My Affair

My Affair
BAB 97



Hendri dan Erik kemudian menatap ke wajah Jero, mereka berdua meminta pertolongan kepada Tuan mudanya itu untuk terlepas dari pertanyaan pertanyaan yang akan diajukan oleh nona mudanya itu. Hendri dan Erik sudah sangat tahu bagaimana kaliber Vian kalau sudah bertanya tidak akan bisa dihentikan hanya dalam dua pertanyaan saja.


Jero sama sekali tidak menjawab pertanyaan tersirat dari kedua pengawalnya itu. Padahal sebenarnya Jero melihat mereka. Jero ingin mereka berdua menjawab dengan sejujur jujurnya tentang semua hal yang ditanyakan oleh Vian.


"Hay, kalian berdua tadi sudah setuju untuk menjawab pertanyaan yang saya berikan, jadi sekarang jangan sok sokan untuk meminta pertolongan kepada Tuan muda kalian itu" ujar Vian yang sudah bisa menebak kalau Hendri dan Erik meminta bantuan kepada Jero agar mereka berdua bisa dilepaskan dari pertanyaan pertanyaan yang akan diberikan oleh Vian nantinya.


"Tuan muda kalian itu tidak akan menghentikannya. Kalian percaya saja sama saya, saya tidak akan membiarkan kalian dimarahi, diskor atau bahkan dipecat oleh Tuan muda itu, saya akan jadi jaminan kalian kepada dirinya" ujar Vian meyakinkan Hendri dan Erik untuk mengatakan apa yang ditanyakan oleh Vian nantinya.


"Apa kalian berdua sudah siap?" tanya Vian kepada Hendri dan Erik.


Vian menatap kedua pengawal itu dengan tatapan intimidasi yang hampir sama dengan tatapan yang diberikan Jero saat dia mengintrograsi seseorang.


'Tatapan Nona muda sama mengerikannya dengan tatapan Tuan muda' ujar Hendri dalam hatinya.


'Kok sama sama tatapan kulkas, bisa membeku gue di tatap kayak gitu. Apa nona muda belajar tatapan seperti itu dari Tuan muda. Gue benar benar tidak kuat ditatap seperti itu, rasa mau runtuh dunia aku dibuatnya.' ujar Erik dalam hati dan pikirannya.


Mereka berdua tidak menyangka kalau Vian akan mampu memberikan mereka tatapan mengintimidasi sedingin kulkas, dan langsung bisa membuat orang orang itu mengatakan apa yang ada dalam otak mereka saat itu juga.


"Siap Nona, kami akan menjawab pertanyaan dari Nona, berdasarkan apa yang kami ketahui. Sisanya silahkan Nona muda tanyakan kepada Tuan Muda, kami tidak akan menjawab pertanyaan pertanyaan yang seharusnya di tanyakan kepada Tuan muda" ujar Hendri memberikan batasan yang bisa dijawab oleh dirinya dengan yang tidak bisa dijawab oleh mereka berdua.


"Oke saya setuju" jawabVian yang setuju dengan persyaratan yang diajukan oleh Hendri dan Erik.


"Tapi kalian berdua juga harus menjawab pertanyaan yang saya ajukan dengan serius dan tidak berbohong kepada saya" ujar Vian juga mengajukan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Hendri dan Erik.


"Siap Nona, kami akan jawab dengan jujur" ujar Hendri dan Erik bersamaan untuk yang kesekian kalinya saat menjawab pertanyaan dari Vian.


Mereka sekali lagi membuat Jero menjadi heran. Hendri dan Erik bisa menjawab dengan bersamaan apa yang ditanyakan oleh Vian nanti.


"Jadi Hendri dan Erik, mengulang kembali pertanyaan sebelumnya, kapan kalian berdua bertemu dengan Tuan muda kalian ini?" tanya Vian sambil menatap tajam kearah Hendri dan Erik.


Hendri dan Erik tidak menyangka kalau Vian memiliki kemampuan seperti itu. Kemampuan yang sama dengan Tuan Jero, yaitu kemampuan untuk membuat seseorang tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh dirinya itu.


"Kami berdua bertemu dengan Tuan Jero secara bersamaan Nona muda" ujar Hendri menjawab pertanyaan dari Vian tentang kapan mereka bertemu itu.


"Maksudnya?" tanya Vian yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Hendri dan Erik.


"Maksudnya, kami berdua bertemu dengan Tuan muda, saat aku membantu Erik terlepas dari seorang pembunuh. Aku membantu Erik saat itu. Tapi naas, perut aku sempat di sambar oleh salah satu rekan dari pembunuh" lanjut Hendri menjelaskan kapan tepatnya mereka bertemu denganJero kepada Nona muda mereka yang sangat haus akan informasi.


Vian menatap Jero, Jero kemudian tersenyum simpul mendengar apa yang dibicarakan oleh Hendri dan Erik.


"Nggak ada terusnya Nona" jawab Hendri sambil mengunyah sebuah anggur yang baru saja dimasukkan ke dalam mulutnya.


"Masak iya nggak ada terusnya. Kamu jangan macam macam Hendri" ujar Vian yang kesal mendengar jawaban yang diberikan oleh Hendri kepada dirinya.


"Jadi, Nona muda. Saat Tuan Muda membantu Hendri untuk menyelamatkan saya, semenjak itulah kami tinggal bersama dengan Tuan muda di mansioan mereka.' ujar Erik melanjutkan cerita dari Hendri yang sengaja dibiarkan menggantung oleh Hendri.


Hendri sengaja melakukan itu, Hendri ingin melihat bagaimana marahnya seorang Vian kepada dirinya nanti. Tetapi sayangnya Erik sudah melanjutkan menjawab pertanyaan dari Vian. Sehingga apa yang dilakukan Hendri tadi menjadi sangat sia sia saja.


"Kami berdua saat itu cukup malu dan segan karena Tuan muda memperlakukan kami sama dengan perlakuan yang diberikan oleh Tuan muda kepada Tuan Felix dan Tuan Bram. Sejak itulah kami meyakinkan diri kami untuk selalu mendampingi Tuan muda, kemanapun Tuan muda berada" lanjut Erik bercerita dengan gampang dan tidak terburu buru.


"Ooo. Jadi, kalian berdua asli dari negara E?" tanya Vian kembali kepada mereka berdua.


"Iya Nona kami asli dari negara E" jawab Erik.


Hendri dan Erik kemudian berdiri dari duduknya. Mereka berdua sudah yakin kalau Vian tidak akan lagi bertanya kepada mereka berdua, karena sudah dibantu jawab oleh Erik semua informasi yang diinginkan oleh Vian dari mereka.


"Sayang, kamu mau tau tidak bagaimana dengan keadaan keluarga kami, yang berkaitan dengan fhoto fhoto yang sudah kamu lihat itu. Fhoto fhoto itu tidak akan kita simpan di ruangan khusus yang terletak di belakang mansion utama" ujar Jero kepada Vian yang sudah tidak sabar lagi untuk menceritakan dan menjelaskan kepada Vian siapa dirinya sebenarnya.


"iya sayang, aku sudah tidak sabar lagi mendengar cerita tentang rangkaian fhoto fhoto yang sudah aku lihat tadi" ujar Vian kepada Jero yang sudah tidak sabar lagi untuk mendengar semua cerita tersebut.


Vian kemudian mengubah gaya duduknya dengan berselonjoran. Semua makanan sudah di masukkan kembali ke dalam keranjang. Terlihat di atas tikar hanya tersisa dua tabung air mineral dan sekotak buah potong dan buah anggur segar. Kedua hal itu sengaja ditinggalkan oleh Vian, untuk mereka nikmati berdua nantinya saat mereka akan berbincang bincang menceritakan semua kisah masa lalu yang ternyata berkaitan dengan hancurnya masa depan Vian saat diperistri oleh Juan Aleksander.


"Bang, loe tadi pasti sengajakan ya untuk tidak menjawab dan menjelaskan kepada Nona Muda. Loe pasti ingin melihat bagaimana reaksi dan bagaimana Nona muda kalau sudah marah. Benerkan?" ujar Erik menebak apa yang tadi dipikirkan oleh Hendri yang memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan dari Vian dengan sangat jelas.


"Loe emang lah ya Bang. Ada ada saja. Kalau Tuan Muda tahu, maka habis loe nanti" ujar Erik yang sangat yakin kalau Hendri pasti lupa dengan Tuan muda mereka itu.


Hendri mengangguk, dia memang lupa dengan Tuan muda.


"makasi karena udah melanjutkan cerita. Gue jadi terbebas dari ancaman yang akan diberikan oleh Tuan muda" ujar Hendri yang ntah kenapa bisa melupakan keberadaan Jero di sana tadi.


Kalau tidak ada Erik, bisa jadi Hendri hanya tinggal nama saja lagi. Hendri tidak akan berada lagi dalam lingkaran Asander grub.