
Tepat pukul 11.00 Wita, Siwan sudah berada di depan gerbang gedung kostan Hanna, dia menunggu di dalam mobil. Dan tidak lama kemudian, dari kejauhan kekasihnya pun datang menghampiri, lalu masuk ke dalam mobilnya.
" Ahjussi, ternyata kau sangat on time ya. " Ucap Hanna sambil memakai seatbelt nya.
" Aku tidak mau kau menungguku, biar aku saja yang menunggumu. " ucap Siwan.
Mendengar ucapan kekasihnya itu, Hanna hanya tersenyum lebar di depan wajah Siwan.
" Mau kemana kita hari ini?" tanya Hanna.
" Emh.. aku ingin mengajakmu berkeliling saja, tanpa tujuan. Asal bersamamu, kemanapun, rasanya pasti menyenangkan." Ucap Siwan.
" Ahjussi, sejak kapan, dan siapa yang mengajarimu untuk menggombal di hadapanku ? pasti itu Austin kan?" Hanna curiga pada kekasihnya itu, karena dari pertama kali dia bertemu lagi, selalu keluar kata - kata manis dari mulutnya.
Siwan hanya tersenyum mendengar pertanyaan kekasihnya itu, sambil menggelengkan kepalanya. Dia merasa bahwa dia sudah gila, dia sendiri tidak percaya mengapa dia berubah menjadi pria yang pandai menggombal di hadapan wanita.
Satu jam kemudian, kini mereka sedang berada di sebuah restoran di sebuah hotel untuk makan siang, Siwan ingin mengajak kekasihnya itu makan mewah kali ini. Dan katanya restoran ini terkenal karena menu nya yang unik dan enak, tentunya Siwan memastikan terlebih dahulu bahwa semuanya halal untuk di makan oleh kekasihnya.
Terlihat memang beberapa pengunjung restoran merupakan turis dari timur tengah dan ada yang memakai hijab.
Ketika sedang menunggu pesanan datang, tiba - tiba ada seorang wanita menghampiri meja mereka.
" Hallo kak, lagi makan siang ?" tanya wanita itu.
Siwan terlihat enggan menjawabnya, tapi untuk menghormati nya dia pun terpaksa menjawabnya. " Ah.. iya, mau makan siang. " Setelah menjawabnya, Siwan dan Hanna saling bertatapan. Dari sorot matanya, sepertinya Hanna masih mengetahui siapa perempuan itu.
" Hallo, kenalakan, aku Eliza. " Dia mengulurkan tanganya pada Hanna seraya mengajaknya berkenalan.
Hanna bangkit dari kursinya dan menyambut uluran tangan Eliza. " Aku Hanna. " Ucapnya singkat.
" Baiklah, selamat menikmati makan siangnya ya, sepertinya aku harus segera pergi. " Ucap Eliza yang sudah melihat pramusaji membawa makanan menuju meja Siwan dan Hanna.
Setelah kepergian Eliza, suasana di meja menjadi hening, antara Hanna dan Siwan tidak ada percakapan sama sekali. Mereka terlihat hanya menikmati makanannya. Lalu, tiba - tiba..
" Kau kenapa ?" tanya Siwan.
" Aku, tidak apa - apa. Justru ahjussi yang kenapa, raut wajahmu jadi berubah sejak Eliza menyapa kita disini. "
" Emh.. aku, tidak apa - apa, hanya sedang menikmati makanannya, itu saja." Ucapan Siwan, penuh kecurigaan bagi kekasihnya.
Hanna tak mau memperpanjang masalahnya, dan " emh.. ahjussi, terimakasih banyak ya, aku sangat menikmati makan siangnya. Semuanya seperti yang kau ucapkan tadi, makanannya unik dan enak. " Hanna tersenyum menatap kekasihnya.
" Syukurlah kalau kau menyukainya." Ucap Siwan.
" Aku mau ke toilet dulu ya. " Hanna berdiri dari kursinya dan beranjak menuju toilet.
Di dalam toilet, saat dia sedang mencuci tangan dan membetulkan riasan wajahnya, tiba - tiba Eliza muncul mendekat padanya. Di sampingnya dia pun terlihat sedang mencuci tangannya dan membenarkan rambutnya.
" Kau, pacarnya kak Wan ?" tanya Eliza menatap Hanna melalui kaca di depannya sambil memakaikan lipstik pada bibirnya.
Hanna tersenyum lalu menjawabnya singkat. " Iya. "
" Emh... tidak ku sangka, berapa umurmu ?" Eliza menatap Hanna secara langsung.
" Memangnya kenapa, apa ada masalah ?" tanya Hanna.
" Tidak ada, zaman sekarang kan banyak gadis muda berpacaran bahkan sampai menikah dengan laki - laki yang lebih cocok jadi kakak, paman bahkan ayah bagi mereka." Ucapan Eliza terdengar sinis.
" Dan lagi, karena usianya masih muda, biasanya mereka belum berpikiran dewasa. Terlalu banyak perbedaan, kalau tidak bisa menyeimbangi, lalu, pada akhirnya, hubungannya, tidak bertahan lama. " Ucap Eliza.
Hanna tidak mengomentari perkataan Eliza kali ini. Dia membereskan isi tasnya lalu berniat untuk pergi meninggalkan Eliza. Tapi, saat dia baru membalikkan badannya, Eliza kembali mengatakan sesuatu padanya.
" Oh iya, kau juga harus berhati - hati, pacarmu itu, mata - mata nya di setiap sudut, pasti ada. Aku, hanya memberi saran padamu, kau sebaiknya berhati - hati. " Lalu Eliza memegang pundak Hanna dari belakang, dan berlalu meninggalkan nya yang sedang mematung di ujung pintu toilet.
Beberapa menit kemudian.
" Maaf ya, menunggu lama. " Hanna kembali terduduk di kursi di depan Siwan.
" Tidak apa - apa, kau baik - baik saja kan ?" Siwan merasa curiga pada Hanna.
" Aku baik - baik saja kok. Emh... ahjussi, setelah ini, kita kemana ?" tanya Hanna.
" Mau pergi sekarang ?" tanya Siwan.
" Boleh. "
Dan mereka berdua pun pergi meninggalkan restoran. Kini mereka berdua sedang berada di perjalanan menuju suatu tempat.
Beberapa menit berlalu, kini Hanna dan Siwan sedang berada di lokasi salah satu wisata taman budaya di salah satu daerah di Bali. Mereka berjalan - jalan mengitari lokasi.
Ketika merasa lelah, mereka duduk di salah satu bangku yang ada di bawah pohon rindang.
" Ahjussi, apa aku, boleh bertanya sesuatu, padamu ?" tanya Hanna terlihat ragu.
" Ada apa? katakan saja !!"
" Emh.. kenapa kau putus dengan Eliza ? alasannya apa?" Hanna menyipitkan matanya, seperti merasa menyesal telah bertanya seperti itu.
" Emh... baiklah, kalau kau memang penasaran, aku akan menjawabnya. Itu karena, dia berselingkuh. Aku tidak bisa mentolerirnya. " Jawab siwan.
" Memangnya ada bukti, atau kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri? Emh.. maaf ya, aku hanya bertanya, tolong jangan salah paham.. "
" Dia seorang model, banyak pria yang mengincarnya karena kecantikan dan memanfaatkannya karena dia orang yang ramah, aku tidak bisa melarangnya, karena pekerjaannya memang menuntutnya seperti itu. Lalu, Suatu hari, saat aku pulang ke Korea, dan kembali ke Bali tanpa sepengetahuannya, dia bahkan melakukannya di salah satu villa milikku. Sebetulnya, dia tidak tahu kalau villa itu milikku, hanya saja, salah satu karyawanku mengetahuinya bahwa dia kekasihku saat itu, lalu dia mengadukannya padaku. Aku dan Aji saat itu langsung pergi untuk memastikannya. Ternyata, dia melakukannya dengan rekan bisnisku sendiri. Setelah kejadian itu, aku putus dengan Eliza. Tapi aku masih berbisnis dengan pria yang jadi rekan bisnisku itu, sampai sekarang."
" Wow, kau tidak marah sama sekali pada rekan bisnismu itu ?" tanya Hanna merasa kaget.
" Tidak, justru aku berterima kasih padanya. "
" Sama sekali, tidak marah ?" tanya Hanna.
" Aku ini pria normal, aku sempat marah dan ingin menghajarnya saat itu. Tapi, Aji mencegahku. Untungnya aku bisa tetap berpikir jernih saat itu. " Ucap siwan.
" Begitu rupanya. " Hanna akhirnya bernapas dengan lega.
" Kenapa ? apa sudah tahu dari orang lain?" Siwan merasa heran.
" Ah.. tidak, aku hanya ingin tahu langsung darimu, aku percaya padamu, ahjussi.." Mereka saling bertatapan, dan Siwan menggenggam kedua tangan Hanna lalu mencium kedua punggung tangannya.
" Aku, tidak mau kejadiannya terulang kembali, kalau kau memang sudah bosan padaku, katakan saja, tidak usah ragu, mungkin aku akan lebih memahaminya saat itu, daripada harus membencimu karena kebohonganmu, lebih baik aku sakit karena kejujuranmu." Siwan lalu memeluk Hanna sangat erat.
" Ahjussi, kau sangat dewasa, aku malu dengan pikiranku yang masih terlihat seperti anak sekolahan yang labil." Hanna mengucapkannya sambil mengelus - elus kepala belakang Siwan.
Mereka terlihat sangat menikmati suasana siang itu, angin yang berhembus perlahan, langit yang nampak tidak terlalu panas karena waktu sudah menuju sore hari, di bawah pohon rindang dan hamparan rumput hijau di depan mata. Membuat keduanya tidak ingin waktu ini cepat berlalu, mereka masih ingin terus berdua seperti itu, duduk berdampingan, berpegangan tangan, menatap keindahan alam sekitar tanpa mengkhawatirkan hal apapun di dalam pikirannya.