
Saat sedang tertidur siang, sekitar pukul 14.30 Wib, terdengar suara hp seseorang berbunyi. Dan ternyata itu suara ringtone panggilan telepon masuk ke hp Hanna.
Hanna pun buru - buru mengangkat teleponnya saat dia melihat di layar kaca bahwa yang menelponnya adalah Siwan.
" Hallo..." Ucap Hanna.
" Hallo, kamu dimana?" tanya Siwan di sebrang sana.
" Aku, emh... aku di Bandung, di rumahku. " Ucap Hanna terlihat ragu.
" Dari kapan?" tanya Siwan.
" Tadi malam. " Jawab Hanna.
" Baiklah, selamat berkumpul dengan keluargamu." Lalu terdengar bunyi klik, Siwan menutup teleponnya.
Dari belakang, Yasmin terbangun dan terduduk menyentuh pundak Hanna.
" Siapa? pacarmu?" tanya Yasmin.
Hanna hanya menganggukan kepalanya seakan tidak percaya Siwan menelponnya hanya sebentar dan langsung menutup telponnya begitu saja.
Hanna menceritakan isi percakapan singkatnya bersama Siwan barusan pada Yasmin.
" Sabar, yang penting sekarang dia udah tahu kamu lagi di Bandung. " Yasmin mengusap punggung Hanna, memberi semangat supaya jangan bersedih terus.
Saat hari menjelang sore, Yasmin dan Karina pamit pulang. Dan kini, Hanna merasa kesepian kembali di kamarnya. Tapi, untungnya ada adiknya dan beberapa orang temannya yang sedang bermain ps di rumah sepulang sekolah.
Hanna merecoki mereka dengan ikut bermain ps bersama. Beberapa teman adiknya bertanya padanya,
" Teh, di Bali banyak bule ya?" tanya Riki.
" Wuah, banyak Ki, cantik dan sexy... " jawab Hanna tersenyum usil sambil masih fokus melihat ke layar tv.
" Ish... aku mau kesana ah.. aku mau main surfing di pantai, siapa tahu, ada cewe bule yang tertarik dan mau ku ajak pulang ke Bandung. " Ucap Riki.
" Dih.. apaan sih, lu, emang bisa maen surfing, renang di kedalaman dua meter aja lu mah masih gelagapan. " Timpal Budi, masih teman adiknya Hanna.
Hahahaha... semua orang yang mendengarnya tertawa.
" Masih kecil pikirannya cewe mulu, nih yah, aku kasih tahu, mending kalian fokus lanjut sekolah atau ngejar karier, jangan mau nikah di usia muda, kalian tuh cowo, tanggungannya nanti anak istri, dan ibu kalian sendiri. " Ucap Hanna berusaha menasihati adik - adiknya.
" Tuh si Abdul teh, adikmu sendiri yang harusnya di kasih nasihat macam begitu. Pacarnya di setiap kampung ada, di sekolah malah di tiap kelas juga ada. " Ucap Riki.
" Dih, enak aja lu, kagak teh, gak usah di denger, menjatuhkan harkat martabat dan derajat dia mah. " Ucap Abdul menyangkalnya.
" Gapapa juga sih sebenarnya, asal bisa jaga diri. Berarti, si Dul laku karena tampan kan, rata - rata cewe liat cowo pas SMA pasti karena satu, tampan, dua, pinter, tiga, kaya, empat, terkenal, lima, jago basket, emh.. apa lagi ya.. " Ucap Hanna.
" Enam, karena punya semua, dari satu sampai lima, aku punya semuanya teh, eh.. kecuali yang kaya, aku belum kaya, tapi bakal kaya. Betul gak ?" tanya Abdul percaya diri.
" Aamiin. " Ucap Hanna.
" Ih... najis kau Abdul. Ngaca sono lu.. " Sahut Budi.
Hahahaha.... yang lain tertawa mendengarnya.
Tidak terasa, waktu sudah hampir memasuki maghrib, teman - teman adik Hanna pamit untuk pulang. Lalu semua orang di rumah sudah bersiap - siap mengambil wudhu hendak sholat maghrib berjamaah dengan ayahnya yang baru pulang dari pasar sebagai imam sholatnya.
Selesai sholat berjamaah, mereka kembali makan malam bersama, dan saat sedang fokus makan, tiba - tiba, ayah bertanya pada Hanna yang membuatnya kaget dan hampir tersedak.
" Ish.. ini minum. " Abdul menyodorkan segelas air teh hangat pada Hanna.
" Bapak sih, nanti atuh pak, nanya nya kalau udah beres makan !!" ucap ibu.
Jantung Hanna terus berdegup kencang saat ayahnya menanyakan satu hal itu padanya.
" Sudah punya calon mantu buat bapak belum ?" tanya ayahnya tadi, yang terus terngiang - ngiang di telinga Hanna dan membuat Hanna jadi merasa deg - degan. Dia takut ayahnya akan mengulangi kembali pertanyaan itu padanya.
Dan benar saja, setelah selesai makan dan membereskan semuanya, ayahnya mengajak Hanna duduk berdua dan mengobrol di kursi ruang tamu.
" Gimana teh, pertanyaan bapak tadi, udah punya belum ?" tanya ayahnya Hanna.
" Yah... kirain lupa, hehe.. " ucap Hanna.
" Kalau calon mantu buat bapak, teteh belum ada. Hihi... " Hanna kembali cengar cengir usil.
" Lalu... " ayahnya Hanna seperti sudah mencium bau kebohongan dari jawaban Hanna.
" Apa sih, pak, teteh masih mau kerja, belum siap nikah dalam waktu dekat ini. " Ucap Hanna menegaskan.
" Yasudah kalau memang belum siap, lalu, ada target gak, kapan gitu, berapa tahun lagi ?" tanya ayahnya mencoba memastikan.
" Dih.. si bapak ini, kesannya maksa. " Ucap ibu yang mendengar obrolan ayah dan anak dari ruang tv. Karena jarak yang sangat dekat hanya di pisahkan oleh lemari pajangan.
" Tuh, betul kata mamah, kesannya maksa. " Ucap Hanna.
" Hah.. beneran gitu mah?" Hanna bertanya pada ibunya lewat celah lemari.
" Hahahaha..." ibunya hanya tertawa.
" Jangan nanya sama si mamah, yaudah pasti lah si mamah tahu. Cuma gak mau bahas aja takut teteh marah. " Ucap ayahnya.
" Nanti ya pak, teteh kalau udah beres kontrak, pulang ke Bandung, ada atau gak ada calon, teteh mau tinggal di Bandung lagi. " Hanna mencoba meyakinkan ayahnya.
" Oke, kalau gitu bapak mau nabung dari sekarang buat biaya pernikahan." Ucap Bapak penuh semangat.
" Pak, bukannya lagi nabung buat kuliah si Dul ?" tanya Hanna.
" Ya beda lagi lah, anak bapak kan ada dua, jadi tabungannya harus dua."
" Owh.... gitu toh, emh.. pak, boleh pinjem gak, buat beli motor. Hehe... " Hanna mencoba menggoda ayahnya.
" Mau beli motor apa, terus berapa?" tanya ayahnya terlihat serius.
" Wah.. serius pak ? beneran mau kasih pinjaman ?" tanya Hanna terlihat tidak percaya.
" Kasih aja, pak. Kasihan daripada harus bolak balik naik bus disana." Ibu menyela obrolan mereka.
" Iya makanya mau beli motor apa, nanti bapak transfer uangnya. " Ucap bapak.
" Asyikkk..... beneran ya pak, nanti teteh cari info dulu kalau udah ada di Bali lagi. Makasih ya pak !!" Hanna terlihat kegirangan.
" Ya sudah, jangan lupa sholat isya, bapak mau ke warung dulu. " Ucap ayahnya, dan baru beberapa langkah, ayahnya berbalik dan mengatakan lagi sesuatu pada Hanna.
" Teh, jangan lupa tengok abahmu dan kakekmu, mumpung lagi di Bandung. "
" Oke, siyap pak, Insyaalloh besok sama ibu. Pinjam motornya ya !!"
" Oke, besok bapak ke pasar naik pickup aja." Setelah itu ayahnya pergi meninggalkan anak gadisnya sendirian di ruang tamu.
Tidak lama kemudian, Hanna menghampiri ibunya yang sedang menonton acara komedi di tv. Dia jadi teringat kembali akan kekasihnya yang juga suka menonton acara tersebut.
" Mah, bener udah ada biaya buat kuliah si Dul nanti ?" Hanna lalu duduk setelah mengambil toples camilan berisi opak galendrong khas daerahnya.
" Iya benar, tenang aja teh. Alhamdulillah, si bapak dapat uang dari kakek hasil jual tanah. Hihi.. " Ucap Ibunya sambil cengar cengir menonton acara komedi.
" Wah, dapatnya berapa nih, pasti gede kan? tanya Hanna.
" Alhamdulillah, lumayan, ada buat biaya daftar sekolah adikmu, sebagian di modalin beli lapak di pasar." Ucap ibu.
" Alhamdulillah kalau gitu. Mudah - mudahan si Dul kuliahnya serius dan sukses nantinya. " Ucap Hanna.
" Aamiin. " Ucapan ibunya di sertai dengan ucapaan aamiin oleh adiknya yang tiba - tiba keluar kamar dan duduk di samping kakaknya.
" Dih, ngapain kau, sana belajar yang rajin. " Ucap Hanna mencubit adiknya.
" Ih... cape atuh belajar mulu, ngebul nih otak. " Ucap adiknya menghindari Hanna takut di cubit lagi.
" Eh Dul, udah ada bayangan mau masuk ke kampus mana nih ?" tanya Hanna.
" Udah dong, aaaakuuuu maaauuuuu jadi tentaraaaaaaaaaaaa..... " Abdul berbicara dengan riang gembira tanpa beban.
" Hah... serius ?????" tanya Hanna pada adiknya.
" Yes, of course, no debat !!!" ucap Abdul.
" Mah, di izinkan si bapak gak?" tanya Hanna.
" Si bapak mah pasti ngedukung lah." Ucap ibunya terdengar pasrah.
" Bukannya cita - cita lu mau jadi atlet, kok jadi berubah ke tentara sih, Dul." Ucap Hanna.
" Yap, tapi passion seseorang kan bisa berubah seiring waktu, tapi tenang, kali ini udah one hundred percent, gak bakal berubah lagi. " Ucap Abdul percaya diri.
" Serah engkau saja lah ucok !!" ucap Hanna dengan nada orang batak.
" Teh, kamu gak ada niatan buat kuliah ? kan bisa sambil kerja, ada kelas karyawan, zaman sekarang kan banyak. " tanya Abdul.
" Udah males mikir lagi dah eikeu, mending eikeu mah fokus nyari duit aja lah udah, gak ada semangat lagi buat sekolah formal gitu. Mending eikeu fokus memperdalam ilmu masak memasak aja dah, lumayan buat bekel ntar kalo udah rumah tangga. " Ucap Hanna.
" Ish... kasihan ibu Kartini, sedih pasti mendengar omonganmu ini teh... ish.. ish.. ish... " Abdul menggelengkan kepala nya.
" Heh, emang kenapa kalau cewe gak kuliah ? mamah juga gak kuliah yang penting bisa ngurus kalian sampai kalian segede gini." Ibu terdengar sewot.
" Selow.. mah.. selow.. gak usah emosi gitu dong. Aduh.. pusing aku, wanita memang selalu benar, hanya pria yang penuh salah dan dosa. Udah ah.. aku mau bobo ganteng ajah ah.. " Abdul beranjak dari kursi dan pergi menuju kamarnya kembali.
" Heh... jangan lupa sholat isya. " Teriak ibunya Hanna.
Begitu pula dengan Hanna, dia bergegas ke kamar mandi bersiap membersihkan dirinya lalu berwudhu hendak sholat isya sebelum tidur.