My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Bertemu kembali



" Kalian sedang apa ?"


Suara bass milik Abdul, adik Hanna memecah suasana romantis antara Hanna dan Aji siang itu.


Tangan mereka yang semula saling menggenggam pun terlepas secara paksa.


Aji nampaknya baru menyadari bahwa dia sejak tadi menggenggam tangan Hanna. Karena keasikan dengan pikirannya sendiri, ia lupa melepaskan kembali tangan Hanna yang ia cekal karena terus memukul dada bidang miliknya tadi.


Suasana canggung kini menerpa mereka, terlebih lagi kala Abdul semakin mendekat pada keduanya.


" Kalian lagi berjemur ?" tanya Abdul, dengan nada menyindir.


" Dih... apaan sih, udah ah, aku mau ke panti dulu " ucap Hanna, lalu meninggalkan Aji dan Abdul.


Keduanya menatap punggung Hanna yang semakin menjauh dari pandangan mereka.


Dan, sepersekian detik, Abdul mulai menangkap sesuatu dari cara Aji memandang Hanna meski dari kejauhan.


" Bli... kalau kau memang menyukainya, kau harus mau berkorban untuknya " ucap Abdul.


" Maksudmu ?" tanya Aji, menoleh pada Abdul.


Abdul berjalan menuju tangga rumah pohon dan duduk di salah satu anak tangga tersebut.


Aji mengikutinya dan duduk di sebuah bangku plastik yang ada di dekatnya.


" Kau tahu, sejujurnya, dulu, kakakku selalu menunggu keseriusan pacarnya, kak Wan, dia sebetulnya mengharapkan bahwa kak Wan akan datang ke rumahku menemui orangtuaku dan meminta restu secara langsung, dan tentu saja, kakakku sangat mengharapkan bahwa dia mau berkorban untuk menganut keyakinan yang sama dengan kita, hanya saja dia tidak pernah mau mengatakan hal itu pada kak Wan, dia tidak mau kesannya seperti memaksa, maka dari itu kakakku selalu berdoa dan berharap agar kak Wan melunak dan Tuhan membuka hatinya untuk mengikuti keyakinan kami demi cintanya pada kakakku, namun, pada akhirnya, dia malah pergi meninggalkannya dengan cara seperti ini, rencana Tuhan mana pernah kita tahu sebelumnya kan... "


" Jadi, maksudmu... ?" Aji masih pura - pura tidak mengerti.


" Ya... kalau kau memang serius dengan kakakku, tolong jangan gantung harapannya terlalu lama, dia pasti mengharapkan hal yang sama padamu, sama seperti dulu pada kak Wan " ucap Abdul.


" Tapi, aku tidak yakin, maksudku... apa dia mau hidup bersamaku, yang hanya seorang bayangan kak Wan, dia pasti hanya melihatku sebagai bayangan orang yang paling ia cintai "


" Kakakku tidak mungkin sepicik itu, masalah hati tidak ada yang bisa menebak seratus persen tepat sasaran, jadi, kau berjuanglah dengan caramu sendiri " ucap Abdul, kemudian ia bangkit dan melangkah pergi meninggalkan Aji.


Namun, seketika Abdul menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh pada Aji yang masih menundukkan kepalanya.


" Tapi... kau baru boleh melakukannya setelah kakakku melahirkan anaknya, dia tidak bisa menikah saat keadaan hamil, jadi, pikirkanlah, namun, ikatlah dia, jangan sampai ada pria lain yang masuk ke dalam hatinya dalam waktu dekat ini " Abdul mengedipkan sebelah matanya dan pergi melangkah kembali menuju rumah bu Shinta, siang itu.


Sore harinya....


Hanna sudah mengemas baju miliknya ke dalam koper untuk ikut bersama keluarganya tinggal di villa dan berlibur di Bali.


Bu Shinta bahkan menyuruh bi Lastri untuk tetap menemani Hanna dan membantunya selama pergi bersama keluarganya.


" Bu, padahal tidak apa, kalaupun bi Lastri tidak ikut bersamaku, aku khawatir ibu sendirian di rumah, aku takut ibu kesepian !" ucap Hanna pada bu Shinta yang kini berjalan di sampingnya, mengantarnya hingga ke depan mobil yang akan membawanya dan keluarganya pergi dari rumah bu Shinta.


" Ish... kau ini, di panti kan banyak pengurus lainnya, kalau tidak ada Lastri, salah satu dari mereka pasti akan menemaniku di rumah, sudah, kau fokus saja berlibur dengan keluargamu, tapi kau harus tetap menjaga kondisi kesehatanmu dan calon cucuku ini, yaa... " ucap bu Shinta sambil mengelus perut buncit Hanna.


" Hemh... baiklah, tapi, kalau ada apa - apa, cepat kabari aku ya bu... !" sahut Hanna.


" Iya, nanti aku akan menghubungimu, oh iya, kalau butuh sesuatu, kau minta saja pada Aji, dia yang akan menemanimu di villa bersama keluargamu, jadi, segala keperluan kalian, dia yang akan mempersiapkannya " ucap bu Shinta.


" Baik bu, terima kasih yaa, maaf aku dan keluargaku selalu merepotkan " jawab Hanna.


" Jangan berkata seperti itu, kalian juga keluargaku, aku tidak suka mendengar kau srlalu berkata seperti itu !" sahut bu Shinta.


" Iya baiklah, maaf yaa !" Hanna memeluk bu Shinta sebelum akhirnya naik ke dalam mobil.


Dari kejauhan, beberapa anak di panti berlari dan berteriak memanggil Hanna, terutama Bisma.


" Kak Hanna... jangan pergi... " pekik Bisma yang sudah mulai mendekat, lalu memeluk Hanna yang tinggi badannya dua kali lipat dari tinggi tubuhnya.


" Eits... kau ini kenapa, kakak tidak akan pergi lama kok, hanya sebentar, nanti kakak kembali lagi kesini " ucap Hanna.


" Beneran kak ?" wajah polos Bisma membuat Hanna gemas ingin mencubit pipinya.


" Hihihi... ih... lucunya adik kecilku ini, kalian jangan nakal ya, harus nurut sama ibu pengurus, nanti pulangnya ku belikan coklat yang banyak untuk kalian, setuju !" ucap Hanna.


" Siap kak... !" jawab si kembar.


" Bagus, kalau begitu, kakak pergi dulu yaa, kasihan kedua orangtua kakak sudah menunggu lama, kalian sudah kenalan kan dengan keluarga kakak tadi ?" tanya Hanna.


" Sudah kak, aku di kasih coklat sama om Abdul " jawab Bisma.


" Wah... masa sih... " ucap Hanna pura - pura terkejut mendengarnya.


Dan, para bocah - bocah di hadapan Hanna, selain Bisma pun serempak menganggukkan kepalanya.


" Om Abdul baik kan ? kalau begitu, boleh ya, kakak pergi sebentar, nanti pulang lagi kesini " tanya Hanna.


Setelah berpamitan dengan anak - anak di panti dan para pengurus, Hanna dan keluarganya pun masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka berlibur di villa terdekat dengan salah satu pantai yang begitu terkenal di salah satu kota di pulau Bali.


Di perjalanan, Aji sibuk mengobrol dengan pak Bagyo, ayah Hanna yang duduk di samping kemudi di depan.


Sedangkan Hanna yang belum juga istirahat semenjak ke pulangannya kembali ke rumah bu Shinta, akhirnya hanya tertidur sepanjang perjalanan mereka, di pundak ibunya.


Sedangkan Abdul sibuk bermain game di hp, dan bi Lastri hanya menatap keluar, melihat barisan rumah dan hamparan sawah hijau yang menjadi pemandangan sepanjang perjalanan mereka, sambil sesekali mengobrol dengan bu Hani, ibunya Hanna.


Satu jam berlalu, sesampainya di lokasi villa, Hanna di bangunkan oleh bu Hani.


" Teh... bangun, udah sampe nih " bu Shinta menepuk pipi Hanna dengan lembut.


Hanna pun terbangun, dengan masih dalam keadaan mengantuk, Hanna perlahan keluar dari mobil di bantu bu Hani.


Sore itu, di dalam villa, mereka langsung sibuk masuk ke dalam kamar masing - masing.


Karena hanya ada 4 kamar, akhirnya terpaksa Aji dan Abdul harus satu kamar di lantai bawah, bi Lastri pun tidur di kamar bawah yang satunya lagi, sedangkan Hanna, ayah dan ibunya tidur di kamar lantai atas, di kamar terpisah.


Malam harinya, mereka makan malam bersama di sebuah resto terdekat dari lokasi villa.


Sesampainya di depan parkiran resto...


" Ada apa pak ?" tanya Aji.


" Apa makanan disini halal ?" tanya pak Bagyo.


" Aku sudah memastikannya pak, tenang saja !" jawab Aji.


" Ah... syukurlah kalau begitu !" pak Bagyo merasa lega.


" Tenang aja pak, bli maupun ahjussi dulu sudah terbiasa karenaku, selalu seperti ini setiap kali membawaku makan di luar " sahut Hanna.


" Hemh... oke, kalo gitu ayo, kita langsung ke dalam saja !" ajak pak Bagyo.


Selesai makan malam, mereka sekeluarga kembali ke villa karena ingin beristirahat untuk bangun lebih pagi keesokan harinya, karena mereka ingin menghabiskan subuh hari mereka di pantai.


Keesokan harinya, setelah sholat subuh, mereka pun berangkat menuju pantai, untung saja mereka masih sempat melihat sunrise pagi itu, adik Hanna menjadi biang kerok keterlambatan mereka menuju pantai saat itu, membuat bu Hani kesal karena hampir gagal berswafoto dengan pemandangan matahari terbit di pinggiran pantai hari itu.


Pukul 07.30 wita, Hanna yang sudah merasa lelah pun terduduk di sebuah bangku yang ada di pinggiran pantai.


Ia memijat betis dan telapak kakinya yang terasa pegal.


" Kakimu kenapa ? sakit ?" tanya Aji yang tanpa sepengetahuan Hanna sudah berada di belakangnya.


Hanna menoleh ke belakang, menatap Aji yang berdiri di belakang sambil melihat ke arahnya.


" Ia bli, akhir - akhir ini kakiku jadi sering pegal, tidak kuat berdiri berlama - lama " jawab Hanna.


Aji pun turun dan berjongkok di pinggir kaki Hanna, lalu memijat kaki Hanna.


" Bli, sudah tidak usah, nanti juga hilang kok, aku cuma butuh istirahat sebentar saja " ucap Hanna sambil mencoba menahan tangan Aji.


" Diamlah, pijatanku memang tidak seenak pijatan Austin, tapi aku mau membantumu " sahut Aji.


Dan, Hanna pun tersenyum tanpa sepengetahuan Aji. Namun saat Aji menoleh padanya raut wajah Hanna langsung berubah.


" Ia, baiklah, terserah kau saja " ucap Hanna, ketus.


Selama beberapa menit Aji dengan telatennya memijat kaki hingga telapak kaki Hanna secara lembut dan hati - hati, karena takut malah menambah rasa sakitnya nantinya.


" Mungkin ini di sebabkan karena berat badanku sudah mulai naik kali ya bli " ucap Hanna.


" Iya, pasti nanti pun akan sering seperti ini, coba rendamlah kakimu dengan air hangat, kau minta bantuan tukang pijat saja kalau tidak ada aku " ucap Aji, secara tidak sadar.


" Maksudmu tidak ada aku ?" tanya Hanna.


Aji baru menyadari kalau tadi sepertinya dia salah berbicara, sehingga mungkin Hanna mengartikannya dengan makna yang berbeda.


Dan... untung saja, saat Aji hendak membuka mulutnya dan menjelaskan apa maksud perkataannya, datanglah pak Bagyo bersama seorang pria di sampingnya menghampiri mereka.


" A Rey.... " mata Hanna membelalak.


Rayhan tersenyum, lalu menyapa Hanna dan Aji, namun, ia baru menyadari, ada sesuatu yang berbeda pada tubuh Hanna.


Pak Bagyo dan Aji pun memberi kesempatan pada keduanya untuk berbicara.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna dan Rayhan sudah berada di sebuah bangku yang cukup jauh dari bibir pantai, dan jauh dari keramaian para pengunjung di pantai tersebut.


Mereka berdua duduk berdampingan namun terdiam selama beberapa saat tanpa kata yang terucap dari mulut keduanya.


Dan, kini, akhirnya salah seorang dari mereka mulai membuka pembicaraan.


" Kenapa ?" tanya Rayhan, menatap Hanna yang masih menundukkan kepalanya.


" A Rey, Hanna mau... "


" Ssstt... aku belum selesai bicara " ucap Rayhan menghentikan perkataan Hanna.


" Kenapa kau selalu menyembunyikan masalah yang menimpamu dariku ? aku kan sudah pernah bilang padamu, aku selalu siap mendengarkan semua ceritamu, apa kau sudah tidak menganggapku lagi, meskipun sebatas temanmu, apa kau... " Rayhan terlihat frustasi dan namun tetap menahan rasa kesalnya.


" Maaf !" ucap Hanna.


" Sudahlah... bagaimana kondisimu dan bayimu saat ini ?" tanya Rayhan.


" Sehat a, alhamdulillah !" jawab Hanna.


" Aku turut berduka atas kepergian kak Wan, sungguh, aku baru mengetahui hal itu dari adikmu beberapa menit yang lalu, maafkan aku karena jarang mengunjungimu sejak beberapa bulan belakangan " ucap Rayhan.


" Tidak apa a Rey, kau pasti sangat sibuk, kudengar, bisnis barumu sedang sangat maju, kau sudah sukses sekarang, cita - citamu akhirnya tercapai " sahut Hanna, tersenyum dan menatap Rayhan yang ternyata tidak pernah melepaskan tatapannya dari Hanna.


" Semua tidak ada artinya bagiku kini, aku bahkan tidak merasa bahagia mengetahui keadaanmu seperti ini !" ucap Rayhan.


" Aku tidak butuh di kasihani, sebaiknya aku pergi saja !" Hanna mulai merasa kesal mendengar perkataan Rayhan.


" Hanna...' Rayhan menarik tangan Hanna, menahannya agar tidak beranjak dari kursinya ' jangan salah mengartikan perkataanku !" sambung Rayhan.


" Aku sangat menyayangimu Han, tapi kau tidak pernah memberiku lagi kesempatan untuk tetap di sampingmu meskipun hanya sebagai sahabatmu, aku ingin ikut merasakan apa yang kau rasakan, apa kau hanya menganggap pertemanan kita sedangkal itu, setelah kau tidak membutuhkanku kau buang aku begitu saja !" ucap Rayhan.


" Bukan begitu a Rey, hanya saja, aku tidak mau merepotkanmu " sahut Hanna.


" Merepotkan, apa artinya merepotkan, bagiku, tidak pernah sedikitpun merasa di repotkan oleh siapapun "


" Maaf " hanta itu yang keluar dari mulut Hanna, dengan raut penuh rasa bersalah.


Membuat Rayhan kembali melunak, dan langsung memeluk Hanna sangat erat.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna dan Rayhan pun sudah berada diantara keluarga Hanna yang lainnya, juga Aji.


Mereka memutuskan untuk makan bersama pagi itu di salah satu rumah makan yang ada di sekitar pantai, hari itu.


Rayhan dan Hanna pun kembali tersenyum dan melupakan kesedihan mereka saat tengah berbincang - bincang berdua beberapa menit yang lalu.