
"Tuan, bisakah saya mengenal nama Tuan bertiga? Saya ingin menyebutkan nama Tuan bertiga di dalam setiap doa saya. Saya sangat bersyukur bertemu dengan Tuan Tuan." tanya Pria tersebut berharap untuk mengenal nama tiga pria yang sangat baik kepada dirinya, walaupun dia telah mengancam keselamatan saudara mereka.
"Maaf tidak bisa. Saya sangat menghargai niat anda untuk mendoakan kami. Anda berdoa saja untuk keselamatan semua orang, makan kami bertiga juga sudah Anda doakan. Sekali lagi maaf, saya tidak bisa menyebutkan nama kami bertiga" jawab Bram sambil tersenyum. Bram dan Felix sama sekali tidak mau orang lain kenal dengan nama mereka, apalagi orang yang sempat berselisih dengan mereka. Maka, jangan harap mereka akan tau nama mereka bertiga.
Pria tersebut membalas senyuman Bram, dengan tersenyum kembali kepada Bram. Dia naik ke atas helicopter yang telah disediakan. Helicopter mulai terbang menuju daerah yang telah ditetapkan sebagai daerah untuk setiap lawan Jero dan kedua adiknya. Daerah yang sangat subur, siapapun yang dioper ke sana, kalau mereka rajin, maka mereka akan berhasil, tetapi bagi yang tidak, ya mereka akan menjadi pengemis di sana.
Bram kemudian masuk kembali ke dalam mansion saat helicopter itu telah meninggalkan pekarangan belakang mansion.
"Apa dia sudah pergi Bram?" tanya Felix saat melihat Bram sudah berada kembali di ruangan meeting mereka bertiga.
"Sudah Bang" jawab Bram. Bram kembali duduk di sofa tempat dia duduk biasanya kalau ada Jero di ruangan itu.
Jero masih duduk dengan wajah marahnya. Jero terlihat benar benar dalam keadaan kesal saat ini. Salah salah berbicara maka, nyawa tantangannya. Felix dan Bram saja tidak berani menganggu Jero, apalagi yang lainnya. Bisa bisa mereka pulang nama saja ke kampung.
"Felix berapa saham kita di perusahaan Wijaya Grub?" tanya Jero yang sudah memiliki niat di dalam hatinya. Jero akan membuat perhitungan dengan Wijaya Grub yang telah berani bermain api dengan Jero.
"Atas nama perusahaan kita tidak ada Bang. Baru akan kita mulai pas meeting kemaren, tapi belum menemukan kata sepakat." ujar Felix menjawab pertanyaan dari Jero. Perusahaan utama mereka memang belum memiliki jalinan kerjasama dengan perusahaan Wijaya dan sepertinya memang tidak akan pernah, saat melihat kemarahan Jero yang sudah berada di atas ubun ubun itu.
"Tapi kalau anak perusahaan kita yang lain, ada sekitar empat puluh persen" lanjut Felix memberitahukan kepada Jero.
"Anak perusahaan yang mana? tanya Jero yang masih ragu dari sekian banyak anak cabang perusahaan. Anak cabang yang mana yang telah menjalin kerjasama dengan perusahaan Wijaya Grub.
"JFB Grub Bang. Anak cabang kita yang bergerak di bidang garmen" ujar Felix memberitahukan kepada Jero, anak cabang perusahaan yang mana yang telah menjalin kerjasama dengan perusahaan Wijaya Grub.
"Ooo. Oke sip. Siapa yang melakukan kerja sama itu?" ujar Jero bertanya selanjutnya kepada Felix dan Bram.
"Aku Bang" jawab Bram yang memang dia saat itu pergi tanda tangan kerja sama, karena kerja sama yang dilakukan bukanlah atas nama perusahaan besar milik mereka.
"Kapan, kamu mulai kerjasama dengan perusahaan itu Bram?" tanya Jero kepada Bram.
"Setahun Bang" jawab Bram memberitahukan berapa lama kerjasama itu sudah terjalin.
"Keuntungannya bagaimana?" lanjut Jero bertanya kepada Bram masalah keuntungan dari kerjasama itu.
"Keuntungan lumayan. Tapi masih ada satu perusahaan yang rasanya lebih menjamin melakukan kerjasama dengan mereka" lanjut Bram menjelaskan masalah keuntungan kerjasama itu.
"Oooo. Baiklah gue udah memutuskan kita harus ngapain. Aku mau kamu yang eksekusi Bram. Karena kontrak itu kamu yang tanda tangan" ujar Jero memberi Bram perintah selanjutnya.
"Siap Bang" jawab Bram yang sangat senang diberi tanggung jawab itu okeh Jero.
"Oke sip. Kamu tarek semua saham kamu, aku mau saat ini juga Wijaya Grub merangkak di jalanan karena telah berani menganggu orang yang aku sayang. Kalau dulu mereka bisa memperlakukan orang orang yang aku sayang seenak hati mereka. Tapi saat ini, maaf, mereka akan menanggung akibatnya. Aku akan bayar lunas" ujar Jero dengan emosi dan nada dinginnya.
Jero benar benar murka hari ini. Ini kali kedua Felix dan Bram. melihat Jero semarah ini. Pertama sewaktu kematian Mommy mereka, Jero saat itu terlihat sangat luar biasa marah kepada orang yang tidak mau membantu ekonominya saat itu. Padahal Jero adalah yang paling berhak atas semua semuanya. Tapi nasib berkata lain.
"Siap Bang" ujar Bram.
Bram meraih kunci mobilnya. Dia di temani oleh dua orang pengawal menuju perusahaan Wijaya Grub. Bram sudah membawa semua surat surat penarikan saham miliknya. Bram melajukan mobil sport nya dengan kecepatan tinggi. Bram tidak mau Jero kecewa dengan cara kerjanya. Bram sudah memikirkan cara mengambil sahamnya kembali di perusahaan Wijaya Grub.
"Jero, loe serius mau melawan Wijaya Grub?" tanya Felix menatap Jero.
Felix tidak ingin pikiran Jero menjadi terbagi, antara balas dendamnya dengan perselisihan dengan Wijaya Grub.
"Maksud loe apa Felix? Gue harus diam saat Vian menjadi target pembunuhan Wijaya?" Ujar Jero balik bertanya kepada Felix. Jero marah mendengar pertanyaan bodoh dari Felix.
"Bukan begitu maksud gue Jer. Tapi, loe tau sendirikan loe sedang bersembunyi dan ada maksud lain. Kenapa harus loe menampakan siapa diri loe ke beberapa orang" ujar Felix yang cemas dengan rencana Jero kali ini. Felix hanya mencemaskan kalau Jero diketahui oleh seseorang itu. Padahal selama ini Jero sudah berusaha untuk menghindar dari dia. Menurut Jero belum saatnya dia terlihat oleh orang itu.
"Loe tenang aja Felix. Makanya gue mengutus Bram ke Wijaya Grub. Bram tidak akan menarik saham dengan alasan yang dibuat buat, tetapi alasan sebenarnya." ujar Jero kepada Felix.
"Gue nggak paham" jawab Felix yang memang untuk urusan seperti ini agak lambat dibandingkan Bram.
Tetapi kalau urusan mengembangkan perusahaan, berikan kepada Felix berjuta juta ide akan muncul, tetapi untuk urusan seperti ini berikan kepada Bram. Dia ahlinya, Jero hanya meminta dia untuk pergi makan Bram akan mengeksekusi sisanya sendirian.
"Loe nanti akan paham sendiri. Kita tunggu saja Bram pulang dari Wijaya Grub. Loe juga tinggal tunggu telpon dari Wijaya Grub." ujar Jero yang sudah mengerti taktik apa yang akan dipakai oleh Bram saat dia sampai di perusahaan Wijaya Grub itu.
Jero mengambil ponsel miliknya, dia harus memastikan kalau Vian dalam keadaan baik baik saja. Jero menghubungi Vian. Vian yang kebetulan sedang bermain ponsel melihat siapa yang menghubungi nya langsung mengangkat panggilan itu.
"Hallo Jero, kamu dimana?" tanya Vian langsung menanyakan dimana keberadaan Jero. Vian sekarang dalam posisi memeluk boneka yang diberikan oleh Jero saat Vian sedang merasa sedih karena perlakuan kedua orang tuanya yang tidak masuk diakal itu
"Aku masih di rumah teman. Apa kamu dalam kondisi baik baik saja Vian?"
Jero menanyakan keadaan Vian.
"Aku baik baik saja. Kamu pulangkan malam ini?"
Vian ingin memastikan keberadaan Jero nanti malam.
"Pulanglah, kenapa kangen?" tanya Jero lagi sambil menggoda Vian.
"Kangen" jawab Vian polos
Felix yang mendengar jawaban dari Vian langsung terbatuk. Dia tidak menyangka Vian dengan polosnya menjawab pertanyaan dari Jero.
"Gila ni kakak ipar." ujar Felix.
"Sayang, kamu istirahat lagi ya. Apa kamu udah makan?" tanya Jero yang ingat Vian hanya sarapan di hotel saja tadi. Saat mereka di mall Jero tidak sempat membawa Vian pergi makan.
"Udah, tadi Bik Ina membuat sop buntut, nah aku makan deh. Lagian Tuan Muda itu belum pulang. Kata Bik Ina bisa jadi mereka di sana seminggu" ujar Vian kepada Jero.
"Asik lah mereka di sana seminggu, jadi kamu bisa damai di mansion" jawab Jero.
Saat Jero dan Vian asik bercerita, sedangkan Felix sibuk dengan laptopnya, Bram masuk sambil tersenyum bahagia. Terlihat kebanggaan yang besar dari sorot matanya. Bram duduk di kursi khusus untuk dirinya.
"Sayang, nanti aku telpon lagi ya, pas jalan pulang. Ini kawan aku yang lain baru aja datang" ujar Jero memberitahukan kepada Vian kalau kawannya yang lain baru saja datang.
"Oke sayang. Kamu hati hati pulang." ujar Vian.
Jero kemudian memutuskan panggilannya dengan Vian. Jero menatap ke arah Bram. Felix juga menjauhkan laptop dari dirinya. Dia juga ingin mendengar cerita dari Bram. Sepertinya Bram berhasil dengan misinya kali ini, semua itu terlihat jelas dari wajah Bram yang terlihat gembira.
"Abang berdua harus denger. Hahahahahaha. Aku bahagia banget Bang" ujar Bram yang memang terlihat sangat bahagia sekali.
BRAM
"Gue harus berhasil membuat Wijaya Grub merasa bersalah. Gue nggak mau Bang Jero dan Bang Felix meragukan gue" ujar Bram. Menyemangati dirinya.
"Gue harus buktikan ke mereka berdua, kalau gue layak menjadi adik mereka, walaupun sebenarnya udah sih." ujar Bram kembali menyemangati dirinya.
Mobil Bram masuk ke dalam area perusahaan Wijaya Grub. Bram dan kedua pengawalnya turun dari mobil yang berbeda. Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam perusahaan yang besar itu.
"Permisi Nona cantik manja, saya mau bertemu dengan Tuan Wijaya, apakah Tuan Wijaya ada di ruangannya?" tanya Bram kepada dua orang resepsionist tersebut.
Resepsionist yang dikatakan cantik oleh Bram, langsung klepek klepek. Mereka tidak menyangka Bram akan memanggil dengan sebutan itu.
"Hallo Nona manis, apa saya harus mengulang pertanyaan saya lagi?" ujar Bram sekali lagi kepada resepsionist.
"Tidak Tuan. Presiden direktur ada di ruangannya. Kalau boleh Saya tau nama Tuan siapa dan dari perusahaan mana? Saya akan menghubungi sekretaris terlebih dahulu untuk menanyakan apakah Presiden direktur bisa menemui Anda atau tidak." ujar resepsionist dengan nada formalnya.
"Tolong katakan kepada Presiden direktur sya Bram dari perusahaan JFB Grub." ujar Bram menyebutkan nama perusahaan milik mereka bertiga. Perusahaan yang merupakan cabang dari perusahaan utama yang luar biasa itu.
Resepsionist menghubungi sekretaris dan menyampaikan siapa yang ingin bertemu dengan Presiden direktur mereka. Sekretaris meminta resepsionist untuk menunggu sebentar, dia akan menanyakan kepada Presiden direktur apakah bersedia bertemu dengan Bram atau tidak.
"Tunggu sebentar Tuan, sekretaris sedang bertanya kesediaan Presiden Direktur terlebih dahulu" ujar resepsionist.
Bram mengangguk. Kedua pengawalnya terlihat sangat jengkel dengan sistem yang kini di perusahaan ini.
"Perusahaan kecil aja blagu" ujar salah satu pengawal yang terdengar oleh Bram.
"Biarkan saja, kita tidak boleh sombong. Lagian mereka tidak tau bagaimana besarnya perusahaan kita di luar" jawab Bram menegur pengawalnya yang berbicara sombong itu.
Pengawal terdiam, dia tidak menyangka kalau Bram bisa mendengar apa yang dikatakan olehnya walaupun sudah sangat pelan sekali.
"Tuan, Presiden direktur bersedia bertemu dengan Anda. Mari saya antar Tuan" ujar resepsionist menyampaikan pesan persetujuan untuk bertemu dari presiden direktur perusahaan Wijaya Grub.
Resepsionist, Bram dan dua pengawalnya, masuk ke dalam lift yang dikhususkan untuk petinggi perusahaan. Lift mengantarkan mereka berempat langsung ke ruangan Presiden direktur.
"Mari Tuan, saya akan mengantarkan Tuan ke ruangan presiden direktur kami" Ujar resepsionist melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift.
Sekretaris sudah menunggu Bram di depan pintu ruangan Presiden direktur. Setelah mengantarkan Bram, resepsionist kembali ke mejanya di lantai satu perusahaan.
"Mari Tuan Bram, silahkan masuk, Presiden direktur kami sudah menunggu Tuan di dalam." ujar sekretaris sambil. membukakan pintu ruangan presiden direktur.
Dua orang pengawal Bram menunggu tepat di depan pintu ruangan direktur. Bram kemudian masuk di iringi oleh sekretaris.
"Tuan Bram, ada angin apa yang membuat Tuan Bram datang kemari, tanpa adanya pemberitahuan" Ujar Presiden direktur.
"Ada hal penting yang harus saya kabarkan kepada Tuan Wijaya" ujar Bram dengan nada serius.
Tuan Wijaya melihat keseriusan dalam nada suara Bram dan juga cara Bram menatap Tuan Wijaya.
"Mari duduk dulu Tuan" ujar Tuan Wijaya.
Bram duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Tuan Wijaya juga duduk di salah satu sofa.
"Ada apa Tuan Bram? Sepertinya sangat serius" ujar Tuan Wijaya membuka dialog antara mereka berdua.
"Saya bukan tipe basa basi seperti Felix kakak saya itu Tuan Wijaya. Saya akan langsung ke topik permasalahan yang sekarang saya bawa ke sini" ujar Bram dengan nada dingin sedingin es.
Bram belajar nada itu dari Jero, Bram menyerap semua cara Jero dalam melakukan negosiasi dengan siapapun. Bram sangat belajar banyak dari Jero. Makanya saat di negara E, Bram selalu jadi sopir Jero. Tujuan Bram hanya satu, dia ingin belajar langsung dari Jero.
"Baiklah Tuan Bram. Silahkan sampaikan" uajr Tuan Wijaya yang sudah dapat menarik suatu berita. Tetapi Tuan Wijaya berharap berita itu tidak benar adanya.
"Jadi begini Tuan Wijaya" ujar Bram memulai pembicaraan serius antara dirinya dengan Tuan Wijaya.
............................................................................
Kakak kakak mampir yuk ke novel aku yang lainnya.
Kepahitan Sebuah Cinta
Suamiku bukan Milikku
It's My Dream
Kesetiaan Seorang istri