang baginya terlihat mirip seperti istana vampire di film yang pernah ia tonton.


Saat masuk ke dalam kamarnya, terlebih dahulu ia mengecek kondisi putranya. Hwan nampak sudah tertidur lelap di atas ranjang anak yang terlihat baru itu, bahkan label harga dan bungkus plastiknya belum sepenuhnya terbuka di beberapa sudut bawah ranjang.


Sepertinya Mr. Im secara dadakan mempersiapkan segalanya sebelum kedatangan Hanna dan yang lainnya di mansion itu.


"Apa dia sudah minum susu?" tanya Hanna.


"Ya, bi Lastri memberinya susu formula karena dia mencarimu saat dia mengantuk, bi Lastri tidak mau mengganggumu dan ibu, " jawab Siwan, lalu ia mulai beranjak dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya.


Hanna pun sama, ia mulai mengganti bajunya dengan piyama, lalu pergi ke kamar mandi menyusul suaminya.


Hanna dan Siwan terlihat sedang menggosok gigi mereka di dalam kamar mandi bersamaan, di depan sebuah cermin wastafel yang cukup lebar.


Selesai dari kamar mandi, Hanna maupun Siwan langsung menuju ranjang mereka. Keduanya membenamkan diri di bawah selimut tebal malam itu. Saling berpelukan namun tanpa suara sedikitpun. Keduanya masih larut dalam pikiran masing-masing.


Hingga beberapa menit kemudian...


Hanna bangkit untuk melihat wajah suaminya.


"Kau sudah tidur?" meskipun Siwan sudah menutup matanya, namun kedua alisnya masih berkerut, pertanda ia belum juga memasuki alam mimpinya.


Siwan kemudian membuka kedua matanya.


"Aku belum bisa tidur, kau sendiri, kenapa belum tidur?" Siwan kemudian ikut bangkit dan bersandar pada sandaran ranjang dan tumpukan bantal di belakangnya.


"Aku mengkhawatirkan ibu !!" jawab Hanna.


"Ibu akan baik-baik saja, besok pagi dia pasti akan melupakan semuanya, bertahun-tahun ia selalu berkonsultasi dengan psikolog, dia sudah lebih mampu menahan emosinya seiring bertambahnya usia, jangan khawatir !!" ucap Siwan, lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Lalu, kenapa mas belum bisa tidur? apa banyak hal yang sedang mas pikirkan?" tanya Hanna. Lengannya melingkar erat pada tubuh suaminya.


"Aku sudah kehabisan akal untuk menolak perintah ayahku, dia tetap menginginkan aku yang melanjutkan kursinya di perusahaan," Siwan terdiam sejenak.


"Memangnya, kalau boleh aku tahu, apa yang membuatmu selalu menolak permintaannya itu?" tanya Hanna, dengan hati-hati.


"Kau tahu, aku punya seorang kakak, dan dia mantan suami ibuku, kakak... hemh... 'Siwan menyeringai' orang yang sejak kecil ku panggil ayah ternyata yang sebenarnya dia adalah kakakku, saat mengetahui faktanya, aku begitu terpukul, terlebih lagi, saat ibuku menceritakan apa yang menjadi penyebab semua itu, hatiku benar - benar hancur, aku mengasihani ibuku, nasibnya sangat pilu, ia sangat tidak beruntung !! apa ibu sudah menceritakannya padamu?" tanya Siwan.


"Ya, tadi dia menceritakan garis besaranya padaku, emh... lalu, bagaimana hubunganmu dengan kakakmu itu sekarang?" tanya Hanna.


"Hyungnim (kakak), awalnya, dia masih mau menerimaku, sejak perceraiannya dengan ibuku, dia merasa kasihan padaku, meskipun dia merasakan amarah yang begitu menggebu di hatinya, namun ia tetap menjagaku karena ia terlanjur menyayangiku, bahkan, ia mencoba memaafkan ibuku, karena dia tahu ini semua bukan salah ibuku, tapi salah pria tua bangka itu!! Ibuku bercerita, setelah pria tua itu memperkosanya, ibu tidak pernah mau berbicara lagi dengan pria tua bangka itu, dia tidak pernah mau makan satu meja dengannya dengan berbagai alasan, hingga satu bulan kemudian, ibuku hamil, lalu ia mendatangi pria tua itu dan memintanya untuk tidak menceritakan apapun pada suaminya, kalau tidak, ia mengancam akan menggugurkan kandungannya saat itu juga. Dan, pria tua itu menyetujuinya, setelah aku terlahirpun ia begitu menyayangiku, orang-orang di sekitaku mengira bahwa dia begitu menyayangiku layaknya seorang kakek pada cucunya yang selalu melebihi batas, namun, ibuku merasa tidak senang, ia jadi sering merasa kesal melihat pria tua itu bercengkerama denganku, amarahnya selalu menjadi-jadi, tak jarang pertengkaran selalu terjadi antara dia dan suaminya yang adalah kakakku."


"Namun meskipun begitu, ia tidak pernah mengacuhkanku, karena aku darah dagingnya sendiri, hingga saat aku sekolah dasar, ibuku bercerai dengan suaminya, aku yang saat itu tidak tahu apa yang menjadi penyebab utama perceraian mereka merasa marah pada kedua orangtuaku, anak mana yang menginginkan kedua orangtuanya berpisah, TIDAK ADA, setiap anak pasti menginginkan keluarga yang utuh dan harmonis, terkecuali jika maut yang memisahkan,"


"Kau masih mau mendengarkan ceritaku?" tanya Siwan, menatap wajah istrinya.


"Ceritakanlah, aku akan mendengarkanmu!!" jawab Hanna.


Bagaimana readers? lanjut? dengarkan Siwan bercerita dulu ya, jangan bosen, biar benang merahnya semakin jelas !!


"Setelah ibu dan pria tua itu menjelaskan keadaannya, barulah aku mengerti, rasa frustasiku semakin menjadi-jadi, aku semakin terjerumus ke dalam lembah kegelapan, berjudi, minuman keras, obat terlarang, aku semakin mengenal mereka, hingga ibu dan pria tua itu membawaku ke Singapura dan mengobatiku disana, barulah aku mulai berpikir dan tersadar, untuk apa aku merusak diriku, seharusnya aku membalaskan dendamku dengan cara yang lainnya."


"Aku mulai melanjutkan kehidupanku yang sempat tertunda, belajar dan mempelajari bisnis dengan bimbingan pria tua itu, kakek yang ternyata ayahku, aku mengesampingkan egoku saat itu, akupun mulai menggeluti hobiku sebagai perancang bangunan. Aku bahkan sempat menjadi orang yang berpengaruh di perusahaan ayahku saat aku masih mengenyam bangku kuliah, aku sering bolak-balik Korea-Amerika hanya demi bisnis dan pendidikan. Saat aku mengikuti wajib militer, aku vacum dari dunia bisnis, kakakku yang melanjutkannya, hanya saja, ia terlalu terpengaruh oleh sifat dan kelakuan istrinya, perusahaan hampir bangkrut, hingga kakekku mengambil alih kembali kursi yang di pimpin oleh kakakku, dia sempat marah, tapi, dia tidak bisa berkutik tanpa harta ayahku, dia mencoba terus menuruti kemauan ayahku, namun, karena dendamnya yang masih terpaut di hatinya, ia seringkali mencoba meruntuhkan perusahaan ayahku, dan ayahku, dia tidak pernah mau mengambil pusing dan menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan, karena nama baik keluarga selalu ia junjung tinggi,"


"Jadi, orang yang selama ini mencoba mencelakakanmu adalah kakakmu?" tanya Hanna.


"Ya, begitulah, dia dan istrinya selalu bekerja sama untuk menyingkirkanku, bahkan, ide untuk menjodohkanku dengan Seo Jihye adalah mereka, karena mereka tahu, Jihye tidak bisa mengandung, dokter sudah mengangkat rahimnya sejak dia kuliah karena sebuah penyakit, mereka bersikeras menjodohkanku dengannya agar aku tidak memiliki keturunan yang bisa menjadi penghalang bagi mereka untuk meraup seluruh warisan ayahku, istri hyungnim sangat dekat dengan keluarga Seo Jihye, juga mendiang istriku Yuri, " jawab Siwan.


"Jadi, emh... apa kematian istrimu Yuri juga merupakan rencana mereka?" Hanna seketika menutup mulutnya setelah melontarkan pertanyaan tersebut.


"Maaf, aku hanya penasaran !!" sambung Hanna.


Siwan tersenyum ketir, "ya, Yuri meninggal karena ulah jahat mereka, aku terlambat menyadari itu, aku sangat menyesal dan terpukul, aku mencelakai wanita yang tidak tahu menahu tentang masalah yang ada dalam keluargaku, maka dari itu, aku bahkan sempat berpikir tidak ingin menikah lagi setelah kejadian itu, " ucap Siwan, lalu termenung.


"Kenapa kau tidak melaporkan kejahatan mereka saat itu?" tanya Hanna.


"Mereka telalu bermain rapih, bahkan satu-satunya saksi mata saat itu pun mereka lenyapkan tanpa belas kasihan, mereka sangat kejam," Siwan duduk tegak, begitupula Hanna yang di tarik olehnya. Mereka kini duduk berhadapan.


"Chagiya, aku tidak mau kejadian itu terulang lagi, aku tidak akan sanggup kehilanganmu dan Hwan kita, aku akan menjadi gila kalau sampai itu terjadi, itulah alasanku mengapa aku tidak pernah mau mengambil alih perusahaan ayahku di negara ini, aku tidak mau kehilangan orang-orang yang sangat aku sayangi dan cintai, kalian keluargaku yang sesungguhnya, kalian lebih berharga di bandingkan seluruh harta kekayaan pria tua itu, aku tidak menginginkan harta, yang kuinginkan adalah kehidupan yang damai bersama kalian !!" Siwan menarik Hanna ke dalam pelukannya, lalu ia menangis tersedu - sedu.


Hanna pun mulai berkaca-kaca, hatinya merasa teriris mendengar tangisan suaminya. Dan juga cerita yang melatarbelakanginya.


Hanna membalas pelukannya erat, ia mengelus punggung dan kepala suaminya, merasakan kesedihan yang tengah mendera keduanya.


"Kenapa semua ini harus terjadi padaku?" ucap Siwan dengan nafas tersenggal.


"Sayang, kau pria kuat, dan kau harus lebih kuat, demi keluargamu, demi kebahagiaanmu, aku akan selalu di sampingmu, menyemangatimu, agar kau bangkit dan selalu berdiri tegak, kau tidak boleh goyah, di hadapan orang lain, kau harus tetap terlihat kuat, hanya padaku kau bisa memperlihatkannya, dan, kau ingat, ada Alloh, yang akan selalu menguatkan hati kita, bersandarlah pada-Nya, dekatkanlah dirimu selalu pada-Nya, Alloh akan memberikan kemudahan di atas segala kesulitan, Alloh tidak akan menguji umat-Nya di luar batas kemampuanmu, dan berkat takdirnya, Alloh mengirimkan keluarga baru untukmu sebagai pelipur laramu, demi aku, terutama Hwan, kau harus kuat, aku akan selalu mendukungmu dan memelukmu !!" ucap Hanna.


Malam itu, menjadi malam yang sangat panjang bagi kedua insan yang baru bertemu dan saling merindu.


Bukan malam yang panas dan penuh gairah kehangatan yang mereka rasakan di saat keduanya bertemu dan bercengkerama kembali.


Namun, malah menjadi malam yang penuh kesedihan dan air mata yang menghampiri keduanya.


Tidak ada sama sekali terlintas pada pikiran mereka untuk saling mencumbu satu sama lainnya, di saat status mereka sebagai pasangan pengantin baru, keduanya masih belum juga merasakan nikmatnya dunia yang seharusnya sudah mereka rasakan sejak sepuluh hari yang lalu.


Malam itu, cahaya temaram rembulan lewat sela jendela kamar mereka menjadi saksi bisu dua insan yang sedang merasakan pilu atas realita kehidupan yang tidak sesuai ekpektasi mereka.


...****...


Keesokan harinya...


Pagi sekali, di ruang makan, sudah terlihat Aji, Elsa dan bi Lastri saja sedang makan bersama.


Mr. Im, sejak pagi sudah pergi dari mansionnya karena harus pergi keluar kota.


Bu Shinta sarapan di kamar di antarkan oleh maid. Sedangkan Hanna dan Siwan masih belum juga keluar dari kamar mereka.


Siwan dan Hanna sempat terbangun untuk beribadah sholat subuh, hanya saja mereka kembali tidur karena masih merasakan kantuk setelah obrolan panjang mereka semalam.


Begitupula dengan putra mereka Hwan, ia kembali tertidur saat Hanna menyusuinya sambil tertidur menyamping di atas ranjang.


Di ruang makan....


"Sore nanti aku akan kembali ke Bali, kak Wan menugaskanku untuk mengurus bisnisnya sementara, dia belum bisa kembali tanpa izin Mr. Im," ucap Aji, yang baru selesai meneguk air putih pada gelasnya.


"Bibi bagaimana, Ji?" tanya bi Lastri.


"Bi Lastri dan Elsa tetap disini, Hanna masih membutuhkan kalian, kak Wan belum bisa menemukan pengasuh dan penjaga yang bisa ia percaya untuk Hanna dan Hwan selama disini, tidak apa kan?" Aji menunggu jawaban keduanya.


"Aku terserah perintah bos !!" jawab Elsa.


"Emh... bibi juga sebetulnya tidak masalah, tapi, ini loh, makanan disini, tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya sambal terasi plus ikan asin, lidah bibi mana cocok dengan kimchi dan masakan di negara ini, " bi Lastri mengerucutkan bibirnya.


"Siapa tahu nanti bibi dapat calon suami orang Korea, latihan mulai dari sekarang bi !!" Aji terkekeh karena berhasil menjahili bi Lastri.


"Ish... sudah tua begini, mana ada terpikirkan olehku untuk mencari pasangan lagi, yang ada tuh kalian berdua, masih muda, hampir tua malah, kenapa belum juga cari jodoh, jangan sampai masa muda kalian tersia-siakan, wajah cantik dan tampan, kenapa tidak kalian manfaatkan, seandainya bibi secantik non Elsa, bibi pasti akan menerima setiap pria yang mendekati bibi, setiap minggu berganti pacar, tidak masalah tuh... " bi Lastri berbicara dengan entengnya.


Elsa malah terkekeh mendengar ucapan bi Lastri. Begitu pula dengan Aji, pagi mereka saat itu, di warnai dengan celotehan yang keluar dari mulut bi Lastri yang terus berandai-andai dan mengkhayal sesukanya. !