My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Tragis...



Mengandung adegan kekerasan


Di sebuah rumah sakit swasta di salah satu kota di pulau Bali, seorang wanita tengah tertidur di kamar rawat inap ruang vvip.


Hanna sedang duduk di sofa di dalam ruangan tersebut menunggu sang pasien yang sedang terbaring membuka matanya.


Netranya berkeliling menilik setiap sudut ruang dan fasilitas yang ada di ruang itu.


" Wah, ruang vvip seperti ini rupanya, lebih mewah dari dugaanku " gumam Hanna.


Untuk mengurangi rasa bosan, Hanna berkirim pesan chat pada ibunya dan sahabatnya di Bandung.


My mom...


Kamu lagi ngapain di rumah sakit ? kamu sakit ? sakit apa ?


Hanna pun membalas pesan ibunya dengan panjang lebar, ia menjelaskan bahwa sedang menunggu sepupu Siwan di rumah sakit karena masih belum siuman setelah mendapatkan perawatan intensif siang tadi. Ia juga menjelaskan kronologis kecelakaan yang menimpa sepupu Siwan sebanyak yang ia tahu saat itu.


My mom...


Ya Alloh, kasihan sekali nasibnya, mudah - mudahan kondisinya cepet pulih ya !! terus Siwan kemana ?


Pertanyaan dari ibunya pun baru ia cerna, ia tidak tahu persis kemana perginya kekasihnya saat ini. Hanna mematung dan menatap jauh ke depan, masih memegang hpnya yang sedang mencoba mengetik di papan tulis pesannya, dan terhenti karena tidak tahu harus menjawab apa.


Ahjussi kemana, ya ?


Beberapa jam yang lalu.


Hanna sedang duduk berdampingan bersama Siwan di sebuah kursi yang berada di sebrang pintu ruang igd.


Saat itu, wajah Siwan nampak tegang. Dan, tidak lama kemudian hp di sakunya bergetar, Siwan yang pikirannya sedang kalut lupa menaruh posisi hpnya di saku mantelnya. Hanna pun membantunya mengambil hp dan mengangkat telepon dari Aji setelah meminta izin dari Siwan.


" Hallo, bli... ini aku !!" ucap Hanna pada Aji di sebrang sana.


" Iya, kami kebetulan di rumah sakit, kami bertemu Arya, dia juga masih di sini " ucap Hanna.


" Baiklah, akan aku sampaikan, bli... hati - hati yaa !!" ucap Hanna lalu mematikan panggilan telepon nya dan menyerahkan hp pada pemiliknya.


" Ada apa ?" Siwan menatap Hanna dengan tidak sabaran dan menyimpan kembali hpnya di saku mantelnya.


" Bli bilang dia sedang di kantor polisi memberi keterangan pada polisi dengan seseorang bernama Dewi, dan suaminya sudah di jebloskan ke dalam penjara " ucap Hanna menjelaskan kembali apa yang Aji sampaikan di telepon.


" Arya... " Siwan memanggil Arya.


Dan Arya pun mendekat pada Siwan, duduk di kursi yang berada di sampingnya.


Sebelum Siwan bertanya, ia fokus pada salah satu sudut pelipis Arya yang nampak berdarah.


" Kau juga terluka, obati saja dulu, kita bicarakan nanti saja !!" ucap Siwan lalu menghela nafas dan tertunduk sambil membuang nafasnya perlahan.


" Aku akan mengantarnya, kau tunggu saja di sini !!" ucap Hanna menyentuh pundak Siwan sebelum akhirnya pergi bersama Arya mencari salah seorang perawat yang berada di ruang ugd tidak jauh dari sana.


Saat sedang menunggu Arya di obati, Hanna mendapat pesan masuk dari Siwan.


Dia memberitahukan bahwa Ia dan Ayu kini dalam perjalanan menuju kamar rawat inapnya dan menyuruhnya menyusul ke sana setelah selesai.


Untungnya luka yang di alami Arya tidak parah, hanya berupa goresan kecil dan sedikit memar.


Selesai Arya di beri penanganan oleh perawat, mereka pun naik ke dalam lift menuju ruang rawat inap Ayu berada.


Sesampainya di dalam ruangan...


" Ahjussi, bagaimana keadaannya ?" tanya Hanna pada Siwan yang sedang duduk di samping ranjang Ayu.


" Dokter bilang dia akan segera sadar, dia hanya tertidur pengaruh obat, kondisi luka di kepalanya tidak terlalu parah, hanya memar di sekujur tubuhnya yang terlihat begitu mengerikan " jawab Siwan dengan suara pelan.


Hanna yang berdiri di belakangnya meringis mendengarnya. Nasib wanita yang berada di depannya ini begitu nahas. Ia sendiri tidak kuat membayangkan betapa kejamnya perlakuan pria itu pada istrinya sendiri.


" Arya, tolong jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya Siwan.


Arya mulai bercerita secara ringkas.


Flashback...


Beberapa jam yang lalu, sekitar pukul 11 siang, suami Ayu datang ke toko kue mereka dalam keadaan mabuk. Dia menyeret lengan Ayu yang berada di depan toko saat sedang menyusun pastry di etalase hingga nampan yang ia pegang terjatuh dan sebagian pastry nya berhamburan di lantak, dia menyeretnya hingga ke lantai 2.


Awalnya mereka cekcok, Ayu tidak mengindahkan ucapan dan sumpah serapah yang di ucapkan suaminya yang meminta ia membatalkan gugatan cerai padanya.


Ayu hendak melengos pergi meninggalkan nya dan berniat meminta pertolongan, namun kembali di seret oleh suaminya hingga ke lantai 3.


Suaminya menjambak rambut Ayu dari belakang dan menariknya secara paksa menuju tangga ke lantai 3.


Meskipun Ayu sudah berteriak - teriak karena kesakitan, suaminya tidak mendengarnya.


Arya Awalnya nampak ragu untuk ikut campur karena ancaman suami Ayu sebelumnya yang sempat melakukan kejadian yang sama beberapa hari yang lalu.


Arya mengeluarkan hpnya dan menelepon seseorang. Hingga Arya selesai menelpon untuk meminta bantuan orang itu, ia melihat Ayu bagaikan hewan, yang sedang di seret paksa di undakan anak tangga untuk naik ke atas.


Arya berlari menuju tangga dan memukul tangan suaminya yang menjambak rambut Ayu, sekeras mungkin.


Saat Suaminya melepas genggamannya, Arya langsung meraih lengan Ayu dan membantunya berdiri dan turun kembali setengah berlari menuruni beberapa anak tangga.


suaminya mengejarnya dan berhasil menangkap kaki Ayu hingga ia terjatuh ke lantai dengan posisi tengkurap. Suaminya langsung membalikkan badannya dan menindihnya, lalu memukul wajahnya berkali - kali. Arya yang ikut terjatuh sekuat tenaga bangkit dan melerai aksi biadab suami Ayu.


Suaminya berhasil di tarik dari tubuh Ayu dan di jauhkan oleh Arya.


Ayu nampaknya sudah tidak berdaya, untuk bangkit dan terduduk pun ia harus di bantu oleh dua orang karyawan wanita yang sedari tadi malah menjerit histeris bukannya membantu Arya melerai perkelahian antara kedua bosnya.


Dari kejauhan, Arya terus melayangkan benda yang ia raih di sekitarnya, serta hinaan dan umpatan kasar tak henti keluar dari mulut busuknya.


Suaminya bagaikan kesetanan.


Tidak lama kemudian datang Aji terengah - engah menghampiri mereka di lantai 2, area kitchen toko kue tersebut. Sekilas ia menatap Ayu, namun ia menghampiri suaminya dan menghajarnya hingga babak belur dan terkulai lemas. Arya sempat berkali - kali menahan Aji untuk menghentikan aksinya.


Aji pun berhenti melayangkan tinju pada suami Ayu. Aji bangkit dan meraih hpnya di saku dan menelepon ambulance dan kantor polisi.


Arya mendekat pada Ayu saat Aji sedang menelepon, lalu, dari kejauhan suami Ayu tertawa seperti orang gila, Aji yang sedang menelepon pun sempat melirik padanya namun tidak menghiraukannya.


Hingga suami Ayu menemukan sesuatu di dekatnya, ia yang sudah seperti orang gila meraih sebuah capitan pastry terbuat dari stainless berukuran besar, lalu melemparkannya pada Ayu hingga mengenai kepalanya dan memantul pada pelipis Arya yang ada di sampingnya.


Ayu nampak kembali lemas karena darah kembali bercucuran dari kepalanya.


Dan tak lama kemudian, ambulance datang, petugas medis langsung di suruh naik ke lantai atas oleh salah satu karyawan wanita di sana.


Aji menyuruh Arya menemani Ayu hingga ke rumah sakit.


Selang beberapa menit setelah Ayu di bawa oleh ambulance ke rumah sakit, polisi datang meringkus suami Ayu. Aji dan seorang karyawati ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan sebagai saksi.


Sedangkan satu orang karyawan lainnya di minta membereskan toko bersama dengan pegawai dari coffe shop yang Aji panggil untuk membantu membereskan toko, khususnya area dapur yang sudah berantakan.


Suami Ayu adalah pria yang beberapa hari lalu di gerebeg oleh Siwan dan Aji saat di hotel sedang melakukan aksi perzinahannya dengan seorang wanita bayaran.


Aji sempat mengabadikan nya lewat beberapa foto, dan ia jadikan barang bukti perselingkuhan untuk mempermudah proses perceraian Ayu dan suaminya.


Setelah Siwan mendengar penjelasan Arya, ia pun berpamitan pada Hanna dan memintanya untuk tidak pergi kemana - mana, dan menjaga Ayu hingga keluarganya nanti datang ke rumah sakit. Siwan bilang akan melakukan sebuah urusan penting terkait insiden ini. Namun ia tidak menyebutkan akan pergi kemana pada Hanna.


Arya pun hanya beberapa menit menemani Hanna mengobrol di ruangan itu. Hanna menyuruhnya tidur di kasur penunggu pasien karena terlihat sangat kelelahan.


" Badanku jadi kerasa sakit mbak, aku juga berkali - kali terkena bogem mentah mas Reno tadi sebelum terkena lemparan capitan kue " ucap Arya.


" Iya makanya kamu tidur aja sana tuh di ujung, aku yang akan nunggu mbak Ayu sampai dia bangun " sahut Hanna.


Arya berjalan menuju ranjang penunggu pasien dan merebahkan tubuhnya, di atasnya.


Hampir mau 2 jam lamanya Hanna menunggu Ayu membuka matanya. Dan akhirnya Ayu pun mulai mengeluarkan suaranya.


" Ekhem... " Ayu mulai berdehem karena tenggorokannya terasa kering.


Hanna yang terlihat sedang mengantuk pun langsung membuka matanya lebar - lebar. Ia berdiri dan berjalan mendekat menuju ranjang.


" Kau haus ?" tanya Hanna.


Ayu hanya menganggukan! kepalanya perlahan.


Hanna menyiapkan satu gelas air mineral dan memasukkan sedotan ke dalam gelasnya dan menyuruh Ayu menyedotnya perlahan.


" Terima kasih !!" ucap Ayu dengan suara lirih.


Hanna tersenyum dan menyimpan gelasnya di atas nakas.


" Mbak, apa kau mau makan ? kau pasti lapar !!" seru Hanna.


Ayu menganggukkan kepalanya. Ia nampaknya sudah tahu siapa Hanna, ia bahkan tidak bertanya tentang siapa dia sedari tadi.


Hanna berjalan menuju meja makan dan mengambil nampan makanan untuk Ayu.


" Aku suapi ya...!!" ucap Hanna, lalu memperbaiki posisi ranjangnya agar sedikit naik di bagian belakang, secara perlahan.


Ayu tersenyum padanya.


Perlahan dan dengan sendok yang terisi hanya setengahnya.


Hanna takut rahang Ayu akan sakit jika membuka mulutnya lebar - lebar. Ia pun dengan telaten dan waspada saat menyuapi Ayu, sedikit demi sedikit dan akhirnya Ayu merasa kenyang dan minta stop.


" Kau, pacarnya kak Wan kan ?" tanya Ayu.


" Iya mbak, aku Hanna " jawab Hanna mendekat dan duduk kembali di kursi setelah menyimpan nampan makanan di meja makan.


" Maaf ya kita bertemu dan berkenalan dalam kondisi seperti ini !!" ujar Ayu.


" Tidak apa mbak, lagi pula aku sempat melihatmu berkali - kali di toko kue, dulu sih pas aku masih kost di dekat sana " jawab Hanna.


" Lalu, sekarang kau tinggal di mana ?" tanya Ayu.


" Aku sudah pindah mbak, sekarang tinggal di komplek xxx, di rumah ahjussi yang dulu " jawab Hanna.


" Ahjussi ?" Ayu merasa asing mendengar kata tersebut.


" Maksudku kak Wan, Hehe... " Hanna selalu saja memanggil Siwan dengan panggilan kesayangan nya di depan semua orang.


Ayu menghela nafas dan membuangnya perlahan.


" Hanna, kau pasti merasa risih dan ngeri melihat kondisiku seperti ini !!" ucap Ayu yang masih tidak bergerak sama sekali karena tubuhnya sangat lemas dan merasa sakit akibat luka lebam yang hampir di sekujur tubuhnya.


" Tidak mbak, jangan berkata seperti itu, aku sangat sedih dan prihatin melihat kondisimu seperti ini, aku hanya ingin memberimu semangat dan akan selalu mendoakanmu supaya lekas pulih dan hidupmu lebih bahagia setelah masa yang berat ini berlalu " ucap Hanna.


" Kau baik sekali, terima kasih yaa !!" Ayu terlihat mencoba tersenyum walau rasanya sulit karena mulutnya pun sedang terluka. Untuk bicara saja dia hanya membuka mulutnya sedikit.


Bila di lihat dari karakternya saat ini, Ayu sosok wanita yang mencoba tetap tegar meskipun sedang di rundung duka, hati dan fisiknya sedang terluka, namun ia mencoba tetap tersenyum di hadapan orang lain.


Hanna sungguh merasa takjub, berbeda sekali dengan Siska yang ia temui dalam kondisi yang sama seperti ini. Eh... tapi... untuk kasus Siska mungkin beda lagi ceritanya, dia merasa sangat sedih dan terpukul karena selain hati dan fisiknya yang terluka, ia harus kehilangan bayi yang di kandungnya yang akan lahir sekitar 2 bulan lagi dari waktu perkiraan bidan.


" Han... Hanna... " ucap Ayu, membuyarkan lamunan Hanna.


" Eh... maaf mbak, aku malah melamun !!" sahut Hanna.


" Kau kenapa ? apa kau juga sedang sakit ?" tanya Ayu.


" Tidak mbak, aku hanya jadi teringat pada temanku dulu, bahkan kami sudah seperti kakak adik, dia mengalami nasib yang sama seperti mbak Ayu, aku jadi teringat lagi padanya " ucap Hanna.


" Dia mengalami kdrt sepertiku ?" tanya Ayu.


" Entah itu di sebut kdrt atau tidak, karena faktanya mereka belum menikah, ayah calon bayinya tidak mau bertanggung jawab, tapi dia malah menyiksa kak Siska hingga dia pun kehilangan bayi yang di kandungnya " ucap Hanna.


" Nahas sekali ya, nasibnya lebih tragis dariku, aku yang selama ini sedang menanti kehadiran seorang bayi, bila mengalami kejadian seperti temanmu, aku pasti juga akan lebih stress dan shock, luka yang aku rasa saat ini tidak sebanding dengan luka seorang ibu kehilangan calin bayinya dengan cara sadis seperti itu " Ayu merasa ujung matanya basah setelah mendengar dan berkomentar akan cerita Hanna tadi.


" Mbak, maafkan aku, malah membuatmu sedih begini !!" Hanna menarik sehelai tissue lalu mendekat pada Ayu dan menyeka air mata yang keluar lewat sudut matanya.


" Tidak apa - apa Han, aku malah berpikir bahwa nasibku saat ini tidak seberapa di banding mereka yang mengalami nasib lebih parah dariku, aku harus tetap bangkit dan merasa bersyukur masih bisa bernafas di dunia ini " jawab Siska.


Hanna merasa tercengang mendengar pernyataan Ayu.


" Ya ampun, apa yang ada di pikirannya sebenarnya, bahkan sebelumnya dia sudah berkali - kali di siksa suaminya tapi masih bisa berbicara seperti itu, apa cintanya sebagai seorang istri pada suaminya sebesar itu, seluas apa... seluas gunung dan lautan ? aku bahkan tidak sanggup untuk berkata sepatah katapun kalau mengalami kejadian seperti ini. Ih... amit - amit deh amit - amit, jangan sampai aku mengalami hal buruk seperti ini, ampun ya Alloh, jauhkanlah dari segala marabahaya !!"


Hanna bergumam dalam hatinya.


Hingga tanpa terasa, waktu sudah petang, tapi Siwan belum juga kunjung tiba.


Arya yang sejak tadi tidur di sudut ruang itu pun terbangun.


Ayu nampak terkejut karena kehadiran Arya yang tiba - tiba berada di sampingnya.


" Arya, dari tadi kau ada di sini ?" tanya Ayu.


" Iya mbak, aku tertidur di sana " Arya menunjuk ke sudut samping sebelah kiri Ayu.


Namun Ayu hanya tidak dapat menolehkan kepalanya, hanya matanya yang terlihat bergerak mengikuti arah telunjuk Arya.


" Kau sudah makan, bagaimana toko dan yang lain ? kau juga Hanna, kau pasti belum makan kan, aku sampai lupa dari tadi malah mengajakmu mengobrol " ucap Ayu.


" Tidak apa mbak, kami masih bisa menahan perut kami kok, kami di sini lebih mengkhawatirkan mbak !!" jawab Hanna.


" Iya mbak, please... kali ini khawatirkan kondisimu sendiri, kau selalu seperti ini padaku dan yang lain, perhatianmu malah membuat kami terluka, kau selalu tersenyum di hadapan kami, padahal hatimu sedang tercabik - cabik... bagaimana bisa ' Arya mulai meneteskan air mata, ' bagaimana bisa kau selalu memendamnya sendirian, padahal kami tahu, kamo tahi semuanya, kenapa kau tidak pernah mai berbagi kesedihanmu pada kami, kau juga harusnya minta tolong dan melaporkan suamimu sejak dia mulai berlaku kasar padamu, kau... " Arya sudah tak kuat menahan air matanya lagi. Dia berlari ke dalam kamar mandi.


Ayu yang mendengar kan semua keluhan Arya hanya terdiam sambil meneteskan air mata.


Hanna kembali menyekanya dengan berlembar - lembar tissue karena kali ini air matanya keluar membanjiri seluruh wajahnya.


Dengan perlahan Hanna mengusap air mata di wajah Ayu.


" Mbak, tolong jangan salah paham, Arya dan yang lainnya pasti sangat menyayangimu, mereka terpukul sekali melihat kondisimu yang seperti ini, kau tidak boleh terus memendam segalanya sendiri, berbagilah bersama orang yang mau mendengar keluh kesahmu, tidak semua orang, tapi pada buktinya masih ada beberapa orang di sisimu yang mau mendengar dan menolongmu " ucapan Hanna membuat hati Ayu semakin terenyuh.


Ia berlarut dalam kesedihannya yang selalu ia pendam selama ini. Ia menangis sejadinya, meluapkan kesedihannya yang tak tertahan lagi akibat provokasi dari Arya dan Hanna.


" Kau hanya manusia biasa, setidaknya luapkanlah agar hatimu merasa nyaman, kalaupun hanya dengan menangis, setidaknya hatimu, benar - benar sejalan dengan air mata yang kau tahan kali ini " ucap Hanna kembali.