My Affair

My Affair
Asander ALEXSANDER



Nanti setelah satu jam mereka berada di luar, baru biarkan mereka masuk ke dalam, tetapi jangan arahkan dia ke kamar ini. Langsung arahkan ke ruang kerja" ujar Tuan besar Alexsander sambil duduk di sebuah kamar yang selama ini tidak pernah dikunjungi oleh dirinya sekalipun atau bahkan manusia yang tinggal di mansion ini.


Kamar itu memakai teknologi canggih, sehingga kamar tersebut tidak membutuhkan seseorang untuk membersihkannya. Teknologi yang ada di dalam rumah itu akan membantu petugas yang ada dimansion untuk membersihkan satu kamar itu saja. Sehingga membuat kamar tersebut tidak diketahui oleh siapapun keberadaannya di mansion besar tersebut. Kamar yang memang benar benar tersembunyi dari orang lain.


"Siap Tuan besar" jawab asisten.


Asisten menundukkan kepalanya dengan hormat. Asisten kemudian keluar dari dalam kamar tersebut untuk menuju ruang tamu. Asisten akan menghitung mundur jam selama satu jam karena, kedua keluarga inti Alexander hanya boleh masuk ke dalam mansion utama setelah menunggu selama satu jam di luar.


Tuan besar Alexander berjalan berkeliling kamar yang kali ini baru berani tuan besar untuk masuk dan melihat keadaan di dalam kamar tersebut. Kamar yang bisa dikatakan menyimpan berjuta kenangan untuk dirinya dan keluarga besarnya.


Tuan besar Alexander menghidupkan sebuah lampu yang tepat berada di bawah sebuah fhoto yang tergantung di dinding kamar tersebut.


Tuan besar Alexander melihat fhoto yang tergantung tersebut. Sebuah fhoto wanita hamil yang sedang memegang perutnya dengan seorang pria yang memeluk dari belakang. Pria itu adalah Tuan Alexsander sendiri. Tuan Alexsander terlihat tersenyum bahagia saat memeluk istrinya dari belakang.


MANSION KELUARGA JERO ASANDER


Vian sudah berada di dapur, dia akan memasak menu makan malam dengan cara mengkudeta dapur dari para koki yang biasa masak di sana.


"Greta masak yuk" ujar Vian mengajak Greta untuk memasak menu makan malam mereka hari ini.


"Hah?" ujar Greta kaget mendengar Vian mengajak dirinya untuk memasak menu makan malam.


"Kakak ipar, aku mohon, jangan bawa Greta untuk masak. Bisa bisa kami nggak akan bisa memakan masakan kakak ipar nanti" ujar Bram menjawab dari tempat duduknya sekarang ini.


Vian menatap Bram, Vian meminta Bram menjelaskan apa maksud dari perkataannya tadi.


"Maksudnya gini kakak ipar. Greta itu sama sekali nggak bisa masak. Jadi kalau kakak ipar bawa dia masak, tentu otomatis rasanya akan jadi semakin enak kakak ipar" ujar Bram menjelaskan kepada Vian apa maksud perkataannya tadi.


"Oo oo oo. Gitu" ujar Vian sambil menatap ke arah Greta.


"Jadi, kamu nggak bisa masak Greta?" tanya Vian kepada Greta.


"Sama sekali tidak, apa kamu mau ngajarin aku masak?" tanya Greta kepada Vian.


"Kamu serius mau pinter masak? Nggak takut tangan sama jari jarinya jadi kasar?" tanya Vian sambil menatap tersenyum kepada Greta.


"Nggaklah. Gue serius. Mau ya ajarin gue masak" ujar Greta kepada Vian sambil menatap vian dengan tatapan ayolah jangan tolak gue.


"Oke sip. Mulai besok siap loe terapi gue, gue akan balik terapi elo" ujar Vian setuju untuk mengajarkan Greta masak.


"Kakak ipar kapan mau masaknya. Kami udah lapar" ujar Bram yang dari tadi menyima pembicaraan antara Vian dengan Greta.


"Ya ya ya. Ini mau masak" ujar Vian.


Vian kemudian mengolah semua bumbu bumbu yang tadi sudah dikeluarkan oleh para koki yang akan masak makan malam. Vian mengolah semuanya dengan sangat telaten dan rapi. Vian membuat beberapa masakan tapi yang paling wajib dibuat oleh Vian adalah masakan yang jadi makanan favorit oleh Jero yaitu ayam kecap.


Tepat setelah satu setengah jam berkutat dengan dapur, kompor dan yang lainnya, Vian telah selesai memasak. Greta menghidangkan di atas meja makan yang terletak di taman samping. Mereka akan makan malam di sana.


Vian membuka lemari pendingin, ternyata di sana ada puding buah yang sudah disiapkan oleh koki. Vian memotong puding buah tersebut untuk dimakan sebagai hidangan pencuci mulut.


"Bram, tolong panggil yang lainnya sana. Makan malam sudah siap" ujar Greta meminta tolong kepada Bram untuk memanggil yang lainnya ke ruang kerja Jero.


"Asiap" jawab Bram.


Bram kemudian berjalan menuju ruang kerja Jero yang terletak di lantai tiga mansion. Bram akan memberitahukan kepada mereka yang berada di dalam ruangan kalau makan malam sudah siap.


Tok tok tok. Bram mengetuk pintu ruang kerja Jero. Karena tidak ada jawaban dari dalam, Bram membuka pintu ruangan itu. Dia melihat semua orang yang berada di sana sedang sibuk berdiskusi.


"Kata kakak ipar, makan malam sudah siap. Kita diminta untuk ke meja makan di taman samping sekarang" ujar Bram memberitahukan kepada Felix dan yang lainnya dengan nada keras, agar terdengar oleh Jero.


"Siapa yang masak makan malam Bram?" tanya Jero yang berharap kalau yang memasak makan malam mereka hari ini adalah Vian.


"Ya seperti biasa Bang. Tadi kata kakak ipar, dia sudah laper banget. Makanya minta supaya kita cepat ke meja makan" ujar Bram yang sudah tidak sabar lagi untuk makan udang goreng tepung saus asam pedas manis buatan Vian yang aronanya saja sudah membuat perut Bram di aduk aduk.


"Oke, meeting besok kita lanjutkan di perusahaan. Sekarang kita makan malam dulu" ujar Jero sambil berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil ponsel miliknya.


Mereka semua kemudian masuk ke dalam lift untuk menuju meja makan yang terletak di taman samping mansion.


Vian dan Greta sudah duduk di kursi mereka masing masing. Jero yang baru datang melihat hidangan yang disajikan. Dia tersenyum bahagia.


"Ngapain senyam senyum?" tanya Vian saat melihat Jero yang tersenyum penuh arti itu.


"Aku senang karena kamu yang masak sayang. Makanya aku senyum bahagia" jawab Jero saat menyaksikan menu yang tersaji dan sudah mengetahui siapa yang mengolahnya.


"Emang sayang tau siapa yang masak?" tanya Vian kepada Jero.


"Taulah sayang. Siapa lagi kalau bukan calon istri aku ini. Hanya dia yang tau makanan kesukaan aku dan dimasak dengan cara bagaimananya" ujar Jero memuji Vian di depan semua keluarga dan sahabatnya.


"Aku nggak sendirian masaknya sayang, di bantu sama Greta" jawab Vian.


"Hah? Serius Vian, kamu di bantu Greta?" tanya Jeri yng tida yakin Greta mampu membantu Vian.


"Iya Bang. Bantu nengokin doang. Tapi jadilah Bang, mulai besok Greta akan privat masak dengan kakak ipar" ujar Bram yang sama sekali tidak bisa menyimpan rahasia.


Padahal Vian dan Greta tidak akan memberitahukan kepada Jeri. Biar semua itu menjadi kejutan oleh Jeri


"Loe emang lah ya Bram. Dari dulu nggak bisa nyimpen rahasia. Rencana gue pas gue udah yakin pinter masak, gue akan masakin Jeri sesuatu. Eee elo malah dengan percaya dirinya ngomong dan memberitahukan kepada semua orang" ujar Greta sambil melempar Bram dengan potongan timun.


"Yah kalian berdua nggak ngode aku tu iya. Makanya aku nggak tau. Coba tadi ngomong. Bram jangan bilang siapapun Greta akan belajar masak. Maka aku nggak akan ngomong" ujar Bram yang tidak rela disalahkan siapapun.


"ya ya ya ya. Udah selesai ributnya?" ujar Felix yang suda tidak sabar mau makan malam.


Vian mengambilkan nasi dan juga lauk dan sayur untuk Jero. Begitu juga dengan Greta yang mengambilkan makan malam untuk Jeri. Sedangkan para pria yang lain mengambil makan malam sendiri sendiri karena mereka belum punya calon untuk mengambilkan menu makanan mereka.


Mereka kemudian menyantap makan malam yang dibuat oleh Vian dan dibantu oleh Greta.


"Sayang ini beneran enak. Enak sangat" ujar Jwro sambil mengangkat dua jempolnya untuk Vian.


"Alah Bang, apa nggak capek tu jempol, tiap kali kakak ipar masak dia naek terus?" ujar Bram sambil menggeleng geleng kan kepalanya.


"Vian, kamu tiap hari kan masak di mansion ini?" tanya Tama yang baru kali ini merasakan rasa makanan dari negara I yang sangat enak.


"Emang kenapa tama?" tanya Vian kepada Tama.


"Kalau tiap hari, maka gue akan tiga kali sehari makan ke sini" jawab Tama dengan sangat jujur.


"Loe kira calon istri gue ke sini untuk masakin elo aja. Gila aja loe" ujar Jero protes dengan yang dikatakan oleh Tama.


"Boleh Tama. Datang aja nggak masalah. Lagian, aku juga nggak ada rutinitas lain. Mumpung aku belum disibukkan oleh jadwal perkuliahan, maka aku bisa masak terus. Kalau udah kuliah mana bisa lagi" jawab Vian yang juga tidak tahu akan melakukan apa di mansion sebesar ini.


Mereka semua kemudian pindah duduk ke sofa yang ada di teras itu. Mereka mengobrol ringan. Tepat pukul sebelas malam, Jeri, Greta dan Tama pamit pulang kepada Jero.


Setelah yang lainnya pergi ke rumah mereka. Jero, Vian dan kedua adiknya juga masuk ke dalam kamar masing masing yang terletak di lantai tiga mansion untuk tidur dan beristirahat.