My Affair

My Affair
Kejutan



Kedua mobil berwarna hitam dove yang mewah itu beriringan masuk ke dalam villa mewah dengan dua mobil yang mengapit mereka dari arah depan dan belakang. Dua mobil pengawal yang siap mengantarkan mereka menuju villa mewah tersebut.


"Sayang, kok lampu lampu villa kita nggak kelihatan ya dari jalan. Biasanya kelihatan?" ujar Vian menyuarakan keheranannya kepada Jero saat melihat tidak ada lampu atau sejenis penerangan yang berasal dari villa mewah yang berada tepat di atas puncak bukit itu.


Jero yang dari tadi tidak memerhatikan villa langsung saja melihat ke arah villa mereka. Jero memang sama sekali tidak melihat adanya penerangan dari arah villa.


"Bener ya sayang, kenapa nggak ada cahaya dari villa ya?" kata Jero yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vian.


Jero memang tidak melihat sama sekali lampu lampu penerangan dari villa. Dalam sekejap villa itu menjadi tidak terlihat dari arah jalan, padahal biasanya lampu lampu villa itu menjadi pemandangan yang menarik dari arah jalan yang sedang mereka lalui ini.


"Pengawal kenapa tidak ada cahaya dari villa?" ujar Jero bertanya kepada pengawal yang mendampingi dirinya.


"Maaf tuan muda, sepertinya listrik sedang padam di villa"


Pengawal memberikan jawaban dengan nada biasa saja, tidak terlihat gugup atau grogi dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada pengawal tersebut.


"Oh baiklah. Tapi villa aman kan? Kedua adik saya amankan?" ujar Jero bertanya tentang keadaan kedua adiknya.


Jero sangat mencemaskan keadaan adik adiknya itu. Bagi Jero keselamatan adiknya di atas segala galanya.


"Baik baik saja Tuan Muda. Memang listrik yang padam di villa. Bukan karena apa apa" kata pelayan meyakinkan Jero kalau di villa memang hanya ada kejadian mati lampu saja bukan kejadian yang lain lain yang sedang dihadapi oleh orang-orang yang ada di villa.


"Baiklah" ujar Jero yang kembali sudah merasa tenang dan nyaman dengan jawaban yang diberikan oleh pengawal kepada dirinya.


Iring iringan keempat mobil hitam mewah itu terus melaju menuju villa.


Sedangkan di villa semua orang yang akan memberikan kejutan kepada dua pasang kekasih itu sudah bersiap siap di posisi mereka masing masing. Mereka satu pusat komandi yaitu Bram.


Tepat lima belas menit, keempat mobil mewah itu masuk ke dalam villa. Para sopir yang sudah dalam komando Bram memberhentikan mobil dengan langsung mematikan lampu mobil.


"Wah ada apa lagi?" ujar Jero bertanya kepada pengawalnya.


"Tidak apa apa Tuan Muda. Tuan muda silahkan turun" ujar Pengawal mempersilahkan Jero dan juga Vian untuk turun dari dalam mobil.


"Sayang, apa semua baik baik saja?" ujar Vian yang langsung memegang tangan Jero dengan sangat kuat.


Jero dan Vian turun dari dalam mobil. Begitu juga dengan Jero dan Greta. Mereka berdua ternyata juga bergenggaman tangan menguatkan antara satu dengan yang lainnya.


Pengawal pengawal yang sudah siap dengan bunga bunga mereka membatalkan untuk memberikan bunga kepada Vian dan Greta. Mereka mengikuti skenario yang berubah.


Bram bisa membaca perubahan dari para pengawal yang merangkap sopir tersebut. Mereka melihat kalau tidak mungkin rasanya pengawal lain memberikan bunga karena bisa jadi Jero akan curiga dengan apa yang terjadi.


"Tuan muda mohon untuk berjalan memegang tangan Nona muda" ujar pengawal meminta Jero dan Jeri untuk memegang tangan Vian dan Greta.


Jero memegang tangan Vian begitu pula dengan Jeri yang memegang tangan Greta. Mereka berempat sekarang di bawah kendali para pengawal.


Pengawal menggiring mereka menuju taman belakang.


Para pengawal hanya diam saja. Mereka sama sekali tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh tuan muda mereka.


"Jalan terus tuan muda, jangan banyak cerita" ujar pengawal dengan nada tegas.


Jero dan Jeri kemudian berjalan mengikuti para pengawal tersebut. Mereka berdua sudah mengeraskan rahangnga. Mereka berdua sudah sangat emosi dengan perlakuan para pengawal kepada mereka berempat.


"Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Vian, maka bisa saya pastikan kalian semua akan berakhir di lubang yang sama" ujar Jero mengancam para pengawal tersebut.


Pengawal tetap acuh, pengawal sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Jero. Mereka tetap menggiring Jero, Jeri, Vian dan Greta ke taman belakang tempat kejutan yang akan diberikan oleh Bram, Felix, Tama dan juga para pengawal.


'Awas saja kalau mereka berani mengganggu adik gue maka siap siap saja, nyawa mereka akan menjadi taruhannya' ujar Jero dalam hatinya.


'Mereka akan melihat bagaimana marahnya gue nanti' lanjut Jero dalam kemarahannya terhadap semua pengawal yang sudah melakukan hal itu kepada dirinya dan Jeri terumata kepada Vian.


'Awas saja terjadi sesuatu maka mereka semua akan selamat' lanjut Jero mengumpat dalam hatinya.


Para pengawal yang menggiring Jero dan yang lainnya ke taman belakang sebenarnya juga sudah deg degan dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Mereka sangat takut akan kemarahan Jero yang akan mereka terima nanti, tapi apa mau dikata mereka harus mengikuti arahan dari Bram dan Felix.


"Pengawal kalian membawa kami kemana?" tanya Jero yang mulai kesal dengan tingkah para pengawalnya itu.


"Diam saja Tuan, ikuti saja intruksi kami. Tuan jangan banyak tanya, kalau Tuan mau selamat sampai di tujuan" ujar Pengawal dengan nada dingin.


"Hay kau pengawal, jangan berani bicara kurang ajar kepada Jero" ujar Jeri yang sudah sangat kesal dari tadi.


Jeri dari tadi sudah berusaha menahan amarahnya, tetapi kali ini saat mendengar apa yang dikatakan oleh pengawal kepada Jero membuat Jeri sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya yang sudah sampai puncak itu.


Pengawal yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jeri, menjadi sedikit gentar. Tetapi mereka tidak boleh terlihat gentar, mereka harus melanjutkan kembali aksi mereka yang sudah hampir selesai tersebut.


"Sudahlah Tuan Jeri, Tuan jangan ikut ikutan. Tuan ikuti saja apa yang kami katakan, maka Tuan Jero, Tuan Jeri, Nona Vian dan Nona Greta akan selamat. Tetapi kalau banyak cerita maka bisa jadi tidak akan selamat" ujar pengawal yang sedang dalam mode usil bisa menjahili dan memancing amarah Jeri.


Bram yang mendengar dari alat komunikasi apa yang dikatakan oleh pengawal kepada Jeri hanya bisa geleng geleng kepala saja. Bram tidak menyangka kalau pengawal itu akan menggunakan moment tersebut untuk menjahili Jeri. Bram mengira kalau pengawal akan diam saja dan mengikuti apa yang akan dilakukan oleh Bram, tetapi ternyata tidak, mereka dengan sengaja memancing amarah Jero dan Jeri.


"Kalau kalian di balas sama Jeri nanti. Saya tidak tanggung jawab ya" ujar Bram melalui alat komunikasinya dengan pengawal yang menggiring keempat orang itu menuju taman belakang.


"Siap Tuan Muda Bram. Kami sengaja melakukan ini" jawab pengawal yang berjarak lumayan dari Jero dan Jeri.


Lagian Jero dan Jeri tidak akan mungkin mengawasi dan mendengar apa yang dikatakan oleh pengawal. Mereka sekarang sedang dalam mode emosi, karena kelakuan dan perbuatan pengawal kepada mereka berempat. Jero dan Jeri sedang berpikir keras, siapa yang melatar belakangi kelakuan dari para pengawal ini.


Mereka juga mencari motif yang mengakibatkan kejadian seperti ini. Apalagi sekarang Jero tidak mengetahui kondisi Felix dan Bram serta Tama sahabatnya. Jero menyesal telah meninggalkan mereka tadi.


'Kalau ada sesuatu dengan mereka bertiga, maka aku tidak akan bisa memaafkan diriku lagi' ujar Jero dalam hatinya


Jero tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepada Felix, Bram dan Tama.