
"Sayang, kok kita nggak sampe sampe juga di mansion? Bukannya jarak mansion tempat kita tadi dengan mansion tempat tinggal kamu itu sangat dekat ya?" ujar Vian bertanya kepada Jero saat dia sudah bangun dari tidurnya tetapi sampai sekarang Vian masih berada di dalam mobil dan tetap menjadikan paha Jero sebagai bantalnya.
Jero melihat ke arah Vian yang masih tetap dalam posisi yang sama tetapi sudah mengatakan kalau mereka kenapa tidak sampe sampe juga di mansion utama.
Paha Jero yang digunakan Vian sebagai bantal sudah sedikit merasa kebas di sana. Jero sudah satu jam tidak menggerakkan pahanya itu sama sekali. Sehingga paha Jero menjadi sangat tegang dan kebas. Jero tidak bisa membayangkan bagaimana nanti dirinya turun dari dalam mobil.
"Kamu tidur dari tadi sayang. Aku nggak mungkin membangunkan kamu yang enak tidur itu. Makanya aku meminta Hendri untuk muter muter sepanjang jalan. Udah satu setengah jam lamanya" ujar Jero memberitahukan kepada Vian kenapa mereka masih belum sampai juga di mansion.
"Aku nggak tega membangunkan kamu sayang. Kamu terlihat sangat nyenyak sekali tidurnya. Jadi aku langsung aja mengambil keputusan seperti itu" lanjut Jero menjawab pertanyaan Vian kenapa mereka tidak juga sampai di mansion, padahal sudah pulang dari tadi.
"Sekarang kita ke mansion ya sayang. Aku mengantuk, pengen tidur di kasur empuk" ujar Vian mengucek mata indahnya yang benar benar dalam keadaan mengantuk.
"Jadi, kamu kira paha aku tidak empuk sayang? Gitu maksud kamu?" ujar Jero sambil menatap ke arah Vian. Padahal Vian sudah memakai paha itu menjadi bantal dalam waktu yang sangat lama. Sekarang tiba tiba saja vian mengatakan paha Jero tidak empuk.
Vian tertawa melihat raut wajah Jero yang terlihat sangat kesal karena Vian mengatakan dia ingin tidur di kasur empuk dan sangat mengantuk.
"Jangan ngambek sayang. Ini adalah paha terempuk yang pernah aku rasakan. Karena hanya satu ini paha yang pernah aku jadikan alas kepala" ujar Vian sambil memberikan senyum cantiknya kepada Jero.
Jero yang cemberut untuk menggoda Vian tidak bisa menahan hatinya lagi. Jero langsung tertawa ngakak mendengar kalimat yang dikatakan oleh Vian. Jero tahu kalau Vian sedang berusaha menggoda dirinya.
Hendri mengemudikan mobil menuju mansion utama. Jero yakin kalau kedua adiknya pasti sudah menunggu dengan rasa cemas.
"Sayang, apa menurut kamu, Felix dan Bram akan menunggu kita di mansion?" tanya Vian saat dia sudah membetulkan posisi duduknya. Vian melihat ke arah luar. Mereka ternyata masih berada di jalan raya, bukan di jalan masuk komplek mansion.
"Jelas menunggu lah sayang. Mereka nggak akan mungkin tidur saat kita belum pulang" ujar Jero menjawab pertanyaan dari Vian.
Vian memalingkan wajahnya untuk melihat keadaan jalan yang sangat ramai. Vian melihat jam tangan mewahnya. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tetapi jalan raya masih ramai oleh mobil yang berseliweran di sana.
"Jalanan masih rame banget sayang" ujar Vian menunjuk keluar mobil.
Jero melihat kearah luar yang ditunjuk oleh Vian. Jero melihat jalanan yang begitu ramai oleh mobil dan kendaraan umum.
"Masih jam sibuk sayang. Orang mengatakan kalau negara ini adalah negara yang tidak pernah tidur. Makanya orang sangat ramai di sini" ujar Jero menjawab perkataan Vian yang heran dengan keadaan yang masih ramai di jalanan kota itu.
"Ooo ooo. Pantesan ramai banget" jawab Vian sambil tetap melihat ke arah luar.
Tak terasa mobil telah masuk ke dalam gerbang terluar komplek mansion tersebut. Hendri memelankan laju mobil yang dikendarainya. Mereka sebentar lagi akan sampai di dekat mansion utama.
"Sayang kita sudah sampai" ujar Jero kepada Vian yang seperti akan kembali tertidur.
Vian tadi memang sempat hampir tertidur, tetapi terjaga gara gara Jero yang mendadak memanggil dirinya. Vian menjadi kaget dan langsung terperanjat saat itu juga.
"Kita sudah sampai. Tapi kamu masih aja tidur" ujar Jero menggoda Vian, karena masih sempat tertidur padahal mereka sudah sangat dekat.
"Ngantuk sayang, makanya tidur" jawab Vian sambil melirik ke arah Jero yang sudah dibukakan pintu oleh Hendri.
Sedangkan Vian pintunya juga sudah dibuka oleh Erik. Vian dan Jero kemudian turun dari dalam mobil. Mereka berdua berjalan menuju mansion utama. Jero menggenggam tangan Vian. Sedangkan Hendri dan Erik menurunkan barang barang yang tadi dibawa Jero masuk untuk mereka piknik di mansion Aleksander.
Felix, Bram dan Jeri serta Tama yang baru datang lima belas menit yang lalu, mendengar derap langkah beberapa orang yang akan masuk ke dalam mansion.
"itu pasti Jero" ujar Jeri yang menebak siapa yang akan masuk sebentar lagi ke dalam mansion besar itu.
"siapa lagi kalau bukan bang Jero bang. Nggak akan ada yang datang lagi malam malam begini kalau nggak Bang Jero" ujar Bram menjawab tebakan dari Jeri.
Mereka semua sudah tahu kalau yang belum ada di mansion adalah Jero dan Vian. Maka sudah bisa dipastikan yang akan masuk ke dalam mansion adalah Jero dan Vian yang siap melakukan piknik di mansion keluarga Aleksander.
Jero dan Vian bergandengan tangan masuk ke dalam mansion. Mereka kaget melihat ada Jeri dan Tama berada di dalam mansion.
"Loh kok ada kalian berdua?" tanya Jero kepada Jeri dan Tama yang sedang duduk dengan santai di sofa ruang tamu.
"Loe nggak buka ponsel dari tadi?" ujar Jeri balik bertanya kepada Jero.
"Loe gue tanya loe balik tanya" jawab Jero sedikit kesal dengan apa yang dilakukan oleh Jeri kepada dirinya.
"Sayang, aku ke atas dulu ya. Ngantuk" ujar Vian yang merasa kalau matanya saat ini benar benar sangat mengantuk dan sudah tidak bisa di tahannya lagi.
"Apa bisa jalan sendirian ke kamar?" ujar Jero yang khawatir melihat Vian yang seperti sudah sangat akut matanya mengantuk.
"Bisa. Aku masih kuat untuk pergi ke kamar" ujar Vian sambil tersenyum meyakinkan Jero kalau dia benar benar masih kuat untuk pergi ke kamar sendirian dengan menaiki lift yang ada di mansion itu.
Jero mengangguk. Dia tidak mau memaksakan kehendaknya untuk bisa mengantarkan Vian ke kamar Vian di lantai tiga mansion.
"Pakai lift ya" ujar Jero meminta Vian untuk memakai lift menuju lantai tiga mansion. Jero tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Vian. Jero tidak mau Vian tiba tiba jatuh dan tertidur di dalam lift.
Vian kemudian berjalan meninggalkan Jero. Dia berjalan dengan sedikit sempoyongan. Jero yang melihat hal itu menjadi tidak tega dan sampai hati melihat Vian yang pergi ke kamar sendirian. Jero langsung menyusul Vian.
"Kamu aku antar" ujar Jero yang sekarang sudah berada di dekat Vian.