My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Sang penguntit



Ke esokan harinya.


Alarm pukul lima pagi seperti biasa selalu berbunyi, kali ini Hanna hanya mendongkakkan kepala mencari letak alarmnya, mematikannya dan kembali tertidur. Matanya terasa sangat berat, badannya terasa lemas. Untungnya dia sedang bekerja shift siang.


Pukul 8 pagi, baru lah dia benar - benar terbangun dari tidur lelapnya. Dia lalu pergi ke kamar mandi, mempersiapkan sarapan pagi dan melakukan berbagai aktifitas lainnya di dalam ruang kostnya.


Hanna baru ingat, semalam, dia belum membalas salah satu chat yang masuk ke aplikasi whatsupp nya. Dia lalu menaruh sendok di atas piring dan berlari ke kamar mencari hpnya.


Sebuah chat dari Rayhan,


A Rey...


Hanna, kamu dimana?


15.05 Wita


Hanna lalu membalasnya


A Rey, maaf kemarin gak sempet bales. Kemarin Hanna lagi main ke tanah Lot.


09.25 Wita


Tanpa di sangka, Rey membalasnya dengan cepat.


A Rey...


Sama siapa?


09.26 Wita


Hanna pun membalas nya kembali.


Sama paman Siwan.


09.27


Setelah itu, tidak ada balasan lagi dari Rayhan. Lalu Hanna melihat pada salah satu aplikasi instagrem nya, ada sebuah notifikasi. Dia lalu membukanya. Dan, ternyata ada sebuah permintaan pertemanan masuk di akun instagrem nya itu.


" One piece, siapa ini?" ucap Hanna lalu mengklik profil akun orang bernama one pice itu, dan hanya terlihat foto profilnya dengan gambar tokoh utama komik one piece dan belum ada unggahan satupun foto pada postingannya. Bahkan followers nya pun hanya satu orang saja.


Tapi, Hanna tetap mengkonfimasi akun tersebut walau tanpa memfollow balik akunnya. Fyi, Hanna selalu memprivate akun instagrem nya itu.Jadi, biasanya dia selalu mempertimbangkan terlebih dahulu bila ingin memfollow balik akun seseorang di instagremnya.


Di sisi lain...


Pagi hari, pukul 05.30 wita, Siwan beranjak dari tidurnya. Dia keluar kamarnya dan menuju ke kamar lain di lantai 2 rumahnya. Dia menggedor pintu kamar itu yang ternyata di kunci oleh sang penghuni kamar.


" Os... Os... buka pintunya " Siwan terus terusan menggedor pintu kamar itu. Tapi, pintu yang terbuka malah pintu kamar lain di samping kamar itu.


" Ada apa? " tanya Aji dengan mata masih tertutup.


" Kau, apa kau punya akun instagrem ?" tanya Siwan heboh.


" Hah, apa itu ?" tanya Aji.


" Ah, sudah lah, sesuai dugaanku kau pasti tidak tahu. " Siwan beranjak dari hadapan Aji dan menggedor kembali kamar Austin.


Tidak lama kemudian, Austin membuka pintu kamarnya. Dia terlihat hanya memakai handuk saja di bagian bawahnya.


" Kau mau apa, aku baru selesai mandi. " Sahut Austin.


" Kau punya instagrem ?" tanya Siwan to the point.


" Tentu lah. " Jawab Austin.


" Buatkan aku sekarang, cepat.. " Siwan lalu masuk ke dalam kamar dan menyodorkan hpnya pada Austin.


" Aku sedang shift pagi, nanti saja lah pulang bekerja. " Sahut Austin.


" Ah, kau ini merusak pagi indahku saja. " Austin terpaksa mengambil hp Siwan. Dan mulai membuatkan akun media sosial yang Siwan inginkan itu.


" Begini caranya, lihat sini. " Austin mengajak Siwan duduk di atas ranjangnya. Mereka duduk berdampingan.


Beberapa menit berlalu.


" Sudah selesai, buat apa sih bikin akun medsos begini, bukannya kau sangat sibuk ?" tanya Austin sambil menyodorkan hpnya.


" Ah, tidak usah banyak bertanya. " Jawab Siwan yang sedang sibuk memencet - mencet hpnya.


" Cih... bukannya berterimakasih padaku. " Lalu Austin beranjak dari ranjangnya dan bersiap memakai celana dan kemeja nya.


Saat sedang mengancingkan kemeja nya, Siwan mengganggunya kembali.


" Ini, bagaimana cara menggunakan nya, aku tidak paham, cepat ajari aku. " Ucap Siwan.


" Astaga.. kau ini sungguh merepotkan ku pagi - pagi buta begini. " Lalu menghampiri Siwan dan menjelaskan bagaimana cara menggunakannya secara detail dari A sampai Z, bahkan mereka sempat saling memfollow satu sama lainnya.


" Sudah, kau paham kan sekarang, aku harus pergi bekerja " tukas Austin.


" Baiklah, selamat bekerja dan thank you so much. " Siwan pun pergi dari kamar Austin.


" Astaga, apa - apaan dia? Merepotkan saja. " Austin sudah siap dengan pakaiannya dan segera turun ke bawah setelah mengambil tas kerjanya di atas meja.


Kembali pada Hanna.


Setelah selesai sarapan, Hanna lalu bergegas ke dapur mengambil sekantong keresek besar sampah yang akan dia buang ke tong sampah di lantai bawah.


Saat menuju lantai bawah, di sebuah sudut di sebrang jalan, dia melihat ada seseorang seperti sedang menatapnya. Dari kejauhan, pria itu terlihat seperti seseorang yang pernah dia lihat, tapi entah dimana, Hanna merasa lupa dimana lokasinya. Lalu, tanpa menghiraukannya, dia kembali naik ke lantai dua menuju kamar kostnya.


Beberapa jam berlalu. Hanna kini sudah berada di dalam bus menuju tempatnya bekerja. Dia merasa ada sepasang netra yang terus menatapnya. Saat Hanna menengok ke belakang, tidak ada satupun penumpang yang sedang melihat ke arahnya. Mereka masing - masing sibuk membaca koran, memainkan hp, tidur bahkan ada yang sedang asyik mengobrol dengan teman di sampingnya.


Lalu Hanna memutar kembali badannya, duduk dengan tenang kembali di kursinya dan berpikir, mungkin hanya perasaannya saja.


Setibanya di halte bus yang dekat dengan tempatnya bekerja, dari arah belakang, terlihat ada juga seseorang yang turun dari bus dan langsung bersembunyi di antara kerumunan orang yang akan naik ke atas bus.


Hanna melanjutkan perjalanannya menuju tempat kerjanya yang hanya beberapa meter dari halte bus.


Di sisi lain, pria yang terlihat sedang membuntuti nya itu terus bersembunyi saat Hanna mencoba menengok ke arah belakang. Hanna menyadari betul bahwa ada seseorang yang sedang membuntuti nya dari dekat. Hanya saja Hanna tetap tidak menghiraukannya.


Saat malam hari pun, saat Hanna pulang dari tempat kerjanya, dia merasa masih ada seseorang yang membuntuti nya dari belakang. Saat sedang dalam perjalanan dari halte bus menuju gedung kostnya, dia berkali - kali menengok ke belakang tapi masih tetap belum menemukan siapa sosok orang yang selalu mengikutinya itu.


Dan, pada sebuah kesempatan, saat ada sebuah mobil melintas di dekatnya, Hanna tahu betul bahwa itu merupakan mobil salah satu penghuni kost di lantai 3 di gedung kostnya. Secara perlahan Hanna berjalan mengikuti mobilnya, dan saat mobil itu berhenti untuk parkir di halaman gedung kost, dia bersembunyi di balik mobilnya tanpa sepengetahuan sang pemilik mobil.


Ketika sang pemilik mobil naik ke atas, perlahan Hanna mengendap - endap menaikkan kepalanya seraya meneliti keadaan sekitar, mencari sosok orang yang sedari tadi membuntutinya itu.


Alangkah kagetnya saat netranya tertuju pada sesosok pria yang berdiri di depan gerbang gedung kostnya. Dia seperti mengenali siapa pria itu, kali ini.


" Sammy... ?" Hanna menghampiri pria itu.


Pria itu terkejut dan membalikkan badannya berniat untuk pergi dari sana.


" Tunggu, hei, kamu, Sammy kan.. " Hanna merasa yakin sekali.


Lalu, pria yang bertubuh kurus, tinggi, berambut gondrong, berkumis dan berewokan itu, tersenyum pada Hanna.


" Hai.. apa kabar ?" pria itu melambaikan tangannya pada Hanna.


" Ternyata benar, itu kau." Hanna tersenyum pada Sammy.


" Iya, ini aku. " Ucap Sammy.


Ternyata benar, Hanna baru ingat, ternyata pria yang pernah ia lihat di cafe tengah malam waktu itu adalah Sammy.