
Malam hari, di hari rabu, minggu ketiga bulan desember, pukul 22.10 Wita, aku sedang berjalan bersama beberapa teman kerja menuju halte bus, beberapa meter dari lokasi tempatku bekerja.
Tidak jauh dari halte bus, ada sebuah mobil yang terparkir di sana. Aku sudah mengenali plat nomor mobil tersebut. Ya, pasti itu mobil paman. Aku menghampiri mobil itu, tapi seperti tidak ada seseorang di dalamnya, aku membungkukkan badan, mengintipnya dari kaca jendela mobil dari luar. Benar, memang tidak ada siapa - siapa. Aku pun menghembuskan nafas kasar, merasa kecewa. Atau mungkin aku salah lihat, plat nomornya mungkin mirip.
Lalu, aku berjalan menuju arah depan mobil memastikan kembali plat nomornya.
" Tapi, memang benar ini plat nomor paman. " Ucapku sambil menunjuk mobilnya.
Tidak lama kemudian, dari arah belakang terdengar seseorang menyapaku...
" Annyeong.... "
Aku langsung membalikkan badan, dan, ternyata, paman sedang berdiri sambil memegang seikat bunga mawar merah sambil tersenyum.
" Ahjussi... " aku merasa sangat terharu.
" Apa kau mencariku ?" paman menyodorkan seikat bunga itu padaku.
" Kamsahamnida, ahjussi..." aku mencium bau seikat bunga itu.
" Ayo, aku antarkan kau pulang !!"
" Oke."
Kami berdua pun masuk ke dalam mobil.
Saat di perjalanan, paman mengajakku untuk makan di salah satu angkringan malam, di sebuah cafe tidak jauh dari tempatku bekerja.
" Wah, ada live musik nya.. " ucapku.
" Kau, baru pertama kali kemari ?" tanya paman.
" Iya, ini kali pertama ku datang kemari."
Saat sedang menunggu pesanan kami tiba, seperti biasanya kami selalu mengobrol. Tangan kiri paman selalu menggenggam tangan ku. Lalu, dia menatapku sambil memainkan beberapa helai poni rambutku dengan tangannya yang sebelah lagi.
" Poni mu terlihat lebih panjang sekarang, padahal aku belum lama meninggalkan mu pergi. " Ucap paman.
" Poniku memang sudah panjang, tapi aku tidak berniat untuk memotongnya lagi."
Lalu, paman mengelus - elus pipiku.
" Apa kau kedinginan, pipimu terasa sangat dingin ?" tanya paman.
" Ini karena kita sedang berada di outdoor, nanti juga kalau makanan dan minuman hangatnya sudah datang, suhu tubuhku pasti akan terasa hangat. "
Paman tersenyum sambil mencium punggung tanganku.
" Apa kau merindukan ku ?" tanya paman.
" Emh.... rindu, apa tidak, yaaaa.... ?" pura - pura berfikir.
" Aku yang sangat merindukan mu. " Ucap paman terlihat serius.
" Benarkah ? hanya aku yang kau rindukan ? " tanyaku penasaran.
" Tentu saja, hanya kamu, tidak ada yang lain. "
" Masa sih... ?" masih merasa tidak percaya.
" Eh.. ada satu lagi, selain dirimu."
" Siapa ? tanyaku.
" Aku sangat merindukan nya bahkan selalu menelponnya, video call dengannya juga selain dirimu. "
" Serius ? siapa?" ucapku penasaran tp agak mengernyitkan kedua alisku.
" Dia.... adalah... "
" Permisi, makanannya sudah datang. " Pramusaji datang menyela obrolan kami sambil sibuk menyimpan pesanan kami di meja.
Kami berdua pun langsung mencoba mencicipi hidangan yang sudah berada di depan mata.
Lalu, tidak lama kemudian, aku kembali bertanya pada paman.
" Siapa ?" tanyaku.
" Hahahaha... kau masih penasaran ?" tanya paman.
" Jangan cemberut, aku akan tunjukkan siapa dia." Paman lalu mengeluarkan hp nya dari dalam saku celana.
" Nih.. dia, aku bahkan mengabadikan moment saat sedang asik bervideo call dengannya." Paman menyodorkan hpnya padaku.
" Luca boy... Hihi... " aku tersenyum seketika.
" Siapa yang memegang kameranya ?" aku bertanya.
" Aji, juga Austin, dia mengadu padaku, Luca tidak selera makan selama aku pergi ke Seoul, dia bahkan hanya duduk menungguku di teras depan sepanjang hari. "
" Kasihan sekali Luca, tapi, apa dia sehat ? kau sudah menemuinya kan?
" Sudah, aku membawa nya ke dokter hewan tadi sore, dokter bilang, dia baik - baik saja, dia hanya rindu padaku. " Ucap paman.
" Ya ampun, so sweet sekali ya Luca boy. Tapi, ahjussi, apa kau tidak berniat menjodohkannya dengan anak anjing sejenisnya lagi, kan, kalau dia menikah dan memiliki keluarga, dia tidak akan kesepian seperti itu. "
" Dia tidak mau, mungkin trauma, dulu, saat masih muda, dia sempat kami jodohkan dengan anjing teman kami, sempat memiliki anak, tapi, pasangannya meninggal setelah melahirkan anak - anak mereka, dan Luca tidak mau mendekati anak - anaknya. Dua tahun kemudian pernah kami coba kawinkan lagi, tapi Luca tidak mau, sampai saat ini dia masih asik menjomblo. "
" Oh.. begitu ya, ternyata anjing juga punya rasa trauma. Lalu, sekarang dimana anak - anaknya ?" tanyaku.
" Mereka di asuh oleh temanku, sebagai ganti anjing mereka yang meninggal. Anjing itu sebenarnya sangat sensitif dan setia, mereka selalu tahu seperti apa perasaan orang yang mengasuhnya, dekat dengannya. Sekarang, karena usianya sudah tua, dia jadi tidak selincah dulu lagi. "
" Lalu ahjussi, apa aku boleh bertanya...?" aku berkata dengan ragu - ragu.
" Apa ? tentu saja? bertanya itu gratiskan, katamu. " Dia tersenyum sambil menyendok nasi ke dalam mulutnya.
" Ahjussi, apa kau merasa trauma ? apa kau tidak mau menikah dan berkeluarga lagi ? aku hanya ingin tahu, itu saja... " tanyaku hati - hati.
" Emh... " ( paman minum tiga teguk air ) lalu menjawab, " aku, sempat merasa trauma, sama seperti Luca boy, perasaanku hancur, aku merasa tidak ada gairah dan penyemangat hidup. Aku sempat merasakannya, selama satu tahun aku merana. Tapi aku sadar, aku tidak boleh berbuat seperti itu, di sekitarku, keluargaku, orang - orang di sampingku membutuhkanku, mereka keluargaku, aku tidak ingin kehilangan mereka karena sedih melihat kondisiku yang seperti itu. Makanya aku bangkit, menata kembali kehidupannku yang sempat terbengkalai.. " paman melamun sekejap.
" Maaf ya, aku hanya penasaran." Ucapku.
" Tidak apa - apa, aku mengerti. Tolong bantu aku, menata kembali perasaanku. Aku, saat ini, di dalam hatiku, hanya ada kau seorang. "
" Wah, kau sangat berterus terang sekali ya, ahjussi.. " ucapku sambil tersipu malu.
" Aku, sebenarnya tidak terlalu suka berbasa - basi, saat aku menyukai sesuatu, aku akan mencoba mengungkapkan nya, begitu juga sebaliknya. " Paman tersenyum sambil menyendok lagi nasi ke mulutnya.
Tidak terasa, waktu sudah semakin larut, tapi, suasana di sekitar masih belum sepi. Ku lihat masih ada beberapa orang, muda mudi, bahkan yang terlihat berumur pun, masih tampak menikmati suasana malam di angkringan cafe tersebut.
" Ahjussi, sudah menuju jam 12 malam, aku mau pulang. "
" Baiklah, tunggu sebentar ya, aku ke kasir dulu. " Paman pun berdiri dari duduknya hendak pergi ke kasir.
Saat sedang melihat - lihat suasana sekitar, tidak lama, mataku tertuju pada sosok seorang pria di sudut meja sebrang mejaku berada.
Dia, sepertinya aku mengenalnya, tapi, penampilannya agak berbeda, aku jadi merasa ragu. Aku pun mengalihkan pandanganku darinya, dan berfikir, mungkin hanya mirip saja. Sepintas, dia terlihat seperti Sammy, tapi, rambutnya panjang, lurus sebahu, ada brewok dan kumis tipis di wajahnya. Senyum khasnya, yang membuatku berfikir itu adalah Sammy.
" Ayo, kita pulang !!" ajak paman membuyarkan pikiranku.
" Oke.. " akupun berdiri dari tempat duduk tidak lupa mengambil tas ku di atas meja.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran mobil, paman menggenggam tanganku erat - erat. Aku berjalan di sampingnya, sesekali melirik ke arahnya. Dia tampak sangat cool, keren sekali, ucapku di dalam hati.
Aku memang merindukannya. Ingin sekali aku memeluknya. Tapi, saat ini, tidak bisa. Entah mengapa, aku masih merasa segan padanya, bahkan ucapanku padanya tidak seperti ucapanku pada Rayhan. Aku masih kadang bersikap formal pada paman. Entah mungkin karena memang umurnya yang memang sudah dewasa, aku tidak bisa menyamakan perlakuanku terhadapnya seperti seumuranku, walaupun status kami saat ini sudah berpacaran.
Sesampainya di depan gerbang kost, sebelum turun dari mobil, kami sempat berciuman. Karena merasa saling merindukan, ciumanku kali ini terasa sangat berbeda. Tapi, aku buru - buru menghentikannya, karena takut ada yang melihatnya.
Saat aku hendak pergi, menuju pintu masuk utama gedung kost, tiba - tiba paman menarik lenganku dari belakang dan memelukku sangat erat.
" Kenapa ? kau tidak ingin berpisah denganku ?" Ucapku di dalam pelukkannya.
" Iya, aku sangat merindukan mu. " Paman mengelus - elus punggungku sambil sesekali mencium keningku.
" Besok, aku kan libur, ayo kita pergi jalan - jalan !!"
" Rasanya aku ingin membawa mu pergi dari sekarang saja. " Paman menatap wajahku dalam - dalam.
" Tidak bisa, jangan seperti itu. Aku, bukan wanita seperti yang kau pikirkan, jadi, bersabarlah padaku. " Ucapku.
" Iya, baiklah, maafkan aku, jangan merasa tersinggung ya, aku minta maaf. "
" Tidk apa - apa, aku mengerti. Yasudah, aku masuk dulu ya, besok jemput saja aku pukul 7 pagi. Kita pergi dari pagi supaya waktu kita bersama terasa lebih lama." Ucapku.
" Baiklah, aku akan menjemput mu tepat waktu. " Sekali lagi paman mencium keningku.
Lalu, aku pun masuk ke dalam, dan naik menuju lantai dua, kamar kostku. Sesekali aku melihat ke belakang, paman masih berdiri di tempatnya, sambil berkali - kali melambaikan tangannya.