
Sudah hampir 3 minggu menjalani ibadah puasa, Hanna baru bisa merasakan apa itu namanya bersantai kembali di kehidupannya.
Karena di kantornya, ia sudah menutup po orderan online sejak dua hari yang lalu. Begitu pula dengan sistem penjualan pada reseller, semua barang sudah terkirim bahkan isi gudang pun sudah hampir kosong.
Dan kini, tinggal menuntaskan barang yang belum di packing dan di kirim pada konsumen lewat jasa ekpedisi yang hanya tinggal beberapa puluh paket saja.
Semua orang bahu membahu untuk mensukseskan acara penjualan mereka di bulan ramadhan pertama bagi timnya.
Begitu banyak tenaga, keringat dan pikiran yang terkuras dari tiap masing - masing tim.
Dan, kali ini, merupakan acara pembagian thr sekaligus pertemuan terakhir mereka sebagai rekan kerja, karena Hanna sudah membooking sebuah resto untuk mereka buka bersama denhan tim kantornya.
Malam harinya, di salah satu resto cukup terkenal di kota Bandung, mereka baru saja selesai berbuka puasa. Mereka berkumpul di sebuah gazebo yang cukup luas dengan kapasitas 10 hingga 15 orang.
Karyawan Hanna di kantor hanya berjumlah 6 orang, namun, partner bisnis Hanna yang merupakan temannya pun ikut bergabung bersama mereka karena memiliki andil pula di timnya meskipun jarang datang ke kantor.
Suasana mulai hening, tidak ada lagi canda tawa mereka seperti sebelumnya, karena kali ini mereka sedang menunggu pidato dari atasan mereka.
"Alhamdulillah, setelah kita mensukseskan acara penjualan di tahun ini, mudah - mudahan ke depannya, kita masih bisa bersama - sama mensukseskan penjualan dan meningkatkan omset kita di tahun berikutnya dan seterusnya, saya pribadi sebagai kepala tim kantor dan juga mewakili kepala tim lainnya mengucapkan beribu - ribu terima kasih atas kerja sama kalian semua, terimakasih atas tenaga, waktu serta ide dan pemikiran dari kalian semua yang mampu membuat produk kita bisa di terima di masyarakat, bisa laku di pasaran, meskipun kita baru memulai bisnis ini, dari nol hingga sekarang, itu merupakan sebuah pencapaian yang sangat luar biasa, berkat kita semua, berkat kerja sama dari kalian semua, tim yang hebat, saya ucapkan banyak terima kasih, mari kita applause untuk kita semua, !" ucap Hanna.
Semua orang yang berada di gazebo nomor 12 itu bersorak sorai sambil bertepuk tangan. Membuat para pengunjung resto lainnya melirik ke arah mereka meskipun jarak gazebo mereka cukup jauh.
"Hari ini merupakan akhir kebersamaan kita sebagai tim kerja di tahun ini, namun, jangan sampai menjadi akhir pertemuan kita, mudah - mudahan selesai puasa dan lebaran nanti kita masih saling bisa berkumpul sebagai rekan kerja kembali, sekali lagi, saya sebagai perwakilan dari para kepala tim mengucapkan banyak terima kasih, selamat menunaikan ibadah puasa yang hanya tinggal 6 hari lagi, selamat mudik bagi yang akan pulang kampung, hati - hati di jalan yaa, semoga selamat sampai tujuan,"
"Aamiin, " ucap tim yang lainnya secara serempak.
"Dan saya pun ingin mengucapkan maaf yang sebesar - besarnya karena masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dari kami dan baik dari saya secara pribadi, dan juga dari sistem upah dan bonus yang belum mencukupi atau sesuai ekpektasi kalian, semoga ke depannya kami sebagai atasan bisa meningkatkan kesejahteraan kalian semua, semoga kalian sehat selalu, " ucap Hanna kembali.
"Aamiin," ucap tim kembali secara bersamaan.
"Kalian tim yang hebat, aku cinta kalian semua, saranghae... !" Hanna membuat simpul hati dengan jarinya dan menunjukkannya pada mereka secara bergantian.
Gelak tawa dari masing - masing membuat suasana hening kembali riuh.
"Saranghae eonni, " sahut Rindy membalas melayangkan simpul hati dengan jarinya.
"Saranghae sajangnim, " ucap mbak Yu tak ingin kalah dari anak muda.
"Cieee... diajarin siapa mbak Yu ?" tanya Elsa.
"Diajarin dia lah.. " Mbak Yu menunjuk Rindy. Dan yang lainnpun tertawa.
"Saranghae nunna, eomma Hwan," ucap seorang karyawan laki - laki Hanna yang bernama Bagas sambil melingkarkan lengannya di atas kepala berbentuk hati dan menunjukkannya pada Hanna.
"Huuuu.... pake hati itu kayaknya, " timpal Rindy, dan yang lainnya pun ikut mengejek Bagas.
Hanna hanya tersenyum melihat kebahagiaan rekan - rekan timnya saat itu. Rasa haru pun muncul di benaknya, ia sangat bersyukur karena usaha yang baru ia jalani terbilang cukup sukses, dan lagi ia sangat bersyukur memiliki tim yang hebat dan rekan bisnis yang bisa di percaya seperti orang - orang yang ada di depannya kali ini.
Acara pun di tutup dengan sesi foto. Tidak ada bosannya mereka berswafoto padahal sebelum acara buka puasa di mulai pun mereka sudah sibuk berfoto dan mengupload ke sosial media masing - masing.
Begitu juga dengan Hanna, ia pun sibuk berfoto dan mengupload kebersamaan mereka hari ini.
Setelah bersalaman, mereka pun pulang ke rumah masing - masing.
Hanna di jemput oleh Rayhan yang saat itu jiga ia tengaj berbuka puasa bersama teman masa kuliahnya. Kebetulan jarak dari resto yang mereka booking tidak terlalu jauh.
Di dalam mobil, saat perjalanan pulang ke rumah.
"Gimana acaranya, sukses ?" tanya Rayhan.
"Alhamdulillah," jawab Hanna, singkat. Ia tersenyum sambil melirik ke arah Rayhan sesaat.
"Abis lebaran kita pergi berlibur yuk, sama keluarga atau sama temen - temen, mau ya ?" tanya Rayhan kembali.
"Liat nanti aja ya A, apalagi kalo sama temen - temen, gak bisa dadakan, harus cocokin jadwal cuti mereka, !" jawab Hanna kembali.
"Oke, nanti kita kondisikan, !" sahut Rayhan, lalu kembali fokus pada kemudinya.
Dua hari kemudian...
Hanna yang sudah dua hari berada di rumah belum tentu bisa bersantai seperti harapannya, sebagai seorang ibu, tentunya malah semakin banyak tugas yang menantinya saat di rumah, apalagi saat itu pekerja yang biasa mencuci dan menyetrika di rumah mereka sudah pulang kampung, tentu saja kali ini ia dan ibunya yang harus bergantian berbagi tugas antara mengasuh Hwan dan mengerjakan tugas rumah. Karena ayah Hanna sibuk berdagang, dan adik Hanna yang sedang libur kuliah pun membantu ayahnya di pasar berdagang.
Pasar tradisional maupun modern pasti sedang padat dan ramai oleh para konsumen loyal maupun dadakan. Makanya Abdul di tugaskan membantu ayahnya di pasar.
Hari itu, Hanna dan ibunya sedang sibuk membuat kue nastar sambil memperhatikan Hwan yang sedang berguling - guling di kasur mini sambil memainkan mainannya.
"Bu, A Rey ngajakin liburan bareng nanti habis lebaran," ucap Hanna.
"Masih niat jodohin aku sama dia ? jangan ngaco deh bu, aku udah gak ada rasa sama dia,!" timpal Hanna.
"Cinta itu, akan tumbuh, kalau di pupuk, !" ucap bu Hani.
"Tanaman kali bu di pupuk," sahut Hanna sambil mengerlingkan bola matanya.
"Ih, serius kali, apalagi kalau dasarnya dulu pernah suka, kalau kalian sering barengan, jalan bareng, ketemuan, sering curhat, dan saling mengandalkan, lama - lama cinta itu bakal tumbuh kembali, yakin deh ibu mah, ! bu Hanni menganggukkan kepala berkali - kali di depan wajah anaknya.
"Ck... ck... ck... jangan - jangan, ibu ya, yang suka sama Rayhan, hayoh ngaku ?" Hanna mengernyit, menatap ibunya penuh curiga.
"Ya pasti suka lah, orang dia masih muda dan ganteng, kaya artis korea gitu ya ampun siapa ya namanya, lupa ibu, yang matanya bagus banget ampun deh, klepek - klepek ibu kalau jadi kamu pas lagi di tatap sama dia," bu Hanni terlihat lebay.
"Dih, yang lagi keracunan drama korea, ampe lupa sama oppa - oppa lokal yang ada di sinetro n tv kesayangan, udah pindah haluan aja si ibu satu ini, " Hanna menyindir ibunya.
Bu Hani menepuk pundak anak sulungnya agak keras.
"Ini semua kan elu yang mulai, suruh siapa ngasih rekomendasi drama - drama oppa - oppa ganteng, pan jadinya emak suka halu tingkat dewa, !"
"What.... !" Hanna membelalakan matanya, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar di telinganya.
"Wah.. wah... wah... bahaya ini Hwan, nenekmu lagi kepincut oppa - oppa korea, padahal nenekmu udah jadi haelmoni, tapi manggil anak muda oppa, aneh... !"
"Terus, kudu manggil apa dong ?" tanya bu Hani sambil melotot.
"Iya ya, manggilnya apa ya, aku juga gak paham !" jawab Hanna.
"Ish... " bu Hani mendengus dan matanya berdelik.
"Eh, bu, lagi pula, kayaknya Rayhan lagi deket sama cewe lain deh !" tegas Hanna.
"Jinjja ? omo omo, jongmal ? nugunde ?" bu Hani memperagakan ekspresi yang sering di perlihatkan para aktris dan aktor pada drama yang sering ia tonton belakangan ini.
"Bu, gak usah lebay kali ah, lagian dia kan masih single, bebas aja dia mau deket sama siapa aja, yang penting kan cewe, alias perempuan, lawan jenisnya, bukan namja (laki-laki),"
Hanna berbicara seperti itu karena dia masih ingat, tadi malam, saat ia bersama Hwan pergi ke salah satu Mall yang ada di kota Bandung untuk buka puasa bersama dengan genk KERANG. Hanna sengana datang lebih awal karena ingin berbelanja bersama Hwan.
Dan, saat Hanna dan Hwan berada di dalam outlet baby and kids fashion, ia melihat Rayhan melintas di depannya. Rayhan tentunya tidak bisa melihat Hanna dan Hwan karena kalau dari luar, kaca samping outlet tersebut terhalangi oleh manequin dan pajangan lainnya.
Hanna bahkan sampai tidak jadi berbelanja, malah membuntuti Rayhan dari belakang.
Hwan yang di gendong di depan ala koala oleh Hanna hanya diam dan asyik menyedot empeng di mulutnya.
Saat Hanna melihat Rayhan berhenti di depan sebuah resto, ia melihat Rayhan bertegur sapa dengan seorang perempuan di depan sebuah toko aksesories.
"Apa... Elsa... " wanita yang ia lihat nampak jelas sekali di matanya kalau dia Elsa.
"Apa mereka memang ada hubungan spesial di belakangku, tapi kenapa A Rey berbohong padaku waktu itu, apa dia malu karena dia Elsa, karyawan di kantorku,!" Hanna masih menyelidik mereka berdua dari kejauhan.
Dan, saat Hanna ingin mendekat, tiba - tiba hpnya bergetar, ada telepon masuk dari salah satu sahabatnya, Audrey.
Hanna pun terpaksa mengakhiri penyelidikannya kali itu karena para sahabatnya sudah menunggunya di lantai lain Mall tersebut.
Setelah mendengar ucapan Hanna, bu Hani nampak lemas jadi tidak bersemangat.
"Ibu kenapa ?" tanya Hanna.
"Yah, gagal deh dapet mantu ganteng, !" ucap bu Hani.
"Ya Alloh, bu... hentikan obsesimu itu, jan ngadi - ngadi deh, " sahut Hanna, ketus.
Dan, tiba - tiba saja, terdengar suara ketukan di depan pintu rumah mereka.
"Siapa tuh, liat dulu gih... !" ucap bu Hani.
"Iya bentar, !"
Hanna pun bangkit dan mengelap tangannya yang lengket dengan tissue basah secepatnya.
Saat ia membuka pintu rumahnya.
"Hanna, apa kabar ?"
Seorang pria yang sangat ia kenal berdiri di hadapannya saat ini.
Selama beberapa detik, mulut Hanna ternganga dan matanya membelalak menatap pria yang ada di hadapannya kini. Seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat, ia malah mematung di depan pintu, tanpa bergerak ataupun berkata satu patah katapun.