
"Jadi Greta masih di dalam kamarnya Vi?" ujar jeri kembali menanyakan kepada Vian dimana keberadaan kekasihnya Greta yang tadi berjalan bareng dengan Vian menuju kamar mereka yang terletak di gerbong yang berbeda dengan tempat Jeri dan sahabat sahabatnya duduk tadi.
"Yup, Greta masih memakai pakaian saat aku tinggal tadi."
"Palingan sebentar lagi dia juga akan datang ke sini" lanjut Vian menjawab pertanyaan dari Jeri yang menanyakan dimana keberadaan Greta.
"kalian berdua sama saja. sama sama protektif. baru sekian menit nggak nengok kekasih sendiri sendiri langsung panik dan main tanya aja" kata Tama yang memberikan respon kepada Jeri dan Jero.
"Setuju bang. Atau bagaimana kalau Kak Vian dan Kak Greta di pasangin chip aja di badan mereka. Jadi Bang Jero dan Bang Jeri tahu dimana keberadaan kekasih mereka itu." sambar Felix yang ntah datang dari mana kemauan dia berbicara seperti itu.
Padahal biasanya Felix sama sekali tidak mengeluarkan suara untuk membahas hal hal yang tidak berhubungan dengan bisnis dan pekerjaan. Tetapi ntah kenapa kali ini Felix memilih untuk ikut serta dalam percakapan tidak penting tersebut.
"Jangan chip lah bang ngeri kali dengernya. Pasang alat penyadap saja. Jadi kan kedua kekasih mereka yang sama sama posesif itu bisa mengetahui dimana keberadaan dua wanita yang sangat mereka cintai itu" kali ini giliran Bram yang mulai memberikan ide idenya kepada Jero dan Jeri untuk memasang alat penyadap di badan atau alat alat yang akan selalu di bawa oleh Vian dan Greta.
"Haha haha haha, atas pulak perlakuan ke aku dari pada presiden. Aku di pasangi chip atau alat penyadap. Presiden aja nggak ada memakai alat itu." kata Vian menanggapi apa yang dikatakan oleh Felix dan Bram sebentar ini.
"tapi bisa di coba juga itu sayang. Ide yang diberikan oleh Felix atau Bram" ujar Jero sambil menatap ke arah Vian dengan tatapan aneh yang semua laki laki pasti tau arti tatapan mata seperti itu.
"Hem ogah aku mah. Kamu aja pasang itu sayang. Biar alatnya aku yang pegang"
Vian membalikkan pernyataan yang diajukan oleh Jero tadi kembali kepada Jero. Vian sama sekali tidak setuju dengan ide gila yang nggak jelas juntrungannya yang diajukan oleh Jero kepada dirinya.
"Kakak ipar, apa kak Greta masih lama nukar pakaiannya?"
kali ini Bram yang mulai mencairkan kembali suasana yang hampir saja menjadi tegang kembali hanya karena permasalahan ide memasang chip dan alat pelacak yang ternyata diambil serius oleh Jero dan Vian. Padahal ide itu hanyalah pengantar cerita atau bumbu bumbu cerita untuk menghangatkan suasa yang diberikan oleh kedua adik Jero tersebut. Tetapi sayangnya Vian seperti sedang tidak bisa diacak bercanda, maksudnya untuk bercanda saja menjadi titik permasalahan untuk Vian dan Jero.
"Tadi ditinggal masih memilih pakaian. Emang kenapa?" tanya Vian sambil melihat ke arah Bram yang terlihat berdiri dari posisi duduknya.
"Nggak kalau kak Greta udah datang kita berangkat ke perkebunan Anggru lagi." jawab Bram sambil kembali berjalan menuju ruangan lokomotif.
"Ya udah kita tunggu aja dulu" lanjut Bram memberikan perintahnya kepada semua anggota keluarga yang ada di sana.
Mereka semua sesuai dengan rencana akan pergi ke kebun Anggur untuk melihat cara pengolahan Anggur sekaligus memetik anggur dari pohonnya langsung.
" Loh kamu mau kemana??" tanya Felix yang melihat Bram berjalan menuju lokomotif.
"Ada perlu sama masinisnya. Kenapa? Abang mau mewakilinya?"
Bram berkata sambil memandang ke arah Felix yang tadi memanggil dirinya dan menanyakan tujuan Bram menuju lokomotif tempat para masinis mengemudikan kereta api.
"Nggak" jawab Felix
mereka semua kembali asik mengobrol membahas tentang berbagai hal. Mereka melakukan hal itu sembari menunggu Greta selesai menukar pakaiannya dengan pakaian hangat seperti yang dipakai oleh Vian.
"Maaf menunggu lama" ujar Greta yang akhirnya datang juga setelah di tunggu sekitar sepuluh menit.
Vian menjawab perkataan permintaan maaf yang diajukan Greta kepada mereka semua. Vian sama sekali tidak terlihat mengingat permasalahan atau ketegangan yang sempat terjadi antara Vian dengan Greta tadi di kamar. Vian seperti sudah melupakan kejadian tidak mengenakkan hati itu.
Felix kemudian menghubungi Bram untuk mengabarkan kalau Greta sudah siap mengganti pakaian, serta mengatakan kepada Bram kalau mereka semua sudah siap untuk menuju perkebunan anggur itu. Bram kemudian kembali menuju tempat keluarganya sedang berkumpul.
"Oke mari kita keluar dari dalam kereta api. Ada dua mobil yang menunggu kita di parkiran stasiun untuk membawa kita ke perkebunan Anggur." kata Bram meminta semua anggota keluarganya untuk keluar dari kereta api dan berjalan menuju parkiran stasiun untuk menuju mobil yang sudah disiapkan oleh pihak perkebunan anggur tersebut.
Mereka semua kemudian turun dari dalam kereta api. Mereka mengikuti Bram dari belakang. Bram menjadi kepala rombongan. Hal itu di perintahkan langsung oleh Jero. Jero memberikan perintah kepada Bram bukan karena tanpa alasan, tetapi di antara mereka yang akan pergi ke perkebunan itu, baru hanya Bram saja yang pernah ke sana. Sedangkan yang lainnya baru ini pertama kalinya mereka akan berkunjung ke perkebunan anggur itu.
Mereka semua berjalan beriringan menuju tempat parkiran mobil, dimana mobil dari perkebunan itu menunggu mereka. Mereka membagi menjadi dua kelompok. Masing masing kelompok naik ke satu mobil yang sudah disediakan.
Jero, Vian, Felix, Bram dan satu orang pengawal berada dalam satu mobil. Sedangkan Jeri, Tama, Greta dan tiga orang pengawal berada dalam satu mobil. Dua mobil SUV hitam itu berjalan beriringan menuju perkebunan anggur yang akan mereka tuju.
Perjalanan dari stasiun ke perkebunan anggur hanya memakan waktu selama dua puluh menit menggunakan mobil SUV tersebut. Dua mobil terparkir di parkiran khusus pengunjung perkebunan. Mereka semua kemudian turun dari dalam mobil. Bram dan salah seorang pengawal pergi melakukan pembayaran administrasi.
Vian menatap perkebunan anggur itu dengan tatapan nanar. Greta mengamati Vian dari balik kaca mata hitamnya itu. Greta sengaja memakai kacamata hitam supaya bisa dengan leluasa memerhatikan gerak gerik vian. Greta sebenarnya masih penasaran dengan alasan Vian minta berhenti di kebun anggur itu. Apalagi dengann jawaban yang diberikan oleh Vian tadi semakin membuat Greta menjadi penasaran. Tetapi kalau bertanya langsung kembali kepada vian maka akan mencari masalah kembali. Sehingga Greta tadi memutuskan di kamar untuk memperhatikan Vian dengan cara seperti ini saja.
"Oke Bang, Kakak, kita sudah bisa masuk ke dalam perkebunan anggur itu." ujar Bram memberikan informasi kalau mereka semua sudah bisa masuk ke dalam kebun Anggur tersebut.
"kalau mau ngambil anggurnya bagaimana Bram?"
Greta kali ini bertanya karena dia paling menggilai buah anggur.
"Bebas ambil kak, nanti tinggal di timbang di kasir dan baru dilakukan pembayaran."
"tetapi kita juga bisa makan di sana dan gratis sepuasnya sampe mabuk pun boleh" kata Bram menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Greta kepada dirinya.
"haha haha haha, ogah mah makan sampe mabuk." jawab Greta sambil tertawa ngakak mendengar jawaban yang diberikan oleh Bram kepada dirinya.
"Mana tau ya kak, saking kakak nggak bisa nahan hati untuk makan anggur. Sampe sampe harus makan anggur sampe kalap" ujar Bram menjawab apa yang dikatakan oleh Greta tadi sambil tersenyum kecil saja.
"Bener itu Bram. Kamu kan tau sendiri bagaimana Greta kalau sudah bertemu dengan buah anggur. Mana bisa dia nahan hati untuk tidak mencoba buah itu." kali ini Jeri sendiri yang mengusili Greta.
"sayang, kamu juga ikut ikutan untuk mencela aku?" kata Greta yang nggak menyangka kalau Jeri juga ikut ikutan membully dirinya dengan segala cara.
"Nggak sayang, maaf" ujar Jeri berkata sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai simbol meminta maaf kepada Greta atas apa yang dikatakan oleh dirinya tadi.
"Sudah kalau ribut terus kapan sampe di kebun anggur"
Vian yang sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam kebun anggur itu berkata kepada Greta, Jeri dan Bram untuk segera mengakhiri percakapan tidak penting mereka bertiga itu.
Mereka akhirnya terdiam saat mendengar apa yang dikatakan oleh Vian. Mereka semua kemudian melanjutkan perjalanan menuju kebun anggur yang sudah berada di depan mata itu. Mereka sudah bisa membayangkan memetik langsung buah anggur dan bisa langsung mencobanya saat baru di petik.