
Mommy yang telah berhasil membujuk Jero untuk masuk ke dalam kamar agar beristirahat terlebih dahulu memastikan Jero masuk ke dalam kamar dengan Pak Hans.
Setelah memastikan kalau Jero dan Pak Hans masuk ke dalam kamar, Mommy berbalik melihat ke arah Rina yang masih berada di posisi yang sama dengan posisi waktu Mommy meninggalkan dia tadi saat Mommy membujuk Jero untuk pergi beristirahat.
"Silahkan duduk Rina. Kita sudah lama tidak bercerita cerita" ujar Mommy membuka percakapan dengan Rina.
Bik Ima yang kembali dari mengambil minyak angin dan bawang putih yang diminta oleh Mommy, berjalan menuju mommy dan Rina yang terlihat sedang mengobrol itu.
"Nyonya besar ini minyak angin dan bawang putihnya" ujar Bik Ime kepada mommy.
"Makasi Bik" ujar Mommy mengambil minyak angin dan bawang putih yang diambil oleh bik Ima dari dalam mansion.
"Rina, tadi kan katanya kamu habis digigit nyamuk atau ulat ntah apalah namanya. Nah saya ada obatnya" ujar Mommy menaruh dua obat di atas meja di depan mereka berdua.
"Kamu silahkan pilih mau yang mana" ujar Mommy.
Rina menatap tidak percaya ke arah Mommy. Dia tidak yakin kalau Nyonya besar akan seberani ini.
"Kenapa diam? Silahkan pilih Rina." ujar Mommy meminta Rina untuk memilih obat yang paling pas untuk menghilangkan bekas merah di leher Rina.
Rina kemudian menatap ke arah Mommy. Dia tau harus memilih yang mana. Tetapi dengan alasan yang dikatakan oleh Rina tadi akan berakibat fatal kalau Rina memilih obat yang sebenarnya.
Daddy yang baru pulang dari perusahaan, mencari Mommy, saat masuk ke dalam mansion. Biasanya Mommy sudah menunggu Daddy di sofa ruang tamu sampai Daddy pulang. Tapi kali ini Daddy sama sekali tidak melihat mommy berada di sofa.
Pak Hans yang baru turun dari kamar Jero melihat Tuan besar sedang sibuk hilir mudik seperti mencari seseorang.
"Selamat sore Tuan besar. Tuan mencari siapa Tuan?" tanya Pak Hans kepada Tuan besar yang terlihat bingung tersebut.
"Nyonya mana?" tanya Tuan besar kepada Pak Hans.
"Nyonya ada di belakang Tuan. Tadi Nyonya Besar dan Tuan Muda siap makan di taman belakang mansion." ujar Pak Hans sambil menatap ke arah Tuan besar yang sudah berani mengkhianati Nyonya yang sebaik istri Tuan besar tersebut.
"Terimakasih Pak Hans" ujar Tuan besar.
Daddy kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat Mommy berada.
"Mommy, mommy sayang, Daddy udah pulang Mommy" ujar Daddy sambil berjalan menuju tempat mommy berada.
Sesampainya di sana, betapa kagetnya Daddy saat melihat yang duduk di sana bukan hanya Mommy dan Bik Ima saja. Tapi ada juga seseorang yang memberikan service luar biasa kepada Daddy tadi sore.
"Hay Daddy, baru pulang meeting sayang?" tanya Mommy sengaja memeluk dan mencium mesra bibir Daddy di depan Rina.
Rina berusaha untuk tidak memalingkan wajahnya dari Tuan dan Nyonya besar. Terlebih Nyonya besar dari tadi menatap ke arah dirinya saja.
"Daddy duduk di sini dulu ya." ujar Mommy mengajak Daddy untuk duduk di dekat Mommy.
"Untuk apa minyak angin dan bawang putih, mommy? Mommy masuk angin?" tanya Daddy sambil menatap ke arah Mommy.
Mommy terlihat dalam kondisi baik baik saja. Tidak ada terlihat seperti orang sakit atau tidak dalam kondisi terbaik.
"Bukan untuk Mommy, Daddy" ujar Mommy menjawab pertanyaan Daddy dengan nada manja yang sangat terlihat dibuat buat.
"Mommy baik baik saja. Daddy jangan cemas gitu ke mommy lah. Mommy nggak kenapa kenapa kok" jawab Mommy sambil menatap ke arah Daddy.
"Terus untuk apa?" tanya Daddy penasaran untuk apa guna minyak angin dan bawang putih yang ada di atas meja itu.
"Untuk Rina Daddy. Daddy lihat aja itu, leher Rina ada bekas gigitan nyamuk. Merah banget" ujar Mommy.
Daddy sontak melihat ke arah leher Rina yang memang ada bekas gigitannya itu. Wajah Daddy berubah. Hal itu bisa dilihat oleh Mommy dan Bik Ima.
"Kalau menurut Daddy dari dua obat yang ada di sini, obat mana yang paling cocok dipakai oleh Rina?" tanya Mommy kepada Daddy sambil menatap tajam ke wajah Rina yang hanya bisa terdiam saja.
Daddy memandang Rina sekilas. Rina hanya bisa menundukkan wajahnya. Rina sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada dirinya nanti.
"Bik Ima tolong lihat Jero ke atas ya. Takutnya karena saya belum ke sana dia nanti bangun" ujar Mommy yang sudah menyusun siasat baru dalam otaknya.
Mommy memberikan kode kepada Bik Ima. Bik Ima kemudian berjalan menuju kamar Jero.
"Nah Rina, kata Tuan besar yang baik hati ini, obat yang cocok untuk merah merah kamu itu adalah minyak angin." ujar Mommy sambil tersenyum ke arah Rina.
Senyuman mommy tidak sampai ke matanya. Hanya sampai di bibir saja.
"Ini minyak anginnya Rina, silahkan kamu pakai ya." ujar Mommy mempersilahkan Rina untuk memakai minyak angin, obat yang dipilihkan oleh Daddy.
Rina mengambil minyak angin yang diberikan oleh Mommy. Rina sana sekali tidak bisa memasangkan minyak angin itu, karena Rina tidak tahu dimana posisi merah merah di lehernya.
Mommy melihat dengan sangat jelas sekali kalau Rina sama sekali tidak tahu dimana dia harus meletakan minyak angin tersebut.
"Daddy tolongin Rina atuh Daddy. Rina susah masang obatnya" ujar mommy meminta Daddy untuk menolong Rina memasang minyak angin itu ke bekas yang digigit nyamuk.
"hah?" ujar Daddy kaget mendengar permintaan dari Mommy.
"Nggak usah kaget gitu Daddy. Biasa aja. Tolong ajalah nggak apa apa. Lagian menolong itu berpahala Daddy" ujar Mommy menatap ke arah Rina.
Daddy sama sekali tidak mau mengambil minyak angin yang ada di atas meja. Mommy melihat semua itu dengan perasaan marah.
"Udah ini. Tolong aja. Nggak apa apa. Nolong kalau diijinin nggak akan berdosa" ujar Mommy sengaja mengatakan hal itu kepada Daddy.
"Maksud Mommy apa?" ujar Daddy yang mendengar perkataan sumbang dari Mommy tadi.
"Nggak ada maksud apa apa Daddy. Daddy kenapa merasa? Daddy nggak ngapa ngapainkan di luar?" ujar Mommy menatap ke arah Daddy dengan memberikan tatapan curiga.
"Nggak lah Mommy. Mommy nggak akan Daddy duakan" ujar Daddy mengatakan hal itu kepada Mommy.
"Udahlah Dad, nggak usah di bahas. Sekarang kasih aja minyak anginnya kasiha Rina lama alam nahan gatal" ujar Mommy kepada Daddy.
Daddy dengan berat hari terpaksa mengambil minyak kayu putih yang disodorka Mommy kepada dirinya.
"Maaf Rin" ujar Daddy berkata kepada Rina memohon maaf saat Daddy mengatakan semua hal tadi.
Daddy tidak ingin membuat Rina kecewa dan marah kepada dirinya.
"Tidak apa apa Tuan, kan sudah seizin Nyonya Besar" jawab Rina sambil menyibak rambutnya.
'Kepalanh tanggung Nyonya Anda yang ingin membuat perang terbuka akan saya layani. Anda salah memilih lawan" ujar Rina menatap tahan ke arah Mommy.
Mommy membalas tatapan tajam dari Rina dengan senyuman saja. Mommy sama sekali tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh Rina saat ini. Mommy hanya ingin mencari bukti dan meyakinkan dirinya kalau dugaan Mommy adalah benar.
Daddy memasangkan minyak angin kebagian memerah di leher Rina. Daddy tidak sengaja melakukan itu. Padahal selama ini Daddy sama sekali tidak meninggalkan jejak di tubuh Rina.
"Sudah Mommy" ujar Daddy.
"Makasi Daddy. Tapi kayaknya itu bukan obat yang tepat untuk Rina." ujar Mommy berkata kepada Daddy dan Rina.
"Maksud Mommy?" ujar Daddy bertanya.
"Ya, maksudnya, itu bukanlah gigitan dari nyamuk. Melainkan gigitan binatang berkaki dua. Jadi obat yang cocok ya ini" ujar Mommy sambil memberikan bawang putih ke Daddy.
Daddy melongo tidak percaya melihat apa yang dilakukan oleh Mommy itu. Mommy kemudian berjalan masuk ke dalam mansion.
Daddy memberikan bawang putih itu kepada Rina.
"Pakai sendiri di kamar kamu" ujar Daddy.
Daddy mengejar Mommy yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mansion. Daddy tidak mau Mommy mencurigai dirinya. Daddy harus meyakinkan Mommy kalau dia tidak ada berbuat apa apa di luar sana