
Keesokan harinya....
Hanna terbangun dengan senyuman tersungging di bibirnya. Mimpi indah semalam nampak begitu nyata, seolah kejadiannya baru terjadi hari kemarin.
Mimpi dimana ia dan Siwan selalu bersama di rumah kenangan itu, pada hari sebelum perpisahan mereka tiba, tepatnya hari minggu, di minggu kedua bulan november tahun 2016.
Flashback On
Dari mulai bangun tidur pagi itu hingga sore harinya mereka menghabiskan waktu bersama - sama disana, membereskan kamar bersama, memasak dan membereskan dapur bersama, mencuci baju dan membersihkan rumah bersama, bahkan hingga pada saat mandi pun mereka bersama.
Siang itu....
" Ahjussi, aku mau mandi duluan ya, aku sudah bau keringat " ucap Hanna yang baru selesai menyedot debu di ruang tengah.
" Baiklah, kau saja duluan, aku belum selesai mengepel lantai " jawab Siwan.
Namun, saat itu ada pesan masuk ke dalam hp Hanna yang terletak di meja makan. Sebelum masuk ke kamar mandi dia membalas pesan di hpnya itu, lumayan cukup lama, sambil berdiri dan bersandar pada tembok luar kamar mandi dia tertawa sendirian membaca pesan whussup yang masuk ke dalam obrolan grup KERANG yang semua anggotanya hadir turut memainkan jempol mereka mengetik pesan dan saling bersahutan.
" Kau sedang apa, kupikir sudah mandi sejak beberapa menit yang lalu " ucap Siwan yang sedang menjinjing ember berisi alat pel.
" Ah ini, grup KERANG sedang menyerang si Audrey yang akhirnya punya gandengan " jawab Hanna yang kini menghampiri Siwan yang tengah mencuci tangannya di wastafel di dapur.
" Bagus lah, temanmu jadi tidak single lagi " sahut Siwan.
" Iya, tapi, apa ahjussi tahu, dia pacaran dengan siapa ?" tanya Hanna.
" Siapa memangnya ?" tanya Siwan kembali.
" Guru kesenian di SMA ku dulu, hahaha lucu kan !!" Hanna tertawa.
" Kenapa memangnya ? apa guru itu juga sudah berumur sepertiku ?" tanya Siwan yangvsedang mengeringkan tangannya.
" Emh... tidak juga, dia berumur... emh... kalau tidak salah 35 sepertinya, masih di bawah ahjussi " jawab Hanna.
" Jadi aku ini terlalu tua ya, teman - temanmu semuanya pacaranya masih muda, begitu ya... Siwan mulai mengintimidasi Hanna dengan tatapannya.
" Aku tidak peduli, aku mencintaimu, kau mencintaiku, itu saja sudah cukup !!" jawab Hanna yang kini berada dalam cengkraman tangan Siwan yang memegang tubuhnya erat dengan sebelah tangannya.
" Benarkah... ?" Siwan mengangkat sebelah alisnya ke atas dan semakin mendekatkan wajahnya pada Hanna.
" Serius, meskipun rambutmu memutih, rasa cintaku padamu tidak akan berkurang sedikitpun " jawab Hanna yang mulai sesak karena Siwan semakin mengeratkan pelukannya.
" Gombal... " Siwan kemudian tersenyum bersamaan dengan kekasihnya.
" I love you, ahjussi, saranghae " ucap Hanna menggoda Siwan menyisipkan tanda hati lewat jari - jari tangannya.
Siwan tidak menjawabnya dengan kata - kata, namun dia menjawabnya dengan melayangkan sebuah ciuman, yang awalnya hanya ciuman biasa namun berubah menjadi ciuman penuh gairah dan nafsu, sebelah tangan Siwan merangkul tubuhnya dengan erat, sedangkan tangan yang satunya lagi menjamah bagian tubuh kekasihnya yang ada di balik kemeja putih besar miliknya yang sejak semalam menempel di tubuh kekasihnya.
Kedua lengan Hanna melingkar di leher Siwan, mencengkeram tengkuk leher pria terkasihnya itu, lalu jari - jari lembutnya membelai leher dan rahang kokoh Siwan yang semakin mengeras.
Sensasi panas tubuh mereka semakin bertambah di siang hari yang terik di hari minggu itu, di tambah sebelumnya mereka memang telah berkeringat karena sibuk melakukan pekerjaan rumah bersamaan, kini mereka kembali melakukan aktivitas yang memacu adrenalin dan menigkatkan hormon oksitosin dan dopamine mereka.
Wajah keduanya sudah nampak memerah di kala aktivitas cumbuan mereka terus bergulir selama beberapa menit. Siwan melepaskan bibirnya, mengangkat tubuh Hanna dan mendudukkannya di atas meja dapur. Setelah itu, Siwan mencium belakang telinga Hanna dengan lembut, mencium ceruk leher Hanna sambil kedua tangannya membuka kancing kemeja kekasihnya itu satu persatu.
Siwan menanggalkan kemeja dari tubuh kekasihnya, melemparkannya ke sembarang arah dan kemudian menyesap area sensitif bagian atas kekasihnya dengan penuh kelembutan.
Hanna yang sudah mulai tenang, jantungnya kembali berdetak dengan kencang. Nafas hangatnya menyeruak di pucuk kepala Siwan kala ia mendekatkan wajahnya pada Siwan, desahan lembut mulai keluar dari mulut manisnya kala tangan Siwan menyentuh punggungnya dengan lembut.
Hanna menarik wajah Siwan hingga sejajar dengannya, " ahjussi, lakukan saja, kali ini, bawa aku kemanapun dan lakukan saja apa yang kau mau " ucap Hanna.
Siwan langsung mengangkat tubuh Hanna dan menggendongnya ala koala, membawanya masuk ke dalam kamar, dan, siang itu, mereka kembali melakukan hubungan terlarang di atas ranjang yang menjadi saksi bisu hilangnya kesucian dirinya beberapa bulan yang lalu.
Sebesar apapun usaha Siwan untuk mencegah hal itu terjadi kembali tetap saja terkalahkan oleh hawa nafsu yang menggebu kala itu. Sebagai seorang pria dewasa yang normal, tentu saja Siwan sulit menolak kesempatan yang ada di depan matanya, terlebih lagi saat kesempatan itu datang dari orang yang sangat ia cintai.
Kini sudah tidak ada penghalang sehelaipun di antara keduanya, tubuh kekar Siwan yang kini terlihat lebih indah di kedua rentina mata Hanna yang menatapnya dari bawah membuat kedua tangannya yang mencoba menahan Siwan malah meraba tubuh Siwan dengan lembut dan perlahan. Tangan lembut Hanna mulai meraba dada bidang Siwan dari atas hingga ke bawah.
" Wow... **sudah mengeras** " gumam Hanna kala tangannya mulai menyentuh bagian tubuh Siwan yang menggantung di bawah sana.
" Chagiya, bolehkah, sekarang ?" tanya Siwan menatap mata kekasihnya dengan penuh harap.
Hanna menganggukkan kepalanya perlahan dan mulai mengatur nafasnya lalu menutup matanya.
Siwan memulainya dari mencium kening Hanna, mencium kedua matanya yang tertutup, mencium ujung hidungnya dan mengecup bibir Hanna dengan lembut.
" Chagiya, buka matamu, lihat aku, ingatlah wajahku dalam setiap momen kehidupanmu " ucap Siwan.
Hanna mulai membuka matanya perlahan dan menatap wajah Siwan dengan seksama.
" Ahjussi, saranghae " ucap Hanna, dan tiba - tiba ia merasa terkejut hingga mulutnya terbuka dan menjerit.
Siwan mencium bibir Hanna untuk membungkamnya. Bagi Hanna yang mungkin ini kali keduanya melakukan hubungan ini pasti rasa sakitnya masih sama seperti pertama kalinya ia melakukannya beberapa bulan yang lalu.
Dan dengan lembut dan perlahan Siwan mulai menghentakan tubuhnya untuk memperdalam alatnya menandai lubang milik Hanna. Tak lupa tangannya terus melakukan stimulasi berupa sentuhan lembut pada kedua p*t*ng gunung kembarnya yang berwarna merah jambu, sesekali ia menyesapnya untuk meningkatkan gairah kekasihnya dan mengurangi rasa sakit dan perih di bagian intimnya.
Desahan lembut mulai kembali terdengar kala Siwan mulai meningkatkan ritme permainannya sedikit demi sedikit kala suhu panas tubuh keduanya meningkat, dada mereka naik turun seiring dengan nafas mereka yang berhembus semakin cepat.
Hanna mulai menyeimbangkan gerakan tubuh Siwan. Sesekali ia menyentuh kepala belakang Siwan, menarik rambutnya, meraba punggung Siwan dengan jari - jari tangannya.
" Ahjussi, aku akan, ah... sebentar lagi, ahjussi... " ucap Hanna di iringi dengan desahan lembut di telinga Siwan.
Siwan semakin mempercepat ritmenya, terlebih lagi dia mulai merasakan bahwa miliknya hampir menyemburkan cairan yang selama ini tertahan dari alat reproduksi tubuhnya itu.
Dan, " ahjussi.... ah... " Hanna mulai mendesah merasakan nikmat di sekujur tubuhnya yang mulai mengejang, suara desahannya kini terdengar lebih kencang di telinga Siwan.
Begitu juga dengan Siwan sendiri, erangan dan desahan keluar dari mulutnya kala miliknya berhasil meledak bersamaan dengan tubuh Hanna yang mulai melengkung bak busur panah lalu mengejang.
Selama beberapa detik suara erangan dan desahan yang keluar dari mulut keduanya berhasil menggema mengisi seluruh ruang kamar di rumah kenangan itu.
Sepersekian detik kemudian, Siwan pun ambruk, merebahkan tubuhnya di samping Hanna yang terlihat lemas namun penuh senyuman.
Sesaat Siwan menatapnya dan mendekatkan wajahnya di telinga Hanna.
" Terima kasih, chagiya " ucap Siwan dengan lirih.
Hanna menatap ke arahnya dan melingkarkan lengannya di leher Siwan.
" Ahjussi, aku akan menunggumu " ucap Hanna yang tiba - tiba mengucapkan hal itu, entah apa maksudnya baik Siwan maupun Hanna sendiri pun tidak memahami apa arti di balik kalimat tersebut.
Beberapa jam kemudian, hari mulai beranjak sore, Hanna dan Siwan terbangun dengan penuh senyuman.
" Ahjussi, ayo kita mandi bersama " ucap Hanna.
" Baiklah, ayo kita mandi, setelah itu kita makan " jawab Siwan.
Siwan menggendong Hanna ala bridal style, lalu Hanna melingkarkan selimut di tubuh mereka untuk menutupi setiap lekuk tubuh masing - masing yang tanpa perlindungan sehelai pun.
Sore itu mereka kembali melakukan cumbuan - cumbuan lainnya di bawah kucuran air hangat dari shower di dalam kamar mandi, mengabaikan cacing di perut mereka yang sudah mulai berdemo.
Canda tawa menghiasi sore mereka kala itu, bak pengantin baru yang sedang di mabuk asmara mereka lupa bahwa hubungan mereka sangat terlarang. Tanpa mengingat dosa apa yang akan mereka dapatkan nantinya mereka terus melakukan hal - hal yang biasa di lakukan pasangan suami istri semestinya.
Jangan salahkan agama ataupun ajarannya, semua ini terjadi hanya karena iman seseorang akan goyah kala ia mendapat godaan bertubi - tubi tanpa adanya kendali dari dalam dirinya dan lingkungannya. Sekecil apapun celahnya, setan akan terus menerobos masuk ke dalam hati dan pikiran seseorang kala orang itu mulai memberikan kesempatan untuk mereka bekerja sama dalam hal maksiat.
Atas dasar cinta dan kasih sayang, suka sama suka, kebanyakan insan maupun yang sudah dewasa bahkan remaja sekalipun, akan selalu tergoda dan terjerumus ke dalamnya kala situasi dan kondisi mendukung mereka seperti halnya Siwan dan Hanna saat ini.
Malam harinya, Siwan mengantarkan Hanna pulang ke kostannya.
Sebelum berpisah, mereka berpelukan sangat erat sampai enggan untuk saling melepaskan. Mereka tidak tahu bahwa malam itu merupakan malam dimana mereka bisa saling memeluk untuk yang terakhir kalinya.
" Chagiya, tunggu aku, aku akan menjemputmu lagi nanti " ucap Siwan.
" Kapan ?" tanya Hanna.
" Bersabarlah, aku harus menyelesaikan beberapa urusanku dulu, mungkin aku akan agak sibuk akhir - akhir ini, pekerjaanku sedang menumpuk " jawab Siwan.
" Baiklah, aku akan menunggumu, ahjussi " Hanna mengecup bibir kekasihnya malam itu. Dan beberapa menit kemudian mereka berpisah, Siwan kembali pulang ke rumahnya, dan Hanna kembali ke rumah kostnya.
Flashback Off
*
*
Hanna bangkit dari ranjangnya, dan berjalan keluar dari kamarnya.
Pagi itu, waktu menunjukkan pukul 07.30 wita, Hanna melihat bi Lastri sedang mencuci piring di dapur dan beralih ke ruang tengah, dia melihat Aji masih tertidur di atas sofanya.
Hanna pun kembali berjalan menunu kamar mandi.
" Neng, mau sarapan sekarang ?" tanya bi Lastri.
" Boleh bi, sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu " jawab Hanna.
Saat ia hendak menutup dan mengunci pintunya, Hanna merasa heran melihat kondisi pintu kamar mandi yang tidak bisa terkunci.
Namun karena dia sudah tidak tahan ingin buang air, Hanna pun mengabaikannya.
Saat keluar dari kamar mandi..
" Bi, pintu kamat mandi rusak ?" tanya Hanna.
" Neng gak inget gitu, semalam ada kejadian apa ?" tanya bi Lastri.
" Memangnya kenapa bi ?" tanya Hanna.
Bi Lastri menceritakan kejadian semalam saat dia kembali bermimpi buruk hingga menjerit - jerit dan mengurung diri di dalam kamar mandi.
" Aku hanya ingat kalau tadi malam aku mimpi indah " sahut Hanna.
" Neng, sampai kapan neng kaya gini terus, bibi malah jadi kasihan lihat tubuh neng jadi kurus gini, jangan nyiksa diri sendiri atuh neng, ikhlaskan saja ya... " ucap bi Lastri.
Hanna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dan terus melahap nasi serta sup ayam di hadapannya tanpa kembali berkata - kata.
Saat dia tengah tersadar, Hanna selalu menutupi kesedihannya di hadapan orang - orang terdekatnya. Namun, saat dia menyendiri, air matanya selalu tak tertahankan, bahkan sampai terbawa mimpi. Semenjak berita kecelakaan helikopter yang di tumpangi Siwan dua bulan yang lalu, Hanna selalu bermimpi buruk. Dia tidak pernah pergi dari rumah kenangannya kecuali untuk pergi bekerja.
Dan Aji memutuskan untuk menemaninya serta mengajak bi Lastri untuk mengurus rumah itu dan menemaninya menjaga Hanna sesuai amanat Siwan di hari sebelum kepergiannya.
Setelah Siwan pergi Aji masih memegang kendali beberapa bisnis yang di kelola oleh Siwan atas perintah ibu Siwan. Karena dia tidak mungkin menghandle semua usaha yang dimiliki anaknya sendirian, ibu Siwan pun begitu percaya pada Aji, dia tidak pernah sekalipun meragukan kesetian Aji pada anaknya.
Termasuk mengurus Hanna di sela kesibukan Aji. Ibu Siwan mempercayakannya pada Aji, bahkan ibu Shinta tahu bahwa Siwan sudah memberikan rumah itu untuk Hanna, jadi bu Shinta tidak bisa berbuat apa - apa kala tahu Hanna masih berada di Bali dan tinggal di rumah itu.
Aji yang sudah terbangun menghampiri Hanna dan duduk di depannya di meja makan setelah sebelumnya mencuci wajahnya di wastafel cuci piring.
" Han, hari ini jadi tidak pergi ke kantor PT. PAM ?" tanya Aji.
" Jadi, bli kau yang akan mengantarku atau pak Bram ?" tanya Hanna.
" Aku saja, hari ini aku tidak terlalu sibuk, hanya mengecek beberapa laporan masuk, tidak ada jadwal kunjungan " jawab Aji yang mulai menakar nasi di piringnya.
" Bli, setelah itu, aku akan kembali ke kostan ya, aku tidak akan kembali ke rumah ini " ucap Hanna.
Seketika Aji terkejut dan menghentikan tangannya yang terlihat sibuk menuangkan sayur sop di mangkuknya.
" Kenapa ? kau sudah ingin pergi ?" tanya Aji.
" Harus, aku harus pergi, aku tidak bisa seterusnya seperti ini, aku ingin pulang saja, keluargaku pasti sudah menungguku sejak beberapa minggu yang lalu " jawab Hanna.
" Kau mau langsung pulang ke Bandung, hari ini juga ?" tanya Aji.
" Tidak, mungkin beberapa hari kemudiannya, aku mau berpamitan dulu pada teman - temanku disini, aku pasti memberitahumu kalau aku akan pergi " jawab Hanna.
" Baiklah, setelah makan aku akan langsung bersiap - siap " sahut Aji, kemudian mulai menyendok makanan ke mulutnya.
" Bli, terima kasih banyak ya, kau selalu menjagaku " ucap Hanna menatap wajah Aji dengan sendu.
Aji terdiam sejenak, dia tidak mampu menatap wajah Hanna.
" Iya, sama - sama, teruskanlah hidupmu, jalannya masih panjang, berbahagialah !!" Aji tetap menundukkan kepalanya menahan air mata yang sudah berada di ujung pelupuk matanya. Demi menghargai Siwan, Aji tidak pernah lagi berbicara dengan bahasa santai atau non formal pada Hanna.
Hanna terlihat meneteskan air mata di pipinya, namun dia langsung bergegas pergi dari hadapan Aji menuju kamarnya, seolah tidak ingin memperlihatkan air matanya pada Aji.
Dab begitu Hanna pergi pun Aji membasahi nasinya dengan tetesan air mata di piringnya, dia menangis tersedu - sedu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun karena mulutnya ia tutup dengan tangannya.
Bi Lastri yang kebetulan berada di tangga hendak turun ikut merasakan momen haru di antara keduanya. Ia pun menitikan air mata di pipinya.