
Malam itu, di awal bulan april...
Pukul 19.30 wib, di halaman luar rumahnya, Hanna terlihat sedang sibuk bercakap - cakap dengan seseorang di seberang sana.
"Duh, gimana dong, ada gantinya gak ?" tanya Hanna pada seseorang lewat hpnya.
"Oke deh, gue tunggu kabarnya ya secepatnya, oke, kalo udah dapet langsung kasih tau gue profilnya, terus dia siap apa enggak langsung kerja besok!"
"Oke, waalaikum salam."
Hanna terlihat menutup teleponnya, namun, ia terlihat kebingungan dan mondar mandir di halaman belakang rumahnya itu.
"Teh, ker naon sih, ni jigah istrikaan bulak balik weh habeun"
(Kak, lagi apa sih, kaya setrikaan bolak balik aja terus)
pak Bagyo, ayah Hanna pusing sendiri dengan tingkah laku anak sulungnya.
"Aduh pak, model pameugeut kangge pemotretan enjing ngadadak teu damang, lieur eteh kedah milarian deui modelna, jaba enjing jadwalna teu tiasa di undur deui"
(Duh pak, model cowo buat pemotretan besok mendadak sakit, mana besok jadwalnya gak bisa di undur lagi)
Begitu jawaban Hanna.
"Hemh... mun aya c Abdul mah nya, bisa meruen si eta nu jadi gantina,"
(Hemh... kalo ada si Abdul kayaknya bisa kali dia yang jadi gantinya)
"Iya atuh, kumaha nya, si Dul maenya ayena sina turun ti gunung, meureun teu uring - uringan ka eteh, ah lieur"
(Iya ya, gimana dong, si Dul masa sekarang suruh turun dari gunung, bisa marah - marah ke Hanna, ah pusing"
Saat itu, adik Hanna sedang berkemah bersama teman - teman kampusnya ke Gunung Puntang.
"Bapak weh ya, jadi modelna, hehehe..."
"Bapak aja ya, jadi modelnya, hehehe..."
Hanna menggoda ayahnya.
"Teu lieur mah kitu, ari model awewena ngora keneh maenya model lalakina geus kolot model aki aki kieu ari si eteh, "
(Gila aja gitu, model cewenya masih muda masa model laki - lakinya udah tua kayak kakek - kakek gini ih kakak)
"Hahahaha... " Hanna malah mentertawakan ayahnya yang menautkan kedua alisnya terlihat kesal di buat oleh anaknya.
Dan, saat sedang terkekeh - kekeh bersama ayahnya di belakang rumah, tiba - tiba suara teriakan ibunya dari ruang tengah membuat keduanya terdiam sesaat.
"Teh, ini ada Rayhan, udah belum nelponnya ?" teriak bu Hani.
Hanna dan ayahnya saling bertatapan, kedua bola mata mereka membulat, dan, seolah keduanya baru saja mendapatkan sebuah ide cemerlang melintasi otak mereka masing - masing.
"Aha... gotcha !" ucap Hanna sambil menjentikan jarinya.
Ayah Hanna pun tersenyum penuh arti sambil menganggukkan kepalanya.
"Syuuttsss... biar aku yang urus !" ucap Hanna, lalu menghampiri Rayhan di ruang tengah rumahnya.
Rayhan terlihat sedang bermain bersama Hwan di karpet ruang tengah, dia bahkan rela menjadi kuda bagi Hwan. Mereka bercanda ria seperti layaknya seorang ayah dan anak. Bu Hani dari dekat hanya mengawasi keduanya tersenyum senang, sambil menikmati dimsum yang masih hangat, yang di bawa oleh Rayhan dari kedainya.
Saat itu usia Hwan sekitar 7 bulan lebih.
"Teh, ini, masih hangat loh, enak nih !' Bu Hani menawarkan dimsum pada Hanna, 'si bapak mana ?" tanya bu Hani.
Hanna terlihat menuangkan teh pada gelas dari teapot yang ada di ruang makan, lalu membawanya ke ruang tengah, teh itu untuk Rayhan.
"Lagi benerin motor di belakang tuh !" jawab Hanna, lalu mulai memindahkan satu persatu beberapa varian rasa dimsum yang di bawa ileh Rayhan ke dalam perutnya, lewat mulutnya.
"Nak Rey, baik banget sih, makasih banyak ya, tiap kesini bawain dimsum terus, mudah - mudahan rezekinya selalu lancar ya nak," bu Hani memuji Rayhan dan mendoakannya. Bu Hani seolah dengan sengaja melakukannya di depan anaknya, Hanna.
"Aamiin, sama - sama bi, makasih juga doanya !" sahut Rayhan.
"Oh iya, ibu lupa, mau misahin dulu sayur buat masak besok, ibu tinggal dulu ya... !" Bu Hani beranjak pergi menuju dapur saat itu juga.
Dan, Hanna mulai melancarkan aksinya saat itu juga.
"Ekhem... " Hanna mulai memasang wajah sendu, sambil mengkerucutkan bibir tipisnya.
"Kenapa Han ? ada apa ?" Rayhan seolah sudah paham betul bahwa saat itu Hanna pasti sedang di timpa masalah.
"Bingung nih, harus cari siapa buat gantiin model cowo buat pemotretan besok, soalnya si Robi, model cowo temen si Rindy mendadak demam dari tadi sore, huh... mana jadwalnya gak bisa di undur, udah full book studio yang aku sewa buat besok, nanti nunggu lagi free kan lama lagi kayaknya !" Hanna masih memasang wajah sendu.
"Terus, gimana dong ?" tanya Rayhan.
"Dih, gak peka banget sih !" gumam Hanna menatap Rayhan sambil memicingkan mata bulatnya.
Hanna menghembuskan nafasnya dengan perlahan, lalu kembali berakting di depan Rayhan.
"Yaaa... kalo ada si Abdul sih, aku gak bakal kebingungan kayak gini kak, masalahnya kan, dia gak mungkin pulang besok pagi, orang hpnya aja susah di hubungi dari sore tadi juga, kayaknya dia lupa bawa power bank, hpnya lowbat tuh pastinya !"
"Emang, temen kamu yang cowo, gak ada yang bisa kamu hubungi buat di ajak pemotretan, pasti ada yang mau kali, di coba aja dulu hubungi mereka !" ucap Rayhan.
"Bohong deh, padahal baru dapet kabarnya juga baru 20 menit yang lalu, hehe.. maafin kak, habisnya, cuma kak Rey yang masuk kriteria jadi model pengganti si Roby, hahaha " gumam Hanna, sambil tertawa di dalam hatinya dengan otak liciknya ia masih terus memperlihatkan jurusnya, memasang wajah menyedihkan.
"Terus, gimana dong ?" tanya Rayhan yang mulai kelelahan mengajak Hwan bermain.
"Yaelah, nanya lagi, huft.. " batin Hanna kembali menggumam.
"Sini sayang, om Rey nya kecapean tuh, sini sama bubu yuk !"
Dan si kecil Hwan yang sudah pandai merangkak pun nampak bersamangat menghampiri ibunya dan menelusuk ke dalam dada Hanna. Tangan kecilnya menepuk - nepuk gunung kembar ibunya seolah memberi isyarat agar sesuatu yang berada di balik baju sang mama harus segera di keluarkan untuknya demi mendapatkan setetes demi setetes sumber tenaganya.
"Mau mimi ya, hihi... yuk, tidur yaa, udah malem tau... !" Hanna mulai membuka beberapa kancing kemejanya, dan mengeluarkan PD nya di depan Rayhan dengan tanpa rasa malu sama sekali. Tidak seperti saat di awal - awal pertemuan mereka, Hanna nampak malu - malu jikalau saat Rayhan sedang berkunjung ke rumahnya, lalu Hwan tiba - tiba ingin menyusu padanya, ia selalu memakai apron menyusui. Namun karena merasa ribet, ia mulai malas memakainya dan bersikap masa bodo dengan payud*ranya yang terlihat oleh orang lain selama masih di dalam rumahnya dan oleh orang yang memang dekat dengannya dan keluarga.
Rayhan pun seolah sudah terbiasa dengan pemandangan yang ada di hadapannya kini. Awal mulanya ia juga memang merasa risih sendiri, namun, karena ia sudah menganggap Hanna sangat spesial di hatinya, saat melijat moment Hanna menyusui anaknya, ia pun ikut merasa mengasihi keduanya, maksudnya bukan sebagai rasa iba, namun sebagai rasa menyayangi sebagaimana seorang pria pada anak dan istrinya. Tidak ada pandangan nafsu atau apapun di pikirannya saat melihat aktivitas Hanna menyusui Hwan.
Meskipun tentu saja, sebagai pria normal, terlebih lagi ia memiliki perasaan spesial pada Hanna, saat Hanna memakai pakaian ketat ataupun bagian atasnya yang agak terbuka, selalu membuat dada Rayhan berdebar tidak karuan, gunung kembar milik Hanna yang sebelumnya memang sudah terlihat besar kini semakin mengembang dan terlihat lebih sexy dengan adanya caira ASI di dalamnya.
Kembali pada pokok permasalahan Hanna.
Saat Rayhan tengah meminum air teh hangat yang mulai dingin, tiba - tiba Hanna berkata,
"Kak, gimana kalo kak Rey aja yang jadi modelnya, mau ya ?"
Sontak Rayhan pun tersedak oleh minumannya sendiri.
Hanna bergeser mendekatkan dirinya pada Rayhan untuk membantu menepuk - nepuk punggungnya.
"Han, aku pulang ya, Hwan udah tidur tuh, kamu juga ya, jangan tidur terlalu malam !"
Rayhan langsung mengambil kuda - kuda untuk pergi, namun terlambat.
"Eits... jangan menghindar, biasanya juga betah lama - lama diem disini, kenapa sekarang buru - buru mau pergi " Hanna melingkarkan lengan kanannya pada lengan Rayhan.
"Tapi Han, itu... "
"Syutsss.... jangan berisik, aku mau tidurin dulu Hwan sebentar, diem disini, jangan kemana - mana, awas yaa kalo berani kabur, " Hanna memperlihatkan wajah seram untuk mengancam Rayhan.
Rayhan membuang nafasnya dengan kasar.
"Amsyong dah !" dia menepuk keningnya sambil menggelengkan kepalanya.
Tiga menit kemudian, Hanna sudah duduk di dekat Rayhan kembali.
"Gimana ?" tanya Hanna.
"Apanya yang gimana ?" Rayhan pura - pura tidak paham akan apa pertanyaan Hanna.
"A Rey, jangan pura - pura gak paham gitu ah, kesel deh !" Hanna kembali cemberut.
"Hehehe... Hanna, plis... aku gak bisa bergaya Han, aku gak ada bakat jadi model,"
"Gak susah kok A, cuma foto gonta ganti baju aja, kan cuma jadi model baju koko, gak harus gaya aneh - aneh kok, kan ini buat edisi ramadhan dan hari raya, ya... mau ya... plisss... "
Hanna menyatukan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya di depan wajah Rayhan, memohon dengan wajah memelas.
"Bener nih gak aneh - aneh gayanya ?" tanya Rayhan kembali.
"Engga A Rey, paling gayanya gini nih ' Hanna menirukan gaya ala model yang memakai baju koko, menyatukan kedua telapak tangannya dan menaruhnya di depan perutnya, lalu mengucapkan 'selamat berpuasa, selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir dan batin, gitu aja kok " ucap Hanna, "jangan lupa senyum lima jarinya, oke !"
"Hahahaha.... " Rayhan malah tertawa.
"Ish... kok malah ketawa sih, serius dong, jadi gimana ?" tanya Hanna.
"Oke, oke, maaf deh, tapi, ada syaratnya !"
"Syarat, apa itu ?" tanya Hanna, menaruh curiga saat melihat raut wajah Rayhan.
Rayhan mendekatkan wajahnya ke telinga Hanna dan mulai berbisik.
Seketika Hanna langsung terdiam.
"Gimana, bisa gak ?" tanya Rayhan.
"Aduh... gimana yaa... !" Hanna terlihat kembali kebingungan.
"Kalo gak bisa, yaudah !" sahut Rayhan.
"Aku, emh... aku, nanti aku pikirin dulu yaa !" ucap Hanna, dengan wajah tegang.
"Yaudah, kalo gitu aku pulang ya, gak enak sama tetangga, hehehe... !"
"Oke, aku tunggu jawabanmu secepatnya !"
Rayhan pun pamitan pada kedua orangtua Hanna, lalu pergi meninggalkan rumah Hanna malam itu.
...***...
Apa ya kira - kira permintaan Rayhan pada Hanna...