
Di malam hari yang gelap gulita, rintikan air hujan yang membasahi seluruh sudut kota Denpasar malam itu, terasa begitu dingin hingga menusuk ke dalam pori - pori.
Hampir di penghujung bulan oktober ini, cuaca sudah mulai terus menerus memasuki musim penghujan.
Di dalam kamarnya, Hanna sedang terduduk di atas ranjangnya di baluti dengan selimut, sambil menatap layar hpnya.
Ia sedang dengan seksama membaca kata demi kata yang tertera di atas layar hpnya. Ia sedang membaca sebuah pesan yang cukup panjang dari ibunya.
Seperti yang kita tahu bahwa, pagi tadi, ia menjemput adik satu - satunya di bandara. Kedatangannya yang terbilang super dadakan membuatnya keheranan. Bahkan orang tua nya pun hanya memberitahu saat dia sudah dalam perjalanan menuju Bali, saat itu.
Sebetulnya Hanna merasa senang di kunjungi oleh keluarga nya dari Bandung, walau hanya adiknya seorang.
Awalnya Hanna berpikir mungkin dia ingin membuat acara kejutan untuknya, namun ternyata bukan seperti itu kenyataan nya.
Hanna terduduk di atas ranjangnya sambil masih menatap layar hpnya, dan dia pun mencoba membalas pesan tersebut.
Setelah membalas pesannya, barulah ia mencoba untuk tertidur. Ia menyimpan hpnya di atas nakas, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.50 wita, namun, ia tak kunjung dapat memejamkan matanya sama sekali.
Ya... dia sedang sibuk memikirkan sesuatu di dalam kepalanya. Sebuah masalah keluarga yang sedang di hadapinya kini.
Flashback...
Beberapa jam yang lalu....
Hanna baru pulang dari tempat kerjanya. Malam itu, Aji yang menjemput Hanna di tempat kerja memakai mobil Siwan, karena saat itu Siwan sudah tertidur pulas setelah meminum obatnya. Bahkan Aji bilang, Siwan sedang tertidur di rumah Hanna, di atas sofa.
Sesampainya di rumah, barulah Siwan terbangun dan berpamitan bersama Aji untuk pulang ke rumahnya. Dan berjanji besok pagi sekali akan menjemput Hanna dan adiknya untuk pergi berlibur, karena besoknya hari kamis, merupakan jadwal libur Hanna bekerja.
Sebelum pulang, Siwan memeluk dan mencium kening kekasihnya. Dia ingin mengecup bibir kekasihnya itu, namun, dia sadar diri, dia belum sepenuhnya sembuh dari batuknya, jadi dia menahannya karena takut kekasihnya itu tertular.
Setelah Siwan dan Aji pergi, Hanna masuk ke dalam kamar, ia mengganti bajunya, membersihkan make upnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya.
Dan, saat ia keluar dari kamar mandi, ia sungguh terkejut karena ada seseorang yang berdiri di ambang pintu luar kamar mandi saat itu.
" Astagfirullah hal'adzim, ih... Abdul, kaget gue !!" Hanna berteriak.
" Apa sih, aku mau ke toilet nih !!" ucap Abdul.
Hanna baru ingat, bahwa di rumah nya kini ada Abdul, adiknya yang tadi pagi ia jemput di bandara.
Hanna menyeduh teh hangat untuknya di dapur, lalu membawanya ke atas meja makan, dan menikmati sendirian di tengah malam yang dingin dan berisik oleh air hujan saat itu.
" Dul, sini deh !!" ucap Hanna saat melihat adiknya baru keluar dari kamar mandi.
Abdul pun menghampiri Hanna dan duduk di kursi lain di samping Hanna, di meja makan.
" Kamu belum tidur ?" tanya Hanna.
" Belum teh, aku masih nunggu kamu dari tadi, ada yang mau aku sampein sama kamu !!" jawab Abdul.
" Apaan tuh ?" tanya Hanna, sambil menyeruput air teh hangatnya.
" Aku, sebenarnya..... !!" Abdul tidak melanjutkan perkataannya saat itu.
" Apa, ada apa ?" Hanna nampak sangat penasaran.
" Teh, bantu aku dong, bilangin sama bapak, aku gak mau masuk pesantren !!" ucap adiknya memohon pada Hanna.
" Hah, pesantren, ada apa sih sebenarnya ?" tanya Hanna.
Lalu, adiknya menceritakan bahwa dia sebetulnya belum masuk kuliah karena jurusan yang dia inginkan sudah penuh, kuotanya terbatas, memang sih sebetulnya di jurusan lain di kampus tersebut masih menerima calon mahasiswa, tapi, jurusannya tidak sesuai dengan bidang yang ia inginkan nantinya.
" Lah, itu sih salah lu sendiri, sapa suruh daftarnya telat, kebanyakan mikir sih !!" ucap Hanna.
" Atulah teh, plisss.... bantuin ngomong sama bapak, kan masih bisa nunggu, tahun depan juga bisa daftar lagi, bapak gak mau denger, dia pikir aku yang udah gak minat kuliah. Ayo dong, cuma teteh yang bisa nolongin aku, mana mau di pesantrenin nya jauh lagi !!" sahut Abdul.
" Dimana emangnya ?" tanya Hanna.
" Di Jawa Timur. Ya teh ya, bilangin sama bapak, aku gak mau, please... !!" ucap adiknya terus memohon pada kakaknya agar membantunya membujuk ayahnya.
" Gak mau, ya bagus dong, bapak juga udah mikir mateng - mateng pasti, bukan cuma sekedar emosi aja gara - gara kamu kecewain dia, pasti dia mau kamu punya bekal yang lebih baik buat kelak membimbing keluargamu dengan ilmu agama yang kamu punya, kamu calon pemimpin loh, laki - laki itu tanggung jawabnya besar, dunia akhirat !!" tegas Hanna.
" Iya, aku tahu, bukannya aku gak mau banyak belajar agama, tapi kan, dalam hidupku, aku udah punya planning sebelumnya, udah ada cita - cita sendiri ke depannya, semuanya udah aku susun mateng - mateng. Ya teh ya, please.... !!" ucap adik Hanna.
Hanna tidak langsung menjawabnya, ia terlihat berpikir sejenak sambil meneguk teh terakhir yang ada di gelasnya.
" Udah malem, tidur aja dulu lah, biar besok bisa pergi liburan, masalah ini, nanti aku tanya dulu sama mamah, aku coba cari tahu dulu kenapa bapak sampai kasih kamu pilihan terakhir kayak gitu. Udah sana, tidur gih... " ucap Hanna.
Lalu Abdul pun pergi meninggalkan nya sendirian di meja makan, dia berjalan dengan gontai menuju kamarnya.
...*******...
Keesokan paginya...
Pukul 05.00 wita, Abdul mengetuk pintu kamar Hanna. Ia membangunkan Hanna untuk mengingatkan agar segera melaksanakan ibadah sholat subuh.
Hanna pun terbangun dari tidurnya, dan mengambil handuk di gantungan belakang pintu kamarnya.
" Sholat lu, tidur mulu !!" ucap Abdul saat Hanna sudah membuka pintu kamarnya dengan mata yang masih tertutup rapat.
" Mandi dulu gue, baru beres haid !!" jawab Hanna, lalu berjalan menuju kamar mandi seperti jalannya seorang zombie.
Setelah mandi, mensucikan dirinya, Hanna terburu - buru keluar dari kamar mandi menuju kamarnya kembali sambil berteriak - teriak, " aaaaaa... diiiingiiiiiinnnnn..... "
Bahkan Hanna terlihat berkali - kali bergidik karena kedinginan setelah mandi di subuh hari.
Abdul yang berada di sofa ruang tengah hanya mentertawakan nya sambil menikmati segelas susu coklat panas sambil membaca sebuah buku yang ada di tumpukan rak buku milik Hanna.
Beberapa menit kemudian, Hanna keluar dari kamarnya sambil mengeringkan rambutnya dengan Handuk, lalu menghampiri adiknya. Dan memberitahu Abdul bahwa nanti pukul 06.00 wita, Siwan akan menjemput mereka, dan menyuruh nya untuk segera bersiap - siap. Setelah itu, Hanna kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengeringkan rambutnya memakai hairdryer.
Pukul 06.05 wita, terdengar dua kali bunyi klakson mobil dari luar, pertanda bahwa Siwan kini sudah berada di halaman untuk menjemput mereka.
Abdul yang nampak sudah siap yang sedang duduk di atas sofa berjalan menuju pintu untuk menyambut Siwan di luar.
Sesampainya di luar, dia begitu terpana melihat mobil Siwan yang kini sudah berganti menjadi sebuah mobil sports yang nampak lebih besar.
" Waw, fix, dia pasti orang kaya !!" ucap Abdul di dalam hatinya, sambil berjalan menuju Siwan yang baru keluar dari mobilnya.
" Hallo, Dul, sudah siap ?" tanya Siwan.
" Hai kak, aku sudah siap kok, itu, pacarmu lama banget, masih di dalam kamar !!" jawab Abdul.
" Boleh aku masuk ke dalam ?" tanya Siwan.
" Iya kak, masuk aja, aku nunggu di mobil aja ya !! ucap Abdul yang sudah menenteng tas berukuran sedang berisi baju ganti dan perlengkapan nya.
Namun, pintu kamar Hanna tidak tertutup rapat saat itu, Siwan pun berjalan menghampiri kamar Hanna lalu mengetuk pintunya.
Tok tok tok....
" Bentar Dul, kamu keluar aja duluan, kasih tahu dulu kak Wan, aku bentar lagi siap !!" ucap Hanna sambil sibuk merapihkan bajunya ke dalam tas travel miliknya di atas ranjangnya.
Tok tok tok...
Pintu kembali di ketuk, dan sontak membuat Hanna menjadi kesal.
" Ih... Ab-.... " Hanna tidak melanjutkan perkataannya, saat ia menoleh pada pintu kamar, ternyata yang kini sedang berdiri di ambang pintu merupakan pria lain selain adiknya, yaitu kekasihnya.
" Ahjussi, kupikir adikku !!" ucap Hanna sambil tersenyum.
Siwan berjalan mendekat pada Hanna yang sedang merapihkan tasnya, ia lalu duduk di atas ranjangnya di samping tas Hanna.
" Emh... apa lagi ya... " Hanna terlihat berpikir sejenak sambil menata barang bawaannya.
" Ekhem... " Siwan merasa di abaikan oleh Hanna.
" Hehe... maaf, aku takut ada yang ketinggalan, yang lain sudah siap ?" tanya Hanna.
Dan Siwan hanya menganggukan kepalanya dengan sedikit senyuman.
" Kenapa ? marah ya, aku cuekin !!" ucap Hanna.
Lalu Siwan menarik lengan Hanna dan pinggangnya agar mendekat padanya.
" Aku, merindukan mu, chagiya !!" ucap Siwan menengadahkan kepalanya karena saat ini posisi Hanna lebih tinggi karena sedang berdiri di hadapannya.
Hanna seakan memahami sinyal yang di berikan oleh kekasihnya saat itu. Ia lalu melingkarkan kedua tangannya di pundak Siwan, lalu mengecup bibirnya sambil tersenyum.
" Setiap hari kita bertemu, masih saja merindukan ku !!" ucap Hanna menggoda Siwan.
Siwan lalu menarik tubuh Hanna ke dalam pelukannya sambil merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
Hanna tertawa... " ahjussi, sudah, nanti adikku melihatnya !!" ucap Hanna lalu mencoba menjauh dari tubuh Siwan.
Namun, secepat kilat Siwan menarik tubuhnya kembali, dan, ia mencium Hanna dengan penuh hasrat dan gairah. Mereka berdua berciuman selama beberapa detik, hingga terdengar bunyi klakson mobil dari luar, barulah aktifitas mereka saat itu berakhir.
Siwan dan Hanna kini sudah berada di luar, di hadapan sebuah mobil sports besar yang dulu pernah Siwan pakai saat mengantar sahabat Hanna pergi berlibur di Bali.
Terlihat bahwa Abdul sudah tidak sabaran, Aji bahkan memberi isyarat pada Hanna bahwa tadi yang memencet klaksonnya adalah adiknya.
Mata Hanna mendelik pada adiknya lewat jendela mobil yang kacanya terbuka sedari tadi.
Hanna dan Siwan pun masuk ke dalam mobil, di sana sudah ada Patricia yang duduk di jok paling belakang.
" Hai Pat, how are you !!" ucap Hanna.
" I'm good darling !!" jawab Pat, lalu mereka pun cipika cipiki. Hihi..
Siwan duduk di samping Abdul di kursi tengah, sedangkan Aji menyetir mobil, lalu Austin yang duduk di sampingnya, nampak seperti sedang tertidur pulas.
" Kak Os, dia pingsan ?" tanya Hanna.
" Yups... dia baru selesai operasi besar semalam, abaikan saja !!" jawab Aji, lalu ia mulai menyalakan mesin mobilnya.
Semua kaca jendela kembali tertutup rapat. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang karena jalanan terlihat cukup padat di pagi hari.
Di tengah perjalanan, Hanna dan Pat sedang bertukar informasi seputar dunia fashion dan beauty lewat hp masing - masing, mereka berbicara dengan bahasa inggris, membuat Abdul yang duduk di depan mereka mendelikkan matanya pada kakaknya.
" Apa sih Dul, gak ngerti ya !! makanya, belajar english speaking lu, janga bisanya cuma yes no doang !!" ucap Hanna.
Pat yang di sampingnya tertawa melihat tingkah adik kakak yang berada di hadapannya kini.
" Kak Pat, bisa tolong ajari aku !!" ucap Abdul sambil tersenyum menatap Pat dari depan. Ia sengaja memutar tubuhnya untuk mengobrol dengan Pat.
" Of course, honey !!" jawab Pat.
" Yes... " ucap Abdul sambil menggerakan tangannya tanda kemenangan.
" Duduk yang betul sana... husss.. !!" sahut Hanna dengan melotot pada adiknya.
Abdul menjulurkan lidahnya meledek pada Hanna, lalu kembali duduk manis dan mengajak Siwan berbincang - bincang.
" Kak, kita mau pergi kemana sekarang ?" tanya Abdul.
" Kita akan pergi ke pantai Tanjung Benoa, di sana banyak wisata water sports, nanti kau coba ya, disana juga ada akses menuju pulau penyu " jawab Siwan.
" Wah, seru nih pasti... terima kasih ya kak, sudah mau mengajakku berlibur !!" ucap Abdul.
" Sering - sering lah datang kemari, aku akan mengajakmu berkeliling pulau Bali kalau sedang ada waktu." Ucap Siwan.
" Siyap kak !!" jawab Abdul.
Di tengah perjalanan, mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah warung makan untuk sarapan pagi.
Setibanya di parkiran sebuah warung makan.
" Pat, tolong bangunkan Os, dia juga harus ikut sarapan bersama kita !!" ucap Siwan sebelum turun dari mobil.
" Oke !!" jawab Pat.
Saat Pat mencoba membangunkan Austin, yang lainnya sudah berjalan menuju sebuah meja yang terletak tidak jauh dari tempat parkir mobil.
Mereka memesan berbagai macam menu yang berbeda - beda.
Setelah memesan makanan, datanglah Pat dan Austin menghampiri meja mereka.
" Os, kenalkan, dia adiknya Hanna !!" ucap Siwan.
" Hai, whats up bro... !!" ucap Austin menjulurkan tangannya mengajak Abdul berjabat tangan.
" Nice to meet you bro !!" jawab Abdul.
" Me too, bro !!" timpal Austin.
Hanna dan Pat mentertawakan perkenalan mereka berdua. Sedangkan Aji dan Siwan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah memesan makanan, Austin pamit mencari toilet untuk mencuci mukanya, karena berkali - kali menguap di hadapan yang lainnya, membuat ia menularkan virus kantuk secara bergiliran.
Percaya atau tidak, terkadang, saat kita melihat orang lain menguap, kita pun jadi ikut menguap secara refleks. Hampir 80 persen teori ini memang terbukti, di pagi hari, apalagi di malam hari.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan makanan mereka datang, dan dengan penuh semangat mereka memasukkan sesuap demi sesuap makanan sebagai sarapan di pagi hari untuk asupan energi mereka beberapa jam ke depannya.