
"Udah isi sana." ujar Jero lagi.
Vian mengisi semua biodatanya. Dia sama sekali tidak memikirkan masalah. Bagi Vian yang penting dia keluar dari negara ini. Urusan biaya akan dipikirkannya nanti saja saat sampai di negara itu. Vian bisa bekerja paruh waktu. Intinya bagi Vian adalah dia harus pergi dari negara ini.
Vian mendadak berhenti mengetik di laptop miliknya. Jero melihat hal itu, Jero memperhatikan pertanyaan yang ada di laptop milik Vian. Jero paham kenapa Vian berhenti mengisinya.
"Kenapa berhenti?" tanya Jero kepada Vian.
Vian menatap Jero sambil menunjuk ke layar laptop miliknya, menunjukkan kenapa dia sampai berhenti mengetik.
Jero membaca sekilas apa isi dari pertanyaan itu.
"Isi saja di mansion Asander." ujar Jero sambil menatap Vian.
"Apa Asander?" tanya Vian tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Ya Asander. Kenapa kamu teriak begitu?" tanya Jero menatap Vian.
"Kok namanya rada rada mirip dengan yang ono." ujar Vian yang enggan menyebut nama suaminya.
"Hahahaha. Kengen dia ya?" ujar Jero mulai mengusili Vian.
"Kangen? Bulan jadi dua aja belum tentu aku kangen dia." ujar Vian mulai kesal dengan becandaan nggak lucu Jero.
"Becanda kamu nggak lucu sayang." ujar Vian yang malas mendengar becandaan Jero.
"Hahahahaha. Maaf sayang." kata Jero lagi.
"Jadi apa mau aku isu sayang." lanjut Vian bertanya hal yang sama.
"Udah dibilang isi mansion Asander. Kamunya nggak mau." ujar Jero yang kesal dengan kekeras kepalaan Vian.
"Oke oke. Aku isi. Semoga aja nggak ada kaitannya dengan yang ono. Takut nambah utang lagi." ujar Vian.
Jero menatap Vian saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Vian barusan.
"Kenapa natap aku seperti itu?" tanya Vian kepada Jero
"Apa maksudnya bayar hutang?" ujar Jero lagi.
"Nanti aku ceritain. Aku lanjutin daftar ulang dulu" ujar Vian sambil melanjutkan daftar ulang dirinya di universitas tempat Vian akan mengambil spesialis itu.
Vian mengisi kembali selama lima menit. Akhirnya Vian selesai mengisi format daftar ulang yang diberikan pihak universitas.
"Jadi, apa cerita yang belum aku ketahui?" ujar Jero.
"Jadi gini, aku dan dia menikah bukan karena cinta ataupun melalui proses pacaran." ujar Vian mulai menceritakan perihal dirinya.
"Hah?" ujar Jero pura pura kaget.
"Biasa aja. Budek ne kuping. Mau lanjutin nggak?" ujar Vian yang langsung memukul pundak Jero, saat Jero berteriak menyebutkan kata Hah.
"Terus saat itu aku pulang dari rumah sakit saat hari sudah malam. Aku hari itu ntah kenapa merasa sangat berat untuk pulang ke rumah. Berat banget, udah berkali kali aku mengambil tas untuk pulang, tetapi saat itu aku letakkan kembali. Aku bener bener enggan untuk pulang ke rumah." ujar Vian mulai bercerita.
"Akhirnya setelah mengalami kebimbingan dari lepas dinas, akhirnya aku memutuskan untuk tetap pulang ke rumah. Dalam perjalanan beberapa kali aku berhenti masuk ke parkiran hotel. Ntah kenaoa hati ini ingin sekali nginap di hotel. Bukan tidur di rumah. Tapi malam itu aku tetap memutuskan untuk pulang ke rumah." lanjut Vian bercerita.
Jero masih dengan sikap yang sama, setia untuk selalu mendengar apa yang dikatakan oleh Vian.
"Aku melajukan mobil menuju rumah. Sampai di rumah hari sudah pukul sembilan malam. Saat aku pulang itu, aku melihat sebuah mobil mulai bergerak meninggalkan rumah. Aku berselisih dengan mobil itu di halaman rumah. Saat itu aku tidak tau siapa yang datang." ujar Vian yang tetap tenang bercerita.
"Aku kemudian masuk ke dalam rumah. Ayah dan Bunda masih duduk di sofa ruang tamu saat itu. Kemudian Ayah meminta aku duduk. Saat itu Bunda yang mengatakan kepada aku apa tujuan tamu yang datang tadi." ujar Vian kepada Jero.
"Apa yang dikatakan Bunda?" tanya Jero mulai mengidentifikasi siapa siapa saja yang terlibat dalam permasalahan ini.
"Bunda mengatakan kalau yang datang tadi alah Tuan dan Nyonya Alexsander. Mereka datang untuk meminta aku jadi menantu mereka." jawab Vian.
"Terus kenapa kamu bersedia?" tanya Jero sambil menatap Vian. Jero ingin Vian jujur kepada dirinya.
"Kenapa aku mau, kalau dalam pikiran kamu karena cinta, maka jawabannya salah besar. Aku tidak cinta. Saat itu aku menerima karena satu perkataan Ayah yang didukung Bunda membuat aku terpojok dan tidak bisa menolak apapun." ujar Vian.
"Ayah mengatakan kalau kamu harus balas budi?" tanya Jero kepada Vian.
"Bukan, bukan itu. Ayah mengatakan kepada aku kalau Juan Alexsander sudah lama mencintai aku. Dia benar benar menginginkan aku menjadi istrinya. Malahan yang lebih membuat aku hari itu menyerah, Ayah dan Bunda mengatakan kepada aku, kalau aku tidak menikah dengan Juan Alexsander dengan siapa aku mau menikah. Aku sama sekali tidak memiliki kekasih. Akhirnya dengan berat hati aku menerima lamaran itu." lanjut Vian berbagi kisahnya dengan Jero. Kisah hidup yang pada akhirnya membawa Vian ke dakam jurang kegelapan dalam hidupnya.
"Keesokan harinya mereka datang untuk secara resmi melamar aku. Tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya aku menikah dengan Juan Alexsander itu. Pernikahan mewah di hotek termegah di kota ini. Semua orang menatap iri kepada aku. Saat itu aku memang bahagia. Tidak munafik, aku memang senang bisa dinikahi oleh seorang pengusaha muda yang terkenal." ujar Vian.
"Seminggu pertama pernikahan memang berjalan damai dan tentram. Selanjutnya mulai terjadi berbagai macam penyiksaan mulai dari kata kata sampai kekerasan fisik aku terima." ujar Vian lagi.
"Sampai puncaknya hari itu. Dia mengatakan kalau pernikahan kami hanya pernikahan bisnis. Saat itu aku benar benar hancur. Bukan karena mendengar pernikahan bisnis. Tetapi mendengar keluarga aku sengaja melakukan hal itu karena takut perusahaan Ayah bangkrut." ujar Vian yang masih bercerita dengan tegar tanpa meneteskan air matanya sedikitpun.
"Apa kamu sudah bertanya dengan Ayah dan Bunda?" tanya Jero memastikan hal yang satu itu. Bagi Jero hal yang satu itu sangat penting.
"Sudah. Saat itu kamu sedang pergi menemui sahabat lama kamu di kantin. Aku kemudian menghubungi Ayah." ujar Vian menjawab pertanyaan Jero.
"Apa kata Ayah?" Jero mulai sangat kepo.
"Hari itu Ayah menjawab. Memang benar pernikahan aku dengan dia pernikahan bisnis. Lalu Ayah juga mengatakan berkat ide dia dan Bunda, aku mendapatkan suami kaya dan terkenal. Sehingga aku memiliki hutang kepada mereka sebesar tiga milyard." ujar Vian mulai meneteskan air matanya.
"Kenapa ada hutang itu?" tanya Jero lagi kepada Vian.
"Itu biaya hidup aku selama tinggal dengan mereka. Serta harga dari hasil usaha mereka menikahkan aku dengan Juan Alexsander." ujar Vian mengatakan hal yang dirasanya sangat berat untuk dikatakan.
"Ini benar benar gila." ujar Jero yang tidak habis pikit dengan Vian.
"Apakah masih ada yang lain dikatakan dia?" ujar Jero yang melihat Vian masih ada menutup rapat sebuah cerita.
Vian mengangguk. Dia sangat sedih.
"Apa?" kata Jero yang sebenarnya ingin memeluk Vian tetapi ditahannya terlebih dahulu. Dia ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Vian kepada dirinya.
"Mereka mengatakan kalau aku tidak anak mereka lagi. Aku harus membayar uang yang aku katakan tadi. Kemana aku harus cari uang sebanyak itu." ujar Vian menangis tersedu sedu. Sebuah luka bathin yang ditorehkan oleh orang tua. Luka yang selama itu harus dipendam Vian sendirian tanpa berbagi dengan siapapun.
Jero memeluk Vian. Dia mengepalkan tangannya di balik punggung Vian. Jero sudah memutuskan sesuatu. Dia akan melakukannya.
"Bramantya tunggu saja pengadilan untuk kamu." ujar Jero dengan nada dingin yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.