My Affair

My Affair
Intrograsi



Pelayan yang tadi di panggil oleh Papi, berjalan menuju ke tempat Papi. Papi berada di sofa ruang tamu.


"Maaf Tuan saya datang terlambar. Ada yang bisa saya bantu Tuan besar?" ujar Pelayan bertanya kepada Papi sambil menundukkan kepalanya dalam dalam.


Papi menatap heran kepada salah satu pelayan yang bisa dikatakan sudah sangat lama bekerja di mansion besar yang ditempati oleh Juan Alexxsander. Papi baru sekali ini melihat pelayan tersebut menundukkan kepalanya saat berbicara dengan papi. Papi sekarang yakin kalau ada sesuatu yang terjadi di mansion besar ini. Sesuatu  yang membuat seorang pelayan yang lama bekerja saja menjadi takut saat Papi memanggil dirinya untuk melakukan dialog dengan papi. Padahal Papi belum mengatakan atau bertanya apapun kepada pelayan tersebut. tetapi pelayan itu sudah terlebih dahulu takut untuk berbicara dengan papi.


"kenapa kamu menunduk seperti itu saat berbicara dengan saya?" tanya Papi sambil menatap ke arah pelayan itu dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apa kamu ada membuat kesalahan sehingga tidak berani menatap mata saya?" lanjut Papi bertanya kepada pelayan yang terlihat sangat takut mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Papi.


"ti ti ti ti"


Pelayan tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Papi kepada dirinya. Permasalahan yang terjadi di mansion besar ini benar benar membuat dirinya takut untuk berbicara dengan pemilik mansion. Rasa takut membuat dirinya menjadi cemas untuk berbicara dengan Tuan besar Alexsander. Pelayan sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresi yang akan diberikan oleh Tuan besar Alexsander kalau dirinya mendengar apa yang terjadi di mansion besar itu.


"Kenapa kamu terbata bata pelayan?" ujar Papi bertanya kepada pelayan tersebut.


kelakuan dan gelagat pelayan ini semakin membuat papi yakin kalau di mansion besar ini sedang terjadi suatu masalah yang telah membuat siapa saja yang tinggal di mansion ini menjadi tertekan. Keyakinan Papi ditambah dengan gelagat pelayan itu yang terlihat sangat tidak nyaman saat papi datang ke mansion.


"Jawab pertanyaan saya, kamu kenapa aneh seperti itu. Saya bertanya kamu menjawab dengan grogi dan terbata bata, saya ngobrol dengan kamu, kamu menunduk. Seperti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kami semua" lanjut Papi bertanya kepada pelayan tersebut.


"Maafkan saya Tuan besar." jawab pelayan itu yang masih tetap tidak berani menatap ke wajah Tuan besar Alexsander.


"Bisa jelaskan terlebih dahulu sebelum saya memutuskan apakah saya memaafkan kamu atau tidaknya" ujar Papi sambil melihat dan menatap ke arah pelayan yang masih tidak mengangkat kepalanya itu.


"Angkat kepala kamu kalau mau bicara dengan saya" ujar Papi meminta pelayan itu mengangkat kepalanya untuk berbicara dengan Papi


"jangan menunduk seperti itu" lanjut Papi meminta pelayan mengangkat kepalanya.


Pelayan mengangkat kepalanya. Dia tidak mau Papi memberikan perintah yang sama untuk kesekian kalinya kepada dirinya. Pelayan yang telah lama bekerja dengan Papi itu sangat tahu kalau Papi tidak suka mengulang perintah yang sama berkali kali.


"Ceritakan" kata Papi memberikan perintah kepada pelayan itu untuk menceritakan semua kejadian yang terjadi di mansion besar tersebut.


"Tuan besar hari itu memerintahkan saya untuk bekerja di tempat ini saat Bik Imah masih di sini." kata pelayan mulai membuka ceritanya kepada tuan besar Alexsander.


"Apa Vian pernah sarapan atau makan malam berdua dengan Juan di meja makan yang sama?" tanya Papi yang sekarang sudah mendapatkan gambaran bagaimana hancurnya rumah tangga anak laki lakinya itu.


"Sama sekali tidak pernah Tuan besar. Semenjak kajadian yang membuat Nyonya muda menjadi sangat terpukul" ujar pelayan memberitahukan kepada tuan besar tentang kejadian yang membuat Vian menjadi tidak pernah sarapan dan makan malam dengan Juan Alexsander.


"Bahkan bisa dikatakan Nyonya muda tidak pernah makan makanan yang dibeli dengan uang Tuan muda" lanjut pelayan memberitahukan kepada Tuan besar tentang bagaimana kenyataan yang ada di mansion besar tersebut.


"Maksud kamu bagaimana?" tanya papi yang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh pelayan tersebut kepada dirinya.


"Ya tuan besar. Ada sebuah kejadian di mansion besar ini yang membuat Nyonya muda tidak pernah makan ataupun minum di mansion dengan menikmati makanan atau minuman yang dibeli dari uang yang diberikan Tuan Muda kepada Bik Ima" jawab pelayan memperjelas apa maksud dari perkataannya barusan.


"Sepertinya masalah ini terlalu berat untuk dibahas sambil kamu berdiri. Silahkan duduk" ujar Tuan besar Alexsander meminta pelayan untuk duduk di sofa.


"tolong ambilkan dua cangkir teh dan juga cemilan dari dapur" ujar papi memberikan perintahnya kepada pelayan yang satunya lagi yang sedang berdiri di sebelah pelayan yang tadi dipanggil oleh Papi.


Pelayan lama kemudian duduk di salah satu sofa. Sedangkan pelayan baru pergi mengambilkan dua cangkir teh dan juga cemilan ke dapur bersih mansion.


"Lanjutkan cerita tadi" ujar Papi memberikan perintah kepada pelayan itu untuk melanjutkan cerita yang tadi sempat terhenti karena di pending oleh Papi.


"tuan besar saya sebetulnya cemas menceritakan hal ini kepada Tuan besar. Bisa bisa nanti saya dan keluarga saya jadi sasaran tuan muda serta nyonya besar, karena saya telah dengan berani menceritakan permasalahan ini kepada tuan besar." kata pelayan yang sebenarnya di bawah ancaman Juan Alexsander dan Nyonya besar.


"jadi kamu di bawah ancaman mereka sekarang?" tanya Papi kepada pelayan itu.


"Benar tuan besar, saya dan dua orang pelayan lama yang mengetahui tentang tragedi itu sudah berada di bawah ancaman Tuan muda dan juga nyonya besar. Kami takut kalau apa yang kami lakukan akan berdampak kepada keluarga kami. kami tidak mau hal itu terjadi tuan besar" kata pelayan mengatakan kepada tuan besar bagaimana nyawa dia dan juga anggota keluarganya yang lain sedang dalam ancaman dari tuan muda dan juga nyonya besar.


"kamu jangan cemas kamu dan dua pelayan yang lainnya serta keluarga kamu akan saya terbangkan kembali kenegara E supaya aman dari mereka berdua. Sekarang kalian semua siap siap, kita akan terbang ke negara E sekarang juga" ujar Papi yang mengerti sekarang kalau musuh terbesarnya adalah anak dan istrinya sendiri, bukan orang luar.


"Tapi tuan besar" ujar pelayan yang tidak ingin membahayakan posisi tuan besarnya.


"Tidak apa apa, kita akan pergi sekarang. Kamu dan yang lainnya berkemas kemas. Saya akan memesan beberapa taksi online untuk menuju bandara" ujar Papi memberitahukan apa yang akan  mereka lakukan sekarang ini.


Pelayan kemudian pergi ke belakang meminta dua orang maid lagi untuk berkemas kemas. Mereka akan meninggalkan negara ini sekarang juga. Sedangkan Papi memesan beberapa taksi online untuk pergi ke bandara dan beberapa lagi untuk mengelabui Juan dan istrinya sendiri. Kali ini Papi sudah tidak percaya lagi dengan dua orang itu.