My Affair

My Affair
BAB 90



Mobil hitam mewah milik Tuan Aleksander memasuki perkarangan mansion dengan berbelok begitu cepat. Satpam yang menjaga di depan pintu gerbang kaget mendengar bunyi mobil yang berbelok dan parkir dengan mendadak itu.


"Tidak biasanya sopir Tuan besar membawa mobil seperti itu. Ada apa gerangan? Sepertinya sesuatu yang tidak baik sedang terjadi di mansion ini" ujar Satpam sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan sopir Tuan besar mereka itu.


Tuan dan Nyonya Aleksander turun dari mobil dengan tergesa gesa. Mereka sama sekali tidak menyapa sopir yang membukakan mereka pintu mobil.


"Nah nggak biasanya Tuan dan Nyonya besar tidak mengucapkan terimakasih. Sepertinya sesuatu yang besar sedang terjadi dalam keluarga ini." lanjut satpam yang berusaha menyimpulkan sendiri atas semua kejadian berdasarkan apa yang dilihat oleh satpam.


Tuan dan Nyonya besar masuk ke dalam mansion. Mereka berdua langsung menuju ruang kerja Papi yang kedap suara itu. Mereka berdua harus membicarakan tentang masalah yang baru saja muncul itu. Masalah yang akan membuat semua semuanya menjadi sangat rumit.


"Papi, gimana ini Papi. Kenapa wajah anak itu mirip dengan wajah dia. Lagian namanya juga sama Papi" ujar Mami dengan nada panik dan juga takutnya.


"Mami tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi Papi, kalau anak itu kembali lagi" lanjut Mami menyuarakan rasa takutnya kepada Papi.


"Papi juga tidak tau Mami. Apakah ini kebetulan mirip dengan dia atau memang dia. Papi juga ragu Mami" ujar Papi sambil meraih foto yang ada di dalam laci meja miliknya.


Papi menebar fhoto fhoto itu di atas meja kerjanya. Papi mengambil salah satu fhoto di atas meja dengan wajah yang paling mirip dengan wajah yang dilihat Papi di ponsel milik Juan.


Mami heran melihat koleksi fhoto Papi. Mami tidak tau kalau Papi memiliki koleksi foto Jero dari kecil. Mami menatap ke arah Papi. Mami menuntut penjelasan dari Papi atas semua fhoto fhoto yang ada di atas meja kerja Papi itu.


"Papi, kenapa bisa fhoto anak itu sebanyak ini Papi miliki? Ada apa sebenarnya Papi? Mami butuh penjelasan Papi. " ujar Mami murka saat melihat begitu banyak fhoto dengan wajah yang membuat Mami marah itu di atas meja Papi.


"Apa Papi selama ini tidak bisa melupakan mereka?" teriak Mami dengan suara menggelegar membelah langit.


"jawab Papi. Ada apa ini Papi?" kata Mami semakin keras berteriak ke arah Papi.


"Apa selama ini Papi secara diam diam tanpa sepengetahuan Mami dan yang lainnya Papi masih berhubungan dengan mereka? Papi telah mengkhianati kami Papi" teriak Mami murka di hadapan Papi.


Papi hanya diam saja. Mami yang melihat Papi hanya diam saja menjadi semakin kesal. Mami benar benar marah. Mami benar benar muak dengan fhoto fhoto yang diperoleh Papi dari semua mata matanya.


"Sekarang terserah Papi. Kalau Papi memang tidak ingin menjelaskan kepada Mami tidak masalah." ujar Mami semakin menjadi jadi amarahnya yang keluar.


"Mami marah sama Papi. Papi pembohong. Papi tidak menepati janji Papi kepada Mami dan Juan. " ujar Mami dengan berlinangan air mata.


"Mami kira Papi akan menepati janji. Ternyata tida sama sekali. Papi masih tetap mencari tahu tentang wanita itu dan juga anaknya" kata Mami masih dengan tangisnya yang makin menjadi jadi.


Papi masih diam saja. Papi sama sekali tidak berkutik dari lamunan panjangnya. Mami yang melihat Papi seperti itu semakin marah. Akhirnya dari pada Mami dicuekin terus oleh Papi.


Mami kemudian memilih untuk pergi dari hadapan Papi. Mami tidak sanggup lagi di sana. Mami seperti dikecewakan oleh Papi untuk saat ini.


Brank bunyi pintu yang di tutup dengan cara dihempaskan oleh Mami dengan sangat kuat. Kemarahan Mami terlihat saat itu juga. Mami tidak menahan nahan lagi amarahnya untuk keluar.


Sebuah mansion yang sangat megah, mewah dan juga seperba memakai tekhnologi canggih. Terlihat seorang wanita yang baru bangun tidur merentangkan tangannya dan menggeliat menormalkan kembali otot ototnya yang sempat tegang itu.


Vian kemudian berjalan menuju kamar mandi. Dia akan membasuh wajahnya dan juga menggosok gigi. Vian melakukan semuanya dengan gerakan cepat. Dia tidak mau di dahului oleh para koki untuk berada di dapur. Vian hari ini ingin memasak sarapan untuk semua orang. Setelah yakin dengan kebersihan wajah dan juga giginya. Vian yang masih memakai pakaian tidur berjalan keluar kamar. Dia kemudian turun dengan lift menuju dapur yang terletak di lantai dua mansion mewah itu.


"Masak apa ya?" ujar Vian berpikir sesaat.


"Nasi uduk lengkap dengan ayam mentega, mie goreng, sama tempe orek tambah kerupuk udang. Wuis udah bisa dipastikan enak itu" ujar Vian sambil menelan air ludahnya saat mengingat masakan apa yang akan dibuat oleh dirinya untuk sarapan hari ini.


Vian kemudian membuka almari pendingin yang ada di dapur. Vian mengobrak abrik isi almari pendingin itu. Almari pendingin yang tingginya luar biasa itu dikeluarkan semua isinya oleh Vian.


Vian mengambil semua bahan bahan masakan yang dibutuhkan oleh dirinya. Vian juga mengeluarkan beberapa buah yang akan dikupas oleh dirinya.


Setelah mengambil semua bumbu yang diperlukan. Vian kemudian menggiling bumbu nasi uduk itu dengan batu gilingan yang ternyata ada di dapur mewah tersebut. Setelah menggiling semua bumbu nasi uduk, Vian memasak nasi uduk itu kedalam dia buah rice cooker yang ada di dapur tersebut.


"Oke nasi udah naik. Saatnya membuat ayam mentega." ujar Vian dengan semangat empat lamanya.


Vian kemudian membuat bumbu untuk membuat ayam mentega. Vian mengolah masakan ayam mentega itu sambil sekali sekali menggoyangkan pinggulnya kiri dan kanan.


Jero yang baru bangun, berusaha mengumpulkan semua nyawanya yang bertebaran di dalam kamar tidur itu.


"kok gue haus ya?" ujar Jero yang merasakan kalau kerongkongan nya sedang kering dan butuh disiram air minum.


Jero meraih gelas yang ada di atas nakas. Jero melihat gelasnya sudah kosong.


"Yah kosong. Sepertinya memang harus ke dapur. Nggak mungkin nyuruh maid untuk mengambilkan air minum" ujar Jero


Jero kemudian membasuh wajahnya tanpa menggosok gigi. Kerongkongan Jero sudah minta di siram oleh air saat ini juga. Jero kemudian turun dari kamar. Jero yang sedang malas menggunakan lift lebih memilih turun dengan memakai tangga biasa saja.


Saat sampai di dapur yang ada di lantai dua mansion. Jero melihat sesosok wanita sedang sibuk membuat masakan sambil sesekali menggoyangkan pinggulnya.


"Perasaan nggak ada yang masang musik. Kenapa Vian bisa goyang goyang sendiri ya?" ujar Jero sambil terus melangkahkan kakinya menuju dapur tempat Vian sedang fokus memasak sambil berjoget itu.


Jero mengambil segelas air di dispenser. Vian sama sekali tidak mendengar pergerakan yang dilakukan oleh Jero. Ntah Vian terlalu serius memasak, ntah memang dia sedang memakai headset sehingga sama sekali tidak bisa mendengar pergerakan dari Jero.


"di peluk enak itu" ujar Jero yang mulai berpikiran usil untuk mengerjai Vian.


Jero berjalan dengan perlahan lahan menuju tempat Vian berada sekarang. Jero ingin mengagetkan Vian dengan cara memeluk Vian dari belakang.


Tetapi.........


"Sayang, kamu udah bangun?" tanya Vian saat dia berbalik dan langsung berhadapan dengan wajah Jero.


Jero yang sebenarnya ingin memeluk Vian dan memberikan Vian kejutan, hanya bisa menceles saja, karena apa yang direncanakan oleh dirinya menjadi gagal total. Vian sudah terlebih dahulu berbalik sebelum Jero sempat memeluk dan mengagetkan Vian atas kedatangannya ke dapur itu.


"baru bangun sayang. Ini mau ngambil air putih. Aku haus" ujar Jero sambil meneguk air minum yang baru diambilnya itu.


"Ooo. Aku kira kamu mau ngapain sayang. Jalan mengendap endap seperti maling itu" ujar Vian sambil kembali meneruskan pekerjaannya yaitu menggoreng tempe dan teri serta kacang tanah untuk membuat menu tempe orek.