My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Cemburu



Siang hari nya, kulihat kondisi Rey terlihat lumayan membaik setelah makan dan minum obat. Aku pamit untuk pergi bekerja dan berjanji akan kembali sepulang kerja nanti.


Rayhan menggenggam tanganku erat, seperti enggan untuk ku tinggal pergi saat itu. Dia yang saat itu bersandar di dinding kamarnya menatapku sendu, aku refleks langsung memeluknya dan mencium keningnya.


" Maaf, Hanna harus pergi kerja. Kalau ada apa - apa langsung telpon ke toko aja ya !!" aku menatap Rayhan sambil tersenyum.


Karena saat aku bekerja, aku tidak bisa memegang hp, paling hanya pada jam istirahat saja.


Dan Rayhan memang ku beritahu nomor telepon tempatku bekerja untuk berjaga - jaga saja.


" Makasih banyak ya Hanna. " Dia lalu sekali lagi memelukku.


Saat dia sedang sakit, dia selalu terlihat manja, seperti bayi yang selalu ingin dekat dengan ibunya. Aku yang sudah terbiasa, tidak terlalu membawanya ke dalam perasaanku. Aku sudah bisa mengatur detakkan jantungku agar tidak menganggap nya sebagai sebuah isyarat perasaan yang khusus.


Aku pun sama, saat sedang sakit, aku ingin ada seseorang di sampingku, menemani dan menjagaku walau aku sedang tertidur pulas. Aku hanya berfikir seperti itu juga terhadap tingkah laku Rayhan saat itu.


Saat sedang bekerja, aku menjadi kurang fokus memikirkan Rayhan sendirian di kamar kost nya. Aku jadi ingin cepat - cepat jam istirahat tiba, ingin menelponnya menanyakan bagaimana kabarnya.


Pukul 17.00 Wita. Saat jam istirahat tiba, aku langsung mengambil hpku di loker, saat itu juga aku melihat ada chat whatsupp masuk. Dan, aku langsung membacanya.


A Rey...


Hanna, makasih banyak ya, kamu selalu bantu aa, kamu selalu baik sama aa. Jangan khawatir, td ada beberapa teman dari kantor, dan sekarang masih ada Miko nemenin di kost an. Dia mau pulang nanti malam. Jadi, fokuslah bekerja.


15.30 Wita


Aku langsung membalas chat nya.


Syukurlah, Hanna jadi merasa tenang. Jangan lupa banyak minum air hangat. Jangan dulu melakukan sesuatu yang melelahkan. Istirahat saja ya.


17.05 Wita


Akupun melanjutkan istirahat, dengan makan bersama teman kerjaku.


Saat aku sedang fokus makan, aku tidak menyadari bahwa hp ku, yang ku simpan di atas meja, sudah berada di ujung meja makan saat itu.


Tiba - tiba, ada telpon masuk. Aku yang terkejut, secara tidak sengaja menjatuhkan nya, tersenggol ujung sikutku saat menaruh gelas ke atas meja. Hpku terjatuh, memantul dan menjauh dariku.


Aku setengah berlari menghampiri nya, saat aku membungkukkan badan, hendak mengambil hpku yang terjatuh itu, tiba - tiba ada seseorang yang menginjaknya.


Krrrrttt... rrttt... Suara hpku terdengar sangat jelas.


Teman - teman ku dari kejauhan melihat kejadiannya dengan sangat jelas selain aku sendiri.


" Aaaaaaaaa... " salah seorang temanku berteriak.


Aku, aku hanya terdiam, lalu tercengang.


" Ah.. hpku.. " ucapku.


Lalu orang yang menginjak hpku, pria itu, mengangkat kakinya sebelah, kaki yang menginjak hpku tadi.


Aku langsung mengangkat hpku yang sudah remuk itu. Layar kacanya pecah, cashing hpnya pun remuk sebagian.


Aku langsung menatap orang yang menginjak hpku itu.


Tapi, aku langsung tertunduk lesu tanpa kata sedikit pun.


" Maaf, aku tidak sengaja. " Ucap pria itu.


" Tidak apa - apa, ini salahku. " Aku pun memutar badanku dari hadapan pria itu, berniat pergi ke meja makanku kembali.


" Tunggu, aku sudah merusak hp mu, ini hpku ada dua, kau pegang dulu yang satunya."


Dia lalu mematikan hpnya dan mengeluarkan simcard nya dari hp itu.


" Kau pakai saja dulu hpku yang ini, aku sudah save no hpku disini, nanti kau hubungi aku dan kita tukar hpnya. Nanti aku akan mengganti hpmu yang rusak itu. " Tegas pria itu padaku.


" Tidak usah bli, nanti biar aku perbaiki saja hp ini. " Ucapku.


Aku beberapa kali meyakinkannya untuk tidak perlu berlebihan mengganti hp ku segala. Aku jadi merasa tidak enak.


Tapi pria itu berhasil meluluhkan hatiku dengan perkataannya agar aku mau memberinya nomor telponku saat itu. Setelah itu dia pergi dari hadapanku.


Teman - temanku meyakinkan ku untuk tidak usah cemas, masih bagus pria itu masih mau bertanggung jawab setelah merusak hpku.


Dia bahkan rela meminjamkan ku salah satu hpnya itu. Dia bahkan tidak ragu, padahal saat itu hpnya merupakan hp merek Semsong keluaran terbaru. Semsong galak note keluaran terbaru dengan harga di atas lima juta rupiah saat itu.


Aku malah merasa tidak enak memakainya. Tapi aku terpaksa, lalu ku masukkan simcard ku ke hp milik pria itu, aku hanya cemas, Rayhan atau mungkin keluargaku dan temanku yang lainnya akan sulit menghubungi ku, jadi aku terpaksa memakai hp pria itu.


Aku bahkan tidak berani melihat file foto di galerinya saat teman - temanku meminta untuk melihat lihat isi hpnya. Mereka bilang pemilik hp itu seorang pria yang sangat gagah, berhidung mancung, warna kulitnya sawo matang, tubuhnya tinggi, badannya terlihat berotot walau hanya memakai kaos lengan pendek, terlihat dari beberapa otot lengannya yang menonjol keluar.


Namun, aku tidak mau melihat file di galeri hpnya, bagiku itu tidak sopan.


Beberapa jam kemudian, setelah jam kerja ku berakhir. Aku langsung pulang, terburu - buru menuju halte bus. Aku ingin cepat sampai di tempat kost, mengganti pakaian dan pergi melihat kondisi Rayhan.


Setibanya di depan gerbang tempat kost ku, aku melihat seseorang yang seperti nya ku kenal. Walau hanya dengan melihat punggungnya dan postur tubuhnya, aku bisa mengenalinya dengan jelas. Dia sedang bersandar pada mobilnya sambil merokok menghadap ke depan pintu masuk gedung kostku.


" Ahjussi... " ucapku sambil menghampirinya.


" Hai... aku pikir kau kerja pagi... " dia langsung membuang rokoknya dan mematikannya.


" Iya, aku mendadak menukar shiftku hari ini. " Jawabku sambil tersenyum lebar. Aku merasa senang bisa melihatnya kembali.


" Kau pasti lelah ? kalau begitu kau masuk saja dan istirahat, besok kau libur kan?" tanya paman.


" Iya, aku libur. "


" Besok, apa kau mau pergi jalan denganku ?" tanya paman.


" Besok, tentu saaaaaa.... " aku tidak melanjutkan ucapanku.


" Kenapa?" tanya paman.


" Aku tidak tahu, seperti nya aku tidak bisa, maafkan aku, ahjussi."


" Kau sibuk? atau sudah ada janji pergi dengan seseorang ?" tanya paman.


" Tidak, emh... aku, sedang merawat Rayhan, dia sakit dari kemarin, aku harus menjaganya sampai sembuh. "


" Apa ini alasanmu merubah jadwal shift kerjamu ?" paman memasang raut wajah penasaran dan mengangkat alisnya sebelah.


" Iya, aku merubah shift ku demi dia. Dan sekarang aku harus pulang mengganti pakaianku lalu pergi menemui nya, jadi, maaf aku harus segera masuk ke dalam. "


Aku melambaikan tanganku padanya dan pergi masuk ke dalam menuju lantai dua, kamar kost ku. Sesekali ku lihat ke belakang, paman masih berdiri di posisinya saat itu.


Tapi aku tidak memperdulikan nya dan terus berjalan menaiki tangga menuju kamarku.


Setelah mengganti pakaian ku dan membersihkan wajah, aku langsung turun hendak menuju gedung kost Rayhan.


Saat turun ke bawah, aku melihat paman masih ada di sana di dekat mobilnya.


" Ahjussi, kau belum pulang ?" tanyaku keherananan.


" Apa dia pacar atau suamimu ? kenapa kau harus repot - repot mengurus nya saat dia sedang sakit ?" ucap paman dengan nada agak kesal.


" Kau kenapa, ahjussi, kenapa nada bicara mu seperti itu. Memangnya kenapa kalau aku bukan pacar ataupun suaminya, kenapa, apa ada yang aneh kalau aku mengurusnya saat dia sedang sakit ?" aku jadi sedikit terbawa emosi.


" Bu-bukan begitu maksudku, tapi... " paman belum sempat melanjutkan perkataannya.


" Sudahlah, aku sedang buru - buru, sebaiknya ahjussi pulang saja. " Aku menyela perkataanya lalu pergi menyebrangi jalan menuju tempat kost Rayhan.


Kali ini aku bahkan tidak menoleh sedikitpun.


" Ada apa dengannya, kenapa dia jadi sewot seperti itu, memangnya kenapa kalau aku hanya temannya, apa aku tidak boleh menolong temanku, dasar aneh. " Sepanjang jalan, aku terus menggerutu dengan nada setengah berbisik.