My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Tes



Beberapa jam berlalu, kini Siwan dan Hanna sudah berada di dalam rumah Hanna. Mereka berdua sedang duduk berdua di sofa ruang tengah.


Austin berangkat ke rumah sakit setelah dari hotel, sedangkan Patricia, dia pulang ke apartemen nya.


Aji, dia sedang pergi ke markas, berdiskusi bersama beberapa rekannya, tentang sebuah misi baru dari Siwan.


" Chagiya, kau belum makan, aku tidak mau kau jatuh sakit. Kumohon, kau harus makan dulu ya." Ajak Siwan.


Hanna yang sedang melamun mulai tersadar saat Siwan menggeserkan tubuhnya yang sedang bersandar pada bahu Siwan.


" Ahjussi, aku tidak bisa menjaga kesucianku, orang lain merenggutnya, bukan dirimu, kau masih mau menerima ku yang menjijikan ini. Hiks... " Hanna kembali bersedih dan menangis di hadapan Siwan.


" Chagiya, kau salah paham, tidak begitu, kau masih seperti yang dulu, tidak ada yang menyentuhmu !!" Ucap Siwan.


Hanna menatap Siwan dengan wajah penuh air mata, dan bertanya, " maksudnya ?"


Lalu Siwan menjelaskan pada Hanna atas apa yang terjadi semalam, bahwa Satria belum sempat menyentuhnya, karena Aji dan Pat datang menciduknya saat hendak melakukan aksi bejadnya.


Siwan juga menceritakan bahwa Aji dan Austin sudah membuatnya babak belur dan hampir masuk ugd saat itu juga.


" Benarkah ?" tanya Hanna mengusap air mata di kedua pipinya.


" Bahkan si breng**k itu sendiri mengatakannya bahwa dia belum sempat menyentuhmu. " Ucap Siwan.


" Syukurlah... " ucap Hanna, baru bisa bernafas dengan lega.


" Kalau kau ingin lebih meyakinkannya, Austin sarankan kau datang saja ke rumah sakit, kau bisa memeriksa semuanya di sana. " Ucap Siwan.


" Apa aku harus melakukannya ?" tanya Hanna.


" Ya... untuk meyakinkan dirimu saja, supaya kau merasa tenang dan kembali ceria seperti sebelumnya. " Jawab Siwan.


Dan, satu jam kemudian, kini Hanna dan Siwan sudah berada di sebuah rumah sakit, tepatnya di rumah sakit tempat Austin bekerja.


Mereka sedang melakukan pemeriksaan terhadap Hanna, untuk lebih meyakinkan agar tidak terjadi sesuatu apapun yang membuat Hanna bersedih setelah kejadian semalam.


Dia di periksa dari ujung kepala sampai ujung kaki termasuk bagian organ intimnya. Mungkin bisa di bilang terlalu berlebihan, hanya saja dalam beberapa kasus, tes virgi**ty memang masih di lakukan sebagai barang bukti pada kasus pelecehan seksual atau pemerkosaan.


Dan, tentu saja bukan Austin yang melakukannya. Karena itu bukan bidangnya, Siwan sedang menanti bersama Austin di luar ruang obgyn saat itu.


Setelah dokter memeriksa nya, dia lalu memanggil Siwan dan Austin untuk masuk ke dalam menemui Hanna.


" Bagaimana dok ?" tanya Austin.


" Tidak apa - apa, semua masih baik - baik saja, masih utuh !!" ucap dokter tersebut menatap Hanna sambil tersenyum.


" Syukurlah... alhamdulillah !!" ucap Hanna lalu memeluk Siwan yang duduk di sampingnya.


" Terima kasih banyak ya dok !!" ucap Hanna.


" Sudah jelaskan sekarang, jadi... jangan bersedih lagi ya, gadis cengeng... !!" ucap Austin menggoda Hanna.


" Ih... awas ya... !!" sahut Hanna menatap Austin tajam.


...*******...


Kini, Hanna sedang berada di perjalanan pulang bersama Siwan seorang.


" Chagiya, bagaimana kalau kita makan dulu sekarang, memangnya kau tidak lapar ? kau belum makan sejak pagi tadi... bahkan semalam pun aku tidak tahu kau sudah makan atau belum. " Ucap Siwan.


" Baiklah ahjussi, ayo kita makan, kau juga pasti belum makan kan ?" tanya Hanna.


" Aku mana bisa makan saat melihatmu terus bersedih seperti tadi. Tersenyum lah, lupakanlah kejadian semalam. Aku, akan lebih menjagamu mulai saat ini." Ucap Siwan sambil masih fokus menyetir mobil, sesekali dia melirik pada kekasihnya yang sedang menatapnya dari arah samping.


" Ahjussi, bagaimana jadinya kalau sampai aku saat itu sudah ternodai olehnya, apa kau masih mau menerimaku ?" tanya Hanna secara tiba - tiba.


Dan, Siwan secepatnya menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia mematikan mesin mobilnya lalu menghadap Hanna di posisi duduknya.


" Aku sudah bilang, lupakanlah, tidak ada yang terjadi apapun padamu. " Ucap Siwan terlihat kesal.


" Kenapa kau jadi marah, aku kan hanya bertanya..." Hanna lalu membetulkan posisinya menghadap lurus ke depan dan mengerucutkan bibirnya dan kedua alisnya mengkerut saling bertemu.


" Maaf, maafkan aku, aku tidak marah, aku hanya tidak ingin kita membahasnya lagi... " ucap Siwan lalu menarik tangan Hanna dan menciumnya.


" Aku tahu, dan asal kau tahu saja, aku pun begitu ingin menghampiri orang itu dan menghajarnya habis - habisan sama seperti yang di lakukan Aji dan Austin kemarin. Namun, aku tidak mau melakukannya karena mu. Aku tidak ingin masuk penjara karena sudah membunuh seseorang. Aku masih ingin terus menjalani hariku bersamamu. Apa jadinya kalau aku sampai hilang kewarasan dan berbuat kriminal, apa kau masih mau menerima ku ?" tanya Siwan.


Hanna tidak menjawab pertanyaannya, dia hanya memeluk Siwan sangat erat kali itu, air mata masih keluar dan membasahi pipinya.


Siwan mengelus - elus rambut dan punggungnya seraya memberinya kekuatan.


" Mungkin jawaban pertanyaanmu tadi akan sama dengan jawaban pertanyaanku darimu. Jadi, ayo, kembalilah ceria, lupakanlah, pria psikopat itu tidak pantas membuat hidupmu menderita seperti ini. " Ucap Siwan.


Hanna pun mulai terbuka kembali pikirannya. Ia kemudian melepaskan pelukannya dan tersenyum di hadapan Siwan.


Beberapa menit berlalu, Siwan dan Hanna kini sudah berada di sebuah restoran, sedang menunggu pesanan makanan mereka.


" Ahjussi, apa kau sengaja datang tengah malam untuk memberiku kejutan ?" tanya Hanna.


" Tentu saja, aku bahkan sudah menyiapkan kado untukmu. " Jawab Siwan.


" Tapi, malah aku yang memberimu kejutan. " Hanna mengernyit sedih.


" Sudahlah " Siwan menarik kedua tangan Hanna lalu mencium kedua punggung tangannya.


Lalu, saat pesanan makanan mereka tiba di meja, Siwan melepaskan genggamannya.


" Ayo makan lah, kau sudah terlihat sangat lemas !!" ucap Siwan.


Selesai makan, mereka langsung pulang menuju rumah Hanna.


Kini, mereka sedang kembali berdua duduk di sofa sambil bergandengan tangan.


" Chagiya, boleh aku bertanya ?"


" Silahkan, bertanya itu gratis..." jawab Hanna.


" Kenapa tidak memberitahu ku tentang dia ? sejak kapan dia bergabung di tempat kerjamu ?"


Pasti Satria, arah pembicaraan mereka kali ini merujuk padanya.


" Untuk apa, ahjussi, dia tidak penting dalam hidupku, tidak perlu aku menceritakan padamu tentang dia, lagi pula, aku tidak pernah meladeninya. " Jawab Hanna.


" Apa kau belum sepenuhnya mempercayaiku ?" tanya Siwan.


" Kenapa kau jadi seperti ini, apa hubungannya dengan kepercayaan ?" Hanna terlihat kesal.


" Oke, maaf, pertanyaan ku mungkin membuatmu kesal. Aku hanya ingin menjadi tempatmu berbagi keluh kesah, apa saja, aku akan mendengarkannya, kita sering bertemu dan duduk bersama, tapi, kau tidak pernah mengeluh padaku, padahal aku tahu, sebetulnya kadang kau mengalami kesulitan." Siwan menghela nafas perlahan.


" Lalu, kau sendiri bagaimana ? apa kau pun pernah berterus terang tentang apa saja yang terjadi padamu, apa saja.... pernahkah ?" tanya Hanna lalu menjauh dari dekapan Siwan.


Siwan tidak menjawabnya, dia hanya menatap mata Hanna sangat dalam.


" Ahjussi, tidak selamanya kau berbagi kebahagian denganku, aku pun sama, kesedihanmu, aku mana pernah tahu, kau tidak pernah menceritakan nya padaku. Kenapa ? apa kau ingin terlihat sempurna di mataku ?" tanya Hanna memalingkan muka dari hadapan Siwan.


Sepersekian detik, suara bel berbunyi.


Siwan langsung berdiri dan mengintip keluar dari jendela, lalu membuka pintunya.


Ternyata Patricia bersama Austin datang berkunjung menemui Hanna.


Pat langsung menghampiri Hanna dan memeluknya.


" Sudah baikan sekarang kan ?" tanya Pat pada Hanna.


" Yap, aku sudah merasa lebih tenang Pat, terima kasih sudah mengkhawatirkan ku !!" ucap Hanna.


" Of course, kau temanku, aku tidak mau temanku bersedih terus menerus." Ucap Pat.


" Pat, bisakah kita mengobrol di dalam kamarku ?" tanya Hanna.


" Tentu. " Jawab Pat.


Lalu Hanna dan Pat berdiri dan pergi menuju kamar. Patricia sempat menoleh ke belakang memberi isyarat pada Austin dan Siwan, " ada apa ", namun Siwan dan Austin secara kompak memberi isyarat lewat ayunan tangan mereka " pergilah", begitu kurang lebihnya.