My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Without you



Siang itu, Siwan kini tengah duduk berdampingan bersama Aji di sebuah resto terdekat dari tempat kerja Hanna.


Siwan dan Aji menebar senyuman di wajahnya, namun entah mengapa, senyuman itu malah membuat seseorang bergidik ngeri dan terus tertunduk karena merasa takut.


" Kenapa kau terlihat sangat tegang, aku tidak akan menerkammu " ucap Siwan.


Wanita di hadapannya tiba - tiba menjadi kaku dan gagu, dia tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun dari mulut manisnya.


Hingga seorang pria tiba di dekatnya kala itu, barulah wanita itu bisa bernafas sedikit lega.


" Hallo kak, saya Teguh... " ucap Teguh, memperkenalkan dirinya pada Siwan, lalu pada Aji.


" Hallo, silahkan duduk. Apa kabar Teguh ?" tanya Siwan.


Teguh pun duduk di samping wanita yang dari tadi duduk di hadapan Siwan dan Aji.


" Baik kak, saya belum sempat mengucapkan terima kasih atas bantuannya hari itu di villa xxx, kalau bukan karena kebaikan kak Wan mungkin saya dan teman - teman entah seperti apa nasibnya malam itu " ucap Teguh.


Wanita di sampingnya terlihat mencubit paha Teguh.


" Aw... sakit.. " bisik Teguh pada wanita di sampingnya yang ternyata adalah Melly.


" Kami ingin bertanya, tapi kami ingin jawaban sejujurnya, tidak apa, tidak usah tegang, kalian santai saja padaku " ucap Siwan.


" Tentu saja, silahkan, apa pertanyaannya ?" tanya Teguh yang masih bisa bersikap santai di hadapan Aji dan Siwan.


Padahal, di belakangnya dia seolah seperti memanggil orang yang berada di sekitar sana untuk menariknya dari situasi mencekam di siang bolong ini.


" Hai.. lihat aku... seret aku dari kursi ini, apapun alasannya, akan aku terima, hei... kalian, lihat aku... " sisi lain diri Teguh meminta pertolongan orang - orang.


" Hanna, apa kalian tahu dia dimana ?" tanya Siwan.


" Hanna, maksudnya bagaimana, maaf pertanyaannya kurang jelas " sahut Teguh.


Aji sudah nampak kesal, namun Siwan tetap menahannya.


" Hanna, dia resaign kan, kemarin hari terakhir dia bekerja disini, apa kalian tahu ?" tanya Siwan.


" Oh... itu, ya, kami bahkan terkejut, semuanya terdengar sangat mendadak, aku dan Melly sebelumnya tidak menyangka dia akan resaign secepat itu, dia tidak memberitahu kami sebelumnya " jawab Teguh.


" Begitu kah... ?" tanya Aji, terlihat curiga.


" Ya, aku berkata jujur, kami terakhir kalinya bertemu di parkiran tadi malam, kami sempat berpelukan dan dia pulang sendirian malam kemarin, padahal aku ingin mengantarkannya pulang, tapi dia menolaknya " ucap Teguh.


" Mengantarkannya ? maksudmu, apa dia tidak membawa motor, bukannya dia pergi naik motor ?" tanya Aji.


Kening Siwan berkerut, kedua alisnya terlihat beradu.


" Iya betul, padahal siangnya aku melihat motor Hanna terparkir tidak jauh dari motor Teguh, tapi malamnya saat kutanyakan, katanya motornya di bawa oleh pihak bengkel, tadi mogok, begitu katanya... " Melly mulai angkat bicara, seolah membantu Teguh menyelamatkannya dari situasi awkward ini.


" Mogok... " ucap Aji.


" Iya, dia berkata seperti itu semalam !" sahut Teguh.


" Lalu, apa kalian sudah berkirim kabar dengannya hari ini, apa dia mengatakan sesuatu pada kalian ?" tanya Siwan.


" Pagi tadi, aku menelponnya, tapi nomornya tidak aktif, aku ingin memberitahunya kalau sore ini aku dan Reni bisa meluangkan waktu untuk bertemu di cafe, soalnya kemarin malam masih belum pasti, aku semalam menelepon Reni memberitahunya bahwa Hanna mendadak resaign, diapun merasa terkejut " ucap Melly.


" Apa kalian benar - benar tidak tahu kalau dia sudah merencanakan semua ini, kalian benar - benar tidak tahu dia ada dimana sekarang ?" tanya Siwan.


" Maksudnya ? sebenarnya dia dimana sekarang, kenapa kalian bertanya pada kami, kalian kan tahu rumahnya " jawab Melly.


" Kemarin malam dia tidak pulang ke rumah, semua bajunya sudah tidak ada di lemari, hanya barang - barangnya saja yang masih terlihat utuh " ucap Siwan.


" Apa... dia pergi kemana ?" Teguh merasa terkejut, begitu juga Melly.


" Makanya kita datang menemui kalian, barangkali kalian tahu sesuatu yang bisa memberi kami petunjuk dimana keberadaanya " ucap Aji.


" Dia hanya mengatakan, setelah resaign dia tidak akan langsung pulang ke Bandung, katanya dia ingin berlibur dulu di Bali, dia bahkan akan merencanakan pergi liburan lagi dengan kita, betul kan Guh... " Melly menatap Teguh.


" Iya betul sekali, kudengar sebelum berpisah kemarin dia berkata ingin berkumpul bersama Reni dan Melly sore nanti sepulang Melly dan Reni bekerja " ucap Teguh.


" Baiklah, terima kasih banyak informasinya, kalau begitu maaf kami mengganggu waktu istirahat kalian " ucap Siwan.


" Ku harap kalian berkata jujur !" timpal Aji.


" Kami berani bersumpah demi nama Tuhan, kami tidak tahu apa - apa, bahkan aku masih shock saat dia mengucapkan salam perpisahan semalam, padahal dia sedang akan di promosikan jabatannya bulan depan " ucap Teguh.


" Promosi jabatan ?" Siwan kurang memahami maksud perkataan Teguh.


" Dia di promosikan jadi ikon departement store dan jadi model homebrand pakaian wanita untuk katalog tahun ini, tapi dia menolaknya mentah - mentah dan resaign mendadak " ucap Teguh.


" Baiklah, kurasa informasi dari kalian sudah cukup, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih banyak " ucap Siwan.


Saat Siwan dan Aji hendak pergi meninggalkan mereka..


" Kak, bisakah kalian beritahu kami kalau kalian sudah menemukannya, kami juga merasa khawatir padanya !!" ucap Melly.


" Berikan nomor teleponmu... " Aji menyerahkan hp miliknya pada Melly.


" Nomorku saja... " Teguh merebut hpnya dan mengetik 12 digit nomornya di hp Aji.


Setelah itu, Siwan dan Aji pun berlalu meninggalkan lokasi departement store tersebut.


Melly dan Teguh


" Dia kenapa sih, kemana sebenarnya dia, aku jadi khawatir " ucap Melly saat dirinya dan Teguh sedang dalam perjalanan kembali ke toko.


" Entahlah, mungkin dia butuh menyendiri..." sahut Teguh.


" Kita sampai kenyang hanya dengan minum orange juice selama satu jam ini " ucap Melly.


" Salahmu sendiri tidak pesan makanan, padahal tadi dia menawarkannya padamu !" ujar Teguh.


" Kau sendiri kenapa tidak pesan makanan, padahal kau sendiri lapar kan ?" Melly tidak mau kalah.


" Aku malas, melihat wajah seram mereka berdua membuatku kenyang seketika " jawab Teguh.


" Eh... kok kita ngomongnya jadi formal gini sih, kaku banget... " ucap Melly.


" Bener apa kata si Hanna, kalo lagi di depan pacarnya lidahnya mendadak jadi sopan ya, gak ada kata gue elu atau loe gua.. hahaha... " Teguh tertawa.


" Ish.. diam, aku lagi pusing mikirin si Hanna tau.. " sahut Melly.


Mereka berdua kini sudah berada di dalam loker mempersiapkan dirinya untuk kembali bekerja.


...****...


" Kemana lagi kita kak... ?" tanya Aji.


" Aku tidak tahu... " ucap Siwan yang sedang bersandar di kursi samping kemudi mobilnya di depan.


Aji mulai menyalakan mesin mobilnya dan melaju memecah jalanan siang itu.


" Bawa aku ke rumahnya, aku akan tinggal disana untuk sementara " ucap Siwan secra tiba - tiba.


" Baik " sahut Aji.


" Suruh Bram dan Tio memeriksa bengkel terdekat, semoga motornya ada di salah satunya " ucap Siwan kembali.


" Baik kak " jawab Aji.


...***...


Satu hari berlalu...


Siwan masih berusaha mencari Hanna bersama Aji dan Timnya. Namun hasilnya tetap buntu.


Kekasih hatinya seolah hilang di telan bumi.


Hari ke dua...


Siwan dan Aji mencoba menghubunginya lewat dm akun sosial medianya, namun tidak ada balasan, bahkan terakhir kalinya akunnya update dan online yaitu sekitar dua minggu yang lalu saat dia pergi liburan bersama teman - temannya.


" Kak, apa kita coba tanyakan saja pada adiknya di Bandung, mungkin dia tahu !" ucap Aji.


" Aku tidak mau melibatkan keluarganya " jawab Siwan.


" Tapi ini satu - satunya jalan kak, kita tidak tahu apa dia baik - baik saja atau tidak saat ini, aku hanya merasa takut terjadi hal yang tidak kita inginkan padanya " ucap Aji.


Siwan akhirnya memutuskan untuk menghubungi adik Hanna lewat dm akun instagremnya.


Dan, adiknya merasa terkejut, bahkan dia baru tahu kabar ini dari Siwan dan Aji.


Mereka akhirnya bertukar nomor hp.


Selebihnya Abdul menghubunginya lewat aplikasi whussup untuk memberi kabar terbaru dari Hanna.


Hari ke empat...


Siwan semakin frustrasi, bahkan pekerjaannya terbengkalai dan di ambil alih oleh rekan di kantornya karena merasa tidak sanggup berpikir rasional lagi.


Aji tetap berada di sampingnya, begitu juga dengan Austin, dia menjaga kesehatan Siwan lewat beberapa suntikan vitamin dan memastikannya makan dan minum yang bergizi.


Hari kelima...


Abdul, adik Hanna memberi kabar pada Siwan.


" Kak, ini screenshoot dm kakakku lewat akun instagremnya " ucap Abdul.


^^^Aku baik - baik saja^^^


^^^Aku sedang menikmati hidupku di Bali sebelum pulang^^^


^^^Katakan padanya jangan mencariku, aku sehat walafiat dan sedang bersenang - senang^^^


^^^Hiduplah seperti sedia kala tanpaku di sisinya^^^


^^^Mari Berbahagialah^^^


Siwan pun berbalas pesan dengan adik Hanna.


Siwan


Apakah dia tidak memberitahumu dimana saat ini dia berada ?


Abdul


Tidak kak, bahkan dia tidak memberitahuku nomor hpnya yang baru.


Dia hanya mengirimku pesan lewat dm, dia juga menitip pesan pada ibu dan ayah supaya selalu mendoakannya.


Siwan


Baiklah, terima kasih banyak, kabari aku kalau ada info terbaru darinya.


Abdul


Siyap kak, aku juga tidak akan memberitahu ayah dan ibu tentang masalah ini sampai kakakku memberi kejelasan tentang posisinya dimana.


Hari ke enam...


Siwan masih berada di rumah Hanna, maksudnya rumahnya yang sebelumnya di tempati oleh Hanna.


Semua barang masih nampak utuh seperti sedia kala, hanya lemarinya saja yang nampak penuh oleh bajunya kini dan beberapa barang serta berkas - berkas dari kantornya yang ia bawa ke rumah itu.


Siwan tinggal sendiri disana, setiap seminggu dua kali paling ada tim kebersihan yang datang membersihkan dan membereskan rumahnya dan mencuci serta menyetrika bajunya.


Siwan pun sudah mengganti seprai yang terakhir ia tiduri bersama kekasihnya. Nampaknya Siwan sudah mulai merelakan kembali hidupnya berjalan seperti sedia kala.


Hari ke tujuh...


Siwan mulai kembali beraktivitas seperti sedia kala di kantornya, dia mulai menangani kembali proyek terbengkalai yang sudah ia tanda tangani.


Untungnya sang investor yang masih temannya mau mengerti keadaan Siwan setelah Aji menjelaskan duduk permasalahan yang sedang menimpa Siwan belakangan ini. Meski dia merasa malu, Aji datang jauh - jauh untuk meminta maaf pada sang investor apabila proyeknya tidak jadi Siwan tangani.


Namun, untung saja teman Siwan memberinya waktu untuk Siwan merenung dan menyendiri hingga ia mau untuk kembali meneruskan proyek tersebut.


Disini Siwan sibuk menata hatinya kembali.


Di sisi lain ada Aji yang sibuk mengurus kantor dan bisnis Siwan yang sempat tertunda.


Aji juga tidak pernah berhenti menenangkan dan meluluhkan hati Siwan untuk kembali beraktivitas seperti sedia kala dan bersikap profesional. Aji bahkan meminta bantuan Austin untuk menghiburnya dengan lelucon garingnya.


Dan akhirnya, di hari ketujuh ini, Siwan kembali bekerja bersama beberapa partnernya di kantor desain arsitek dan arsitektur yang ia dan temannya dirikan di daerah Denpasar Bali.


Pulang dari kantornya, Siwan sempat mampir ke toko buku yang sering Hanna datangi kala ia sedang libur bekerja.


Tio menunggunya di tempat parkir sambil merokok di luar.


Saat Siwan masuk ke dalam toko tersebut, suasana dan susunan serta lokasi rak disana masih nampak sama seperti terakhir kalinya ia dan Hanna pergi kesana.


Bayangan dan wajah Hanna kembali melintas di ingatannya.


Siwan memejamkan matanya sesaat karena merasa pusing.


Dia secepatnya keluar dari toko buku itu dan menghampiri mobilnya sambil memegang kepalanya.


Tio yang melihatnya buru - buru membuang rokoknya dan mendekat pada Siwan.


" Kak, kau baik - baik saja ?" tanya Tio.


" Kita pulang saja " jawab Siwan, lalu masuk ke dalam mobilnya.


Sesampainya di halaman rumah...


" Tolong panggil Austin, tanyakan dia kerja shift apa " ucap Siwan, lalu masuk ke dalam rumah.


Satu jam berlalu, Austin datang bersama Aji.


" Kau sakit ? mana yang terasa sakit ?" tanya Austin terlihat heboh menghampiri Siwan yang tengah berbaring di sofa.


" Hatiku.. " jawab Siwan.


" Seriuslah... " sahut Oz.


" Kepalaku mendadak pusing, aku tadi pergi ke toko buku !" ucap Siwan.


Austin mulai memeriksa tensi darahnya dan tubuh Siwan.


" Kau sudah makan ?" tanya Oz.


" Tadi, tentu saja... !" jawab Siwan.


" Tadi... " Oz nampak curiga.


" Pagi... " jawab Siwan kembali.


" Ji, siapkan makanan untuknya, aku yang akan menyuapinya, ganti sendoknya pakai centong nasinya sekalian " ucap Oz, nampak kesal dan menatap Siwan dengan sinis.


Aji bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Siwan, setelah semua siap, Siwan di kawal sampai duduk rapih di meja makannya dan menghabiskannya tanpa sisa.


Satu bulan kemudian...


Siwan yang masih menantikan kabar dari Hanna sudah mulai tak sabaran, hatinya bagai teriris kembali kala ia menatap foto Hanna bersama dirinya di atas nakas.


Malam itu, Siwan yang sudah bersiap untuk tidur terus menatap wajah kekasihnya di figura yang kini sudah berada di tangannya.


Tak terasa air mata menetes kala ia memeluk fotonya dengan erat, dan membawanya tidur di pelukannya.


Keesokan harinya...


Pagi hari itu, Aji mengetuk pintu kamar Siwan dengan tidak sabarnya. Itu karena Siwan mengunci pintunya dari dalam.


Toktoktok... toktoktok...


" Sebentar... " teriak Siwan yang masih terduduk di bibir ranjang sedang mengumpulkan nyawanya.


Siwan berjalan perlahan menghampiri dan membuka pintu kamarnya.


" Kak... dia masuk rumah sakit " ucap Aji dengan nafas terengah - engah.


" Masuk rumah sakit, sejak kapan ?" tanya Siwan.


" Tadi subuh... " jawab Aji.


Siwan pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya sebentar, lalu mengganti piyama tidurnya dengan setelan casualnya. Setelah itu ia dan Aji bergegas pergi keluar dari rumahnya dan menaiki mobil lalu pergi menuju rumah sakit.