My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
New normal...



Hanna


Setelah kepergian Aji dari rumah Hanna...


Hanna hanya berbaring di atas sofa, dia tidak tidur, hanya menatap kosong langit - langit rumahnya saat itu.


Berkali - kali mencoba memejamkan mata namun tak kunjung tidur pula.


Tiba - tiba dia ingat dengan hpnya yang lowbat belum ia charge.


Setelah mencharger hpnya lantas Hanna pergi ke kamar mandi mencuci wajahnya, saat melihat cermin, matanya sudah benar - benar bengkak karena terus menangis.


Dengan langkah gontai dia melangkah kembali menuju ruang tengah namun bukan untuk kembali duduk di sofa dan menangis lagi, tapi dia menyeret koper dan travel bagnya untuk membereskan isinya.


Siwan


Setelah hampir satu jam Siwan berdiam diri di kamar tanpa tidur sama sekali, dia hanya merebahkan dirinya di kasur dengan kaki menggantung ke bawah dan kepala tertutup oleh sebelah tangannya yang menyilang.


Tok... tok... tok...


Pintu kamar Siwan di ketuk.


" Masuk... " teriak Siwan.


Lalu, nampak batang hidung Aji berdiri di depan pintu kamar Siwan yang sudah di buka.


" Kak... kau baik - baik saja ?" tanya Aji, belum berani menghampiri Siwan.


Siwan pun bangun dari posisinya dan duduk di bibir ranjang.


" Bagaimana dia ?" tanya Siwan.


" Dia sudah sampai di dalam rumah, saat ini Tio yang akan berjaga di markas " jawab Aji.


" Kalau dia mengatakan sesuatu padamu, turuti saja semua kemauannya, tidak usah meminta izinku " ucap Siwan.


" Baik kak, apa ada yang kau butuhkan lagi ?!" tanya Aji.


" Tidak, aku hanya ingin istirahat !" kawab Siwan.


" Aku ada di kamarku, nanti sore aku akan pergi ke kantor " ucap Aji, lalu membuka pintu kamar Siwan kembali dan keluar, berjalan menuju kamarnya.


Aji


Di dalam kamar, Aji membuka jaketnya dan menaruhnya di sofa, lalu duduk di sampingnya.


Tubuh Aji bersandar pada sofa dan memikirkan kembali kejadian yang menimpa Hanna dan Siwan sejak kemarin malam hingga siang tadi.


Siang itu....


Setelah Aji memasukkan koper dan travel bag Hanna ke dalam bagasi, dia pun menarik sang pemiliknya agar mau masuk ke dalam mobil supaya Aji bisa membawanya pergi dari dekat Siwan secepatnya.


Aji menyuruh Hanna duduk di kursi belakang. Setelah itu ia memutari mobil dan duduk di kursi kemudi serta mulai menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari garasi villa tersebut.


Dari kejauhan Siwan melihat mereka lewat jendela di lantai 2 yang menghadap ke arah halaman depan villa miliknya.


Selama beberapa menit awal Hanna hanya duduk dan dia seperti menahan amarah dan air mata.


Namun, saat Aji mulai menyodorkan sekotak tissue padanya, Hanna mulai menangis sejadinya.


" Dasar tua bangka, seenaknya saja dia bilang aku yang bosan padanya, dasar bodoh, aku benci padanya !" Hanna memaki - maki Siwan sambil berderai air mata.


Aji hanya menghela nafas, berdiam diri dan bersiap melebarkan kupingnya.


" Dia pikir aku ini apa, seenaknya saja melarangku kemanapun aku pergi, dengan siapapun, kalau tidak dia mengirim suruhannya memata - mataiku, apa aku ini seorang dpo, narapidana yang kabur dari sel, apa dia takut aku akan kabur ke luar negeri, seenaknya saja mengekang hidupku " ucap Hanna sambil menyeka air matanya dengan tissue.


" Aku ini cuma pacaranya bukan istrinya, apa - apaan dia terus mengirimkanku supir untuk mengantar jemputku pergi kemanapun, memangnya aku tidak punya kaki apa " Hanna terus mengeluarkan unek - unek di hatinya tanpa komentar apapun dari mulut Aji.


" Tua bangka, aku kesal dan marah padanya, aku lelah terus seperti ini..." Hanna membuang ingus di hidungnya.


Aji meringis merasa jijik mendengar suaranya saat Hanna mengeluarkan ingusnya. Dan seenaknya Hanna membuang semua tisuue di bawah jok mobil sehingga berserakan dimana - mana.


" Aku bahkan sulit berbicara santai padanya, lidahku pegal sendiri terus bicara formal padanya, sudah itu dia selalu membayar dan membelikan semua kebutuhan hidupku, dia pikir dia siapa, apa dia sedang merendahkanku, uangku memang tidak sebanyak yang dia punya, tapi aku bisa menghidupi semua keperluanku, aku merasa dia sedang menyindir isi dompetku... " Hanna terus berbicara sendiri seperti orang gila.


Namun, beberapa menit kemudian, dia berkata...


" Tapi aku masih menyukainya, aku masih mencintainya, aku ingin memeluknya dan minta maaf membuatnya terus khawatir hiks..... " Hanna kembali menangis tersedu - sedu.


Hingga saat di lampu merah, mobil mereka berhenti, beberapa pengendara motor di sampingnya mencari sumber suara orang yang sedang menangis saking kerasnya Hanna maraung - raung seperti orang kesurupan.


Dan, seorang pengendara motor tepat di samping Aji mengetuk kaca jendela mobilnya. Aji pun terpaksa menurunkan kaca jendela di sampingnya.


" Ada apa ? apa semua baik - baik saja ?" tanya sang pengendara motor sambil mencoba mengintip ke jendela kursi belakang.


" Iya, tenang saja, dia hanya sedang patah hati, aku supirnya " jawab Aji.


Setelah sang pengendara merasa puas akan jawaban Aji, mereka pun estafet saling memberi tahu pada pengendara lainnya di belakang.


" Lagi patah hati bos... "


" Oh... patah hati... "


Kemudian, saat lampu hijau menyala, Aji pun langsung menancap gasnya demi menghindari netizen kepo di sekitarnya.


Begitulah kiranya, sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumah Hanna, setelah lelah mengungkapkan semua hal yang mengganjal di hatinya, Hanna hanya menangis sambil tersungkur di atas kursi belakang sampai dia tertidur saking lelahnya menangis.


...***...


Keesokan harinya, Hanna kembali bekerja dan masuk shift siang.


Pagi hari saat bangun tidur dia langsung mengecek hpnya untuk melihat chat terakhirnya semalam bersama grup kamis yaitu Melly, Teguh dan Reni.


Semalam tentunya mereka membahas masalah antara Hanna dan Siwan. Mereka sungguh merasa khawatir dan tidak enak hati karena kejadian kemarin.


Namun Hanna hanya mengatakan semua baik - baik saja, dan meminta mereka tidak terus khawatir padanya dan pada nasib mereka karena Siwan tidak akan melakukan apa - apa.


Pagi itu, Hanna terlambat untuk melaksanakan sholat subuh, namun dia tetap melakukannya tepat di saat matahari mulai akan naik ke atas, dia baru selesai melaksanakan kewajibannya.


Hanna benar - benar bersimpuh di atas sajadah memohon ampun atas segala dosa yang telah ia lakukan. Dia meminta agar Alloh memberinya kemudahan untuk jalan yang akan dia lalui ke depannya.


Setelah itu, Hanna ingin menyiapkan sarapannya dan pergi ke dapur.


Saat membuka kulkasnya, ia sangat terkejut isinya sangat penuh. Padahal ia merasa belum belanja lagi stok isi kulkasnya semenjak dia sakit.


Dan ternyata di pintu kulkas ada secarik kertas berisi memo dari Siwan.


" Saat kau pergi berlibur, aku mengisi penuh kulkasmu, banyaklah makan sayur dan buah, gantilah tehmu dengan susu, kau harus sehat selalu " Your Ahjussi .


Air mata Hanna kembali menetes di pipinya. Hanna pun mengeluarkan satu kotak susu cair, sebuah apel dan jeruk dari dalam kulkas.


Sebelum memakan buah dan susu yang dingin, Hanna tetap meminum air teh hangatnya. Setelah itu menghangatkan segelas susunya dan memotong buah dan jeruknya.


Pagi ini, Hanna hanya sarapan dengan segelas susu hangat dan potongan buah dengan berderai air mata di atas meja makan.


Selesai sarapan, Hanna ingin memanaskan motornya di dalam garasi. Namun nahas, motornya tetap tidak mau menyala, padahal dia melihat tangki bensinnya penuh.


Hanna pun memutuskan untuk membawanya ke bengkel terdekat karena dia akan mulai mengendarai lagi motornya mulai hari ini.


Hanna berganti pakaian dan bersiap memakai helm, lalu mengeluarkan motornya dari garasi. Setelah itu ia mendorong motornya menuju bengkel terdekat.


Namun, belum juga sampai di bengkel, tangan dan kakinya sudah terasa pegal.


Dan tidak lama kemudian, terdengar suara Aji berteriak dari belakang.


Hanna menoleh padanya, dan ia melihat Aji sedang berlari ke arahnya.


" Han, mau kemana ?" tanya Aji dengan nafas terputus - putus.


" Sudah, sini, biar aku yang bawa motormu " Aji merebut stang motornya dan menggantikan Hanna mendorong motornya.


" Kau belum jawab pertanyaanku bli " Mata Hanna menyipit menatap Aji.


Aji tetap fokus menatap ke depan.


" Nanti saja ceritanya... " jawab Aji.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna dan Aji sudah berada di bengkel terdekat dari pintu keluar komplek hunian Hanna saat itu.


" Aku mau mulai pergi sendirian lagi, bli, kau bilang padanya mulai hari ini gak usah kirim supir untukku, aku bisa pergi sendiri " ucap Hanna.


" Iya, baiklah " jawab Aji, singkat.


" Dan juga tidak usah membuntuti ku segala, ada Alloh, Tuhanku yang akan selalu melindungiku, kau fokus saja bekerja dengannya " ucap Hanna.


" Iya, oke, semua atas perintahmu, aku akan menurut padamu " jawab Aji.


Dan, setelah motor Hanna kembali menyala, Aji berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


" Kau mau apa ?" tanya Hanna.


" Kau tunggu saja, aku bayar dulu tagihannya !" ucap Aji.


" Ini motorku, aku yang akan membayarnya !" sahut Hanna.


Aji pun mundur, dan kembali memasukkan dompet ke dalam saku celananya.


Hanna di bonceng oleh Aji sampai ke depan rumahnya.


" Terima kasih banyak ya, bli, aku masuk dulu, harus siap - siap pergi kerja " ucap Hanna.


" Bukannya kau cuti sampai hari minggu ?" tanya Aji.


" Gak jadi bli, soalnya yang lain pun cuma ambil cuti 3 hari, kalau kemarin kita perginya ke Lombok, baru kita ambil cuti sampai hari minggu " ucap Hanna.


" Emh... oke, kalo gitu aku pulang dulu ya, hati - hati, jaga dirimu, kalau butuh bantuan langsung telepon aku saja ya... " ucap Aji.


" Iya, terima kasih banyak bli... " ucap Hanna.


...***...


Beberapa jam berlalu...


Kini Hanna sudah berada di tempat kerjanya, lebih tepatnya di area loker, sedang merapihkan seragam dan riasan wajahnya.


" Han... " seorang pria memanggilnya dari belakang.


Hanna pun menoleh dan membalikkan tubuhnya mengahadap pria itu.


" Iya pak Rama, ada apa ?" tanya Hanna.


" Kau baik - baik saja kan kemarin ?" tanya Rama.


" Iya pak, gak perlu khawatir, maaf ya hari itu aku gak pulang bareng kalian " ucap Hanna.


" Gapapa, aku paham kok " jawab Rama.


Saat sedang berbincang dengan Rama, datanglah Melly dan Teguh yang sedikit terlambat dari hari biasanya.


" Hai... Hanna, kamu gapapa kan ?" Melly langsung memeluknya padahal belum membuka helmnya.


" Ish... aku gapapa kak, helmmu ini, buka dulu napa... " sahut Hanna.


" Duh... gue rada telat nih, gara - gara ni cewe satu, di jemput jam 12 masih belum ngapa - ngapain dia, lu baik - baik aja kan Han... ?" ujung - ujungnya Teguh pun menanyakan kabar Hanna.


" Aku gapapa kak, udah cepet sana siap - siap, bentar lagi doa mau mulai nih " ucap Hanna.


Mereka pun bubar menuju loker masing - masing.


Dua hari berlalu...


Hari itu, Hanna masuk shift pagi.


Saat istirahat tiba, seperti biasa Hanna, Melly dan Teguh selalu pergi bersama - sama.


Hanna baru menceritakan semua kejadian antara Siwan dan dirinya hari itu, semuanya, tanpa ada yang terlewatkan.


" Maaf ya Han, semua gara - gara gue " Teguh menyesali perbuatannya malam itu.


" Enggak Guh, ini bukan salahmu atau pun kalian semua, aku yang ambil keputusan itu, sebetulnya aku bisa aja nolak dengan keras malam itu, tapi aku juga manusia biasa, aku juga penasaran sebetulnya, ya mungkin malam itu bakal jadi yang pertama dan terakhir aku masuk ke tempat begituan " ucap Hanna.


" Iya, setuju banget, aku juga gak mau lagi masuk ke tempat kaya gitu, malam itu kita beruntung tahu gak, pacarmu sama anak buahnya nyelametin kita, coba kalo gak ada mereka, kita gak bakal tahu kita pulang kemana terus ama siapa, hih... ngeri... " ucap Melly.


Hanna sejenak berpikir, mendengar perkataan Melly, dia pun jadi agak sedikit menyesal sudah mengatakan bahwa dia tidak perlu perlindungan dari Siwan, padahal nyatanya dia sangat membutuhkannya.


" Terus, gimana sekarang hubunganmu sama om Korea mu itu, kalian bakal putus gitu aja ?" tanya Melly.


" Sorry ya Han, gue pribadi, mewakili semua laki - laki di dunia ini, pasti bakal ngelakuin hal yang sama kayak pacar loe, kita tuh pengennya melindungi, jiwa kepemimpinan kita mendadak bergejolak kalo udah dapet cewe yang bener - bener kita cintai dan sayangi, maaf nih ya, bukannya gue belain cowo lu, tapi coba deh, harusnya kalo dari dulu lu gak nyaman, coba di bicarakan baik - baik aja gitu, loe sering kan ketemu sama dia, lah loe ngapain aja selama ini, diem - dieman terus gitu, gak ngobrol, apalagi indehoy juga kagak.. masa sih... " Teguh terlihat heran dan curiga.


" Dih, udah mulai menjurus nih... dasar otak mesum " sahut Melly.


" Ya gak salah dong gue bilang kayak gini, emang fakta kali... " ucap Teguh.


" Tapi, mungkin ini udah jalannya gaess, lambat laun kita kan emang harus pisah, kita gak bisa bersama, aku gak bisa mengubah keyakinanku, kalian tahu sendiri kan, dari awal aku gak akan pernah berubah untuk hal yang satu itu " ucap Hanna.


" Apapun keputusan loe, gue sebagai temen cuma bisa berharap loe bener - bener bahagia Han, kalo emang ini udah final, loe musti kuat jalaninnya, gue pernah ada di posisi loe Han, susah, rasanya susah banget move on nya " ucap Melly sambil menggenggam tangan Hanna.


" Inikah akhir cerita cinta.... yang selalu aku banggakan di depan mereka..." Teguh bernyanyi, berniat menghibur Hanna, tapi malah di keroyok habis - habisan oleh Hanna dan Melly.


......****......


Keesokan harinya, Hanna masuk kerja shift pagi, minggu ini dia mendapat jadwal kerja yang tidak jelas, karena lawan shiftnya sedang cuti setelah Hanna masuk kerja kembali.


Dari shift siang menjadi pagi, esoknya dari shift pagi menjadi shift siang. Karena kelelahan bekerja dia jadi tidak ada waktu untuk memikirkan Siwan kembali.


Setelah jam pulang bekerja tiba....


" Han, bawa motor lagi sekarang ?" tanya Melly saat mereka berjalan menuju parkiran motor sambil menenteng helm masing - masing.


" Lupa yaa kemarin aku cerita apa... " sahut Hanna.


" Eh... iya... lupa, sorry belum terbiasa lagi soalnya... " jawab Melly.


" Nyindir ceritanya.... " Hanna mengangkat sebelah alisnya.


" Enggak dong sayangku, maafin dong... eh, bisa nih kita pergi jalan dulu sekarang, udah bebas dong yaaa.... " Melly terlihat semringah.


" Nanti aja deh kak, jangan hari ini, aku mau ke toko buku " jawab Hanna.


" Oke deh... lu kalo butuh temen curhat atau apa aja, calling ya, jangan pake acara sungkan segala pokonya, gue tahu hati lu di dalem kayak gimana, gak semudah lu nyebarin senyum kayak sekarang ini... tapi gue berharap lu bener - bener kuat dan tegar ya Han... " ucap Melly.


" Dih... apaan sih, aku baik - baik aja kok kak " jawab Hanna dengan penuh senyuman.


" Woy.... mau pulang kagak, buruan keles gossip mulu dasar calon emak - emak... " teriak Teguh yang sudah duduk di atas motornya menunggu Melly.


" Cih... berisik tu kaleng rombeng, ' iya tunggu bentar napa ' eh Han, udah ya gue duluan, jangan lupa telepon kalo ada apa - apa " ucap Melly.


" Iya udah sana buruan... " jawab Hanna.


Motor Hanna terparkir agak jauh dari posisi motor Teguh, Melly pun berlarian menghampiri Teguh yang sudah siap untuk memecah jalanan dengan motor CBR nya.


Saat Hanna naik ke atas motornya, sekilas dia menatap wajahnya lewat kaca spion motornya.


" Aku baik - baik aja, aku gapapa kok, kata siapa aku sedih... hah... liat, aku masih bisa tersenyum manis, akan ku tebar senyum termanisku kemana - mana " Hanna terus melatih senyumnya di parkiran motor khusus karyawan seperti orang stress. Sampai ada karyawan yang hendak mengambil motornya merasa aneh dan ketakutan karena melihat tingkah Hanna.