
"Kita pulang besok ke negara I. Mereka akan menerima balasannya langsung dari CEO JFB Grub" ujar Jero dengan nada suara dingin dan tajam.
Siapapun yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jero akan sangat tahu bagaimana marahnya Jero pada saat sekarang ini.
"Mereka berani mengusik kita, kita tidak pernah mengusik mereka. Jadi jangan salahkan kalau Jero Asander akan kembali lagi. Mereka tidak akan berkutik gue buat" ujar Jero masih dengan nada dingin.
Raut wajah Jero langsung berubah saat mengatakan hal itu. Jero yang semula hanya bersikap santai dan biasa saja saat menerima laporan dari Felix, menjadi langsung berubah tiga ratus enam puluh derajat saat mendengar tanggapan dan analisa yang diberikan oleh Tama dan juga Jeri terhadap permasalahan yang dikatakan oleh Felix kepada mereka semua.
Vian yang melihat perubahan dari Jero hanya bisa diam saja. Sejujurnya Vian sangat takut melihat ekspresi Jero yang seperti ini. Vian merasa kalau Jero sudah menjadi Jero yang sebenarnya, bukan Jero yang selama ini di kenal oleh Vian. Jero yang dikenal oleh Vian adalah Jero yang sama sekali tidak pernah marah, apalagi bersikap seperti sekarang ini.
"Jadi, kita besok berangkat jam sepuluh pagi saja ke bandara." kata Jero memutuskan jam berapa mereka semua akan berangkat menuju negara I.
"Mana pilot kamu Bram?" ujar Jero bertanya kepada Bram.
"Juan, sini" Bram memanggil Juan pilot pesawat yang kali ini bertindak untuk membawa Felix terbang ke negara I.
Juan yang sedang menyantap puding miliknya, dengan terpaksa harus berjalan menuju Bram yang memanggil dirinya. Juan tau tensi pembicaraan para Tuan muda itu sedang tinggi, jadi dia tidak mau menjadi tumbal kemarahan mereka semua.
"Siap Tuan muda Bram, ada apa memanggil saya?" ujar Bram saat dirinya sudah berdiri di depan Jero dan yang lainnya dengan gagahnya.
"Kamu bawa pesawat yang mana ke sini Juan?" ujar Jero yang langsung bertanya kepada pilot andalan mereka itu. Pilot yang paling bisa diandalkan untuk terbang kemana saja dan kapan saja.
"Siap Tuan muda Jero, saya ke sini membawa pesawat boing terbaru yang baru di beli oleh Tuan muda Felix sebelum Tuan muda Felix terbang ke negara E bersama dengan Tuan muda" jawab Juan memberitahukan kepada Jero dan yang lainnya pesawat apa yang dipakai oleh Juan untuk menuju negara F.
"Berarti kita semua bisa terbang dalam satu pesawat" ujar Jero saat mendengar pesawat apa yang dibawa oleh Juan ke negara F
Jeri yang mendengar apa yang dikatakan oleh Juan langsung menatap Juan dengan tatapan lama dan panjang serta mendalam seperti sedang menguliti Juan saja.
Juan yang mendapatkan tatapan mengerikan seperti itu dari Jeri, hanya bisa menatap lurus ke depan. Juan sudah bisa mengira, pasti pengacara kondang itu sedang menganalisis sesuatu sekarang. Juan hanya tinggal menunggu waktu untuk ditanya oleh pengacara itu.
"Juan, kenapa kamu memutuskan untuk membawa pesawat besar itu kemari? Padahal kamu tahu hanya akan membawa Felix saja kembali ke negara I?" ujar Jeri bertanya dan menatap ke arah Juan.
'Benerkan' ujar Juan dalam hatinya. Juan termasuk ke dalam pengawal lama di keluarga Asander, jadi dia sudah sangat paham sekali bagaimana seorang Jeri bersikap dan bertindak.
"Saya sudah memperkirakan kalau Tuan muda Jero dan Tuan muda Bram serta anggota keluarga yang lainnya dan para pengawal akan pulang ke negara I. Kita sama tahu kalau Tuan muda bertiga tidak akan bisa dipisahkan." ujar Juan memberikan alasannya kepada Jeri kenapa dirinya memutuskan untuk membawa pesawat baru yang berbodi besar itu.
"Jadi hanya karena itu alasan kamu untuk membawa pesawat besar itu ke sini?" ujar Jeri bertanya menelisik kepada Juan.
Juan memang seorang pilot, tapi dia adalah orang kepercayaan dari Jero dan kedua adiknya. Apa yang dikatakan oleh Juan berarti itu yang dikatakan oleh Jero, Felix dan Bram.
"Haha haha haha, santai Juan, Saya tidak pernah meragukan dedikasi kamu terhadap keluarga Asander. Saya tahu akan hal itu. Cuma yang saya pikir kamu kenapa bawa yang baru pesawatnya bukan yang biasa kamu pakai." ujar Jeri yang paling suka mencari pertengkaran kecil dengan Juan.
Padahal Juan dan Jeri adalah sahabat yang memang saling menolong antara satu dengan yang lainnya. Saat Jeri jauh dari kedua orang tuanya, Juanlah yang selalu menemani Jeri. Ibaratnya semenjak Jero dan kedua adiknya memutuskan untuk pindah ke negara I, maka Juanlah yang akan selalu ada untuk Jeri. Saat itu Juan memang jarang diperlukan tenaganya oleh Jero dan kedua adiknya, sehingga Juan diberikan perintah untuk menjalankan bisnis keluarga Asander di negara E bersama dengan Jeri.
"Loe banyak cerita Jeri. Loe tau sendirilah gue orangnya suka pamer. Makanya gue bawa pesawat baru ke sini" ujar Juan yang sudah kesal dengan Jeri makanya memakai bahasa loe gue.
"Loe yang salah tadi gue ajak duduk sebelah gue loe nggak mau. Loe lebih memilih duduk dengan mereka mereka itu" ujar Jeri sambil menunjuk ke arah para pengawal.
"Hay Tuan Jeri, Tuan Juan suka duduk dengan kami, karena dia nggak perlu tegang seperti senar gitar yang mau putus di sana" jawab Josua yang memang memiliki jabatan paling tinggi di antara pengawal yang lainnya.
"Maksud kamu bagaimana Josua?" ujar Bram yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Josua.
"Tuan muda Bram maafkan saya kalau saya lancang. Tuan muda Juan sudah paham apa yang akan terjadi dengan pembicaraan tadi siang antara Tuan muda Felix dan Tuan muda Jero. Jadi, Tuan muda Juan memilih untuk duduk dengan kami kami ini supaya Tuan muda Juan tidak melihat ketegangan yang terjadi saat makan" lanjut Josua menerangkan kepada Bram apa yang dimaksud dengan perkataannya tadi
"haha haha, jadi kamu anggap wajah saya sekarang sangat tegang Josua?" ujar Jero bertanya kepada asistennya itu.
"Maaf sebelumnya tuan muda Jero, bukan tegang lagi tetapi seperti senar yang mau putus." ujar Josua menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya.
"haha haha haha. Loe satu satunya yang cukup kuat mengatakan kalau wajah Jero seperti senar mau putus josua" ujar Tama tertawa ngakak saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Josua kepada Jero.
"Kata tuan muda Jero saya tidak boleh berbohong, makanya saya jujur" kata Josua dengan memasang wajah lugu.
"Hem mantap" jawab Jero dengan santai.
Mereka semua kembali melanjutkan obrolan yang lainnya lagi. Para pengawal yang lain sudah meminta pemain musik yang ada di kafe untuk memainkan musix jedag jedug nya. Walaupun mereka tidak meminta minuman beralkohol, tetapi para pengawal meminum jus dan soft drink, mereka bergoyang dengan bertingkah seperti orang yang sedang mabuk.
Para tuan muda yang melihat bagaimana tingkah para pengawal hanya bisa geleng geleng kepala saja.
"Sepertinya mereka butuh hiburan seperti ini setiap sebulan sekali minimal sayang" ujar Vian memberikan komentarnya dan sarannya kepada Jero
"Bener sayang. Bisa diagendakan" jawab Jero sambil tersenyum kepada Vian