
Malam hari nya, setelah selesai menghapus make upnya, mencuci muka, dan gosok gigi, tentunya di bantu oleh kekasihnya, Hanna bersiap - siap untuk tidur. Dia bahkan sudah minum obat.
Siwan pun sama, setelah mencuci muka lalu menggosok giginya, lalu ia bersiap untuk tidur di ranjang ke dua di bawah ranjang utama, dia menarik ranjang tersebut, merapihkannya lalu merebahkan dirinya di kasur.
" Ahjussi, aku ingin bertanya serius padamu. " Ucap Hanna, ragu - ragu.
" Ada apa ?" Siwan menyamping kan tubuhnya menghadap Hanna.
" Apa aku, maksudku, apa pacarmu hanya aku? tolong jawab jujur. Aku mengerti kalau kau memang punya wanita lain selain diriku. " Apa maksud pertanyaan ini, bahkan Hanna sendiri menyesali nya telah bertanya seperti itu. Sejujurnya dia takut akan jawaban Siwan, bagaimana kalau jawabannya tidak sesuai harapan. Bahkan dia belum ada persiapan mengatasi rasa sakit hatinya nanti.
" Apa kau sedang menguji ku, atau meragukanku ? " Siwan menatap Hanna dari bawah penuh curiga.
" Aku hanya ingin mengetahui kenyataan nya, mungkin saat ini aku hanya sedang bermimpi. Apapun jawabanmu, mungkin akan membuatku terbangun dari mimpi ini. " Ucap Hanna.
" Kau ingin aku menjawab pertanyaan mu dengan jujur ?" tanya Siwan.
" Tentu saja, jangan ada kebohongan di antara kita. "
" Memang nya, kalau seandainya aku memiliki wanita lain selain dirimu, kau mau bagaimana?" tanya Siwan dengan raut muka serius.
" A-aku, emh.. yasudah mau bagaimana lagi, mungkin aku yang akan mundur." Ucap Hanna, lalu membalik posisi tubuhnya membelakangi Siwan.
" Hei... kau kenapa?" tanya Siwan terbangun dan terduduk di atas ranjangnya.
" Sudahlah, tidur saja !! sudah malam. " Ucap Hanna terlihat sedih.
Lalu tiba - tiba, Siwan naik ke atas ranjang Hanna, dia merebahkan dirinya lalu memeluk kekasihnya itu dari belakang.
" Kenapa kau bertanya seperti itu, kalau itu akan membuatmu sedih. Lebih baik, teruslah berpikir positif dan jalani saja kehidupanmu sesuai alur ceritanya, jangan mengada - ada dengan pikiran negatif seperti itu, kalau kau sendiri yang akan terluka, padahal itu belum tentu sebuah fakta. Itu hanya imajinasimu saja mungkin. " Ucap Siwan perlahan lalu mencium kepala belakang kekasihnya itu.
" Aku hanya bertanya, mana ada seorang wanita yang ingin di selingkuhi atau di jadikan selingkuhan oleh pacarnya, mungkin wanita lain mau, tapi aku tidak. " Ucap Hanna dengan nada sedikit meninggi.
" Lihat aku, hei... tatap aku.. " Siwan menarik wajah kekasihnya itu dengan lembut.
" Aku, aku juga satu pemikiran denganmu, aku tidak mau di selingkuhi atau di jadikan selingkuhan, makanya, aku tidak akan melakukan nya, karena, bagiku karma itu real, nyata. Lagi pula, usiaku bukan lagi usia yang patut melakukan hal itu." Tegas Siwan.
" Serius.. ?" tanya Hanna.
" Lebih dari itu. Aku sudah lelah jikalau harus bermain - main terus dengan perasaan atau mempermainkan perasaan. Aku ingin hidup normal, dicintai dan mencintai, di sayangi dan menyayangi, tanpa ada paksaan maupun pihak ketiga. " Ucap Siwan membuat Hanna tersenyum. Tapi tidak lama kemudian, raut wajah Hanna berubah kecut kembali.
" Aku hanya bertanya, itu saja. Sangat wajar sih, bagi pria sepertimu memiliki banyak wanita, kau single walau statusmu duda, kau kaya, setahu ku, lalu wajahmu juga tidak jelek, bahkan tadi teman kerjaku ada yang memuji mu. Kau juga dewasa entah itu karena faktor usia atau memang sifatmu yang sangat tenang. Wanita pasti akan mudah jatuh cinta padamu, sedikit saja kau beri mereka harapan, wanita akan terus memikirkan dan mencari tahu semua tentangmu, dari mulai A - Z, mereka pasti mengorek - ngorek kehidupanmu, menjadi stalker yang handal dan tanpa jejak. "
" Apa kau seperti itu ?" tanya Siwan.
" Tentu saja tidak. Aku, padamu ? Hah.. aku bukan tipe wanita seperti itu ya, maaf. Kau bukan bias ku. Kau nyata bagiku, aku hanya mengorek kehidupan aktor dan idol pria yang aku sukai di dunia maya. Semuanya bahkan sudah tertulis di berbagai artikel berita. Kita tinggal searching saja semua di gugle. "
" Wah, ternyata aku di kalahkan oleh bias - biasmu. Aku jadi sedih mendengar nya. "
" Ahjussi, kau nyata bagiku, aku tidak menemukan informasi apapun tentangmu di gugle, aku mengenalmu di kehidupanku, memahami mu secara langsung, dan bersama denganmu di dekatku, kau melebihi bias - biasku yang hanya berada di dunia maya, aku tidak bisa menggapai mereka. Kau, berbeda dengan mereka, posisimu lebih berharga di kehidupanku, di bandingkan mereka. "
" Aku sangat merasa tersanjung. Aku mencintaimu, dan kau menerimanya, itu sudah cukup bagiku. Aku tidak perlu menerima atau memberi cintaku pada wanita lainnya lagi. Aku tidak mau jadi pria serakah akan cinta." Siwan berhasil meluluhkan hati kekasihnya hingga membuat dia mendapatkan ciuman bertubi - tubi di pipinya.
" Saranghaeyo, ahjussi !! "
Siwan menjawabnya bukan dengan kata - kata, tapi, dengan mendaratkan ciuman di bibir kekasihnya itu. Selama beberapa detik mereka berciuman, lalu berhenti saat hp Hanna bergetar di atas meja.
My mom...
Teh, tos bobo? bahasa sunda
( Teh, udah tidur)
20.30 Wita
Hanna pun buru - buru membalasnya,
Teu acan, mah. Aya naon? bahasa sunda
( Belum, mah. Ada apa?)
20.31 Wita
Mamah hoyong nelepon weh. Bahasa sunda
( Mamah mau nelpon aja)
20.32
Lalu tidak lama kemudian ibu Hanna menelpon. Lalu mereka berdua berbicara dengan bahasa sunda seperti biasanya. Siwan yang masih di samping nya tidak memahami apa arti obrolan mereka. Dia hanya mencium kening kekasihnya itu, lalu turun ke ranjang bawah merebahkan kembali tubuhnya disana. Dia memberi waktu kekasihnya itu untuk bercengkerama dengan ibunya walau hanya lewat obrolan telepon.
Tapi, ibunya menelpon tidak lama, hanya lima menit, Hanna sudah mengakhiri sambungan telepon dengan ibunya.
" Ada apa ?" tanya Siwan.
" Itu, ibu cuma tanya soal Rayhan, katanya dia tadi pas maghrib mau ke rumah saudara ku, ketemu sama ibunya Rey, terus bilang kalau Rey sudah pulang tadi sore jam setengah 6 baru sampai. Terus ibuku nanya, bener apa tidak, soalnya takutnya cuma membual, intinya sih begitu. " Tukas Hanna.
" Owh... begitu. " Ucap Siwan singkat.
" Ibuku sebenarnya melarangku untuk menyukai Rey, ibuku sebenarnya tidak masalah dengan Rey pribadi, tapi dia tidak suka dengan sifat orangtua Rey. Ibu bilang orangtuanya itu sombong, hanya karena mereka juragan kontrakan di kampungku, seenaknya saja memandang rendah aku, makanya ibuku kesal."
" Memangnya sikap orangtua Rayhan terhadapmu bagaimana ?"
" Sebetulnya sih, bila di pikirkan dan di masukkan ke dalam hati sih, semua omongannya kadang membuatku merasa sakit hati, seolah - olah dia menegaskan bahwa aku bukan wanita yang tepat untuk anaknya. Dia bilang kalau Rayhan belum boleh menikah sebelum dia sukses. Calon wanita nya harus berhijab dan blablabla... Aku mendengar nya sendiri loh." Tegas Hanna.
" Kau memangnya sering bermain di rumahnya ?" tanya Siwan.
" Tidak, kadang - kadang sih dulu, itu juga aku main sama adiknya Rey, juga ada sahabatku Kezia, dia saudara nya Rey, jadi setiap aku sedang berkumpul bersama sahabatku di rumah Kezia, karena rumah nya dekat dengan Rey, kadang ibunya datang ikut mengobrol denganku dan yang lainnya. Omongannya memang sangat pedas menurut beberapa orang, tetangga dekatnya pun kadang suka menggunjingkannya. Dia memang selalu membanggakan anak - anaknya, dia sangat berharap semua anaknya sukses makanya dia bangga bisa membiayai kuliah anaknya, semuanya. Haha... " Hanna tertawa.
" Kenapa kau tertawa, bukannya itu cerita sedih ?" tanya Siwan.
" Menurutku lucu aja, sih, aku bisa menceritakan semua ini sekarang tanpa ada rasa dendam sama sekali, padahal dulu aku bertekad menaklukkan anaknya dan membuatnya tergila - gila padaku. Ah sudahlah, ayo kita tidur, sudah malam. " Hanna mengalihkan pembicaraan nya.
" Baiklah, ayo tidur. Jangan memikirkan orang lain saat di dekatku !!" Ucap Siwan.
" Aku tidak memikirkan nya, ahjussi, aku hanya menceritakan sedikit saja. Anggap saja ini dongeng sebelum tidur. " Tegas Hanna.
Tidak lama kemudian, masing - masing dari mereka sudah memejamkan mata dan tertidur setelah sebelumnya sempat menguap berkali - kali.