My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Sampai kapan



Setelah obrolan yang cukup lama, di barengi dengan canda tawa antara Hanna dan Siwan, yang baru bertemu kembali selapas tiga bulan lamanya mereka menjalin hubungan LDR an, selesai makan siang mereka mulai merasakan lelah dan mengantuk.


Kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar tidur bersiap untuk beristirahat bersama.


" Ahjussi, tadi bli Aji yang menelpon ku, tapi kau yang datang kemari, aku kira tadi yang mengetuk pintu dia.. " tanya Hanna.


" Kau tahu, Aji pasti kesal padamu.." Jawab Siwan.


" Memangnya kenapa ?" tanya Hanna.


" Dia sudah merencanakan sebuah surprise untukmu, saat tahu aku akan pulang, tadi pagi, dia merencanakan sesuatu, dia ingin menyembunyikan ku di suatu tempat dan membawa mu kesana.. "


" Ya ampun, ternyata di balik wajahnya yang sangar, ada sisi seperti itu juga.. aku jadi terharu, emh.. meskipun rencananya gagal. Hihihi... " Hanna cengengesan.


" Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu, makanya aku kabur saja dari lokasi, aku juga khawatir kenapa kamu tidak mengangkat telepon Aji sejak pagi. "


" Ah.. itu, aku baru tidur subuh hari, makanya aku bangun siang, sekitar jam 10...."


" Apa separah itu insomnia mu?"


" Hehe.. sebetulnya aku nonton drakor dari tengah malam."


" Ish... lama sekali, matamu sampai merah begitu saat pagi tadi kulihat. "


" Lagipula aku terus menunggu mu, tapi kau tidak mengabari ku sedikit pun, aku menunggu telepon atau video call darimu. "


" Maaf, aku kan sudah jelaskan semuanya. " Ucap Siwan yang memeluk Hanna dari belakang.


" Ahjussi, apa kau tahu, kau orang pertama yang membuatku cemas seperti ini. Kau yang pertama dalam segala hal bagiku.. "


" Aku merasa tersanjung mendengarnya. "


" Kau tahu, kak Os sampai menyuntikkan obat penenang padaku, dia memberiku vitamin agar aku tetap sehat dan prima. Dia perhatian juga ya. Pantas saja kak Pat sampai tergila - gila padanya, ternyata banyak sisi positif dalam dirinya yang bisa kita ketahui saat kita lebih mengenalnya. "


" Tapi, apa kau tahu, mereka sudah putus satu bulan yang lalu. "


" Apa ? putus ?"


" Yap, dan mungkin ini yang terakhir kalinya, mereka tidak akan bersama lagi. "


" Kenapa bisa begitu.. ?"


" Ah, aku serasa menjadi seorang penggosip kalau aku memberitahumu. " Jawab Siwan terlihat enggan menceritakan apa yang terjadi antara Austin dan Patricia.


" Anggap saja kau sedang sharing denganku, mari kita ambil hikmah dari hubungan orang lain, jangan sampai kita juga mengalaminya."


" Begitukah... ?"


" Yap, aku akan tutup mulut setelah mendengarnya. " Hanna terlihat sungguh tidak sabar mendengarnya. Dia berganti posisi jadi menghadap ke arah Siwan di atas kasurnya.


Beberapa menit kemudian...


" Jadi, begitulah ceritanya.. " Ucap Siwan.


" Ya ampun, dasar kak Os.. aku tarik kembali ucapanku yang tadi." Ucap Hanna.


" Kita tidak tahu apa yang sebenarnya yang ada di dalam hati dan pikiran mereka, jangan berprasangka dulu.. "


" Oops... maaf. Tapi kan, sebagai wanita aku ikut kesal mendengarnya. "


" Mungkin ada alasan lain, yang harus tetap kita hormati, sebagai teman, kita hanya bisa mengingatkan dan mendukungnya saja, mudah - mudahan keputusan yang mereka ambil itu merupakan jalan terakhir menuju kebahagiaan masing - masing. "


" Tapi ahjussi, bila di pikirkan, mau mencari yang seperti apa lagi, maksudnya antara keduanya, mereka sama - sama tampan dan cantik, mereka sudah mapan dan dewasa, kelihatannya mereka saling mencintai satu sama lain, dan keduanya terlihat saling menerima keadaan mereka dan memahaminya, tidak ada halangan lain lagi apalagi kedua orangtua sudah saling mengenal, dan mereka seiman. "


" Mungkin, ada hal yang membuat mereka ragu dan berpikir kembali. Mungkin masalah mereka berbeda dengan kita. "


" Bukan mungkin lagi, masalah mereka memang sangat berbeda dengan kita. "


Lalu mereka saling menatap satu sama lain.


" Bagaimana dengan kita?" tanya Siwan.


Mendengar pertanyaan seperti itu, tiba - tiba Hanna langsung merasakan ada sebuah belati yang menancap ke dadanya. Suasana berubah menjadi dingin, kini ia merasakan beku di sekujur tubuhnya, bahkan untuk sekedar membuka mulut pun rasanya sulit. Dia hanya terdiam menatap kekasihnya.


" Kenapa ?" tanya Siwan.


" Aku belum tahu jawabannya. " Ucap Hanna lalu kembali membelakangi Siwan dan memejamkan matanya rapat - rapat, dia berharap ingin segera tertidur untuk menghindari obrolan selanjutnya.


" Baiklah, ayo kita tidur saja." Ucap Siwan yang kembali memeluk Hanna dari belakang.


Beberapa jam kemudian, Hanna mulai terbangun dari tidurnya. Dia langsung terperanjat saat menyadari bahwa Siwan tidak ada di sampingnya.


Matanya berputar ke sekeliling ruangan kamarnya. Lalu dia terburu - buru keluar dari kamarnya mencari sosok kekasihnya di setiap sudut ruang kostnya.


Lalu, tiba - tiba secepat kilat dia menatap pintu kamar mandi yang terbuka dengan perlahan.


" Ahjussi..." Hanna berteriak dan berlari menuju Siwan, dia lalu memeluknya.


" Ada apa?" tanya Siwan yang terkejut dengan tingkah kekasihnya itu.


" Ahjussi, ku pikir kau pergi meninggalkanku sendirian saat sedang tidur. " Ucap Hanna.


" Aku tidak akan seperti itu, aku hanya ingin mandi karena badanku berkeringat." Ucapnya.


Hanna baru menyadari kalau bajunya kini menjadi sedikit basah karena memeluk Siwan yang masih bertelanjang dada dengan badan dan rambutnya yang masih basah belum sempat di keringkan.


" Lihat, bajumu jadi basah." Ucap Siwan.


" Tidak apa, tercebur ke dalam kolam pun aku mau, asal bersamamu." Ucap Hanna menggombal.


" Hahaha... kau pandai menggombal ternyata."


" Ahjussi, mau ku bantu keringkan rambutmu ?" tanya Hanna.


" Oke.. " Lalu Siwan di seret oleh Hanna menuju kamar. Dia duduk di depan meja rias milik kekasihnya itu dan mencoba pasrah saat Hanna mulai menghidupkan hairdryer nya untuk mengacak - acak rambut Siwan dengan tangannya.


Beberapa menit kemudian


" Sudah, segini saja ya, aku lebih suka melihat rambutmu setengah basah seperti ini. "


" Apa aku lebih terlihat tampan ?" Siwan menarik lengan kekasihnya dari belakang.


" Kau lebih terlihat natural. " Hanna merangkulnya dari belakang lalu mencium pipi Siwan.


" Natural ? hahaha... " Siwan tertawa mendengar pernyataan kekasihnya.


" Ish.. sudah, cepat pakai bajumu, nanti kau masuk angin. " Ucap Hanna, lalu mencium pipi Siwan dan pergi meninggalkan kamarnya.


Setelah memakai pakaiannya, kini mereka berdua sedang menikmati dessert dan cake yang ada di kulkas Hanna.


" Emh... darimana ini, enak sekali.. " Ucap Siwan.


" Apa kau sedang pura - pura tidak tahu, ini semua kan dari toko kue mu, kemarin bli Aji membawanya untukku. " Jawab Hanna.


" Wah, ini pasti menu terbaru, aku belum pernah melihatnya. "


" Ahjussi, siapa yang mengelola toko kue mu ?" tanya Hanna.


" Dia, sebetulnya masih saudara sepupuku dari ibu. "


" Laki - laki, atau perempuan ?"


" Keduanya, mereka sudah menikah dan mengelola toko kue bersama, aku yang memberi pinjaman modalnya. Mereka benar - benar merintis usaha bersama dari nol."


" Wah, pasti menyenangkan ya... Hidup bersama, merintis semuanya bersama, dari nol, lalu, apa mereka sudah punya anak?" tanya Hanna.


" Nah, justru itu salah satu yang sedang mereka nantikan. Kau tahu, mereka sudah menikah selama enam tahun. "


" Wah, aku turut prihatin mendengarnya. Tapi, mereka sehat kan ? maksudku pasti sebelumnya mereka pernah berkonsultasi dengan dokter dan mencoba berbagai usaha lainnya. "


" Untungnya mereka sehat, dokter bilang tidak ada yang salah dengan keduanya, mungkin, Tuhan belum memberinya kesempatan, itu saja."


" Iya, betul, semuanya hanya Tuhan kita yang maha berkuasa atas segala hal."


" Kapan - kapan aku kenalkan dengan mereka, mau ya ?" tanya Siwan.


" Tentu. Hihi... "


Hanna dan Siwan terlihat sangat bahagia bisa menikmati momen kebersamaan mereka. Entah kapan, waktu bagi mereka akan berhenti terlihat indah. Semua hal yang mereka lakukan, meskipun hanya berdiam diri berdua di dalam mobil menikmati serbuan rintikan hujan melalui jendela mobil, atau duduk di pinggiran pantai menikmati angin pantai di sertai suara deburan ombak, atau hanya sekedar menonton tv berdua di ruang kostnya, semuanya terasa begitu indah dan menyenangkan asal mereka tetap bersama.


Sampai kapan ???


Pertanyaan itu, belum ada jawabannya.


Lebih tepatnya, mereka belum mau menemukan jawabannya.?????