My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Mabora



Dan... ketika malam tiba...


" Gaess... makan malam di luar dulu lah, nanti di klub jadi kita fokus aja nongkrong sama clubbing " pinta Hanna.


" Masih ragu ya... " ucap Melly.


" Bukan gitu kak, emh... jadi nanti kan kita makan malam di tempat lain, aku fotoin bukti sama pacarku udah gitu nanti aku bilang kita langsung pulang sama dia... " ucap Hanna.


" Padahal abis makan kita mau.... " Teguh memberi isyarat pada Reni dan Melly untuk ikut melanjutkan perkataannya.


" Party party kita... " sahut Reni.


" Dugem coy... " timpal Melly.


Mereka pun tertawa, kecuali Hanna dan Rama yang hanya menepuk jidatnya.


" Yaudah, kita makan di resto terdekat klubnya aja, yuk cuss... " ucap Melly.


Hanna sebenarnya merasa sangat gugup, baru kali ini dia berencana pergi clubbing alias dugem sepanjang dia tinggal di Bali.


Satu kalipun belum pernah mau dia pergi ke tempat seperti itu, padahal dulu Siska pernah mengajaknya, tapi Hanna menolaknya karena dia takut di ajak mabuk.


Namun, kali ini, entah mengapa dia mau - mau saja di ajak dugem sama Reni, Melly dan Teguh.


Dua jam kemudian, kini mereka sudah berada di dalam suasana keramaian nightclub di salah satu lokasi yang cukup terkenal di pulau Bali.


Mereka memesan tempat duduk yang cukup luas yang berada di lantai dua.


Alunan musik dj sudah mulai terdengar di indera pendengaran mereka. Semakin malam para pengunjung semakin bertambah.


Banyak sekali turis asing berkumpul disana.


Hanna hanya duduk bersama Rama di kursinya di saat ketiga temannya asyik berjoget seperti cacing kepanasan di lantai bawah.


" Han, gak mau turun ?" tanya Rama.


" Engga deh pak, eh, bli... aku ngerasa ciut gini, perasaanku gak enak banget " jawab Hanna.


Dari tadi dia merasa tidak enak duduk karena ada beberapa pasang mata pria bule yang menatapnya dengan tajam. Tatapan seolah ingin menerkam dan memangsa Hanna.


Rama yang menyadari hal itu langsung berinisiatif duduk di samping Hanna sangat dekat.


" Maaf ya, aku gak bakal macem - macem kok, aku cuma mau ngalihin perhatian mereka dari kamu " ucap Rama melirik para pria yang sedari tadi terus menatap Hanna.


Selang beberapa detik, Melly menghampiri Hanna dan sekali lagi mengajaknya berjoged di bawah.


" Ayo Han, seru tahu... sebentar aja yuk... " ajak Melly.


Dan akhirnya Hanna pun menerima ajakan Melly. Mereka berdua turun tanpa Rama, karena Rama hanya ingin duduk menikmati minuman miliknya di kursi.


Hanna pun mulai menggoyangkan tubuhnya, di kelilingi oleh Melly, Reni dan Teguh, mereka berjoged seperti cacing kepanasan di bawah kerlap kerlip lampu disko dan musik dj yang di bawakan oleh seorang dj terkenal asal Rusia malam itu.


Setelah merasa lelah, mereka kembali naik ke atas menghampiri Rama yang hanya duduk bermain gawai.


" Ih... bli, gak asik banget cuma duduk disini " ucap Melly.


" Hehe... aku gak bisa joged Mel, kaku banget nanti malah kelihatan aneh " ucap Rama.


" Duh... cape... istirahat dulu ya jangan dulu balik " ucap Reni.


" Gaess... boleh ya, gue pesen minuman, dikit aja, gak bakal mabora suer... " ucap teguh.


" Udah mulai kan... " ucap Melly menaruh curiga.


" Boleh ya, plisss... dikit aja... " Teguh merengek pada Melly.


" Han, gimana nih, gak beres nih temen lu... " ucap Melly.


" Pacar lu itu mah, yaudah biarin aja lah, asal jangan maksa gue ya Guh, awas lu... " sahut Hanna.


" Oke... asyikkk.... " Teguh pun mulai memesan sesuatu pada waitress yang lewat di depan meja mereka.


Tidak lama kemudian, datanglah satu botol berukuran besar minuman beralkohol.


" Guh, lu bilang mau dikit, tapi lu pesen botol gede, anjritt lu mah, bikin gue ngiler !!" ucap Reni.


Hanna mulai shock mendengar ucapan Reni.


Saat waitress sudah membuka penutup botolnya dan hendak menuangkan pada gelasnya, tiba - tiba Teguh mencegahnya dan menyuruh waitress itu pergi.


" Main truth or dare yuk... " ajak Teguh.


" Woah.. jebakan batman ini mah, gak ikutan gue Guh " ucap Hanna.


" Gak asik lu... " sahut Teguh.


" Gue ikut " ucap Melly.


" Gue juga " sahut Reni.


Kemudian mereka bertiga menatap Rama dengan tajam.


" Oke, aku ikut " jawab Rama.


Dan, akhirnya dengan berat hati, Hanna pun mengatakan kalau dia...


" Oke, aku tidak akan menolak lagi "


" Astagfirullah, berdosa gue, maafkan aku yang kurang beriman ini ya Alloh, aku akan bertobat setelah ini " gumam Hanna di dalam hatinya.


Rasa penasarannya ternyata lebih kuat di banding keimanannya hari ini. Terlalu banyak syaiton yang mengelilinginya, dia sampai tergoda oleh bujuk rayuannya.


Beberapa menit kemudian...


" Oke... aku udah minta botol kosong ini dari waitress, kita bakal main putar botol, dimana arah ujung botol ini berhenti, dia yang akan jadi target pertanyaan dari seseorang di antara kita, cukup satu pertanyaan aja, setuju ? " tanya Teguh.


Semua pun menyetujui nya.


" Dan, yang gak bisa jawab jujur berarti memilih dare, hukumannya minum setengah gelas aja cukup, jangan terlalu banyak, deal ?" tanya Teguh kembali.


" Oke, deal, aku bakal jawab jujur, jadi aku pasti gak bakal minum kali ini " Hanna terlalu percaya diri.


Dan, yang mendapat giliran pertama menerima pertanyaannya adalah Reni.


Dan Melly yang mengacungkan tangannya ingin bertanya pada Reni.


" Ren, truth or dare, lu pernah kencan sama pak Welli supervisornya si Ardi kan ?" tanya Melly begitu lantang.


" Hemh... truth deh, gue jawab jujur ya, iya gue pernah pacaran sama dia 6 bulan, puas loe " jawab Reni.


" Pantes aja cuti si Ardi gak di acc sama si pak Welli, nyatanya dia cemburu tau si Ardi bakal liburan bareng lu Ren " ucap Teguh.


" Udah ah, lanjut, cuma satu pertanyaan loh, jangan lebih " ucap Reni.


Dan, kali ini yang mendapat giliran adalah Teguh. Reni yang memberikan pertanyaan padanya.


" Guh, truth or dare, di hati loe sekarang cuma ada Melly, betul apa salah ?" tanya Reni menaruh rasa curiga.


" Gue milih dare... " Teguh pun menuang minuman setengah gelas dan meminumnya.


Melly terlihat kecewa, nyatanya selama ini dia tidak menerima perasaan Teguh padanya karena dia tahu bahwa Teguh masih sering pergi jalan dengan mantan pacarnya.


Dan, kini giliran Hanna yang mendapat pertanyaan.


Melly kembali melontarkan pertanyaan dari mulutnya.


" Han, truth or dare, gue penasaran banget soalnya nih, terserah mau jawab apa engga " ucap Melly.


" Apaan sih, buruan keles gak usah banyak cingcong " sahut Hanna.


" Emh... ciuman udah pasti pernah kan ya, nah pertanyaannya, kalau hubungan sex, pernah gak lu ?" tanya Melly.


Seketika suasana menjadi dingin dan hening di sekeliling mereka, terlihat dari sorot mata begitu berapi - api, mereka nampak begitu penasaran dan menatap Hanna dengan tajam.


" Gak pernah kak, aku masih perawan !" ucap Hanna.


" What... serius lo, gak percaya gue !" ucap Melly.


" Sumpah demi cintaku padanya, aku belum pernah kak, ahjussi sangat menghormati dan menghargaiku, makanya aku masih mau bertahan sama dia di saat aku bisa saja memilih pria yang lebih tampan dan masih muda dari dia " jawab Hanna.


" Ya Tuhan, kalo beneran begitu gue salut banget sama lu Han, terkejut gue, sumpah... " ucap Reni.


" Kalo mantan perawan mah gini nih ekspresinya pas tahu temennya masih ada yang perawan " sahut Melly.


" Diem lu... " Reni menjitak kepala Melly.


" Huft... selamet deh gue... " gumam Hanna.


Dan, selanjutnya yang mendapatkan giliran adalah Rama.


Melly dan Reni berebut ingin memberi pertanyaan pada Rama, namun karena tidak ada yang mau mengalah, akhirnya Rama memilih Teguh untuk bertanya padanya.


Reni dan Melly cemberut.


" Oke, pak eh maksudku bli, truth or dare, apa bener, pak eh bli Rama punya perasaan khusus dan spesial terhadap wanita di sampingmu, alias Hanna ?" tanya Teguh.


Deg... Hanna merasa terkejut mendengar pertanyaan Teguh. Namun ia juga penasaran akan apa jawaban Rama. Tapi sayang sekali, Rama memilih dare dan meneguk setengah gelas alkohol ke dalam kerongkongannya.


Namun, Melly dan Reni sudah bisa mengambil kesimpulan dari baliknya. Bahwa Rama memang menyukai Hanna, hanya saja dia malu dan gengsi mengakuinya.


Satu jam berlalu, kini mereka semua sudah dalam keadaan mabuk termasuk Hanna, karena beragam pertanyaan aneh yang membuat masing - masing tidak ingin menjawabnya dan lebih memilih mengambil tantangan meneguk alkohol ke dalam perut mereka.


Dari satu botol, naik menjadi dua, tiga hingga 4 botol sudah bertengger di atas meja mereka dan semuanya sudah kosong.


Hanna menunduk di atas meja, Rama bersandar di bahu Teguh, Reni tersungkur di sudut sofa, dan Melly tertidur dengan kepala berada di pangkuan Teguh.


Malam semakin larut, musik dj semakin membuat suasana menjadi lebih meriah kala pengunjung sudah nampak memadati area lantai 1.


Tiba - tiba, dua orang pria berbadan tinggi dan kekar berjalan menaiki tanggabdengan tergesa - gesa.


Salah seorang memakai setelan jas berwana krem dan seorang lagi memakai pakaian casual dengan celana jeans dan jaket denim yang terlihat ketat di bagian otot bisepnya.


Dua orang pria itu menghampiri meja Hanna. Pria yang memakai setelan jas itu duduk di samping Hanna dan mencoba membangunkannya, pria itu perlahan menarik tubuh Hanna yang masih tertunduk di atas meja.


" Hai... tampan, kamu siapa ? jangan sentuh aku, pacarku galak loh, pacarku preman, eh bukan, dia mafia, eh salah, dia gengster... hihi... takut kan, huss... pergi... " ucap Hanna. Dia mabuk berat sepertinya, dia meracau di depan kekasihnya sendiri. Hanna tidak mengenali Siwan sama sekali.


Ya, dua orang pria yang menghampiri Hanna dan teman - temannya adalah Siwan dan Aji.


" Ji, bereskan saja dulu biaya administrasi nya " ucap Siwan.


Aji menganggukkan kepalanya, lalu dia menyuruh seseorang yang sudah berdiri di belakang mereka sedari tadi untuk melakukan tagihan pembayaran meja mereka, Aji menyerahkan sebuah kartu padanya.


" Ji, hubungi Bram, suruh dia masuk kesini, kita kekurangan orang " ucap Siwan kembali.


Lalu Aji pun mencoba menelepon Bram dengan menutup sebelah kupingnya karena musik di sekitar lantai dua masih sangat terdengar keras.


" Hallo Bram, naik ke lantai 2 sekarang " ucap Aji lewat hpnya lalu langsung menutup sambungan teleponnya.


Siwan mencoba kembali merangkul pundak Hanna karena ingin memapahnya dan membawanya pergi dari tempat itu.


" Ish... jangan sentuh aku, aku masih suci, kamu jangan berani - beraninya ya, ahjussi... tolong aku... " teriak Hanna.


Siwan membungkam mulutnya dan langsung menggendong tubuh Hanna di punggungnya.


" Ji, aku turun duluan, kau bereskan teman - temannya " ucap Siwan. Lalu dia turun sambil menggendong tubuh Hanna dan harus ribet membawa tas Hanna juga di lehernya.


Dua orang wanita membantu memapah Reni dan Melly, Aji memapah Teguh, dan Bram memapah Rama.


Sesampainya di parkiran. Melly dan Reni di masukkan ke dalam mobil para perempuan yang menjadi orang suruhan Siwan.


Sedangkan Teguh dan Rama, di masukkan ke dalam mobil apivi milik kakak Teguh yang sebelumnya kunci mobilnya sudah Bram ambil dari saku celana Teguh.


Lalu Siwan dan Aji, mereka membawa Hanna ke dalam mobil Siwan entah kemana, karena arah mereka berbeda dengan arah mobil yang teman - teman Hanna kendarai. Keempat teman Hanna di bawa kembali ke villa.


Aji menyetir mobil Siwan.


Sedangkan Siwan dan Hanna duduk di kursi belakang.


Sepanjang perjalanan Hanna terus memeluk Siwan dan meracau.


" Hai, kau, kenapa bau tubuhmu seperti pacarku, wangi sekali, aku suka bau tubuhnya... " ucap Hanna, lalu kepalanya menelusuk ke dalam jas Siwan dan bersembunyi di dalamnya.


Siwan yang terlihat marah pun hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar.


Beberapa kali Aji melihat mereka lewat kaca spion atas di dalam mobil. Ia merasa khawatir Siwan tidak bisa mengendalikan amarahnya.


...***...


Beberapa hari yang lalu....


Siwan memerintahkan dua orang wanita untuk membuntuti Hanna dan teman - temannya.


Dua wanita itu merupakan seorang instruktur aerobik dan seorang security wanita di tempat fitness center milik Siwan yang bisa di percayai.


Saat Hanna dan teman - teman mereka sudah sampai di villa, terlihat jelas bahwa dua wanita itu yang bernama Dewi dan Aline sudah berada di dalam villa di samping villa yang Hanna dan temannya sewa.


Dewi selalu pergi membuntuti Hanna dan temannya dari jarak jauh dan melaporkan semuanya pada Siwan.


Termasuk melaporkan bahwa Hanna masuk ke dalam nightclub saat itu.


Saat Hanna dan temannya baru masuk ke dalam, Dewi langsung menelpon Siwan.


" Apa... klub malam... " pekik Siwan.


" Oke, ikuti terus mereka terutama Hanna, aku akan menyusulnya kesana " ucap Siwan.


Saat itu dia baru saja selesai meeting dengan kliennya dan baru sampai di kantornya kembali bersama Aji. Setelah mendengar laporan dari Dewi, Siwan langsung meluncur menyusul Hanna bersama Bram dan Aji.


Sepanjang perjalanan Siwan merasa khawatir, dia takut Hanna tergoda untuk mabuk kembali.


Dan, dugaan Siwan ternyata benar. Kekasih hatinya itu ternyata sudah seperti orang linglung saat dia sampai di lokasi klub malam itu.


...***...


Keesokan harinya...


Teman - teman Hanna baru terbangun dari tidur panjang mereka. Melly dan Reni bangun sambil memegang kepala mereka yang terasa pusing dan berat.


" Dimana si Hanna ?" tanya Melly.


" Di wc kayaknya " jawab Reni.


Dan, mereka pun memutuskan untuk keluar dari kamar.


Namun, saat mereka sudah berada di ruang tengah, Melly dan Reni terkejut, karena mendapati orang - orang yang tidak mereka kenali sedang duduk di atas sofa.


Dan, saat itu juga kebetulan Rama dan Teguh keluar dari kamar mereka dengan keadaan kusut, nampaknya mereka pun baru terbangun.


" Selamat pagi semuanya, hallo... silahkan duduk, ada yang ingin kami sampaikan " ucap Bram mewakili Dewi dan Aline.


Dengan ragu mereka berjalan perlahan dan terpatah - patah karena merasa takut melihat otot Bram yang kekar dan Bram yang berwajah sangar meskipun sudah menebar senyuman termanisnya.


Bisik - bisik mereka berempat menanyakan keberadaan Hanna.


" Silahkan duduk dulu, saya ingin menyampaikan pesan dari kak Siwan " ucap Bram.


Sontak keempat teman Hanna merasa terkejut ketika mendengar nama Siwan di sebutkan.


Tubuh mereka menjadi lemas, seketika keringat dingin bercucuran. Nyawa mereka seperti sedang melayang, mendadak merasa pusing seperti ada beberapa ekor burung tweety berputar - putar di atas kepala mereka.