
Tak terasa sudah satu bulan Hanna dan Siwan menjalani rutinitas kencan mereka di setiap akhir pekan di sela - sela kesibukan mereka.
Dan bertepatan dengan bulan kelahiran mereka, bulan oktober, mereka nampak sangat bahagia bisa merayakan kembali hari kelahiran mereka bersama - sama. Meskipun tanpa hadiah atau kado. Hanna meminta Siwan untuk tidak memberinya kado begitu juga sebaliknya, karena kebersamaan mereka kali ini juga sudah merupakan kado dari Tuhan mereka.
Siwan kali ini nampak lebih bisa menjaga dan memperlakukannya dengan begitu hati - hati, jarang sekali mereka melakukan kontak fisik seperti dulu kala. Hanya berpegangan tangan dan sekedar forehead kiss atau cheek kiss di sela - sela kebersamaannya.
Mereka lebih menikmati memanfaatkan waktu untuk saling bertukar pendapat, berbicara dari hati ke hati, menceritakan sejarah hidup mereka terutama Siwan, yang selama ini masih menjadi teka - teki bagi Hanna sendiri.
Entah mengapa Siwan dengan tanpa keraguan kali ini membicarakan semua masa kelam tentang dirinya yang belum Hanna ketahui.
" Apa setelah mendengar semua ini kau akan jadi hilang respect padaku ?" tanya Siwan yang kala itu sedang duduk di samping Hanna pada sebuah bangku di pinggiran pantai kala senja tiba.
" Kenapa aku harus begitu ? itu kisahmu, aku harus tahu, dan aku tidak mungkin merubah pandanganku terhadapmu yang sudah banyak bertaubat, kau layak hidup lebih baik dan mendapatkan yang terbaik dari sebelumnya " jawab Hanna yang kemudian menyandarkan kepalanya pada pundak Siwan.
Setelah mendengar jawaban yang menenangkan hatinya Siwan menggenggam erat tangan kekasihnya, mencium punggung tangannya dan mengelus pipinya.
" Sudah hampir menuju malam, ayo kita pulang " ajak Siwan.
Hanna dan Siwan pun bangkit dan berjalan bergandengan tangan di sisi pantai menuju parkiran mobil mereka. Setelah itu Siwan mengantarnya pulang ke kostan.
Setiap hari sabtu Siwan pergi menjemput Hanna setelah dia selesai menyanyi di cafe Eriko, dan pulangnya dia selalu membawa Hanna menginap di kediamannya, Hanna selalu tidur di kamar tamu, lalu esoknya hari minggu sore atau malam, Siwan mengantarnya kembali pulang ke rumah kostnya.
Setelah Siwan mengetahui tentang Eriko yang memiliki kekasih yang ternyata pemilik rumah kost Hanna, Siwan mengancam Eriko agar pacarnya jangan berani - berani berbuat macam - macam pada Hanna dan temannya, bahkan dia harus selalu memastikan keselamatan mereka berdua saat berada di wilayahnya.
" Tenang saja, aku sudah pernah mengatakan padanya agar menjaga sebaik mungkin pacarmu, jangan khawatir !!" jawab Eriko.
" Cih... tak ku sangka, ternyata kau berubah haluan, pisang makan pisang, hih... " Siwan membuang muka dari hadapan Eriko yang kala itu sedang duduk bersama Siwan di meja terdekat panggung saat mereka menyaksikan Hanna live performance di Soul Cafe.
" Hidup tidak ada yang tahu akan seperti apa ke depannya, kita hanya harus menjalaninya dan menyambutnya dengan penuh kegembiraan dan penuh keikhlasan, seperti halnya dirimu, kau tidak pernah tahu dan menyangka akan bertemu kekasihmu macam dia kan, lalu kedepannya seperti apa, kau belum tahu kan... makanya, jalani saja yang ada di depan matamu " Eriko menyentuh pundak Siwan.
" Aish... jangan sentuh, beraninya kau... " Siwan melotot melihat ke arah pundaknya yang Eriko sentuh.
" Hahaha... tenang saja, kau bukan tipeku, kau sudah tua, sensitif lagi... " sahut Eriko.
*
*
Saat di perjalanan pulang, Hanna menceritakan tentang pertemuannya dengan Eriko dulu yang akhirnya Hanna tahu bahwa Eriko adalah kekasih pemilik rumah kostnya kala itu.
Beberapa bulan yang lalu....
Setelah Hanna tinggal selama satu bulan disana, Reni semakin intens melakukan pendekatan terhadap Giri. Bahkan Reni sampai pergi ke studio tato milik Giri supaya dia mendapatkan hasil tato di tubuhnya lewat sentuhan tangan Giri sendiri.
Selesai melakukan tato di punggungnya, Reni tidak langsung pulang, padahal Hanna sudah mengajaknya segera pergi meninggalkan studio tersebut, karena merasa tidak enak hati mengganggu waktu Giri yang mungkin sedang sibuk dan masih banyak orang yang mengantri untuk memasang tato juga.
Dan, ketika Reni sedang asyik mengajaknya mereka bercakap - cakap, tiba - tiba salah seorang rekan Giri masuk dan memberitahunya ada seseorang yang menunggunya di luar.
" Maaf ya Ren, saya harus bertemu seseorang, karena kamu sudah selesai, saya terpaksa harus ninggalin kalian disini, tidak apa - apa kan ?" ucap Giri yang merasa tidak enak hati.
" Tidak apa - apa bli, maaf justru kami yang mengganggu waktu bli dari tadi ' Ren, ayo buruan " ajak Hanna menarik Reni yang masih duduk di kursinya sejak tadi.
Setelah keluar dari ruangan tadi, Reni mengajak Hanna ke toilet sebelum pulang. Di dalam toilet Hanna bertanya tentang hal apa saja yang di rasakan Reni saat tubuhnya di beri tato tadi.
Reni menceritakan semua yang ia rasakan, saat tangan Giri menyentuh kulitnya, rasanya seperti ada sensasi yang menyengat, seolah seluruh tubuhnya di aliri listrik bertegangan tinggi. Begitu katanya.
" Mati dong kalo kesetrum tegangan tinggi mah, hahaha... " sahut Hanna yang sedang berdiri di samping Reni yang sedang mencuci tangan di wastafel di dalam toilet.
" Cih... gak gitu juga keles !!" Reni mendelik.
" Abisnya lebay amat, aku kan nanya tadi proses tato nya bukan nanyain rasanya di sentuh sama bli tadi, gak nyambung banget " ujar Hanna.
Dan saat mereka keluar dari toilet, tiba - tiba di belokan sebelum menuju pintu area keluar, tanpa di harapkan mereka di suguhkan pemandangan yang sangat iyuh... apa yah, bisa di bilang menggelikan. Mereka melihat Giri sedang berpelukan dengan seorang pria di depan mereka, setelah itu dengan tingkah manjanya Giri membenamkan kepalanya di dada pria tersebut.
Bagai di sambar petir di siang bolong, bagai sebuah cermin yang terhempas jatuh ke lantai, seketika hati Reni hancur berkeping - keping.
Hanna dan Reni menyaksikan pemandangan yang membuat mereka bergidik geli, dengan mulut yang masih menganga, Hanna menyaksikan Reni berlari ke arah pintu keluar meninggalkan kedua pria itu yang nampak terkejut karena ada yang memperhatikan keromantisan mereka berdua dari belakang.
Hanna mulai mengatupkan mulutnya saat kedua pria itu menoleh ke arahnya, " kak Ren, tunggu aku... " teriak Hanna kemudian berlari menyusul Reni yang sudah pergi jauh.
" Siapa mereka ?" tanya pria di samping Giri.
" Itu anak - anak kost, tadi habis pasang tato " jawab Giri.
" Tapi sepertinya aku kenal, tapi siapa ya... " ucap pria di samping Giri.
" Udah ah, yuk cuss keburu lapar nih akyu.. " ucap Giri.
Di sisi lain...
Hanna berhasil mengejar Reni yang kini berhenti di trotoar jalan dan duduk di sebuah tembokan pot besar yang ada di pinggiran jalan.
Hanna menghampiri Reni yang kini sedang menangis tersedu - sedu.
" Kak Ren, kenapa ? kok jadi nangis bombay gini ?" tanya Hanna.
" Loe gak tahu perasaan gue Han, hancur banget sumpah, ternyata orang yang gue suka, dia... ah... sudahlah, bego gue... " ucap Reni.
" Kak, belum tentu kan apa yang kita lihat tadi itu benar, mungkin mereka cuma sodara dan udah biasa kayak gitu, sesama sodara kan kadang gitu, udah ah, yuk kita pulang " ajak Hanna. Hari itu merupakan hari libur mereka berdua, yang kebetulan Reni pun dapat jatah libur di hari minggu.
" Gue gak mau pulang, gue laper, gue mau makan baso yang pedes biar otak gue tambah kebakaran, ntar lu panggil tuh tim prmadam kebakaran buat nolongin pademin api di tubuh gue" tutur Reni yang masih terisak - isak
" Yaudah, iya, ayo kita cari tukang baso sekarang " ajak Hanna, menarik lengan Reni yang terlihat lemas.
Beberapa menit kemudian, Hanna dan Reni kini sedang makan bakso di pinggir jalan, duduk di bangku plastik milik mamang bakso.
" Enak juga ternyata..." ucap Hanna.
Reni terlihat heboh karena rasa pedas dari kuah bakso yang entah berapa sendok tadi dia beri sambalnya. Keringat bercucuran, mulut panas, bibir bergetar dan sensasinya menjadi kelu, namun Reni terlihat menikmatinya dengan penuh suka ria.
Hanna hanya bisa meringis mengasihani nasib usus dan lambung Reni di dalam perutnya. Karena semenjak terakhir kalinya Hanna sakit tipes, dia sudah tidak pernah memakan sambal ataupun makanan pedas di atas level 5. Dia sudah mulai mencintai dan menyayangi sistem pencernaannya. Hoho...
Selesai makan bakso, saat sedang beristirahat sejenak, tiba - tiba ada sebuah mobil berwarna putih berhenti di belakang gerobak bakso itu.
Lalu pria itu turun menghampiri Hanna.
" Koh Erik... ?" tanya Hanna dengan ragu.
" Iya, betul sekali, masih ingat ternyata " ucap Eriko.
Reni yang melihatnya wajahnya begitu kesal, dia masih ingat dengan jelas wajah pria yang berpelukan bersama Giri tadi itu ternyata Eriko. Hanna awalnya tidak paham mengapa Reni tiba - tiba bersikap dingin, namun, saat ada pria yang menghampiri mereka juga dari belakang yang ternyata adalah Giri, barulah Hanna paham mengapa Reni bersikap dingin, meskipun Giri menyapa mereka, tapi Reni hanya mengangkat bibir atasnya tanpa senyuman apalagi menjawab sapaan Giri saat itu.
Dari situlah Hanna sering bertemu dengan Eriko karena Eriko sering berkunjung ke rumah Giri, dan Eriko mulai mengajak Hanna untuk bernyanyi di cafe miliknya, meskipun awalnya Hanna menolak, tapi Eriko tetap memaksanya karena Hanna memiliki potensi menarik para pengunjung agar berdatangan ke cafe miliknya.
Dan, pada akhirnya Hanna mau menerima tawaran Eriko dengan beberapa syarat. Dan, pada buktinya memang Hanna mampu meningkatkan omset di cafe Eriko.
Meskipun ada beberapa pengunjung yang dengan isengnya sengaja menunggu Hanna hingga dia selesai perform, mengajak Hanna kencan, meminta nomor hp Hanna, namun Eriko selalu pasang badan untuk Hanna karena dia takut saat Siwan tahu dirinya membiarkan Hanna jalan dengan pria lain meskipun mereka kini sedang pisah ranjang, namun, saat nanti Siwan tahu kalau dirinya yang mengijinkan Hanna kencan dengan pria lain, pasti Eriko lah orang pertama yang akan Siwan cari dan Siwan dakwa di markasnya.
...****...
Sabtu siang, di minggu kedua bulan nopember..
Di kantor Hanna...
Setelah jam pulang tiba, dengan penuh semangat Hanna bersiap untuk pulang dan membereskan meja kerjanya. Seperti biasanya dia selalu pulang paling akhir di banding rekan kerjanya yang lain di ruangannya.
Saat Hanna bangkit dari kursinya, seseorang datang ke ruangan mereka mencari Eka, atasan Hanna di ruangan itu sambil membawa satu paper bag berukuran besar di tangannya.
" Pak Eka, mana ya ?" tanya pria itu yang ternyata merupakan atasannya pak Eka yang ruang kantornya berada di lantai 4.
" Ada pak, masih di dalam pak... !" jawab Hanna sesopan mungkin.
Dan tanpa menunggu lama orang yang di cari pun datang. Eka keluar dari ruangannya. Mereka berdua berbicara serius, terlihat dari kerutan di wajah Eka dan pria yang selalu di panggil Wayan oleh orang kantor.
Hanna masih mematung di posisinya, dia berniat ingin berpamitan pada kedua atasannya, hanya saja dia merasa tidak enak hati menyela obrolan mereka, dan kalau dia menyelinap pulang tanpa pamit, tidak sopan rasanya.
Dan, setelah menunggu beberapa menit...
" Bu Hanna, apa kau sedang tidak sibuk ?" tanya Eka.
" Tidak pak, bapak perlu bantuan saya ?" tanya Hanna.
" Iya, saya ada rapat sebentar lagi, dan ini harus segera di antarkan ke kantor konsultan perusahaan kita secepatnya, bisakah kau mengantarnya ?" tanya Eka.
" Begini saja bu Hanna, nanti biar supir saya yang antar ke tempat tujuan, jaraknya lumayan jauh, nanti supir saya yang antarkan bu Hanna kembali pulang sampai ke rumah, bagaimana, bisa ?" tanya pria bernama Wayan.
" Baik, bisa pak, silahkan !" jawab Hanna.
" Kalau begitu saya telepon dulu supir saya, sebentar ya !!" ucap pak Wayan.
Dan, beberapa menit berlalu, Hanna sudah berada di perjalanan menuju kantor konsultan perusahaannya siang itu.
Rasa penasaran menyelimutinya, dia duduk di kursi belakang mobil sesuai permintaan sang supir, padahal Hanna sendiri tadinya akan duduk di sampingnya di kursi depan.
Hanna penasaran dengan isi yang ada di dalam paperbag yang berada di sampingnya saat itu, yang ia lihat sekilas hanya berisi beberapa gulungan kertas dan beberapa berkas yang tertata rapih di dalamnya.
Perjalanan dari kantor menuju tempat tujuan cukup panjang ternyata, menghabiskan waktu sekitar satu jam. Hanna yang belum makan siang saat itu terpaksa harus menahan lapar demi amanat yang di berikan pak Wayan dan pak Eka di kantornya.
" Bu Hanna, nanti sesampainya di kantor langsung masuk saja, katakan saja ingin bertemu mister Im atau pak Yoka, ada amanat dari pak Wayan PT. PAM dan bla bla bla.... setelah itu bu Hanna boleh langsung pulang, nanti di antarkan supir saya " ucap Pak Wayan, masih terngiang - ngiang di telinga Hanna.
Sesampainya di lokasi tujuan, Hanna turun dari mobil sendirian dan langsung berjalan menuju sebuah gedung kantor di hadapannya.
Sesampainya di depan pintu kantor tersebut, dari luar, sekilas Hanna melihat ke dalam malah terlihat seperti sebuah coffee shop.
" Apa benar ini kantornya, atau aku yang salah lihat, apa mungkin pak supir salah anter lokasinya " gumam Hanna.
Hanna kembali menghampiri supir pak Wayan untuk bertanya apa memang kantor tujuan mereka benar disini adanya atau dia salah mengantarnya.
" Betul kok Bu, disini lokasinya, saya juga pernah beberapa kali anter pak Wayan dan yang lainnya kesini " jawab sang supir.
Lalu, Hanna pun kembali dan berdiri di depan pintu masuk kantor tersebut.
Saat dia membuka pintunya, beberapa mata tertuju padanya.
" Permisi... " ucap Hanna.
" Ah, iya, dari PT PAM ya Bu ?" tanya salah seorang wanita yang ada disana, menghampiri Hanna.
" Iya betul, saya mau menyampaikan amanat pada mister Im atau pak Yoka, beliau ada ?" tanya Hanna.
" Ada, mereka ada di lantai 2, silahkan langsung ke atas saja Bu " jawab wanita itu.
" Mungkin mereka sedang istirahat disini, mungkin ini caffe shop kantor mereka " gumam Hanna.
" Maaf perkenalkan saya Asti, oh iya, mau saya buatkan kopi atau teh atau minuman lainnya ?" tanya Asti, terlihat seperti seorang karyawan di kantor tersebut karena dia memakai id card di lehernya, hanya saja baju mereka terlihat lebih santai, memakai pakaian casual dan sepatu sneakers bahkan ada yang memakai sandal.
" Tidak usah, terima kasih banyak, saya tidak akan lama, hanya menyampaikan amanat dan mengantarkan ini " jawab Hanna mengangkat paper bag di tangannya.
Hanna pun langsung menuju ke lantai 2 gedung kantor yang terlihat seperti coffe shop itu. Namun, saat tiba di lantai 2, betapa takjubnya dia saat melihat suasana ruangan yang sangat luas dan nampak sejuk tersebut karena bergaya skandinavian di salah satu sudut ruangan dengan banyak nya dinding kaca serta pohon hijau yang menjulang tinggi hingga puncaknya mencapai lantai 2 gedung tersebut. Juga terdapat sebuah rak buku yang lumayan besar serta beberapa sofa dan bean bag chair di sudut ruangan itu.
Di tengah ruangan ada dua orang pria yang membelakangi Hanna yang terlihat sangat sibuk dan asik dengan pekerjaannya.
Mereka berdua tengah menggambar pada meja gambar masing - masing hingga tak menyadari adanya kehadiran Hanna di sana.
Beberapa meja gambar, berbaris rapih hampir di sekeliling ruangan, seperti sebuah meja gambar milik seorang arsitek.
" Ya ampun, jangan - jangan.... " Hanna terkejut, ketika tiba - tiba ia tersadar, kini ia sedang berada di kantor konsultan arsitek dan arsitektur yang berada di kota Denpasar.
Hanna membuat kegaduhan dengan sepatunya sendiri saat ia tiba - tiba mundur secara paksa.
Kedua orang pria itu baru menyadari kehadiran Hanna saat mendengar suara decitan hak sepatu milik Hanna, mereka pun menoleh ke belakang, mata mereka tertuju pada Hanna, terutama saat salah seorang dari mereka merupakan seseorang yang sangat Hanna kenali wajahnya, meskipun kini pria itu sedang memakai kacamata.
" Chagiya... "
" Ahjussi... "