My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 KENANGAN TRAGIS



Sore itu...


Bram menyetir mobil menuju suatu lokasi


Di belakang kemudinya ada Tio yang tengah menahan rasa sakit di pipinya akibat tinjuan seseorang. Bahkan sudut kanan bibirnya terdapat sebercak darah yang tertinggal akibat luka.


Aji yang duduk di samping kemudi, pandangannya lurus ke depan, pandangan yang penuh dengan amarah serta dendam, membuat orang di sekitarnya tak berani untuk sekedar meliriknya. Bahkan Bram yang di kenal sudah dekat dengannya, ia hanya sesekali memantau Aji lewat sudut matanya tanpa berani menoleh sedikitpun.


Satu jam sebelumnya...


Setelah membahas strategi apa saja untuk ke depannya, Aji, Bram dan Tio pun di persilahkan pulang oleh bu Shinta.


Ketika ketiganya sampai luar, di halaman rumah, sebelum masuk ke dalam mobil, Aji sempat menarik Tio dan menghajarnya, berkali - kali Aji meninjunya karena merasa kesal dan marah atas pengkhianatannya.


"Brengsek... rasanya gua pengen bunuh lu sekarang juga, anj*ng lu... " Aji menyerang Tio dengan bringasnya.


Bram yang memiliki tubuh tinggi dan besar pun tak sanggup menahan tenaga yang bercampur amarah yang Aji keluarkan saat itu, hingga Seto yang berjaga di posnya pun berlari sekencangnya membantu memisahkan Tio dari amukan Aji saat itu.


"Kalo bukan karena permintaan bibi, lu udah gua seret ke liang lahat di detik ini tanpa ampun, bangs*t..."


"Ji, tenang Ji, dia satu - satunya jalan buat kita cari kak Wan secepatnya, sabar Ji... " sahut Bram.


Aji pun melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Tio, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi, di depan.


Sambil menahan rasa sakitnya, di dalam duduknya, Tio kembali teringat perkataan bu Shinta beberapa menit yang lalu.


"Tio... " panggil bu Shinta sesaat sebelum ketiganya melangkahkan kaki keluar dari pintu ruangan tersebut.


Tio menoleh, kembali menatap bu Shinta.


Begitupun dengan Aji dan Bram.


"Ibumu, aku turut berduka cita... aku hadir di pemakamannya hari itu !!" ucap bu Shinta.


Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Tio. Ia hanya menganggukkan kepalanya, lalu melanjutkan kembali langkahnya untuk keluar dari ruangan tersebut sambil menahan air matanya.


Tio sebetulnya warga asli Bali, bukan penduduk yang merantau dari pulau Sumatera seperti yang pernah ia katakan pada Hanna dulu. Ia bahkan berbohong pada Hanna soal agamanya hanya karena perintah dari Austin supaya lebih dekat dan mengorek informasi dari Hanna, dulu saat ia di tugaskan menjaga dan mengantar jemputnya.


Ibu Tio, adalah salah seorang pengurus panti asuhan milik bu Shinta, maka dari itu bu Shinta sangat mengenal baik sosok ibunya semasa hidupnya.


Dahulu, saat tengah bekerja, karena terlalu lalai dengan kondisi kesehatannya, salah satu ginjal ibu Tio bermasalah, hingga harus di angkat. Setelah selesai operasi pengangkatan ginjalnya, ternyata sebelah ginjalnya pun juga kembali bermasalah, sehingga ia membutuhkan donor ginjal dengan segera. Tio bahkan saat itu sudah bersedia mendonorkan sebelah ginjalnya untuk ibu tercintanya, hanya saja ibunya begitu dengan keras menolaknya karena tidak ingin anak satu - satunya hidup secara tidak normal ke depannya. Anaknya adalah harapannya, ia tidak ingin masalah kesehatannya kelak mengganggu pekerjaannya yang terbilang cukup berat, membutuhkan fisik yang kuat.


Maka dari itu, disaat ia sedang mengalami kesulitan untuk mencari donor, terlebih lagi merasa bimbang karena tabungannya tidak cukup memadai meskipun donornya sudah ia dapatkan, saat tengah di landa kebingungan Austin yang saat itu masih bertugas di rumah sakit xxx menghampirinya dan menawarkan bantuan.


Tanpa pikir panjang, demi ibunya, Tio saat itu menerima uluran tangan Austin meskipun syaratanya sangat berat. Ia harus menjadi pengkhianat di kubu Siwan saat Itu.


Dan kini, apa alasannya, kenapa ia kembali berbelot dan memihak kubu Siwan kembali ??


Flashback


Saat itu, hari dimana kecelakaan helikopter yang di sengaja oleh Austin dan komplotannya, setelah semua orang yang berada di dalam helikopter di paksa keluar dalam pendaratan darurat, kecuali Siwan dan Tio, mereka berdua di todong oleh senjata untuk tetap duduk di tempat dan tidak bergerak sama sekali.


Siwan yang kebingungan saat itu tidak menduga, bahwa ia akan di celakai hari itu. Dan, tidak lama kemudian, Siwan mulai tertuju pada sesuatu, pandangannya dengan secepat kilat mengetahui ada yang tidak beres, ia menemukan alat peledak di bawah salah satu kursi yang ada di sana.


Ada bom di dalam helikopter, melihat waktunya yang hanya tersisa sedikit lagi, tanpa merasa takut dengan ancaman orang yang menodongnya, Siwan langsung menghajar orang itu dan menendangnya keluar di atas ketinggian sekitar kurang lebih seribu kaki, setelah menggunakan parasut, dengan cepat Siwan menarik Tio untuk keluar dari helikopter dan menjatuhkan diri dari ketinggian kurang dari seribu kaki.


Untungnya saat itu helikopter yang sudah mulai oleng karena sang pilot pun kabur saat ia tahu ada bom di dalamnya, heli itu oleng ke arah berlawanan dari posisi Siwan dan Tio.


Siwan masih belum menarik tali penarik parasut, ia sengaja menjauhkan tubuhnya dari posisi helikopter karena takut ledakan bom yang ada di dalamnya nanti mengenainya terlalu dekat, meskipun ia tidak bisa menghindarinya apabila ledakan bom tersebut ternyata berkekuatan sangat besar.


Dan, ketika ia menarik tali penarik parasutnya, bersamaan dengan ledakan yang terjadi pada helikopter tersebut.


Tubuhnya dan Tio sempat terdorong oleh daya ledakan tersebut, sehingga tubuh keduanya terhempas menuju arah lautan luas di bawahnya.


"Kak, jatuhkan saja aku, kau harus membuka parasutnya, kalau tidak, kau tidak akan bisa berenang di bawah sana, kau akan tenggelam bersama dengan parasutnya, cepat kak, sebelum terlambat, " saat itu, posisi mereka hanya beberapa meter menggantung di atas lautan luas yang akan menjadi pendaratan mereka.


Dengan terpaksa Siwan pun melepaskan Tio, kemudian dengan sigap ia melepaskan parasut yang menempel di tubuhnya kemudian menyusul Tio menceburkan diri ke dalam lautan luas siang itu.


Untung saja mereka dapat kembali muncul ke atas permukaan setelah membuka sepatu mereka di dalam air.


Mereka melihat ke sekeliling untuk mencari bantuan, untungnya, saat itu, ada sebuah perahu nelayan yang sedang mencari ikan tidak jauh dari mereka.


Saat itu, nyawa keduanya masih terselamatkan berkat bantuan salah seorang nelayan yang membawa mereka hingga ke daratan.


Ketika bertanya pada sang nelayan, ternyata mereka saat itu sudah berada di salah satu pesisir pulau yang ada di kepulauan Nusa Tenggara Barat.


Siwan dan Tio pun sempat beristirahat di rumah nelayan tersebut karena merasa lelah setelah apa yang ia alami hari itu.


Sialnya lagi, mereka tidak bisa menghubungi siapapun saat itu karrna semua barang mereka tertinggal di atas helikopter dan mungkin sudah hancur meledak bersamanya.


"Sial, dia mencoba membunuhku juga setelah apa yang aku lakukan selama ini, aku bahkan mengkhianati orang yang selama ini begitu tulus padaku, kak Wan, maafkan aku, seandainya kau tahu bahwa aku mengkhianatimu, mungkin kau pun tidak akan repot - repot menyelamatkanku dari helikopter tadi, " penyesalan selalu datang terlambat, begitulah yang dirasakan oleh Tio saat itu.


Keesokan harinya, setelah bertanya pada sang nelayan tentang rute untuk kembali ke Bali hari itu, Siwan dan Tio pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Namun, sang nelayan pun bersedia membantu mereka untuk mengantar hingga ke perbatasan pulau karena jaraknya tidak terlalu jauh.


Akhirnya Siwan dan Tio pun berlayar menaiki perahu sang nelayan tanpa ada rasa khawatir sedikitpun saat itu.


Sesampainya di perbatasan pulau, saat Siwan dan Tio hendak menyebrang menuju pulau Bali dengan speedboat yang merupakan milik teman sang nelayan, tiba - tiba dari arah belakang, sekelompok orang menuju ke arah mereka dan dengan secepat kilat menyeret Siwan dan Tio.


Karena jumlah mereka yang banyak, Siwan dan Tio tidak bisa melawan, terlebih lagi di antara mereka membawa senjata api yang bisa dengan kapan saja timah panas yang ada pada salah satunya akan bersarang di tubuh keduanya apabila Siwan dan Tio meberontak.


Mereka berdua dibawa menuju salah satu markas yang ada di pulau itu.


Siwan dan Tio di siksa tanpa mengetahui apa alasan mereka melakukan hal keji pada keduanya.


Saat itu, Siwan masih belum tahu siapa dalang dari semua ini.


Setelah kesadaran mereka pulih, sebelum keduanya di pisahkan, untung saja Tio sempat mengakui kesalahannya dan menceritakan siapa orang yang menyuruh Tio untuk berkhianat padanya.


"Oz...? " Siwan menatap Tio dengan rasa tidak percaya.


"Sumpah demi Tuhan dan demi ibuku, aku tidak berbohong kak, dia orang yang menyuruhku melakukan semua ini, entah apa alasannya, akupun tidak tahu, " jawab Tio.


"Dia tidak mungkin melakukannya sendirian, pasti seseorang berada di belakangnya menyetirnya dan membantunya melakukan semua pekerjaannya,"


"Iya kak, beberapa kali ia sempat mengangkat telepon dari seseorang di depanku, dan menjawabnya dengan bahasa mandarin,"


Setelah percakapan keduanya, anak buah Austin atau entah siapa bosnya saat itu, menyeret Tio dari ruang penyiksaan dan memisahkan keduanya.


Ternyata, saat itu Tio berhasil kabur, melarikan diri dan bersembunyi di lubang sumur tua yang ada di salah satu perkampungan warga. Untungnya, Siwan sempat memberinya nomor telepon Hanna saat itu.


Tio mencoba mencari bantuan dari warga untuk bisa menghibungi Hanna saat itu, ia di arahkan untuk menelpon di salah satu pos satpam milik sebuah pabrik yang ada di daerah tersebut.


Saat sedang menelepon, baru saja ia mengucapkan " Hallo ", seseorang menembak lengannya dari kejauhan.


"Aaaarrggh.... Tio berteriak kesakitan, "


Untung saja, ia berhasil kembali kabur, berlari dengan cepat sambil menahan darah yang merembes keluar dari lengan kanannya.


Tio berhasil kabur menuju salah satu rumah warga yang berada di dalam hutan.


Selama hampir satu bulan lamanya Tio bersembunyi di hutan memulihkan kondisi lengannya yang sempat tertembak peluru dari salah satu anak buah Austin. Namun ia kembali karena ingin menyelamatkan Siwan dengan menyamar menjadi petani yang mengantarkan kebutuhan bahan pokok di markas mereka, tentu saja dengan bantuan salah seorang warga setempat. Saat itu, wajahnya yang sudah di tumbuhi dengan janggut dan kumis serta rambut panjang, sengaja ia biarkan merubah penampilannya agar tidak di ketahui oleh anak buah Austin.


Untung saja tidak ada yang terlalu mencurigai kehadirannya saat itu, terlebih lagi orang yang menyelamatkannya mau di ajak bekerja sama untuk berpura - pura menjadikannya saudaranya. Tio yang di ajak mengobrol dengan bahasa daerah tidak paham apa yang di ucapkan oleh anak buah Austin saat itu, ia hanya berpura - pura menjadi bisu dan tuli untuk menutupi kecurigaan mereka.


Tio menyelinap dan mengintip ke dalam ruangan penyekapannya dulu dan Siwan. Namun, ia tidak menemukan seseorang di dalamnya, terutama Siwan.


Saat itu ia terlambat, karena Siwan sudah dibawa pergi entah kemana. Namun, setelah menguping beberapa informasi dari anak buah Austin, akhirnya Tio mendapatkan titik terang, dengan hanya berbekal tubuhnya sendiri serta berkali - kali bertanya pada warga sekitar, akhirnya Tio berhasil mendapatkan lokasi dimana Siwan berada saat itu. Satu bulan lamanya perjalanan ia lalui untuk mencari Siwan. Perutnya yang terasa lapar hanya ia ganjal dengan berbagai sayur dan buah yang ia curi dari kebun warga bahkan di hutan pun ia berburu hewan ternak dan membakarnya dengan api unggun.


Sebagai anak nelayan, ia pun berkali - kali mendapatkan ikan dengan mudah di sungai dan ia olah dengan cara seadanya untuk mengisi ruang kosong di lambungnya.


Pada suatu hari di tengah malam, ketika para penjaga lengah dan terlelap karena tak kuat menahan rasa kantuk, pada tanggal berapa dan bulan apa, entahlah, bahkan saat itu Tio lupa dia berada di tahun berapa, ia mengendap - endap dan menyelinap masuk ke dalam ruangan dimana Siwan berada.


Ternyata, disana juga ada beberapa orang yang di kurung dan di sekap. Tio tidak memperdulikan mereka, yang lebih dahulu ia selamatkan adalah Siwan, setelah itu yang lainnya pun ikut kabur menyelinap keluar dan berpencar.


Akhirnya Siwan dan Tio berhasil kabur, masuk kedalam hutan belantara berjalan lebih jauh namun terseok - seok karena Siwan masih dalam keadaan lemah.


Hingga tiba waktu perpisahan mereka kembali terjadi, saat itu, di siang hari, komplotan Austin berhasil menemukan jejak mereka.


"Tio, pergilah, kau harus kembali, berjanjilah, kau harus kembali ke Bali secepatnya, beritahu ibuku dan Aji, aku takut Austin mencelakakan keluargaku disana, terutama Hanna, "


"Tapi kak, aku tidak mau meninggalkanmu lagi, kita harus tetap bersama - sama, dan kembali bersama, "


"Tidak, aku sudah tidak berdaya, kau pergi saja, apapun yang terjadi padaku, aku sudah pasrahkan diriku pada takdirnya, cepat pergi !"


"Kak... " Tio menatap Siwan dengan penuh sendu.


"Ini perintah, cepat pergi !" ucap Siwan, meskipun dengan suara pelan, namun masih tetap terdengar tegas berwibawa.


Terpaksa Tio pun pergi meninggalkan Siwan yang saat itu bersembunyi di sebuah tumpukan bebatuan dan rerumputan yang orang biasa kira tidak mungkin ada yang mau bersembunyi disana dikarenakan terdapat sebuah sarang ular yang sangat warga takuti.


Tio sengaja mendekati komplotan para anak buah Austin dan mengecoh pergerakan mereka supaya tidak menuju ke arah Siwan.


Sayangnya, ia terkena tembakan di kakinya hingga membuat ia kehilangan kendali dan terperosok ke bawah jurang namun tidak terlalu tinggi. Dan untungnya ia tersangut di antara pepohonan yang di bawahnya terdapat rawa - rawa yang menjadi lokasi pertemuannya dengan para aligator beberapa bulan yang lalu.


Flashback end