My Affair

My Affair
BAB 125



Vian yang telah selesai memasak menu makan siang yang akan dibawa oleh dirinya ke perusahaan Jero, memilih untuk membersihkan dirinya setelah menyelesaikan memasak menu makan siang yang lumayan banyak dibuat oleh Vian. Tetapi Vian sangat bahagia karena dibantu oleh para maid yang senang belajar memasak dengan Vian.


Vian berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai tiga mansion. Vian tidak mau menggunakan lift karena takut lift tersebut akan tercemar bau dari pakaian Vian yang sudah memiliki bau yang bercampur campur menjadi satu. Ada bau bawang, bau bakar bakaran dan bau lain lainnya.


Vian sampai di lantai tiga berjalan menuju kamar Bram terlebih dahulu. Vian kemudian mengetuk pintu kamar Bram. Bram yang berada di dalam kamar langsung berjalan menuju pintu kamar dan membuka pintu kamarnya. Bram melihat Vian sudah berdiri di sana.


"Ada apa kakak ipar?" tanya Bram saat melihat Vian sudah berdiri di depan kamar dengan gaya rambut yang masih sama dengan saat Vian menyiapkan sarapan untuk Bram tadi.


"Kakak udah siap masak. Ini mau mandi, kamu mandi juga sana biar nggak terlalu lama nanti. Siap itu kita langsung ke perusahaan Jero" ujar Vian memberitahukan kepada Bram untuk mandi dan bersiap siap akan pergi ke perusahaan Jero.


"Oke sip kakak ipar. Aku akan langsung mandi" jawab Bram yang setuju untuk mandi dan membersihkan badannya.


Vian berlalu dari kamar Bram. Bram kemudian menutup pintu kamarnya. Dia kemudian mengambil handuk dan memilih untuk membersihkan badannya serta langsung bersiap siap untuk pergi ke perusahaan Jero.


Vian yang sudah sampai di kamar, juga mengambil handuk untuk mandi. Vian kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia menghidupkan shower yang ada di sana. Vian membersihkan dirinya di bawah air shower yang jatuh membasahi diri Vian. Vian tidak lupa mencuci rambutnya yang sudah sedikit berbau ayam panggang itu.


"Wow nikmat banget, sayangnya harus cepat dihentikan karena akan pergi ke perusahaan Jero. Padahal sedang asik asiknya ini mandi" ujar Vian yang langsung harus menyudahi kegiatan mandinya itu, karena harus pergi ke perusahaan mengantarkan makan siang untuk Jero dan Felix.


Saat itulah ponsel milik Vian berdering nyaring. Vian meraih ponsel miliknya yang dari tadi ditinggalkan oleh Vian di kamar. Dia melihat ada panggilan dari Jero yang tidak diangkat oleh vian. Serta beberapa pesan chat yang juga dikirimkan oleh Jero berkali kali kepada Vian.


Vian mengangkat panggilan dari Jero, yang telah berkali kali mengulang panggilan yang sama.


"Hallo sayang, ada apa? Kenapa nelpon sampe berkali kali seperti itu?" ujar vian bertanya kepada Jero kenapa Jero berkali kali menghubungi vian seperti ada sesuatu yang penting.


"Nggak ada yang penting. Tadi kamu sedang masak makanya nggak angkat telpon dari aku sayang?" ujar Jero bertanya kepada Vian melalui sambungan telpon.


"Iya sayang. Ponsel aku tinggal di kamar. Ini aku baru siap mandi mau memasang baju. Tapi kamu keburu nelpon aku sayang" ujar Vian memberitahukan kepada Jero apa yang telah dilakukannya di mansion tadi sehingga tidak mengangkat panggilan telpon dari Vian.


"Video call yuk" ujar Jero yang mulai kembali usil kepada Vian.


"Halalin dulu" ujar Vian kembali mengucapkan hal yang sama kepada Jero.


"Awas kalau jawab cerai dulu" kata Vian yang sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Jero nanti kepada dirinya.


"Hahaha hahaha. Sudah sayang, sana pakai pakaiannya nanti masuk angin. Kamu ke sini dengan Bram kan?" ujar Jero bertanya dan memastikan kalau Bram sudah bangun dan juga sudah mengatakan kepada Vian kalau Bram yang akan mengantarkan Vian menuju perusahaan.


"Sudah sayang. Bram sudah ngomong akan mengantarkan aku ke perusahaan. Kamu jangan mengira Bram masih tidur. Dia sudah langsung sarapan dan bekerja dari tadi. Kayaknya itu anak akan menghabiskan waktu mudanya dengan mengejar bisnis" ujar Vian melaporkan apa yang sudah di lakukan oleh Bram dari tadi saat dia bangun tidur.


"Biar ajalah sayang. Besok kalau dia nggak mau nikah. Maka aku akan turun tangan mencarikan dia pasangan untuk menemani hidup dia ke depannya" ujar Jero yang ternyata sudah memiliki rencana untuk Bram dan Felix. Kedua adiknya yang sampai saat sekarang belum juga menunjukkan kalau mereka sedang terlibat urusan asmara dengan wanita.


"Mana ada coba zaman sekarang orang main dijodoh jodohkan, emang nya zaman siti nurbaya" ujar Vian menggoda Jero yang sekarang sedang tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya tadi.


"Udah ah sayang, aku siap siap dulu. Nanti bisa ngamuk Bram, kalau aku belum siap" ujar Vian yang langsung mematikan sambungan telponnya dengan Jero tanpa menunggu persetujuan dari Jero.


Vian kemudian mengambil semua pakaiannya. Dia memakai semua pakaian itu. Setelah itu Vian berdandan di depan cermin. Dia memoles wajah cantiknya dengan riasan natural. Jero tidak suka melihat Vian yang memoles wajah cantiknya dengan riasan super tebal seperti badut.


"Selesai" ujar Vian sambil menatap kembali wajah cantiknya di depan cermin besar itu.


Vian tersenyum sendiri melihat hasil riasan nya hari ini. Bener bener natural dan tidak terlihat seperti memakai topeng. Vian kemudian memakai sendal miliknya. Dia sengaja tidak memakai heels karena takut akan kecapekan sepanjang kegiatan dirinya di luar. Apalagi Vian sudah tinggi kalau dia memakai heels maka tingginya akan melebihi tinggi Jero. Vian tidak mau itu terjadi, makanya dia sangat menghindari memakai sepatu tinggi tersebut. Apalagi pekerjaan vian yang merupakan seorang dokter tidak memungkinkan dia memakai sepatu tinggi karena mobilisasi nya yang sangat tinggi


Vian kemudian berjalan ke laur dari dalam kamar. Vian menuju lantai satu mansion. Vian tadi sudah meminta bik Ima untuk memasukkan semua bekal makanan siang ke dalam tempat bekal yang lumayan besar. Mereka akan berempat bahkan bisa jadi berlima untuk menikmati makan siang itu.


Bram ternyata sudah duduk di meja mini baru. Di depan Bram sudah ada rantang super besar.


"Apa itu Bram?" tanya Vian kepada Bram saat melihat rantang yang besar dan tinggi berada di depan Bram saat ini.


"Bekal makan siang. Sepertinya kita akan piknik di perusahaan Jero" ujar Bram tersenyum melihat rantang yang sangat besar itu terpampang di wajahnya.


Bram tidak bisa membayangkan bagaimana cara mereka akan menghabiskan semua bekal yang telah dimasukkan oleh bik Ima ke dalam rantang rantang itu.


"Bener juga. Ayuk jalan. Sudah jam dua belas. Bisa mati kelaperan Felix nanti. Kalau Bang Jero sudah biasa makan telat. kalau bang Felix mana ada. Bisa kambuh sakit magh nya kalau dia makan telat" ujar Bram memberitahukan kepada Vian kalau Felix memiliki riwayat sakit magh.


"Oh ya, kalau begitu mari kita berangkat. Kasihan Felix kalau harus sakit magh" ujar Vian yang meraih satu tas ukuran menangah yang di dalamnya ada potongan buah dan puding yang di buat Vian pagi hari saat telah selesai sarapan.


Bram mengikuti Vian dari belakang. Bran membawa rantang yang cukup besar. Hendri yang melihat Bram membawa rantang berlari menuju Bram dan Vian. Hendri mengambil rantang dan juga tas yang dibawa oleh Tuan dan Nona mudanya itu. Hendri manaruh semua yang dibawa oleh Bram dan Vian ke kursi bagian sebelah sopir.


Bram dan Vian kemudian masuk ke dalam mobil. Hendri mengemudikan mobil menuju perusahaan. Vian melihat ke arah luar jendela. Vian memang memiliki hobby untuk melihat pemandangan yang disajikan oleh alam.


"Kakak ipar seperti tidak pernah melihat keadaan di luar saja" ujar Bram menegur Vian yang terlihat sangat asik menikmati pemandangan yang disajikan oleh alam itu.


"Haha haha haha, kakak paling suka lihat pemandangan yang disajikan oleh alam Bram. Makanya kakak paling suka melihat ke arah luar saat dalam perjalanan" ujar Vian menjawab pertanyaan dari Bram seputar kesukaan Vian yang selalu melihat ke arah luar saat mereka sedang berpergian.


Mobil yang dikemudian oleh Hendri terus bergerak membelah jalanan ibu kota menuju perusahaan Jero. Vian dan Bram duduk santai di kursi bagian belakang. Mereka berdua terlibat percakapan serius tentang hobby Vian melihat pemandangan saat mereka menaiki mobil ataupun kendaraan lainnya.


"Kakak udah pernah naik kereta api?" tanya Bram yang ingat bagaimana asiknya naik kereta api dari negara E ke negara F.


Bram naik kereta api itu bersama dengan Felix saat mereka ada pekerjaan bisnis ke negara F. Felix yang waktu itu malas menggunakan transportasi mobil memilih untuk pergi dengan menggunakan kereta api. Saat itu mereka berdua benar benar menikmati perjalanan yang sangat mengasikkan itu. Perjalanan yang tidak ada duanya sampai sekarang.


"Belum pernah sama sekali Bram. Kamu katakanlah kepada Jero untuk membawa kita jalan jalan dengan kereta api. Kakak juga ingin merasakannya" ujar Vian yang memang sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana rasanya sensasi naik kereta api.


"Yah harusnya kakak ipar yang membujuk Bang Jero untuk membawa kita pergi. Kalau aku pasti Bang Jero akan banyak alasan. Kalau kakak ipar pasti kak Jero akan langsung mengatakan iya tanpa ada syarat atau nada nada penolakan" ujar Bram memberikan saran kepada Vian untuk Vian saja yang mengatakan kepada Jero untuk pergi jalan jalan dengan memakai kereta ke negara F. Perjalanan yang sudah bisa dibayangkan oleh Vian bagaimana asiknya. Naik kereta ke negara F dari negara E.


"hem baiklah Bram akan kakak sampaikan kepada Jero. Tapi kalau Jero tidak mau bagaimana?" tanya Vian kepada Bram.


Vian tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Vian kalau Jero menolak keinginan Vian untuk pergi jalan jalan memakai kereta api.


"Kakak ipar langsung cemberut aja. Nah pasti Bang Jero akan langsung setuju untuk membawa kakak ipar jalan jalan memakai kereta api" kata Bram memberikan solusi kepada Vian yang terlihat berpikir keras kalau Jero tidak setuju mereka pergi jalan jalan naik kereta api.


"Bener juga ya Bram. Bae merajuk maka dia akan langsung mengangguk. Keren" ujar Vian yang sudah tidak sabar lagi akan melakukan aksinya itu saat ini juga.


"Hahaha hahahah. Jadi kapan kakak ipar akan melangsungkan rencana kakak ipar itu?" tanya Bram yang ingin memastikan kapan Vian akan melancarkan aksinya itu kepada Jero.


"Nanti selesai makan siang" jawab Vian memastikan kepada Bram kapan dia akan mengatakan kepada Jero keinginannya untuk jalan jalan memakai kereta api.


"keren kakak ipar" ujar Bram yang semangat mendengar kapan Vian akan mengatakan keinginannya itu kepada Jero.


Hendri yang mendengar bagaimana gigihnya Bram menghasut Vian hanya bisa tersenyum ajaa. Hendri juga ingin pergi jalan jalan dengan menggunakan kereta api. Makanya dia hanya diam saja melihat aksi yang dilakukan oleh Bram kepada Vian.


Mobil terus melaju menuju perusahaan Jero. Vian dan Bram mash mengobrol seputar kereta api di atas mobil. Sedangkan Hendri hanya menjadi pendengar setia, dan bersiap siap kalau ditanya Jero nanti.


"Hendri, kalau ditanya Bang Jero kamu jawab aja kalau itu adalah keinginan Vian ya. Jangan katakan kalau Bram ikut memancing keinginan vian" ujar Viab memberikan perintahnya kepada Hendri.


"siap Nona muda. Saya akan tutup mulut" kata Hendri memastikan kalau dia tidak akan mengadukan hal apapun kepada Jero kalau ditanya Jero tentang siapa yang mengompori Vian untuk jalan jalan memakai kereta api.


Mobil kemudian dibelokkan Hendri masuk ke dalam parkiran perusahaan. Hendri memberhentikan mobil di lobby perusahaan. Mereka bertiga kemudian turun dari dalam mobil. Vian mengambil tas tangannya. Sedangkan Bram merapikan jas yang dipakai oleh dirinya. Hendri mengambil rantang dan juga tas yang berisi irisan buah dan puding untuk dinikmati di ruangan Jero.


Ruangan yang sebentar lagi akan disulap menjadi tempat pingin kecil kecilan. Semua karyawan wanita dan pria menatap ke arah tiga orang yang cantik dan tampan itu. Mereka baru kali ini melihat Vian. Sedangkan Bram sudah beberapa kali saat dia ada meeting dengan Jeri atau Felix.


"Wow wanita itu cantik sekali" ujar salah seorang karyawan yang terdengar oleh Vian, Bram dan Hendri.


"Dia sangat cocok dengan Tuan Bram" ujar yang lainnya.


Bram menatap mereka dengan pandangan marah. Bram paling tidak suka mendengar hal hal seperti itu. Mereka yang telah mendapatkan pandangan mematikan dari Bram langsung terdiam. Mereka tidak mau berurusan dengan salah satu dari tiga orang Tuan Muda tersebut. Mereka bertiga terkenal sangat kejam kalau ada yang mengusik hidup mereka bertiga.


"Tolong ya mulut kalian jaga" ujar Hendri dengan nada yang tegas dan tidak bisa ditoleransi lagi.


Semua karyawan kemudian terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Hendri. Vian dan yang lainnya masuk ke dalam lift yang dikhususkan untuk pemimpin perusahaan. Mereka akan langsung menuju ruangan tempat Jero berada sekarang ini.Yaitu ruangan yang berada di bagian paling atas gedung. Dari ruangan Jero, kita bisa melihat ibu kota sekeliling karena ruangan itu di desain dengan kaca tembus pandang dari dalam ruangan.