My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Debaran Jantung



WARNING mengandung adegan 18+


Keesokan harinya. Pukul 07.00 wita, Siwan sudah berada tepat di depan gerbang gedung kost Hanna. Dia lalu menelpon Hanna, memberitahu nya bahwa dia sudah berada di bawah.


Tidak lama, Hanna sudah berada beberapa meter di depan Siwan. Dengan wajah terkejut.


" Hai, sudah siap ?" tanya Siwan.


" Waw, apa ini motor mu? " tanya Hanna sambil mengelilingi dan meneliti setiap inchi dari motor yang sedang di duduki oleh Siwan.


" Iya, kenapa ? apa kau keberatan kalau hari ini kita jalan - jalan mengendarai motor ?"


" Tidak, sama sekali tidak, aku hanya terpana melihat motornya. Aku belum pernah menyentuhnya, apalagi mengendarainya. " Hanna masih fokus melihat - lihat dan menyentuh body motor tersebut.


Sebuah motor sport Ninja yang pasti harganya sangat mahal. Kalau untuk urusan motor, Hanna sedikit tahu beberapa tipe - tipe motor bebek, matic dan sport biasa ataupun mewah. Dia tahu dari adik laki - lakinya yang sering membahasnya dengan teman - teman sekolah adiknya kala berkumpul di rumah, di Bandung.


" Apa ini baru ?" tanya Hanna kembali, masih penasaran.


" Tidak, Awal tahun lalu aku membelinya. Aji yang sering memakainya. " Sahut Siwan.


" Wah, masih belum lama. Kalau begitu, memangnya kali ini kita mau jalan - jalan kemana ? " Hanna menatap Siwan.


" Kau sudah sarapan ?" tanya Siwan sambil menyodorkan helm dan kacamata berkendara berwarna hitam pada Hanna.


" Sudah, aku sudah sarapan, kau sendiri ?"


" Tentu, bi Asih tidak mengizinkanku keluar rumah tanpa menghabiskan sarapan buatannya kali ini. "


" Wah.. perhatian sekali ya, Bi Asih."


Siwan hanya tersenyum lalu membantu Hanna mengunci helmnya.


" Sudah siap ? Eh tunggu dulu, tunggu sebentar. " Siwan terlihat mengeluarkan sesuatu pada paper bag yang sedari tadi sudah menggantung di motornya.


" Kau pakai ini, supaya tidak masuk angin !!" Seru Siwan.


" Ahjussi, kau sangat merencenakan nya dengan baik, ngomong - ngomong kapan kau beli jaket kulit ini, terlihat seperti masih baru. Masih bau toko. " Hanna mengendus jaket kulit berwarna hitam itu. Dengan model untuk wanita, model jaket kulit yang sangat modern. Lalu Hanna memakainya. Ternyata ukurannya sangat pas.


Di sisi lain,


Beberapa jam sebelum Siwan keluar dari kamarnya, tepat pukul 05.00 Wita, di dalam kamar dia terlihat seperti sedang menelpon seseorang. Berkali - kali dia mencoba menelpon seseorang di sebrang sana yang tidak mengangkat teleponnya itu.


Setengah jam kemudian baru terdengar seseorang mengangkat teleponnya itu.


" Hallo.. " dengan suara parau terdengar jelas orang tersebut seperti baru bangun tidur.


" Hallo, Mark, can you help me, please ?" Ucap Siwan kepada pria yang bernama Mark.


Lalu Siwan berbicara dengan bahasa inggris dengan pria bernama Mark itu.


Pukul 06.30 wita, terlihat Siwan sudah berada di dalam sebuah toko jaket. Ya, toko jaket kulit. Dia sedang memilih beberapa model dan warna untuk seorang wanita.


" Yang ini saja. " Siwan menunjuk pada seseorang yang sedang duduk dan tertunduk pada sebuah kursi panjang, yang berada di dekat sebuah cermin tinggi.


" Hooaaammmn.... " pria itu terlihat beberapa kali menguap dan berkata..


" Terserah kau saja, cepatlah aku masih mengantuk. " Ucap pria itu.


Tidak lama kemudian, pria itu membungkusnya dengan paper bag, sebelumnya dia sempat mencopot tag price sambil beberapa kali terlihat menguap.


" Kau ini, merepotkan saja. Demi seorang wanita, kau membuatku terbangun sepagi ini. "


Siwan tersenyum senang, sambil menenteng paper bag yang berisi jaket pilihannya itu.


" Ini, aku bayar pakai ini, jangan lupa, kau lebihkan saja dua persen dari harga awal, sebagai bentuk penyesalan dan terima kasihku padamu kali ini. " Siwan mengeluarkan blackcardnya dari dompet dan menyodorkan pada pria itu.


Wajah pria itu tampak sedikit berbinar.


" Lima persen, aku ingin lima persen." Pria itu dengan muka datar, dengan jari jemari yang sibuk mengetik mesin EDC di samping layar komputer di bagian meja kasir.


Setelah selesai, pria itu menyerahkan blackcard milik Siwan dan berkata,


" Semoga kencan mu lancar ya, tuan. Jangan lupa berbelanja lagi di sini saat jam toko sudah mulai buka lain kali." Pria itu terlihat tersenyum kecut.


" Terima kasih banyak ya, Mark. " Siwan melambaikan tangannya lalu berbalik dan pergi dari hadapan pria bernama Mark itu, pria pemilik toko jaket kulit itu.


Sepertinya Siwan menelpon pria itu dan memaksa nya untuk membuka toko di pagi buta hari ini. Hanya karena ingin membelikan jaket kulit untuk Hanna, kekasihnya. Terlihat pria bernama Mark itu masih mengenakan piyama tidurnya di balut dengan long cardi berwarna coklat.


Mereka berdua saat ini sedang melaju di atas sebuah motor sport, menyusuri jalanan kota Denpasar yang masih terlihat macet di beberapa titik. Hanna masih belum mengetahui kemana tujuan mereka kali ini.


Sempat singgah di beberapa lokasi untuk beristirahat, membeli jajanan di pinggir jalan yang menarik dan menggugah selera.


Akhirnya, setelah beberapa jam mengendarai motor, Hanna dan Siwan tiba di tempat tujuan mereka.


Tanah Lot. Siwan mengajak Hanna mengunjungi Tanah Lot.


" Wah, kenapa tidak bilang dari awal, tahu begini aku akan memakai dress terbaik yang ku punya." Hanna tercengang.


" Memangnya kenapa?" Siwan heran.


" Untung aku selalu membawa kamera ku, ya untuk berfoto - foto lah. Wajib ku abadikan, ini kali pertama aku datang kemari. " Tukas Hanna.


" Tapi, aku kemari mengajakmu untuk melihat sunset nanti sore. Sekarang, matahari sudah mulai terik, lebih baik kita beristirahat dulu. "


Siwan melajukan kembali motornya menuju sebuah tempat. Tidak jauh dari lokasi Pura, sepanjang jalan menuju Pura terdapat beberapa villa dan hotel. Bahkan ada villa di tengah persawahan. Masing - masing memiliki daya tarik dan keunggulan masing - masing.


Setelah puas mengajak Hanna berkeliling di sekitar sana, Siwan lalu berhenti di sebuah lokasi villa. Siwan mengajak Hanna untuk beristirahat di sana. Menunggu sunset sore nanti.


Saat masuk ke dalam, Hanna merasa sangat takjub akan desain ruangan dan isi yang berada di dalam villa tersebut. Dia berlari kecil mengelilingi dan melihat fasilitas yang ada di sekitar villa.


" Wah, dapurnya juga sangat lengkap. " Hanna membuka setiap laci di dapur.


" Ini private villa, bahkan ada kolam renang pribadi juga di sana. " Siwan menunjuk ke arah samping pintu dapur. Pintu yang terbuat dari kaca.


Hanna langsung berlari menuju kolam renang.


" Wah, airnya terlihat menyegarkan. " Hanna berjongkok sambil mengayun air kolam dengan tangannya.


" Kau mau berenang ?" tanya Siwan mengikuti Hanna sambil berjongkok dan mengayun air di sampingnya.


" Ahjussi, kau, kenapa tidak memberitahu ku sebelumnya. Aku tidak membawa baju renang, baju ganti. " Ucap Hanna mendengus kesal.


" Maafkan aku ya, lain kali aku akan bilang terlebih dahulu. Aku hanya takut kau akan menolaknya. " Siwan mengelus rambut Hanna dengan tangannya yang basah.


" Ahjussi, tanganmu basah... " Hanna merengek manja.


Hahaha.. Siwan tertawa sambil mencipratkan air ke wajah Hanna dan membuat Hanna tambah kesal dan membalas perbuatan Siwan.


Setelah lelah saling membalas di tepi kolam, Siwan mengajak Hanna masuk ke dalam.


" Kau mau pijat dan spa ?" tanya Siwan.


" Memangnya ada, di sebelah mana ?" Hanna melihat ke sekeliling lokasi villa mencari tempat spa yang Siwan bilang.


" Kita panggil saja therapis nya kemari. Tinggal telepon saja, mereka akan datang dan mempersiapkannya. Bagaimana, mau ?" tanya Siwan.


" Baiklah, untung aku selalu membawa pakaian dalam. " Ups.. Hanna langsung menutup mulutnya.


Siwan pura - pura tidak mendengarnya, lalu dia langsung duduk di sofa ruang tengah dan menelpon seseorang.


" Hallo, tolong siapkan semuanya, pesanku sebelumnya, kau lihat saja detailnya di whatsup. " Lalu Siwan menutup teleponnya.


Hanna duduk di sebelah Siwan setelah membuka jaket kulitnya dan di simpannya di atas meja.


Siwan pun melakukaknnya lalu bersandar pada sofa.


" Setelah spa, nanti kita makan siang disini saja ya, aku takut kau lelah, sebetulnya ada sebuah resto yang enak di sekitar sini. Aku akan menelpon restonya saja untuk mengantarkan beberapa menu kemari. " Siwan mengelus - elus rambut Hanna yang terduduk di sampingnya.


Hanna merasa suasana menjadi agak canggung, terdengar debaran - debaran jantungnya meninju bagian dalam dadanya.


Apalagi saat tiba - tiba Siwan yang di sampingnya, mengendus dan mencium lehernya, lengannya terlihat merangkul pinggang Hanna dari arah depan.


Hanna merasakan suhu tubuhnya jadi lebih panas, dadanya terus bergejolak. Mereka sedang berduaan saja saat itu, di sebuah ruangan yang sepi. Siwan terus menyerang Hanna dari arah samping kirinya. Dia bahkan menarik wajah Hanna ke hadapannya, lalu menciumnya dengan penuh nafsu. Lalu perlahan Siwan mendorong tubhh Hanna ke belakang secara lembut, Siwan menindih badan Hanna sambil terus ******* bibir Hanna.


Dan, Hanna pun terlihat sangat menikmatinya, membalas ******* bibir Siwan dengan penuh gairah. Hingga sampai tangan Siwan masuk ke dalam kaos baju Hanna, menyentuh tubuh mungilnya tanpa penghalang dan hampir menyentuh dua buah gundukan daging besar di dada Hanna, tiba - tiba, terdengar suara bel berbunyi. Mereka langsung tersadar dari fantasi liar dan gairah mereka, dan menghentikan semua aktifitas mereka sebelumnya.


Hanna tampak malu - malu menatap Siwan yang perlahan menjauh dari hadapannya. Dia lalu berdiri dan mengambil beberapa nafas dalam - dalam lalu menghembuskannya. Terlihat seperti sedang me relaxsasikan diri, mengendalikan sesuatu yang ada di bawah, di dalam celana nya yang dari tadi sudah berusaha keluar menyundul - nyundul area sensitif Hanna di bawah.


Hanna sedari tadi memang menyadari dan merasakan ada suatu bagian yang menonjol dan bergesekan dengan area sensitif Hanna. Karena saat itu Hanna dan Siwan sama - sama memakai celana panjang dengan bahan katun strech dan katun twill yang tidak tebal seperti celana jeans.


" Sepertinya itu mereka, para therapis. Kau tunggu saja di sini, ya. " Siwan mengelus rambut Hanna dan pergi menuju pintu depan.


Hanna hanya menganggukan kepalanya, dengan posisi masih tiduran di atas sofa. Ia lalu membetulkan kembali bajunya dan rambutnya yang terlihat agak berantakan.