
Beberapa menit berlalu, setelah kejadian yang membuat bulu kuduk Hanna berdiri, kini di ruangan kamar inap Hanna bertambah anggota selain Hanna dan Siwan.
" Kalian kenapa ? tumben sekali hanya saling terdiam dan melamun seperti itu. " Ucap Austin yang baru datang ke dalam ruang kamar inap Hanna.
" Kau, kenapa baru datang ?" tanya Siwan.
" Aku kan juga harus bekerja." Austin menghampiri Hanna yang masih duduk terdiam dan melamun di atas ranjangnya.
Dan, tidak lama, Hanna langsung tersadar bahwa Austin sedang menatapnya selain Siwan.
" Ada apa dengan wajahmu, apa kau kelaparan?" tanya Austin.
" Memangnya kenapa dengan wajahku ?" tanya Hanna.
" Ah, sudahlah, lebih baik kau bersiap - siap saja, sebentar lagi makananmu akan segera di antarkan kemari. Pas sekali bukan, kau sedang lapar kan?" tanya Austin.
Padahal, sebelum Austin datang, Siwan sudah menawarkan berbagai macam makanan, Siwan akan memesannya lewat telepon dan minta di antarkan ke rumah sakit, tapi Hanna menolaknya, sepertinya selera makannya jadi hilang gara - gara kejadian tadi.
Tidak lama kemudian, memang benar datang seorang petugas rumah sakit membawa jatah makan untuk Hanna.
Siwan membantu menyiapkan dan merapihkan nampan dan makanannya di atas ranjang, lalu bersiap untuk menyuapi Hanna.
" Ayo, makan dulu, jangan terlalu di pikirkan, nanti kau jadi stress dan kondisimu jadi drop, pasti akan lebih lama tinggal di sini. " Ucap Siwan.
" Ah, iya, maafkan aku, hanya saja, emh... aku... " Ucap Hanna tanpa menyelesaikannya.
" Sudah, sini, buka mulutmu, aaaaa.. " Siwan menyuapi Hanna.
Austin yang mencium ada gelagat aneh pun bertanya pada Siwan, dia bertanya dengan suara pelan dan berbisik pada Siwan. Mereka berdua mengobrol tanpa memperdulikan Hanna yang sedang makan sambil memegang hpnya seperti sedang berkirim pesan dengan seseorang.
Lalu Siwan menceritakan kejadian apa yang baru Hanna alami tadi pada Austin, karena dia sangat cerewet, ingin tahu alasan apa yang membuat Hanna bertingkah aneh seperti itu.
" Oh... aku paham. Tunggu sebentar ya, kak. Aku akan mencari info dulu dari temanku. Dan pastikan, pacarmu jangan sampai melamun, ajak dia mengobrol dan alihkan perhatiannya terhadap sesuatu hal yang menarik baginya." Lalu Austin pergi dari ruangan tersebut.
Siwan tetap menyuapi kekasihnya itu, sambil mencoba mengikuti saran Austin.
" Ahjussi, apa kau takut aku kesurupan gara - gara kejadian tadi ?" tanya Hanna secara tiba - tiba.
" Maksudmu, apa?" tanya Siwan pura - pura tidak mengerti.
" Kau kira aku tidak mendengar obrolanmu dengan kak Os, aku masih bisa mendengar nya tahu, meskipun aku sedang fokus membalas chat masuk. "
" Ah, maafkan aku, hanya saja aku khawatir kau terus memikirkan kejadian tadi. " Siwan mengusap kepala kekasihnya.
Tidak lama kemudian, Austin masuk kembali ke dalam ruangan. Dia berjalan mendekati Hanna ke arah ranjang sebelah kirinya.
" Han, apa kau percaya adanya mahluk lain selain manusia ?" tanya Austin mendadak.
" Tentu saja, agamaku dengan rinci menjelaskan tentang mahluk yang hidup di muka bumi ini, termasuk mahluk ghaib. " Hanna berkata dengan tegas.
" Baiklah, bagus kalau begitu. Kau tenang saja, kejadian tadi yang menimpamu itu, bukan apa - apa, di rumah sakit manapun, kejadian seperti itu sering terjadi, mungkin karena kita sendiri yang lalai. Mencoba berfikir positif saja, ok !!" Ucap Austin.
" Sudahlah, aku tahu, mahluk seperti apa yang menemuiku tadi, hanya saja aku sangat kaget karena ini pengalaman pertamaku, berhadapan dari dekat, aku belum bisa mengendalikan emosiku setelahnya." Hanna menghentikan makannya, merasa sudah tidak berselera.
" Kenapa kau bicarakan hal itu lagi, Os ?" tanya Siwan.
" Dih.. sombongnya, pak dokter." Hanna tersenyu lebar.
" Mau tahu faktanya ?" Ucap Austin.
" Apa sih, bikin penasaran aja." Ucap Hanna.
Austin menghela nafas panjang dan mencoba berfikir sejenak.
" Emh.... suster Susi, meninggal tadi sore, dia kecelakaan mobil beruntun di jalan dekat pasar xxx. Dia sedang berbelanja keperluan pernikahannya katanya. Tadi Andien dapat kabar dari saudaranya, dia tidak tertolong, dan sempat di larikan ke rumah sakit ini" ucapan Austin seketika membuat Hanna merinding kembali.
" Innalillahi wainna ilaihi rajiun. " Hanna berkata dengan menutup mulutnya.
" Benarkah itu, Os ?" tanya Siwan.
" Seratus persen fakta. " Ucap Austin.
" Ya Alloh, aku merinding sekarang." Ucap Hanna.
" Hei.. kau banyak berdoa lah sesuai keyakinanmu, jangan biarkan hal itu menguasai pikiranmu, ini ( menunjuk kepalanya ) harus tetap waras agar tidak terjadi hal yang buruk padamu. " Austin memberi saran pada Hanna.
" Aduh.... mana aku belum sempat mandi besar, belum mensucikan diriku ini.. haduh... " Hanna berbisik, terdengar frustasi di atas ketakutannya.
" Apa ? kau, memangnya habis melakukan apa dengan nya?" Austin melirik Siwan. Ternyata Austin masih bisa mendengar ucapannya.
" Ih.... bukan begitu, aku baru "selesai haid, aku belum sempat mensucikan diriku, hari itu aku bangun kesiangan sampai tidak sempat berkeramas, lalu aku tertabrak motor dan sampai saat ini belum bisa mandi. Kau jangan berpikiran macam - macam yaa.. " Hanna terlihat melotot pada Austin.
" Hei... tenang, tenanglah.. aku hanya bercanda. Hahaha.. " Austin tertawa.
" Tenanglah, ada aku disini, tidak akan pergi meninggalkan mu lagi, kau tenang lah ya, jangan takut. " Ucap Siwan sambil mengusap pundak Hanna.
" Kenapa kau harus menceritakannya sekarang sih, kak Os. Kau kan bisa menceritakannya kalau aku sudah keluar dari rumah sakit ini." Ucap Hanna terlihat kesal.
" Kenapa? Kau benar - benar ketakutan ?" tanya Austin menggoda.
" Sudah lah, tidak usah di bahas. Dari awal sebetulnya ini lah hal yang membuatku tidak nyaman berada di rumah sakit apalagi kalau harus menginap. Ahjussi, aku ingin pulang secepatnya dari sini.... " Hanna berkata dengan nada manja pada kekasihnya itu.
" Iya, sabarlah, besok kita coba bicara lagi pada dokter, ya... " Ucap Siwan menenangkan Hanna.
"Hahahaha... " Austin makin tertawa terbahak - bahak tanpa memperdulikan tatapan sinis Hanna.
" Kak, aku lapar, apa kau tidak lapar?" tanya Austin pada Siwan.
" Kau pesan saja layanan antar, kita makan disini saja. Emh.. Chagiya, kau mau titip apa?" Siwan menatap Hanna.
" Aku, mau buah jeruk yang ada di kulkas saja, aku mau makan yang segar - segar saat ini, agar pikiranku juga menjadi lebih fresh. " Ucap Hanna.
" Baiklah, aku ambilkan dulu. " Siwan beranjak menuju kulkas yang tidak jauh dari posisi ranjang Hanna, lalu dia memilih beberapa buah jeruk yang di bawa oleh Satria tadi pagi.
Lalu Austin berpindah posisi, menuju sofa dan terlihat sedang memesan makanan lewat hpnya.
" Bagaimana ini, apa makanannya mau di habiskan dahulu ? tinggal sedikit lagi." tanya Siwan.
" Tidak ahjussi, aku jadi tidak selera lagi. Aku mau makan jeruknya saja. " Ucap Hanna. Lalu Siwan pun membuka kulit jeruknya dan memberikannya pada kekasihnya itu.