My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Pengantin Baru



Warning...


Hati-hati, mengandung 18+


Jangan terlalu halu !! apalagi kaum single alias jomblo. Hahaha...


Happy reading..


...***...


Kersokan harinya...


Saay adzan shubuh berkumandang dan terdengar samar-samar di telinga Siwan, kemudian ia terbangun di sebuah tempat yang nampak asing baginya.


Sebuah ruang kamar yang dipenuhi oleh berbagai aksesories anak dan foto-foto yang terpampang di dinding membuat suasana ruang kamar tersebut ramai jauh berbeda dengan kamar yang selama ini ia tempati, ketika terbangun, matanya hanya melihat jam yang menempel di dinding, itu saja, sangat minimalis bahkan tanpa adanya dekorasi di sekitar mejanya seperti vas bunga, at8aupun lukisan yang menempel menghiasi kekosongan dindingnya, tidak ada sama sekali.


Ia hanya menyimpan sebuah figura di atas nakas dan itupun berukuran kecil. Siwan tidak terlalu suka dengan hal-hal yang seperti itu. Padahal dia itu seorang desainer, ya, desainer rumah, gedung dan bangunan lainnya sih.


Tapi kini, semua sudah berubah, ia harus mulai terbiasa dengan keramaian di sekitarnya, bahkan ia harus terbiasa dengan suara adzan yang menjadi alarm baginya untuk terbangun di subuh hari setiap harinya.


Setelah tersadar, Siwan pun terbangun, dan ketika menoleh ke samping kirinya, ia mendapati dua orang mahluk ciptaan Tuhan yang begitu ia sayangi dan cintai. Ya, mereka Hanna, yang kini berstatus istrinya, dan Hwan, anaknya.


Senyum pun mulai terlukis di wajah Siwan.


Ia mengusap kepala anak dan istrinya, mencium kening keduanya yang masih terlihat tidur nyenyak, lalu beranjak dari kasur, mengganti bajunya menjadi baju koko tak lupa memakai sarung lalu pergi keluar dari kamarnya.


Saat keluar dari kamar, ia melihat bu Hani, ibu mertuanya sedang menyiapkan sesuatu di dapur, dan bu Hani menyadari keberadaan Siwan.


"Mau ke masjid nak ?" tanya bu Hani.


"Iya bu, assalamualaikum !!" Siwan pun pamit karena takut tertinggal sholat subuh berjamaahnya untuk pertama kalinya di rumah mertuanya.


Pulang dari masjid, saat masuk ke dalam kamar, ia tidak menemukan istrinya di dalam. Hanya ada anaknya saja yang masih berbaring dengan posisi yang menggemaskan membuat Siwan tidak tahan untuk tidak mengganggunya.


Tak lama, Hanna masuk ke dalam kamar dengan kondisi kedinginan. Bathrobe berwarna coklat susu membungkus tubuhnya, kepalanya pun di bungkus oleh handuk rambut berbahan microfiber berwarna pink.


"Ahjussi... kau dari masjid?" tanya Hanna dengan tubuh dan bibir bergetar karena rasa dingin akibat guyuran air di dalam kamar mandi tadi.


"Hemh... kau mandi? ku kira kau masih tidur dengan Hwan.


"Aku bangun saat mendengar suara pintu tertutup, aku langsung mandi karena tidurku semalam berkeringat, udara sangat panas akhir-akhir ini saat malam,"


Percakapan pagi mereka di mulai dengan membahas cuaca.


Siwan bangkit dan mendekat pada Hanna.


"Kemarilah, biar aku menghangatkanmu !!" Siwan langsung memeluk istrinya.


"Ahjussi, nanti baju kokomu basah, ganti dulu sana," kepala Hanna menengadah, menatap wajah suaminya yang lebih tinggi darinya.


"Bagaimana dengan tamu bulananmu?" tanya Siwan, terdengar menggoda.


"Ahjussi, baru mulai hari kemarin, kau masih harus bersabar, setidaknya selama satu minggu, mungkin... " jawab Hanna, dengan tersipu malu.


"Aku akan menantikannya, ayo kita mencari tempat yang cocok untuk hari itu, kau mau kita honeymoon kemana?" tanya Siwan yang masih memeluk Hanna, dan kini mereka sudah duduk di atas sofa mini yang di kamar Hanna.


"Kau sedang tidak sibuk?" Hanna balik bertanya.


"Mungkin, selama dua minggu ini, aku tidak ada kegiatan, Aji yang akan menggantikan pekerjaanku, lagipula aku masih harus disini sampai semua dokumen pernikahan negara kita selesai, menurut ayahmu hanya tiga hari, jadi aku masih akan di sibukkan dengan urusan kita, tidak akan ada pekerjaan yang mencampurinya, " ucap Siwan.


"Eh iya aku baru ingat, ngomong-ngomong, apa ahjussi pindah kewarganegaraan?" tanya Hanna.


"Yap... aku sudah lama memikirkan hal itu, semenjak aku sudah menetapkan pilihan hatiku padamu, aku sudah berniat untuk pindah kewarganegaraan, aku sudah mengurusnya beberapa bulan yang lalu, dan sekarang aku sudah resmi sebagai WNI,"


"Kau melakukan semuanya di belakangku, menjadi seorang mualaf, dan menjadi WNI tanpa sepengetahuanku, kau benar-benar hebat, kau hebat membuatku galau memikirkan hal itu selama ini, dasar.. tega sekali kau !!" Hanna meninju dada suaminya itu.


"Masih kedinginan?" tanya Siwan.


"Aku sudah merasa hangat, bahkan kepanasan karena amarahku padamu yang belum terlaksana, aku jadi terlihat seperti orang bodoh di hadapan kedua orangtuaku, kau berhasil membuatku saaangat terkejut dengan tingkahmu itu, ck... " Hanna cemberut.


Siwan tersenyum melihat wajah istrinya yang malah terlihat menggemaskan saat sedang marah.


"Tapi kau bahagia kan? dengan perbuatanku ini?" tanya Siwan, mengelus pipi istrinya yang sangat lembut.


"Kesal... aku kesal, meskipun aku bahagia !!" selanjutnya Hanna mengomeli Siwan dengan masih membahas segala persekongkolan yang Siwan lakukan bersama keluarga dan para sahabatnya selama ini.


Siwan hanya mendengarkan dengan wajah tanpa penyesalan, ia hanya tersenyum dan tertawa meskipun sesekali menimpali omelan istrinya itu.


Begitulah pagi hari pertama yang mereka jalani, nampaknya telinga Siwan harus mulai terbiasa dengan ceramah yang mamah dedeh berikan di kesehariannya mulai saat ini.


Selesai memandikan Hwan, Hanna mempacking bajunya dan Hwan karena mereka akan menginap di hotel beberapa hari, menghabiskan waktu bersama bu Shinta yang masih berada di Bandung.


Semenjak ada Siwan, Hwan selalu menempel padanya. Bahkan saat makan pagi tadi pun Siwan lah yang menyuapinya.


Keduanya benar-benar sedang membangun chemistry dengan intens.


Hanna dan bu Hani memakluminya, karena Hwan anak yang sangat sensitif, dia pasti selama ini begitu merindukan kasih sayang dari sosok seorang ayah. Meskipun ada laki-laki lain seperti pak Bagyo maupun adik Hanna yang begitu menyayangi Hwan, namun hati kecilnya bisa merasakan bahwa ikatan batin mereka berbeda dengan ikatan yang ia dapat dari ayah kandungnya.


Siang hari tiba...


Hanna sudah siap dengan dua koper yang akan di bawanya, berisi baju dan perlengkapan dirinya dan Hwan, sedangkan Siwan masih ada beberapa pakaian di hotel yang tertinggal.


Saat Hanna sedang merias dirinya di kamar, Siwan masuk ke dalam membawa Hwan yang sudah terkulai lemah dan memejamkan mata di dekapannya.


Siwan membaringkan Hwan di atas ranjang.


"Kita pergi saat Hwan sudah terbangun saja !!" Siwan menghampiri Hanna yang sedang duduk di sofa kini.


"Baiklah, sesuai perintahmu tuan !! " Hanna tersenyum jahil.


Siwan duduk di sofa yang ada di samping meja rias Hanna.


"Kemarilah... !" pinta Siwan.


Hanna pun duduk di sampingnya.


"Kau sangat cantik, aku tidak tahan melihatmu,"


Siwan mulai menjelajahi wajah istrinya, menyentuh setiap inchi kulitnya dengan bibirnya. Diawali dengan kening, kedua mata, hidung, pipi, dan bibirnya. Tangannya pun mulai menggerayangi tubuh Hanna yang saat itu hanya memakai crop top bra karena ia belum sempat memakai dressnya setelah merias wajahnya.


Terdengar lenguhan kecil dan halus meluncur dari mulutnya saat Siwan semakin gencar menyentuh area sensitifnya. Sebelah tangan Siwan merangkul tubuhnya dan selah lagi nampak sibuk merem*s gunung kembar milik istrinya itu secara bergantian.


Kedua bibir mereka yang saling memcumbu kini terpisah, memberi kesempatan pada keduanya untuk menghirup udara lewat indera penciumannya.


Siwan masih belum selesai dengan istrinya, ia mulai mencium tengkuk istrinya dengan lembut, menciumi ceruk lehernya, lalu turun ke area gunung kembar istrinya itu yang semakin menegang dan menantang.


Siwan semakin gencar melakukan ciuman dan ******n kedua gunung kembar dan put*ng Hanna, membuat istrinya semakin terbenam dalam gairah yang selama ini tak pernah ia rasakan.


Namun, sepertinya mereka lupa.


Saat Siwan terus menerus menyerang bagian dada Hanna, sebuah cairan putih mengalir dari pori-pori kedua put*ng payud*r* Hanna.


"Ahjussi... !!" Hanna terkejut, begitu juga dengan Siwan.


Hanna menjauhkan lengan suaminya dari area cairan tersebut.


Hanna merasa malu.


"Aku masih menyusui Hwan, dan ASIku masih banyak, jadi payud*r* ku sangat sensitif, bahkan saat bekerja dulu aku sering memompa ASI di sela kesibukanku," ucap Hanna.


"Apa rasanya enak?" tanya Siwan dengan polosnya, "rasa ASInya ? bolehkah aku mencobanya?" sambung Siwan kembali.


"Ih... memalukan !!" Hanna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Tidak apa-apa kan kalau aku ingin mencobanya?" Siwan menarik lengan yang menutupi wajah Hanna. Ia melihat wajah Hanna semakin memerah karena malu.


"Ih... terserah kau saja," jawab Hanna.


Siwan pun mulai mencoba menghisap put*ng Hanna, secara bergantian. Ada sensasi nikmat dan nyaman karena ASI yang menumpuk pada kedua gunung kembarnya itu mengalir keluar. Namun, ia juga merasa geli dengan kelakuan suaminya itu.


"Bagaimana rasanya?" tanya Hanna.


"Entahlah, aku tidak paham selain rasa manis, kenapa bayi sangat menyukainya yaa... ?" Siwan merasa heran sendiri.


"Yasudah, jangan penasaran lagi, aku tidak mau menyusui baby Hui lagi... " ujar Hanna.


"Sampai kapan? kau selesai mengASIhi Hwan?" Siwan masih ingin membahas seputar perASIan istrinya.


"Emh... menurut ketentuan dokter, sampai Hwan berumur 2 tahun, setelah itu aku baru bisa mengosongkan cairan putih di dalam sini," jawab Hanna.


"Ya ampun... bahkan usia Hwan saat ini belum genap 1 tahun, lama sekali," Siwan menepuk jidatnya.


Hanna terkekeh melihat wajah kecewa suaminya.


"Sabar yaa... demi kesehatan anakmu, aku selalu mengusahakan dia rajin minum ASI, kalau kau mau sehat juga, tak apalah, aku bisa menyusuimu sampai satu tahun kedepan mulai dari sekarang," ucap Hanna, menggoda suaminya.


"Tidak, rasanya aneh, lebih baik aku minum susu sapi saja !!" Siwan mulai kesal, dan Hanna terus mentertawakannya hingga akhirnya membangunkan Hwan yang sedang tidur siang.


Hwan rewel memanggil ibunya karena ia merasa lapar, sebelum tidur ia tidak sempat di beri ASI oleh Hanna.


"Suamiku, tolong atasi Hwan sebentar, aku harus mencuci ini 'menunjuk kedua gunung kembarnya' sebelum menyusui Hwan," Hanna pun keluar kamar dengan menutupi tubuh bagian atasnya menggunakan handuk lalu menuju kamar mandi mencuci payudaranya supaya bersih. Setelah itu ia kembali ke kamar dan mulai menyusui Hwan yang menangis karena kelaparan.


Siwan menemani Hanna di dalam kamar yang sedang menyusui Hwan, sambil memeriksa sesuatu pada layar laptopnya.


Biasalah, pengantin baru selalu betah diam di dalam kamar, apalagi kalau masih menumpang di rumah mertua. Xixixixi...


"Chagiya, jangan panggil aku ahjussi mulai sekarang, aku bukan pamanmu, tapi suamimu !!" ucap Siwan, merajuk.


"Mau ku panggil apa? sayang, hubby, honey, bunny, sweety ?" Hanna mulai usil.


"Yaa... apapun itu, terserah kau saja," tanpa memandangi istrinya karena Siwan mulai fokus mengecek beberapa surel yang masuk ke alamat emailnya.


"Emh... apa ya kira-kira cocoknya, papi, papa, bebz, baby... aku bingung, sudahlah, terserah nanti saja, aku mengantuk juga jadinya... " Hanna pun menghentikan ocehannya dan ikut memejamkan matanya bersama Hwan yang kini sudah kembali tertidur.


Siwan menatap sesaat pada istrinya kemudian kembali fokus pada layar laptopnya.


Sepertinya, melihat raut wajah Siwan yang berubah, sorot matanya menajam, ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi saat itu.


Siwan langsung mengambil hpnya, kemudian menghubungi seseorang di seberang sana.


"Hallo, bagaimana? apa kau sudah memastikannya?" tanya Siwan pada seseorang.


"Baiklah, kabari aku secepatnya, kita harus segera bergerak !!" ucap Siwan, kemudian menutup sambungan teleponnya.


Beberapa jam kemudian...


Kini Hanna, Siwan dan Hwan sudah berada di depan pintu masuk sebuah hotel yang berada di daerah dataran tinggi kota Bandung. Sebuah hotel bintang 5 dengan nuansa sejuk dan damai, karena berada di sekitar perbukitan dan tidak jauh dari area pegunungan.


Ketika memasuki area hotel mulai dari depan hingga loby hotel, para pegawai dengan ramahnya menyapa sambil tersenyum menyambut kedatangan mereka.


Bahkan dua orang petugas langsung membawakan koper yang di seret oleh Siwan dan membantu membawakannya hingga ke depan pintu kamar mereka.


Sepanjang berada di dalam lift, pegawai tersebut mengajak Siwan mengobrol dengan topik yang cukup hangat, bahkan berkali-kali sang pegawai menyapa Hanna dan Hwan.


Ketika ketiganya sudah berada di dalam kamar, Hanna yang sudah merasa curiga mulai bertanya.


"Ahjussi... apa setiap hotel yang kau datangi selalu akrab seperti ini? bahkan mereka tahu namamu, rasanya aneh sekali, apa hanya perasaanku saja, " Hanna mulai menurunkan Hwan yang berada di atas pangkuannya, lalu duduk di sofa sebentar.


"Pelayanan di setiap hotel ini memang seharusnya seperti ini kan, mereka harus ramah, wajar saja bukan?" jawab Siwan, simple.


Dan, ketika Hanna mulai mendekat pada area kamar tidur mereka, ia tercengang sampai membelalak.


"Waw... so pretty... " ucap Hanna.


Di atas ranjang terdapat kelopak bunga mawar merah bertebaran namun dengan gaya aesthetic, handuk yang di bentuk menjadi sepasang angsa, bahkan ada juga satu buket bunga cantik dan satu kotak coklat yang di atasnya terselip kartu ucapan selamat atas pernikahan mereka.


"Kau memesan layanan honeymoon package?" tanya Hanna.


"Tidak, aku tidak tahu siapa yang melakukan ini semua !!" jawab Siwan.


Hanna menyerahkan Hwan pada papanya. Lalu ia merogoh hpnya dari dalam tas kecilnya kemudian mengabadikan semuanya dalam beberapa jepretan kamera hpnya. Ia bahkan meminta Siwan untuk memfoto dirinya di atas ranjang di tengah dekorasi yang cantik yang belum pernah ia dapatkan selama ini, sebelum tangan kecil Hwan menghancurkan semua yang terlihat indah ini. Sayangnya, Hanna lupa membawa tongsis, jadi dia agak kesulitan untuk selfi bersama anak dan suaminya. Meskipun begitu, ia tetap melakukannya meskipun hasil fotonya tidak se epic saat ia berfoto sendiri.


Terlihat norak, begitulah Hanna yang sebenarnya...


Untuk beberapa saat, ketiganya masih menikmati suasana sejuk, indah dan nyaman kamar yang mereka diami, sebelum nantinya mereka harus menemui bu Shinta yang sedang menanti kedatangan mereka di kamar lainnya di hotel tersebut.