My Affair

My Affair
BAB 73



Pagi harinya Vian bangun lebih dahulu dari pada penghuni mansion lainnya. Vian mengerjap ngerjapkan matanya. Dia berusaha mengumpulkan semua serpihan serpihan pikirannya yang bertebaran dimana-mana. Vian terdiam sejenak, dia memutar semua kejadian yang mereka lalui kemaren. Kejadian kejadian pedih yang dialami oleh Vian.


Setelah merasa dirinya sudah cukup mampu untuk berdiri, Vian bangun dari atas sofa yang semalam dijadikannya tempat tidur, karena takut Jero akan pergi menemui Juan Aleksander.


Mata Vian menatap sesosok tubuh yang juga sedang tertidur nyenyak di sebuah sofa. Vian berjalan menuju sofa tersebut. Ternyata yang sedang tertidur itu adalah Jero. Pria yang sangat dicintainya dan juga selalu berusaha menjaga dirinya.


Vian menatap wajah tampan ini. Ntah keberanian datang dari mana, Vian mendekatkan wajahnya kepada wajah yang tertidur nyenyak itu.


Cup, sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Jero. Vian kembali menatap wajah yang selalu berjuang untuk dirinya.


"Aku mencintaimu" ujar Vian pelan.


Setelah mengungkapkan apa yang dirasakannya, Vian berjalan keluar dari ruang kerja Jero. Vian menuju wastafel yang ada di dekat dapur bersih. Vian membasuh wajahnya terlebih dahulu, setelah itu Vian mengambil air putih dan meminumnya segelas.


"Aku juga mencintaimu" jawab Jero sambil memegang bibirnya yang tadi di kecup Vian secara sembunyi sembunyi.


Jero tersenyum bahagia karena kelakuan kecil Vian tersebut.


Vian kemudian membuka almari pendingin. Dia mengambil sekotak cumi, udang dan kerang serta mengambil beberapa bahan bahan yang akan digunakan oleh Vian untuk membuat sarapan.


"Masak nasi goreng seafood ajalah. Terus bikin dadar minang sama goreng kerupuk" ujar Vian yang telah memutuskan untuk memasak sarapan apa hari ini.


Vian mengupas semua bumbu bumbu yang diperlukan olehnya. Setelah itu Vian menggiling bumbu yang harus dihaluskan. Vian kemudian memotong seafood yang sudah dicucinya. Vian juga mengiris bumbu bumbu yang memang harus diiris.


Setelah selesai dengan semua bahan bahan, Vian mulai mengolah nasi gorengnya. Vian menumis bumbu halus itu sampai tercium wangi harus yang bener bener membuat siapa saja yang menciun aromanya akan merasakan lapar yang amat sangat. Seorang chef yang memang sudah sangat terkenal menatap Vian yang asik memasak itu.


"Nona, wangi sekali bumbu yang Nona tumis itu. Apakah semua bumbunya nona giling halus pakai blender?" tanya Chef sambil duduk di kursi mini bar.


"Oh tidak pakai blender chef, tapi saya giling pakai tangan. Tu baru giling annya masih kotor. Kalau pakai blender wanginya nggak seharum ini" ujar Vian menjawab pertanyaan dari seorang chef tersebut.


Vian memasukkan bumbu yang diiris nya tadi. Vian memasak semua bumbu sampai mateng. Setelah itu barulab dia memasukkan semua seafood yang sudah dimarinage dengan bumbu bumbu sederhana. Setelah semuanya masuk baru Vian memasukkan nasi putih. Vian mengaduk dengan kekuatan penuh. Dia memasak satu wajan besar nasi goreng. Vian kemudian mencicipi rasa nasi gorengnya.


"Wow pas. Enak banget. Ini mantul kali" ujar Vina memuji masakannya sendiri.


"Boleh saya minta sedikit Nona?"


"Oh boleh chef, bentar saya ambilkan"


Vian mengambilkan sepiring nasi goreng untuk chef tersebut. Chef mencoba nasi goreng buatan Vina. Chef terdiam merasakan nasi goreng itu.


"Nona, saya akui ini sangat lezat. Saya mulai ini ke atas akan menggiling memakai batu gilingan saja semua bumbu Nona. Saya tidak pakai mesin lagi" ujar Chef yang kaget dengan rasa masakan yang dibuat oleh Vian.


Vian kemudian melanjutkan masakannya. Chef tersebut sudah membawa sepiring nasi goreng menuju belakang rumah. Chef itu sangat malu dengan Vian. Vian saja yang seorang dokter bisa membuat nasi goreng yang terlihat sederhana tetapi memiliki rasa yang wow.


Vian memasak telur dadar yang akan dibuatnya agak tebal. Vian membuat tiga buah telur dadar dengan lebar yang agak besar. Setelah selesai dengan telur dadar nya, Vian menggoreng kerupuk udang.


"Akhirnya selesai juga sarapan. Tinggal sajikan, siap itu mandi dan bersiap siap untuk kegiatan selanjutnya"


Vian menghidangkan semua menu sarapan ke atas meja makan. Vian mengerjakan sendirian saja, dia melarang pelayan untuk membantunya. Setelah meletakkan semua menu sarapan, Vian juga telah menyiapkan irisa timun dan lobak serta tomat. Vian tidak lupa membuat acara sederhana untuk menambah rasa nasi goreng.


"Sayang bangun sayang. Sarapan udah siap. Ayuk mandi dulu" ujar Vian mengguncang guncang tubuh Jero.


Jero menarik tangan Vian. Vian yang tidak dalam keadaan waspada, langsung jatuh menimpa tubuh Jero.


"Akh, kamu ada ada aja sayang" ujar Vian yang sekarang sudah berada di atas tubuh Jero.


"Sekali sekali sayang. Lagian juga nggak ngapa ngapain" jawab Jero masih memeluk Vian di atas tubuhnya.


"sayang, sarapan sudah siap. Nanti yang lainnya nungguin kita juga. Kasihan sayang, pasti mereka bangun tidur merasakan lapar. Sama aku juga merasakan lapar. Makanya, ayuk kita bangun dan mandi. Siap itu sarapan" ujar Vina membujuk Jero untuk mau melepaskan dirinya.


"Cium dulu" kata Jero menantang Vian untuk mencium dirinya.


Cup satu kecupan mendarat di kening Jero. Jero menunjuk pipi sebelah kirinya. Cup, Vian mengecup pipi yang ditunjuk oleh Jero. Jero kemudian menunjuk pipi sebelah kanan. Cup, Vian kembali mengecup pipi kanan Jero. Kemudian Jero menunjuk bibirnya.


Plak sebuah tamparan mendarat di pundak Jero.


"Kasih hati minta jantung. Aku laper sayang" ujar Vian memasang wajah memelas nya. Wajah andalan untuk menghadapi Jero yang sedang ngeyel tersebut.


"Hem ya udah ayuk kita mandi. Besok kalau ngecup bibir aku sedang tidur lagi awas ya. Aku gigit" ujar Jero memberitahukan apa yang dilakukan oleh Vian tadi.


Vian menatap Jero dengan wajahnya yang sudah memerah menahan malu. Pencurian nya tadi ternyata diketahui oleh Jero. Vian menjadi malu setengah mati dibuatnya. Vian tidak menyangka kalau Jero akan mengetahui kelakuan Vian yang mencuri sebuah ciuman dari Jero.


"Yah ketahuan" ujar Vian yang kadung ketahuan kelakuannya oleh Jero.


"makanya sayang, kalau mencuri itu hati hati. Ini ndak asal nyosor saja. Untung aja aku sedang dalam kondisi ngantuk berat. Kalau nggak Hem habis tu mulut seksi kamu" ujar Jero mulai mempermainkan emosi Vian lagi.


"Sayang," ujar Vian yang tau Jero sengaja menggoda dirinya.


"Haha haha haha. Yuk ke atas mandi. Apa kamu mandi sama aku juga?" kali ini Jero mulai lagi menggoda Vian.


"Halalin dulu, baru mandi bareng. Mana ada kayak sekarang mandi bareng" ujar Vian menantang Jero dengan ucapannya.


Mereka berdua bergandengan tangan menuju kamar mereka yang berada di lantai tiga mansion. Para maid yang sedang membersihkan mansion melihat kejadian langka itu.


"Tuan Jero semenjak ada Nona Vian di rumah ini lebih banyak tersenyum nya. Aura ketampanannya langsung naik berkali kali lipat" ujar salah satu maid.


"Setuju. Tuan Jero luar biasa tampan. Bahagianya Nona Vian yang berhasil memenangkan hati dan cinta Tuan Jero yang terkenal dingin kepada wanita itu" sambar maid yang lainnya.


Semua omongan maid terdengar jelas okeh Vian dan Jero.


"cie yang sedang banyak penggemarnya. Hem gimana rasanya jadi orang yang diperhatikan ya" ujar Vian menggoda Jero.


"Mulai" kata Jero setengah kesal


"hahahaha hahahaha hahahaha. Di larang kesal mas bro" ujar Vian mencegah Jero untuk kesal kepada dirinya.


Mereka akhirnya sampai di depan pintu kamar masing masing. Jero dan Vian sama sama masuk ke dalam kamar mereka. Mereka akan membersihkan tubuh dan juga berganti pakaian. Mereka melihat masih ada setengah jam lagi, sebelum jadwal sarapan datang. Mereka tidak ingin terlambat dan membuat yang lain menunggu. Jero dan Vian kemudian masuk ke dalam kamar mandi.