
"Jadi menurut analisa Abang, sekarang yang jadi tumbuk masalah semuanya adalah kakak ipar?" tanya Bram yang baru menyambung dengan semua pembicaraan yang sedang mereka lakukan itu. Pembicaraan mengenai rentetan kasus yang sedang terjadi dan dialami oleh Vian.
"Yup. Aku cemasnya nanti seperti yang aku katakan sebelumnya, sempat Juan mempersulit proses perceraian maka Vian harus pulang ke mansion kembali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perlakuan Juan Aleksander kepada Vian, kalau Vian sempat kembali ke mansion itu" ujar Jero yang tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi Vian, kalau dia harus kembali lagi ke mansion terkutuk itu.
Mansion yang dilihat dari luar begitu megah dan mewah. Setiap orang yang lewat pasti akan mengatakan kalau yang tinggal di dalam sana adalah orang orang yang bahagia. Padahal kalau mereka tau, bahwasanya semua itu tidak seperti itu adanya. Seorang wanita yang dipanggil dengan sebutan Nyonya muda selalu tertekan di mansion itu. Selalu mendapatkan perlakuan kasar dari Tuan Muda mansion itu
"Jangan sampai Bang. Saat manusia yang tak punya hati dan harga diri itu belum tau Abang dan Vian berhubungan saja dia sudah seperti itu. Apalagi kalau sempat kakak ipar balik ke sana dimana dia sudah mengetahui hubungan Abang dengan kakak ipar. Aku tidak bisa membayangkan perlakuan apa yang akan diterima oleh kakak ipar Bang" ujar Bram yang tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Vian kalau semua itu akhirnya terjadi. Bram saja yang selalu berpikiran ke depan tidak bisa membayangkan perlakuan macam apa yang akan diterima oleh Vian. Apalagi Vian sendiri.
"Abang nggak akan membiarkan semua itu terjadi Bram. Abang akan menyelamatkan Vian dari semua kejadian buruk itu. Abang tidak akan mungkin membiarkan Vian masuk ke lubang itu" ujar Jero yang akan melakukan hal apapun demi Vian.
"Apa dengan keberangkatan ke negara E yang dipercepat bisa menghindarkan aku dari Juan Aleksander itu?" tanya Vian yang juga takut untuk kembali ke mansion tersebut.
"Aku ingin pergi jauh dari dia. Aku nggak mau lagi berurusan dengan dia" ujar Vian dengan nada takut dan cemasnya. dia tidak bisa membayangkan harus berurusan kembali dengan Juan Aleksander, seorang pria yang membuat dia takut luar biasa.
Mereka semua terdiam mendengar pertanyaan dari Vian. Jero dan yang lainnya tidak bisa menjamin hal tersebut. Mereka sudah tau bagaimana kekuatan dari keluarga Aleksander. Tetapi mereka tidak mau mengambil resiko dengan mengatakan oke lebih baik pergi ke negara E, bisa aman di sana.
"Bagaimana kalau kita tanya ke Jeri terlebih dahulu Bang. Mana tau dia bisa memberikan kita solusi. Diakan seorang pengacara itu." ujar Bram memberikan solusi kepada Jero untuk berbicara kepada Jeri dan meminta Jeri untuk memberikan solusi kepada mereka tentang permasalahan ini.
Jero terlihat berpikir sesaat. Dia menimbang nimbang apa yang dikatakan oleh Bram. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Jero mengambil satu keputusan. Keputusan yang diharapkan Jero menjadi keputusan yang terbaik untuk Vian dan juga dirinya.
"Oke kita akan tanya kepada Jeri bagaimana baiknya dalam menghadapi permasalahan ini" ujar Jero yang akhirnya memutuskan untuk membicarakan masalah tersebut dengan Jeri
Jero yakin kalau Jeri akan memberikan solusi terbaik. Jero sudah tau bagaimana sepak terjang Jeri dalam menjadi pengacara. Salah satu yang paling diingat Jero adalah kasus antara Aleksander dengan Asander di negara E yang akhirnya dimenangkan oleh Asander. Semua itu adalah berkat campur tangan Jero sebagai seorang pengacara handal.
"Sekarang Jeri dimana Bram?" tanya Jero yang tidak tau sahabatnya itu berada di mana sekarang. Seharian ini Jero sama sekali belum ada berhubungan dengan Jeri. Makanya Jero tidak mengetahui keberadaan Jeri sekarang ini.
"Di mansion Bang. Tadi Bang Jeri minta aku antar ke mansion dari setelah selesai kita makan siang." ujar Bram memberitahukan dimana keberadaan Jeri saat ini.
"Oke kalau gitu mari kita ke mansion. Kita harus konsultasikan semua ini kepada Jeri. Lebih cepat kita ambil keputusan maka semakin cepat kita bisa mengambil tindakan" ujar Jero yang sudah memutuskan untuk berkonsultasi dengan Jeri tentang permasalahan yang dihadapi Vian.
Dua mobil mewah berwarna hitam dove sudah berdiri di depan lobby rumah sakit. Jero dan Vian masuk ke dalam mobil bagian belakang. Sedangkan Felix dan Bram masuk ke mobil bagian depan. Dua mobil itu bergerak meninggalkan area rumah sakit. Mereka akan menuju mansion keluarga Asander yang berada di pinggiran ibu kota. Mansion dengan tatanan seperti rumah bergaya Amerika itu. Mansion dengan luas empat kali lapangan bola. Dimana kiri kanan jalan masuk mansion ditumbuhi oleh pohon buah buahan. Mansion itu adalah mansion terbesar di ibu kota.
Setelah berkendara sekitar satu jam dari rumah sakit. Dua mobil mewah itu masuk ke dalam pintu gerbang yang berloga A di tengah tengahnya. Dua mobil kembali melaju menuju mansion utama. Sopir kemudian memarkir dua mobil di tempat parkir khusus mobil yang akan dijadikan sebagai transportasi sehari hari.
Jero dan yang lainnya kemudian keluar dari dalam mobil. Mereka kemudian berjalan menuju mansion. Bik ina dan Pak hans serta Jeri yang sedang duduk duduk di bangku teras mansion berdiri saat melihat siapa yang datang itu.
"Selamat sore Tuan tuan dan Nona Vian" sapa Pak hans mewakili Bik Ima dan Jeri.
"Selamat sore Pak Hans, Bik Ima" jawab Jero mewakili kedua adiknya dan Vian.
"Oh ya Jeri. Gue ada perlu sama elo. Bisa ke ruang kerja gue sekarang?" tanya Jero yang sudah tidak. sabar lagi ingin mendiskusikan permasalahan ini dengan Jeri.
"Sayang, aku nggak ikut ya. Aku menurut saja mana yang terbaik menurut kamu. Aku benar benar letih. Aku pengen istirahat di kasur dulu" ujar Vian yang merasakan sakit di kepalanya dan sekujur tubuhnya. Vian ingin merasakan empuknya ranjang milik dirinya.
"oke sayang. Sana kamu istirahat ya. Nanti apapun keputusan yang menurut Jeri dan kami bertiga yang terbaik, maka akan aku sampaikan sama kamu" ujar Jero yang melihat kepada Vian.
Jero benar benar merasa kasihan melihat Vian sekarang ini. Kekasihnya itu ditimpa begitu banyak persoalan. Tidak hanya persoalan rumah tangga yang begitu rumit, tetapi juga hukum sosial yang diberikan oleh masyarakat karena berita bohong yang disebarkan oleh Tuan Aleksander.
"Kalian tunggu aku di ruang kerja dulu ya. Aku antar Vian dulu ke kamar" ujar Jero yang nggak sampai hati melihat Vian berjalan sendirian ke kamarnya.
Vian menyandarkan kepalanya ke pundak Jero. Dia berjalan dengan sangat pelan seperti seseorang yang tidak ada gairah hidup, dan perjuangan untuk hidup. Felix, Bram dan Jeri merasa kasihan melihat Vian seperti itu. Vian yang tadi siang masih mengatakan kalau dia tidak memikirkan hal yang dikatakan oleh Tuan Aleksander, tetapi sekarang kenyataannya Vian menjadi manusia lemah dengan segala kemelut penderitaan yang harus ditanggung oleh Vian sendiri.
"Kita harus bantu Vian" ujar Jeri sambil mengepalkan tangannya. Dia tidak mau sahabat terbaiknya akan menjadi seperti dulu lagi saat melihat wanita yang dicintainya menjadi seperti ini.
"Kamu akan menolong Bang Jero kan Bang?" tanya Bram kepada Jeri. Bram menatap Jeri dengan tatapan memohon supaya Jeri mau membantu Jero dalam memecahkan masalah Vian.
"Pasti Jeri. Jero adalah segala galanya bagi gue. Nggak ada dia maka nggak akan ada Jeri seorang pengacara dan pelacak hebat dari negara E" ujar Jeri sambil menatap Jero dan Vian yang sudah ditelab oleh lift yang mengantarkan mereka menuju lantai tiga tempat kamar Vian berada.