My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Kekonyolan



Keesokan harinya, Hanna terbangun dari tidurnya karena mendengar sada seseorang yang membuka pintu kamarnya. Saat dia membuka matanya, dia mendapati Siwan sedang menatapnya sambil terduduk di sampingnya.


Saat Hanna melihat ke arah jam dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 wita.


" Ahjussi, kenapa baru membangunkanku sekarang." Ucap Hanna lalu terduduk di atas ranjangnya.


" Aku kemari tadi jam enam pagi, tapi kau terlihat masih begitu lelap, aku tidak tega membangunkan mu. Apa kau sedang bermimpi indah ?" Siwan bertanya sambil merapihkan rambut kekasihnya.


Hanna hanya tersenyum penuh arti menatap Siwan.


Setelah minum segelas air putih yang berada di atas nakas nya, kini Hanna beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Siwan pun keluar dari kamar dan bergegas menuju dapur, dia akan menyiapkan sarapan untuk kekasihnya.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna, Siwan dan Aji sedang sarapan bersama di meja makan. Sedangkan Austin, dia sudah pergi bekerja dari subuh hari karena ada tugas operasi dadakan di rumah sakit tempatnya bekerja.


Suasana sarapan berlangsung dengan aman dan damai tanpa Austin, Aji tidak pernah lebih dulu memulai obrolan, tidak seperti Austin yang selalu usil.


Selesai sarapan, Siwan mengajak Hanna berjemur sambil mengobrol di gazebo belakang rumahnya. Di pinggir kolam, terlihat Aji sedang mengajak Luca bermain lempar bola


" Chagiya, barangmu sudah berada di lokasi, nanti tinggal di bereskan saja. Aku, Aji dan mungkin dua orang lagi akan ikut membantumu nanti. " Ucap Siwan pada Hanna yang sedang fokus melihat Luca dan Aji bermain.


" Emh... kenapa harus di tambah lagi dua orang, kau dan bli Aji saja sudah cukup. Barangku kan tidak banyak. "


" Emh... sebetulnya, aku ingin membeli beberapa furniture baru di rumahmu nanti." Ucap Siwan terlihat ragu mengatakannya.


" Apa ? tidak mau, tidak usah repot - repot, kau sudah menolongku untuk pindahan pun aku sudah merasa sangat berterima kasih." Ucap Hanna.


Siwan sudah menyangka kalau Hanna pasti akan menolak penawarannya. Namun, dia tidak bisa memaksanya karena dia hanya seorang kekasih bagi Hanna, bukan suaminya. Dia tidak boleh memanjakan Hanna secara berlebihan. Dulu, Hanna pernah berkata seperti itu, Siwan masih dengan jelas mengingat perkataannya.


" Ahjussi, kenapa melamun ?" Hanna berkali - kali mengibaskan tangannya di depan wajah Siwan.


" Ah, maaf, ada sesuatu yang mengganggu di pikiranku dari tadi." Jawab Siwan.


" Apa itu ? atau siapa ?" tanya Hanna penasaran.


" Kau, wanita yang selalu menggnggu pikiranku, kenapa semalam tidak membaca pesanku." Ucap Siwan.


" Aduh, aku bahkan belum mengecek hpku sampai sekarang, memangnya kau mengirim pesan apa ?" tanya Hanna baru teringat bahwa semalaman dia tidak mengecek lagi hpnya yang sedang di isi daya baterai.


Dan saat Siwan akan berbicara, Hanna menghentikannya dengan menutup mulut Siwan dengan telunjuknya. Lalu ia bergegas masuk ke dalam hendak mengambil hpnya di dalam kamar.


Saat di dalam kamar, Hanna langsung menuju nakas, ternyata hpnya sudah ada yang mencabutnya dari kabel charger. Mungkin Siwan, pikirnya.


Dan saat ia membuka pesan dari Siwan, ternyata isinya adalah, Siwan meminta Hanna tidur di kamarnya semalam, dan setelah dia menyelesaikan pekerjaannya dia akan menyusulnya. Dia bahkan berjanji tidak akan macam - macam.


Hanna merasa terkejut membaca isi pesannya. Lalu dia tertawa sebentar, dia berpikir bahwa semalam pasti Siwan merasa kecewa karena Hanna sudah tidur duluan di kamarnya.


Hanna lalu menyimpan kembali hpnya di atas nakas dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Selesai mandi, ia kembali turun ke bawah mencari Siwan di luar. Namun ia tidak menemukannya, Hanna pun berkeliling rumah dan hanya mendapati bi Asih yang sedang menyetrika di belakang. Hanna bertanya pada bi Asih tentang keberadaan Siwan, dan bi Asih menyuruhnya untuk mengecek di ruang kerjanya atau mungkin di kamarnya.


Hanna pun bergegas kembali ke lantai dua mencari Siwan di ruang kerjanya, namun dia tidak menemukannya. Lalu Hanna bergeser ke pintu yang berada di samping ruang kerja, pintu kamar Siwan. Dia mengetuknya, dan tidak lama pintu pun terbuka. Ternyata Siwan sedang berada di kamarnya.


Siwan menarik Hanna agar masuk ke dalam kamarnya. Dan ia lalu mengunci pintu kamarnya tanpa sepengetahuan Hanna.


" Ahjussi, aku sudah membaca pesanmu." Ucap Hanna.


" Tidak apa - apa, aku beruntung tidak membuka hpku dan terselamatkan darimu." Ucap Hanna menggoda Siwan.


" Benarkah.. " Ucap Siwan sambil terus melangkah membuat Hanna terus mundur perlahan dari hadapan Siwan.


Dan akhirnya Hanna merasa terpojok dan kini sudah berada di ujung ranjang. Siwan pun mengambil kesempatan untuk menggelitik Hanna hingga ia jatuh tersungkur ke atas ranjang. Siwan terus menjahilinya sampai Hanna berkata ampun karena sudah tidak sanggup lagi terus di gelitik olehnya.


Mereka berdua berbaring di atas kasur karena sama - sama merasa lelah.


" Ahjussi, kau pasti belum mandi, cepatlah aku sudah tidak sabar ingin pergi ke tempat baruku." Ucap Hanna menyuruh Siwan untuk segera membersihkan dirinya.


Siwan langsung terbangun dan membuka t-shirt nya. Lalu berjalan menjauh menuju kamar mandi.


Di ambang pintu kamar mandi dia berkata, " saat aku selesai mandi dan masih melihatmu di kamarku, maka kau akan habis olehku !!" Seru Siwan tersenyum licik pada Hanna.


Hanna pun mengerti apa maksud dari perkataan Siwan, dia langsung buru - buru berlari menuju pintu kamar Siwan bermaksud untuk keluar, namun, ternyata pintunya terkunci, dan kuncinya entah dimana.


Hanna berlari menuju kamar mandi Siwan dan menggedor pintunya berkali - kali.


" Ahjussi, dimana kuncinya ?" tanya Hanna setengah berteriak.


Siwan pura - pura tidak mendengarnya, dia terus melanjutkan acara mandi paginya, dan dia terus tersenyum di bawah guyuran shower air hangatnya karena berhasil mengerjai kekasihnya itu.


Hanna terus berusaha mencari kuncinya di setiap sudut. Dia pun mengingat - ingat jalur mana saja yang sudah Siwan lalui saat tadi dia baru masuk ke dalam kamarnya.


Dan dia baru teringat, mungkin di atas kasurnya. Hanna pun langsung mengobrak abrik kasur Siwan, menyingkap kan selimut dan bantal Siwan, namun tetap tidak menemukannya.


Dan, saat dia sedang kembali merapihkan kasurnya, tiba - tiba Siwan keluar dari kamar mandi. Hanna langsung terkejut sambil menatap Siwan yang hanya memakai handuk dan bertelanjang dada, terus melangkah semakin mendekat padanya.


Hanna mulai ketakutan dan berpikir yang macam - macam di dalam kepalanya.


Dan, saat Siwan sudah berada di hadapannya, Hanna langsung mundur perlahan menghindari Siwan sambil menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menutup mata, takut tergoda kembali oleh pesona roti sobek milik Siwan.


Namun, Siwan langsung mundur dan tertawa melihat wajah pucat kekasihnya itu. Dia lalu berjalan menuju pintu kamar dan menunjukkan kunci dari kejauhan pada Hanna.


Ternyata kunci kamarnya di bawa oleh Siwan ke kamar mandi.


Hanna langsung turun dari kasur dan menghampiri Siwan yang berdiri di ambang pintu.


Sebelum Hanna keluar dari kamarnya, Siwan sempat memeluknya dan menciumnya selama beberapa detik.


" Ahjussi, aku mencintaimu, apa kau mencintaiku ?" tanya Hanna.


" Tentu saja, sudah jelas kan, kenapa bertanya ?" Siwan merasa heran dengan pertanyaan Hanna.


" Kalau begitu, biarkan aku pergi. Bye..." Hanna langsung membuka pintu kamar Siwan dan berlari pergi keluar, menjauh dan menuju kamar yang Hanna tiduri semalam.


Aji yang kebetulan baru keluar dari kamar pun merasa heran melihat tingkah laku Hanna yang berlarian menuju kamarnya setelah keluar dari kamar Siwan.


Dan saat Hanna keluar, Siwan yang masih berdiri di ambang pintu pun menengok keluar sebentar melihat punggung kekasihnya yang sedang berlarian menjauh darinya.


Lalu Aji melihat Siwan yang tiba - tiba keluar menatap Hanna dari pintu kamarnya dengan hanya memakai handuk dan bertelanjang dada. Dan, Aji pun jadi mengerti mengapa Hanna bertingkah aneh seperti itu. Di dalam pikirannya, dia bahkan tidak percaya Hanna masih bisa mempertahankan kesuciannya di hadapan Siwan. Dan Siwan selalu menghargai keputusan kekasihnya itu. Dengan berbagai cara, walaupun kadang Siwan tidak bisa menahan gairah dan nafsunya di hadapan kekasihnya.


" Dia benar - benar sudah tersihir oleh wanita itu. " Ucap Aji di dalam hatinya.