My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 PENJEMPUTAN



Dua bulan kemudian...


"Kita harus bergegas sebelum matahari terbit, Bram, kau bawa tim mu kesisi kiri, kalian tunggulah di bawah bukit untuk berjaga - jaga, Tio, Ajay dan Bimo, kalian ikut denganku, kita gempur dari depan, dan 5 orang lainnya tahan di samping kanan, mereka dari pos jaga jangan sampai ikut maju ke depan, kalian paham ?" tanya Aji.


"Oke,"


"Siyap,"


"Kita mulai saja, waktu kita tidak banyak lagi " ucap Tio.


Sekelompok orang yang terdiri dari kurang lebih lima belas orang pria berbadan tinggi dan kekar memakai pakaian serba hitam, mulai mengenakan masker penutup wajah masing - masing, membenarkan posisi headlamp di kepala mereka, merapatkan sarung tangan mereka dan tak lupa mereka juga mengecek persenjataan terlebih dahulu, hanya untuk sekedar berjaga - jaga barangkali ada sebuah situasi yang mengharuskan mereka menggunakannya.


Sang ketua tim, Aji sudah mewanti - wanti sebisa mungkin harus menghindari baku tembak dengan para musuh, keberadaan senjata api di tubuh mereka hanya sebagai cadangan apabila mereka benar - benar tersudutkan.


Datu bulan yang lalu, Aji, Tio, Bram dan dua orang lainnya dari Bali pergi menuju daerah kepulauan Nusa Tenggara untuk menjalankan misi pencarian Siwan kembali.


Sesampainya di pulau Nusa Tenggara Barat, Aji mengumpulkan beberapa orang kenalannya yang bersedia membantunya untuk melakukan misi tersebut.


Mencari informasi dari satu tempat ke tempat lainnya sesuai petunjuk Tio yang sebelumnya pernah melalui beberapa lokasi daerah setempat bersama Siwan dulu. Namun meskipun pergerakan mereka begitu cepat, seringkali mereka mengelabui beberapa aparat setempat agar tidak mencurigai kehadiran mereka.


Misi yang mereka jalankan sebisa mungkin jangan sampai tercium oleh aparat negara setempat, itu pesan dari bu Shinta, entah apa dan mengapa, alasan bu Shinta tidak mau melibatkan pencarian anaknya ini dengan pihak berwajib. Bahkan kasus kecelakaan helikopter yang terjadi satu tahun yang lalu bu Shinta tidak memperpanjang penyelidikan dan meminta menutup kasusnya agar pihak kepolisian tidak terus mengorek penyebab kecelakaan itu.


Kembali pada Aji dan timnya...


Di sebuah hutan di kawasan Nusa Tenggara Timur, sebuah hutan lebat yang sama sekali jarang terjamah oleh warga setempat, terdapat sebuah markas yang cukup besar.


Sebuah markas tempat persembunyian bagi para mafia yang sengaja mengasingkan diri untuk menghindari kejaran para musuh atau pihak berwajib.


Sebuah lokasi yang sangat curam di kelilingi oleh air terjun, bebatuan, perbukitan, dan tentunya pohon dan rerumputan yang lebat serta masih banyaknya binatang buas yang berkeliaran membuat beberapa orang mengira tidak akan memungkinkan ada aktivitas kehidupan manusia di sekitarnya.


Bahkan Aji dan timnya merasa kesulitan saat hendak menjangkau lokasi tersebut. Tak jarang mereka terjatuh, tergelincir, bahkan bertemu ular berbisa serta hewan buas lainnya yang mengintai mereka.


Namun hal itu tidak membuat mereka ketakutan, selain karena mereka bernyali besar, hampir sebagian besar anak buah Siwan memang sudah mengikuti pelatihan pertahanan diri di daerah perdalaman sebelumnya, serta ilmu bela diri masing - masing yang cukup mumpuni membuat mereka tak gentar menghadapi rintangan apapun di depan mereka.


"Move move move... " ucap Aji dengan lirih dan waspada.


Masing - masing diantara mereka bergerak merayap dan mengendap - endap mendekati lokasi markas tersebut.


Setelah semakin mendekat, mereka langsung berpencar ke titik masing - masing. Setelah melihat beberapa timnya menyerang pos jaga, Aji, Tio dan timnya menyelinap masuk ke dalam dan langsung menerobos pintu ke pintu untuk mencari keberadaan Siwan.


Untungnya saat itu di antara musuh mereka tidak ada yang memiliki ilmu bela diri sehebat Aji dan timnya hingga hanya dengan sekali pukulan dan tendangan para musuh langsung terkapar tak berdaya di lantai.


"Dimana dia ?" tanya Aji bertanya pada seorang musuhnya yang sedang terkapar kesakitan di lantai.


"Siapa ? yang mana? " sang musuh balik bertanya padanya.


"Para sandera ! dimana mereka ?" tanya Aji. Dia tidak menyebutkan nama Siwan untuk sekedar berjaga supaya identitas mereka tidak di ketahui, bahwa mereka datang atas perintah siapa dan akan menyelamatkan siapa, karena mereka mendapat informasi bahwa bukan hanya Siwan yang menjadi sandera di markas tersebut.


Setelah mendapat petunjuk, Aji dan Tio serta timnya berlari keluar menuju sebuah gubuk lewat jalan belakang markas itu, ia melihat srbuah gubuk yang sangat kecil tidak jauh dari lokasi markas.


Disana tidak ada orang yang berjaga sama sekali. Lokasinya berada hampir di pinggiran tebing dan dikelilingi rerumputan yang sangat tinggi.


Dengan pencahayaan dari headlamp seadanya, Aji berlarian seolah tidak sabar ingin segera sampai di gubuk tersebut. Dia tidak memperdulikan jalan menuju ke arah tersebut sangat curam, salah sedikit saja melangkah bisa - bisa ia terperosok jatuh ke bawah air sungai yang dingin dan curam karena banyak bebatuan. Apalagi saat itu kondisi masih sangat gelap, sekitar pukul 04.30 wit.


Aji benar - benar yakin bahwa Siwan berada di dalam gubuk tersebut. Perasaannya benar - benar bergejolak ingim segera menemukan sosok yang sangat ia rindukan selama ini.


Dan, sesampainya di depan pintu gubuk tersebut, Aji langsung mencoba membuka paksa pintu kayu yang terlihat sangat rapuh dan lusuh itu dengan satu tendangan.


Brakkkk....


Pintu terbuka, tanpa harus bersusah payah mendobraknya pintu yang sudah tua itu langsung jebol oleh sekali tendangan kaki Aji.


Mata Aji nyalang, berkeliling mencari sosok yang ia kenali diantara beberapa orang tawanan yang berada di dalamnya.


"Kak Wan... " Aji langsung bisa mengenali sosok yang terduduk meringkuk di salah satu ujung gubuk tua itu meskipun kondisinya sangat memprihatinkan.


"Ji... " ucap seorang pria dengan sangat lirih. Suaranya terdengar serak dan lemah.


Aji menghampiri suara pria itu dan ambruk sambil menangis, ia membungkuk di hadapan pria itu sambil menangis sesenggukan. Kondisinya sangat memprihatinkan sekali. Kedua tangannya yang terikat oleh tali, serta rambutnya yang panjang dan gimbal, wajahnya yang kotor, berjambang dan berkumis lebat, dan juga terdapat luka serta darah yang mengering di pelipis sebelah kanannya, membuat Aji tak kuasa menahan tangisnya.


Tio dan beberapa timnya baru datang, dan langsung menghitung tawanan yang ada di dalam.


"Lima orang Ji, kita masih bisa bawa mereka, cepat Ji, kita harus segera pergi, " ucap Tio.


Aji mengeluarkan sebuah belati dari sarungnya dan memotong tali yang mengikat kedua tangan pria itu. Dia adalah Siwan.


Setelah itu, Aji menggendong Siwan di punggungnya. Siwan yang nampak sangat lemah hanya meringkuk di atas punggung Aji sambil berderai air mata.


"Maafkan aku kak, aku sangat terlambat !" ucap Aji sambil fokus melihat jalanan setapak dengan pencahayaan seadanya.


"Tidak apa, aku sangat senang bisa bertemu denganmu kembali, Ji" jawab Siwan dengan lirih.


Saat itu, tanpa ada rintangan apapun lagi, Aji dan timnya berhasil membawa kabur para sandera karena minimnya para penjaga di sekitar markas dan juga mereka telah tumbang karena telah dilumpuhkan oleh tim Aji dan kawan - kawan sebelumnya.


Tidak sesuai dugaan mereka ternyata, penjagaan di sekitar markas ternyata sangat tipis sekali, yang artinya tidak terlalu ketat sehingga bisa dengan leluasa Aji dan tim masuk meringkus mereka.


Butuh sekitar waktu dua jam untuk mereka meninggalkan hutan belantara tersebut. Dengan sisa tenaga yang ada, Aji tetap kuat menahan beban berat tubuh Siwan di punggungnya.


Rasanya ingin segera sampai ke lokasi peristirahatan mereka segera karena melihat kondisi Siwan yang sangat lemah dan mengkhawatirkan.


Sesampainya di lokasi, Aji langsung menyuruh tim medis yang sengaja ia panggil untuk menunggu dan berjaga di lokasi markas mereka.


Cukup lama para tim medis mengobati luka - luka di tubuh Siwan saat itu. Aji masih mendampinginya dari kejauhan.


"Ji, bagaimana dengan mereka ?" tanya Bram meminta persetujuan Aji untuk membuat tindakan.


"Kau urus saja mereka, terserah, aku akan fokus pada kak Wan saja !" ucapnya yang seolah tidak ingin di ganggu oleh kehadiran yang lainnya.


Bram dan Tio pun memutuskan untuk membersihkan, mengobati dan memberi makan para sandera lainnya. Setelah itu mereka di wawancarai tentang penyebab mengapa mereka bisa sampai di sandera di gubug reot di hutan belantara itu.


Setelah tim medis selesai membersihkan seluruh luka di tubuh Siwan dan memasangkan selang infusan di tangannya, mereka meninggalkan Siwan untuk beristirahat sejenak.


Siwan tertidur akibat pengaruh obat yang di berikan oleh dokter saat itu.


Aji duduk di samping ranjang Siwan sambil masih menatap wajah Siwan dengan tatapan sendu.


Tidak lama kemudian ia memfoto Siwan lalu membagikannya pada seseorang lewat hpnya.


Dan, tidak lama kemudian seseorang menelepon Aji.


"Hallo... "


"Ya, betul bi, dia kak Wan, aku berhasil menemukannya, " ucap Aji sambil mengusap air mata yang tanpa tersadari mengalir di pipinya. Dan ternyata yang meneleponnya saat iti adalah bu Shinta.


"Baik bi, nanti aku kabari lagi kalau kak Wan sudah sadar, "


"Secepatnya aku akan membawanya ke kota untuk mencari persembunyian yang lebih aman disana, nanti akan aku kabari lagi, bi !"


Aji pun menatap layar hpnya yang kini sudah menyelesaikan obrolan dengan bu Shinta lewat sambungan hpnya.


"Apa aku harus memberitahunya sekarang ?" gumam Aji, menatap sebuah nama dan nomor hp yang tertera di layar hpnya saat itu.


"Mungkin ini belum waktunya, sebaiknya aku tahan dulu !" ucapnya.


Aji melengos keluar dari ruang kamar Siwan, dan menyuruh seseorang berjaga di dalam menggantikannya.


"Ji, bagaimana keadaan kak Wan sekarang ?" tanya Bram.


"Dia sedang istirahat, kondisinya sangat lemah, dia kekurangan gizi dan nutrisi, sepertinya dia sangat tersiksa selama ini, tubuhnya penuh luka lebam dan sayatan, aku bersumpah, akan membalas semua perlakuan mereka terhadap kak Wan, aku akan mencari mereka sampai ke lubang undur - undur sekalipun,! tegas Aji.


Saat Aji dan Bram sedang mengobrol, lalu datanglah Tio menghampiri mereka.


"Ji, ada yang ingin bertemu denganmu !" Tio menggeser tubuhnya. Lalu muncullah seseorang di belakangnya.


Seorang pria bertubuh tinggi dan kekar, berkulit tan juga berhidung mancung tersenyum padanya. Sebelah lengannya di balut oleh perban juga di dahinya terdapat beberapa perban menempel menutupi luka di atas kulit bagian wajahnya.


"Kau masih ingat denganku ?" tanya pria itu.


"Kau... ?" ucap Aji.


"Andre, aku Andre, dulu aku pernah meminta tolong padamu untuk bertemu dengan Hanna !"


"Oh... ya, itu kau, aku ingat sekarang " sahut Aji.


Andre adalah pria yang sempat membuat Hanna ketakutan di awal episode karena sempat mencoba merampok barang berharga milik Hanna saat itu yang akhirnya di selamatkan oleh Siwan.


"Kau sedang apa disini ?" tanya Aji.


"Dia salah satu sandera yang kita bawa tadi, Ji, " sahut Tio.


"Kenapa bisa, kau jadi sandera mereka ? siapa mereka ?" tanya Aji dengan tidak sabarannya.


Lalu, Andre pun menceritakan kronologis kejadian mengapa ia sampai bisa berada disana menjadi salah satu sandera mereka juga.


Ternyata, Andre yang saat itu sedang bertugas menjadi intel dan menyusup ke markas para mafia gembong narkoba menemukan Siwan yang sedang di siksa oleh anak buah sang gembong mafia yang bernama Andrew Chou seorang pria berkebangsaan Taiwan yang memiliki beberapa bisnis di negara ini.


Saat Andre mencoba menyelamatkan Siwan, nasib nahas menimpanya, karena ia ketahuan oleh salah satu anak buah Andrew saat mereka masih berada di perbatasan NTT, yang akhirnya Andre di tangkap dan juga ikut di sandera bersama Siwan.


"Andrew... jadi, si brengsek Oz bekerja sama dengan Andrew Chou selama ini, pantas saja tiba - tiba ia menjadi kaya raya, bajingan... !" Aji merasa kesal setelah mendengar cerita dari Andre.


"Terima kasih banyak ya Ji, berkat bantuanmu, aku berhasil keluar dari gubuk itu, aku berhutang budi padamu dan kalian semua !" Andre menatap Aji, Tio dan Bram secara bergantian.


"Lalu urusanmu bagaimana ?" tanya Aji.


"Setelah pulang ke pos, aku akan memberitahu hal ini pada tim dan atasanku, ku pastikan markas mereka tidak akan bertahan lama, meskipun aku belum bisa menemukan dimana sang ketuanya, tapi aku akan mengobrak abrik markas mereka dan perkebunan ganja dan pabrik ekstasi mereka.


"Lalu, bagaimana dengan sandera yang lainnya ?" tanya Bram.


"Biarkan saja mereka pergi ke tempat asal mereka masing - masing, mereka sudah bukan urusan kita lagi, beri saja mereka perbekalan untuk pulang, dan pastikan, agar mereka menutup mulut tentang kita !" jawab Aji.


"Oke, aku akan mengurusnya, kau jaga saja kak Wan, dua jam lagi kendaraan akan sampai kemari, kita akan segera pergi dari sini secepatnya !" Bram pergi untuk mengurus tugasnya. Sedangkan Aji kembali masuk ke ruang kamar dimana Siwan sedang terbaring di dalamnya.


...***...


Siwan is back pemirsa. Masih dalam kondisi yang mengenaskan.


Akankah Siwan dan Hanna kembali bertemu secepatnya ?


Jangan lupa vote, rate dan komennya ya reader yang baik hati, terimakasih masih setia menanti cerita unfaedah ini.


Lokasi kejadian dan nama tempat hanya fiktir belaka.


Anyyeong.