
Malam terasa begitu panjang, Hanna tidak bergerak sedikitpun di ranjangnya. Bahkan dia seperti tidak bernafas. Ia memandang lurus ke atas langit - langit kamarnya selama beberapa menit tanpa berkedip.
Hingga suara pesan masuk ke gawainya pun tak ia hiraukan.
Lama - kelamaan ia merasa pegal, lalu ia berkedip dan menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya kasar.
Hanna meniup keningnya lalu bergumam,
" Kenapa kau begitu datar, kau bahkan tidak merasa cemburu sama sekali saat aku menyebut namanya, apa aku tidak berarti apa - apa di hatimu "
Di sisi lain...
Beberapa jam yang lalu.
" Rayhan " ucap Siwan.
" Iya, aku harus memberikan sesuatu padanya, keluarganya menitip padaku " sahut Hanna.
" Kenapa bertemu di pantai ?" tanya Siwan.
" Dia sudah tidak kost di gedung kemuning, dia membuka sebuah toko alat selam di pantai xxx, dan tinggal di sana " jawab Hanna.
" Kenapa tidak suruh dia saja yang datang kemari !!" Siwan berkata sambil mengelus rambut kekasihnya.
" Aku ingin mengunjungi toko nya, aku belum memberinya ucapan selamat sejak dia pindah " Hanna mencoba memprovokasi Siwan.
" Baiklah, jam berapa kau akan pergi ? nanti Aji akan menjemput dan mengantarkan mu " Siwan tersenyum lalu menarik Hanna dan memeluknya.
Keputusan final, tidak bisa di ganggu gugat lagi. Dia harus pergi bersama Aji besok.
Hanna tidak melihat mimik muka Siwan yang berubah menjadi dingin saat mereka berpelukan.
Setelah obrolan tentang Rayhan, Siwan bertanya tentang kegiatan adiknya setelah pulang ke Bandung, lalu mengobrol tentang hal lainnya. Dari kamar, mereka pindah ke ruang tv, mengobrol di sana sambil menikmati oleh - oleh yang Hanna bawa dari Bandung. Hingga akhirnya Siwan pulang, mereka tidak melakukan suatu kegiatan yang berarti selain mengobrol.
Siwan seolah dapat menangkap sinyal yang di kirim oleh kekasihnya bahwa saat itu Hanna sedang merasa kesal dan tidak bersemangat, namun ia belum tahu apa penyebab yang membuat kekasihnya seperti itu.
Siwan pun pulang dengan persaan berkecamuk di dalam dadanya. Dia yakin, ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Hanna darinya.
Setelah mengantarkan kekasihnya pulang, Hanna lalu mencuci muka dan menggosok giginya di kamar mandi lalu masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya di atas ranjang, mencoba untuk tidur.
Keesokan harinya....
Pukul 08.00 wita, Aji sudah berada di halaman rumah Hanna dengan mengendarai mobil milik Siwan yang lainnya.
Ia beberapa kali membunyikan klakson, memberi isyarat pada Hanna agar segera keluar dari sarangnya.
Kini, Hanna sudah berada di samping Aji, terduduk di kursi depan dengan memangku satu kotak yang isinya entah apa, Aji tidak dapat menebaknya.
" Bli, kau sudah sarapan ?" tanya Hanna.
" Sudah, kita berangkat sekarang ya, perjalanannya cukup jauh " jawab Aji.
Mobil pun melaju di keramaian kota. Suasana di dalam terasa beku di tengah sorot sinar mentari yang menembus jendela mobil sepanjang perjalanan.
Tiada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing - masing. Hanya saja berkali - kali Aji sempat melirik Hanna yang nampak terlihat melamun menatap lurus ke depan.
" Kenapa dia ? apa semalam dia bertengkar dengan kak Wan ?" Aji mulai penasaran.
Aji menyerahkan satu botol air mineral pada Hanna.
" Ah, terima kasih, bli !!" ucap Hanna, lalu menerima botol dari Aji dan meminumnya.
Lalu, tiba - tiba Hanna bertanya pada Aji.
" Bli, apa kau tahu, kenapa Rayhan tidak memberitahu ku kalau dia sudah pindah sejak dua bulan yang lalu " ucap Hanna.
" Tidak tahu !!" jawab Aji.
" Aku juga sedang berpikir keras, kenapa dia jadi tidak pernah mengabari ku, sudah lama sekali, padahal kami tidak ada masalah, atau apa mungkin dia marah padaku !!" Hanna terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.
" Owh... jadi sedari tadi dia sedang memikirkan pria itu " Aji terlihat mengerutkan kedua alisnya.
Dan, satu jam kemudian, kini mereka sudah berada di sebuah pantai, mencari sebuah alamat di area pertokoan yang berjejer di sana, beberapa meter dari pantai.
Mobil pun berhenti saat mereka melihat sesosok pria yang mereka kenal berdiri di luar tokonya dan mengobrol dengan beberapa orang turis pria di halaman toko itu.
" Ah, sepertinya di sini bli, itu Rayhan " ucap Hanna dengan wajah berbinar.
Mesin mobil di matikan, Hanna dengan terburu - buru membuka seatbelt nya dan keluar dari mobil.
" A Rey... " teriak Hanna dari kejauhan.
Rayhan yang hendak masuk kembali ke dalam tokonya, menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang.
" Hanna... " ucap Rayhan, lalu setengah berlari menghampiri Hanna yang masih berdiri di samping mobil.
Saat mereka sudah saling mendekat, Hanna pun memeluk Rayhan dengan sangat erat. Aji sampai tertegun melihatnya. Matanya membelalak melihat kemesraan keduanya. Dia seperti sedang mengantarkan kekasih majikannya bertemu dengan selingkuhannya di luar.
Rayhan pun memeluk Hanna dengan penuh kerinduan, sejujurnya, Rayhan sangat merindukan dan merasa kehilangan Hanna selama ini.
" Kau jahat, tidak memberitahuku kabar gembira ini !!" ucap Hanna yang kini sudah melepaskan pelukannya.
" Maaf, aku hanya tidak mau mengganggu mu dan kehidupan mu !!" jawab Rayhan.
Hanna memukul Rayhan berkali - kali, " jahat, kau jahat, pergi meninggalkan adikmu begitu saja tanpa kabar " ucap Hanna, raut wajahnya nampak sedih.
Rayhan hanya tersenyum menatap kelakuan Hanna yang sangat menggemaskan lalu menghentikan aksinya dengan menarik lengan Hanna dan menggenggam nya.
" Ekhem... " dari belakang, Aji yang sudah tidak bisa membiarkan kemesraan keduanya berlanjut pun berjalan menghampiri mereka.
" Hai, apa kabar bli ?" tanya Rayhan sambil mengulurkan tanganya.
" Baik, baik... selamat ya atas pembukaan tokonya " ucap Aji.
" Terima kasih banyak, hanya toko kecil - kecilan " jawab Rayhan.
" Ini, aku baru pulang dari Bandung, ibu menitipkan ini untukmu, bahkan ibuku tidak pernah lupa padamu, bagaimana bisa kau melupakan ku dan meninggalkan ku sendiri di tengah kota " Hanna cemberut sambil menyerahkan sati kotak yang entah berisi apa yang sedari tadi ia bawa dari rumah.
" Terima kasih banyak, aku sangat senang mendengarnya, ayo masuk ke dalam, kita mengobrol di lantai dua daripada berdiri di sini " ajak Rayhan.
Namun Aji menolak, dia berkata akan menjemput Hanna saat mereka telah selesai mengobrol, dia akan menunggu nya di sekitar sana, ada tempat yang harus ia kunjungi karena ada temannya yang membuka sebuah toko juga di dekat sana.
" Baiklah, bli... nanti aku hubungi lagi ya, terima kasih sudah mengantarku !!" ucap Hanna.
Aji hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, kini Hanna sudah berada di lantai dua di atas toko milik Rayhan. Di lantai dua merupakan tempat tinggal Rayhan. Ruangannya nampak lebih luas di banding kamar kost yang pernah mereka tempati sebelumnya.
Semua barang nampak tersusun rapih pada tempatnya, tidak banyak benda seperti di tempat kost sebelumnya, hanya beberapa koleksi kaset konsol game yang bertambah di rak dekat tvnya.
" Lebih luas ya, apa a Rey tinggal sendiri di sini ?" tanya Hanna.
Rayhan yang sedang menyiapkan teh di dapurnya menoleh pada Hanna yang matanya berkeliling menyusuri setiap sudut ruangan.
" Aku tinggal sendiri, ada temanku yang tadi di bawah menjaga toko, dia tinggal di dekat sini juga, dia yang membantuku mengurus toko " jawab Rayhan.
" Apa aku tidak mengganggu mu, apa tidak apa temanmu sendirian di bawah ?" tanya Hanna.
" Tidak apa, biasanya saat weekend toko ramai, kalau weekday seperti ini tidak terlalu kerepotan, santai saja ya... " Rayhan menghampiri Hanna dengan membawa nampan minuman dari dapurnya dan mengeluarkan beberapa toples camilan juga cake dari dalam kulkasnya.
" Selamat ya a, akhirnya cita - citamu tercapai, modal hasil keringat sendiri pasti rasanya lebih membanggakan " ucap Hanna.
" Alhamdulillah Han, biarpun masih toko kecil - kecilan, tapi aku akan terus berusaha menjaga dan mengembangkan nya segenap jiwa ragaku " sahut Rayhan.
" Semoga laris manis ya, jualannya... " timpal Hanna.
Mereka duduk di atas selembar karpet di depan tv sambil menikmati teh hangat, berbincang - bincang penuh keakraban dan kehangatan. Rayhan menjelaskan alasannya tidak memberitahu Hanna dan tidak mengabarinya selama ini. Hanna terlihat begitu kesal mendengar nya. Ia bahkan terlihat cemberut untuk beberapa saat dan menutup telinganya, tidak mau mendengarkan penjelasan Rayhan yang baginya tidak berdasar.
" Kau kan selama ini menganggapku sebagai adikmu, apa kini sudah menganggapku orang asing ?" tanya Hanna dengan wajah masam.
" Tidak Hanna, maafkan aku, baiklah, aku janji tidak akan menyembunyikan apapun lagi darimu " ucap Rayhan sambil mengelus kepala Hanna.
" Janji ya... ?" Hanna mengacungkan kelingking nya pada Rayhan.
Rayhan pun melingkarkan kelingking nya juga pada Hanna.
" Aku hanya sedang mencoba melupakan perasaan ku padamu, dan akan menemuimu lagi saat aku sudah benar - benar menghapusmu dari hatiku, karena aku tahu, kini, bahkan namaku tidak terukir lagi di hatimu "
Rayhan tenggelam dalam pikirannya sendiri saat Hanna sedang panjang lebar menceritakan tentang kejadian demi kejadian yang menimpa hidupnya belakangan ini.
Hanna tidak pernah merasa canggung sedikitpun pada Rayhan, dia selalu mau berkeluh kesah padanya. Dan Rayhan begitu senang bisa mendengar ocehan demi ocehan Hanna lagi, canda tawa serta melihat senyuman yang terlukis di wajah wanita yang ia cintai selama ini.
Ia begitu terlambat menyadari perasaannya pada wanita di hadapannya ini, hatinya penuh penyesalan sempat melukai wanita yang di cintainya dulu, dan kini, ia sendiri yang merasa terluka atas perbuatan nya. Ini merupakan karma baginya.
Tanpa terasa, hari sudah semakin siang. Setelah selesai makan siang, Hanna pun memutuskan untuk kembali pulang dan berjanji akan kembali lagi saat dia sedang ada waktu senggang.
Hanna dan Aji yang sudah menunggu nya di parkiran berpamitan pada Rayhan.
Aji kembali terperangah saat Hanna lagi lagi memeluk Rayhan di hadapannya.
Di dalam perjalanan pulang, di dalam mobil.
" Kau, apa kau berani memeluknya saat di hadapan kak Wan ?" tanya Aji.
" Tentu saja, TIDAK !! tegas Hanna.
" Cih... apa kau tidak takut aku mengadu padamu atas perbuatanmu tadi !!" Aji nampak terlihat sinis.
" Kau bahkan tahu seperti apa perasaanku pada Rayhan kali ini, terserah kau saja " jawab Hanna terlihat kesal.
Aji tak menyahut lagi ucapan terakhir dari mulut Hanna.
" Kenapa jadi aku yang marah seperti ini "
Aji mencoba tetap fokus pada kemudinya.
Hanna terlihat sibuk memainkan hpnya, ia mengupload beberapa foto yang ia ambil bersama Rayhan tadi di depan toko, ke akun sosial medianya.
Dengan caption " Semoga sukses dan lancar ya, semoga selalu ramai pengunjung dan pembeli !! semangat terus yaa kakakku " lalu memberi lokasi di atas keterangan fotonya dan menandai akun Rayhan di atasnya fotonya.
Dari kejauhan, dua orang pria yang melihat postingannya berekspresi berbeda di wajahnya.
" Terima kasih sudah mau menemui ku dan menyemangatiku, aku sangat menyayangimu, Hanna !!" Rayhan.
" Apa kau senang ? apa dia masih sangat berarti untukmu ?" Siwan.
Kembali pada Aji dan Hanna.
" Lalu, bagaimana kemarin, apa kau sudah bertanya pada kak Wan tentang kecemasanmu ?" tanya Aji.
" Tidak, lebih baik aku merahasiakan nya saja, kalau kau bilang dia hanya rekan bisnisnya, aku akan percaya padamu, selama ini kau mana pernah membohongi ku, ya kan ?" ucap Hanna.
Namun bagi Aji terdengar seperti sedang menyindir. Dia tidak menjawab selama beberapa saat.
" Kenapa tidak menjawab, apa mungkin kau juga menyembunyikan sebuah fakta dariku ?" Hanna.
Sesampainya di depan rumah.
" Terima kasih banyak ya bli, sudah mau mengantarku !!" ucap Hanna sebelum turun dari mobil.
Aji hanya menganggukan kepalanya. Ia seakan malu untuk berkata - kata.
Hanna pun turun dari mobil dengan perasaan kesal. Ia tahu, Aji sedang menutupi sesuatu tentang Siwan kali ini. Ia sangat merasa kesal.
Baru beberapa langkah menjauh dari mobil, Aji membuka pintu mobil dan keluar.
" Hanna... " teriak Aji.
Hanna pun menoleh dengan penuh senyuman. Ia berharap Aji menyadari perbuatannya dan merasa menyesal, lalu menceritakan sesuatu yang menjadi ganjalan di hatinya sejak hari kemarin.
" Ada apa ?" tanya Hanna.
" Besok, kau kerja pagi kan ? apa kau mau mulai latihan karate lagi ?" tanya Aji.
Hanna menjadi lesu mendengar apa yang terlontar dari mulut Aji tidak sesuai harapannya.
" Oke... besok aku kesana pulang bekerja " jawab Hanna lalu kembali meneruskan perjalanannya masuk ke dalam rumah dengan wajah muram.
Untuk menghilangkan kesedihan nya, ia memutuskan akan pergi ke toko buku kali ini. Ia hanya mengganti pakaiannya dan merapihkan kembali sisa makeup nya yang hampir terkikis air wudhu.
Cukup lama Hanna mencoba menyalakan motornya di halaman. Namun, motornya tetap tidak mau menyala.
" Aduh... bagaimana ini, kenapa aku tidak menitipkan pada bli saja selama pergi ke Bandung kemarin ya, motorku jadi marah padaku " Hanna menggerutu sambil terus mencoba menyelah motornya.
Di perjalanan menuju ke rumah Siwan, Aji mendapat telepon dari seseorang. Ia memasang handsfree di telinga lalu menjawab teleponnya.
" Ji, Hanna sepertinya mau pergi, tapi motornya ngadat, gak nyala tuh dia lagi kesulitan "
" Kau coba pura - pura lewat rumahnya, bantu dia, berakting lah sebisamu " jawab Aji, lalu mematikan sambungan teleponnya.
" Mau kemana lagi sih dia " Aji membelokkan mobilnya, memutar arah kembali ke jalan menuju suatu tempat.
Saat sedang terus memeriksa motornya, tiba - tiba seorang pria bertubuh besar lewat di depan rumah Hanna.
" Kenapa motornya mbak ?" ucap pria itu mencoba mendekat perlahan pada Hanna.
Hanna yang sedang berjongkok seperti mengintip ke dalam ****** motor merasa terkejut. Entah apa yang dia lakukan saat itu, dia sendiri tidak begitu memahami kelakuannya yang aneh, mengintip ke dalam lewat belakang motor.
" Ah, ini bli, motorku gak mau menyala " jawab Hanna.
" Boleh saya periksa ?" tanya pria itu.
" Silahkan, maaf ya merepotkan !!" jawab Hanna.
Setelaj beberapa menit mencoba, motornya tetap tidak menyala.
" Dik, sepertinya motormu kehabisan bensin, lihatlah, tangkinya kosong " ucap pria itu.
" Apa, kosong ?" Hanna pun mencoba mengintip melalui lubang pengisian bensin.
" Betul kan ?" ucap pria itu.
" Hehe... iya, ternyata gara - gara tidak ada bensin nya " ucap Hanna, merasa malu.
" Mau ku bantu belikan bensin, rumahku dekat sini, aku bawa motorku dulu pergi ke pom bensin sekarang " ucap pria itu.
" Ah, tidak, tidak usah, aku sudah mau pergi, naik bis saja sepertinya, nanti aku sendiri saja yang mampir ke pom bensin " ucap Hanna.
" Benar nih, padahal tidak apa lho, saya lagi gak sibuk kok " ucap pria itu.
" Iya bli, tidak apa, aku lagi buru - buru soalnya " ucap Hanna.
" Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu yaa, mari dik... " ucap pria itu sambil merapatkan kedua tangannya memberi salam.
" Terima kasih banyak, bli" ucap Hanna kembali.
" Ya ampun, ini pasti kelakuan si Abdul sebelum pulang ke Bandung, dia pasti lupa isi bensin."
Hanna pun mendorong kembali motornya, masuk ke dalam garasi rumahnya.