My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Luca



" Namaku, Austin, tadi kan aku sudah memperkenalkan namaku padamu."


Tiba - tiba Austin menyela obrolan mereka dan duduk di salah satu kursi di samping Siwan.


" Ih.. kita bukan sedang membahasmu, tau. " Tukas Hanna.


" Hehe.. " Austin hanya tertawa kecil.


" Dimana Luca boy, apa dia sudah tidur ?" tanya Austin pada Siwan.


" Aku membiarkannya bermain di belakang. " Jawab Siwan.


" Emh.. kakak ipar, kau jangan sungkan ya, makan saja yang banyak. " Austin menatap Hanna dan tersenyum.


" Ahjussi..." Hanna menatap Siwan dengan raut muka seperti anak kecilnya lagi.


" Os, berhenti menggoda nya. " Siwan menatap Austin dengan muka serius.


" Oke, baiklah. Maafkan aku ya, sister !!" Dia menatap Hanna memohon pengampunan.


Hanna hanya bisa tersenyum kecut.


" Paman Austin, apa kau seorang dokter ?" tanya Hanna.


" Iya, aku dokter di Rs Mandawa. Tapi tolong, jangan panggil aku paman, aku tidak setua pamanmu ini. " ( Austin menunjuk Siwan sambil mengunyah masakan di mulutnya )


" Panggil aku, oppa saja ya.. !!" seru Austin.


Siwan yang sudah selesai makan dan sedang minum tiba - tiba tersedak mendengarnya. Dia terbatuk - batuk hingga Austin pun menolongnya menepuk - nepuk pundaknya.


" Kau ini, jangan mempermalukan dirimu di hadapan pacarmu donk. " Seru Austin.


Siwan tidak banyak bicara, dia hanya menatap Austin dengan tajam sehingga membuat bulu kuduk Austin merinding dan fokus lagi melahap nasi di piringnya.


" Kau sudah selesai ? Mau kuantar pulang sekarang ?" Tanya Siwan pada Hanna.


" Baiklah, aku harus istirahat, besok kerja pagi. " Jawab Hanna.


" Hati - hati di jalan ya.. !!" seru Austin.


" Terima kasih, senang berkenalan denganmu, oppa !!" tukas Hanna yang membuat mata Siwan melotot.


Austin merasa senang, tapi hanya bisa mengacungkan jempolnya pada Hanna karena takut di marahi Siwan.


Di dalam perjalanan pulang, Siwan pun menceritakan tentang sejarah Luca, anjing peliharaannya.


" Dia, anjing milik mendiang istriku. "


Siwan terdiam sejenak dan lalu melanjutkan kembali ceritanya.


" Dia anjing kesayangan Yuri, mendiang istriku. Usia Luca sekitar 10 tahun, akhir desember nanti. Aku membawanya ke Indonesia setelah istriku meninggal. Sekitar 4 tahun yang lalu, sejak Yuri pergi, aku mulai lama menetap di Bali. Biasanya aku hanya bolak balik kemari memakai visa kunjungan sementara " Siwan terdiam dan fokus menyetir.


" Boleh aku tahu, penyebab istrimu meninggal?" tanya Hanna.


" Dia, kehabisan banyak darah saat sedang hamil muda, dia pendarahan hebat saat aku sedang bekerja. Aku menikahinya setelah tahu bahwa dia mengandung anakku. Saat itu usia kehamilannya baru empat minggu. Bahkan setelah menikah, kami menunda bulan madu, karena dokter melarang Yuri pergi kemanapun."


" Saat aku sedang bekerja, asisten rumah tanggaku menelpon, memberitahuku bahwa dia dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama Yuri. Aku pun langsung menyusul mereka, tapi sayangnya, aku sudah kehilangan Yuri. Dia kehabisan banyak darah dan tidak sempat mendapatkan tranfusi darah setetespun. Dia meninggal saat di perjalanan menuju rumah sakit. Padahal saat itu, lokasi apartemenku dan rumah sakit sangat dekat. "


" Kau pasti sangat sedih sekali saat itu ?" tukas Hanna.


" Aku bahkan seperti orang gila. " Ucap Siwan.


" Apa dia dari Seoul ?"


" Bukan, dia dari Busan, kami bertemu saat aku sedang perjalanan bisnis ke Busan. "


" Sabar ya, aku yakin kau pasti orang yang sangat kuat dan tegar. " Tanpa disadari Hanna menggenggam tangan kiri Siwan. Walau hanya sebentar, Siwan merasa sangat terkejut dan gugup.


" Amin. " ucapku.


Siwan lebih merasa gugup saat melihat ke samping, Hanna menatap wajahnya lebih dekat saat sedang mendengarkan ceritanya itu.


" Ah.. sudah sampai rupanya. " Hanna membuka sabuk pengaman nya.


Siwan pun langsung bernafas lega karena sudah terhindar dari perasaan gugupnya.


Hanna keluar dari mobil menuju ke dalam gedung diikuti oleh Siwan. Sesampainya di gerbang masuk,


" Hanna, tunggu !!"


" Ada apa, ahjussi ?"


" Maaf yaa, aku takut kau tersinggung karena sikap Austin tadi. " Ucap Siwan.


" Tidak, aku tidak apa - apa kok, serius deh. "


" Syukurlah kalau begitu. Aku juga minta maaf atas kejadian di kolam tadi. "


" Ahjussi, tidak perlu banyak meminta maaf. Itu semua kesalahanku. Aku yang salah paham terhadap Luca. Jadi, aku sudah melupakannya. "


" Baiklah, kalau begitu, kau masuk saja. Lekas istirahat dan tidur. "


" Terimakasih banyak, ahjussi.. "


Dan, tiba - tiba, Hanna mencium pipi kanan Siwan lalu berbisik di telinganya.


" Ahjussi, aku belum mengizikan mu mencuri ciuman pertama ku. Bye... aku masuk dulu ya. "


Siwan yang merasa terkejut atas tindakan dan ucapan Hanna tadi, hanya terdiam sambil menyentuh pipi kanannya itu. Lalu tidak lama kemudian dia pun tersenyum, tersipu malu dan pergi meninggalkan gedung kost itu dengan penuh senyuman.


Sepanjang perjalanan pulang hingga sampai kembali ke rumahnya, Siwan masih memeganng pipi kanannya itu sambil tersenyum tersipu malu.


Sesampainya di rumah...


" Kau, kenapa senyum - senyum seperti itu ?" tanya Austin.


Siwan tidak menghiraukannya dan terduduk di sofa, di samping Austin.


" Eh.. kau sudah pulang." Siwan malah menyapa satu lagi temannya sedang fokus menonton tv.


" Wah, kalau tahu akan ada kakak ipar datang kemari, aku pasti akan pulang lebih cepat. " Ucap pria itu.


Seorang pria berbadan tinggi dan berotot, berkulit coklat dan berhidung mancung. Dia warga negara asli Indonesia, warga asli daerah Bali. Namanya, Aji, merupakan tangan kanan Siwan. Pandai berkelahi dan hobi meninju musuhnya.


" Akupun terkejut, akhirnya, gadis itu jatuh ke dalam pelukan kak Wan. " Sahut Austin.


" Kalian jangan mengarang cerita, aku masih belum di beri kesempatan olehnya. " Ucap Siwan. Lalu, pandangannya tertuju pada meja di hadapannya, dia melihat lasagna buatannya hanya tersisa sedikit lagi.


" Kalian memakan hasil karyaku tanpa izin !!" Siwan melotot.


" Ku pikir ini buatan bi Asih, rasanya sangat enak. Kau pintar sekali membuatnya. " Jawab Aji.


" Ah.. sudahlah, aku lelah, kalian jangan lupa bereskan semua ini, jangan mengganggu bi Asih di malam hari. "


" Oke.. oke.. " jawab Austin.


Siwan pun pergi ke lantai dua, ke kamarnya, berganti pakaian dan bersiap untuk tidur. Tapi, dia belum bisa memejamkan matanya, dia selalu memikirkan kejadian demi kejadian hari ini, yang terjadi antara dia dan Hanna.


Dia pun penasaran, langsung membawa hpnya yang berada di atas meja dan berniat mengetik chat Whatsupp untuk Hanna, tapi, tidak lama kemudian, dia menghapus kembali isi chatnya. Dia pikir, takut mengganggu Hanna yang mungkin sudah tertidur.


Padahal disisi lain, di kamar kost, Hanna terlihat masih membuka matanya, berguling guling kesana kemari sambil menyentuh bibirnya. Dia sungguh tidak menyangka bahwa orang yang berhasil menyentuh bibirnya untuk pertama kali adalah Siwan. Dia tersenyum, lalu, menutupi wajahnya dengan selimut merasa malu.